Pasti banyak dari kita mengharapkan kisah cinta yang romantis dan
indah seperti Rama dan Shinta. Kenapa? Apa kalian tidak tahu hikayat
cerita yang sangat menyedihkan dari Rama-Shinta? Siapapun yang tahu,
pasti tidak akan mau merasakannya. Dan masalahnya hanya simple,kepercayaan. Cinta tanpa disertai kepercayaan, maka seperti meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.
Ya,
jangan mengharapkan kisah cinta seperti Rama-Shinta ataupun
Romeo-Juliet Lebih indah kisah Ali-Fatimah atau Rasulullah
saw.-Khodijah.
Coba baca cuplikan kisah Rama-Shinta ini, insya Allah bermanfaat (bukan sekedar pelajaran bahasa jawa tentang wayang kok)!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siapa
yang tidak mengenal Rama, pangeran gagah dari kerajaan Kosala. Ia
tampan tak terkira.Ia pintar tiada dua. Dan jangan tanya soal
kepribadiannya, Rama adalah pemuda tiada tandingan. Semua orang akan
terpesona hanya dengan menatap wajahnya. Lantas siapa yang tak mengenal
Shinta, gadis rupawan, putri kerajaan Wideha? Ia cantik tak terperi. Ia
pintar tiada tanding. Dan jangan tanya soal budi pekertinya, Shinta
adalah gadis yang tumbuh dalam asuhan luhur. Semua orang bahkan
terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya.
Mereka berdua seperti ditakdirkan menjadi pasangan abadi, dan sudah abadilah kisah mereka.
Pemuda
gagah itu, Rama, sedang dalam misi berbahaya, menumpas para raksasa di
hutan rimba saat ada kabar Raja Wideha mengadakan sayembara pemilhan
suami untuk Shinta.. Semua kerajaan berduyun-duyun mengirimkan pangeran
mereka.
"Kau harus ikut serta, Kakanda." Laksmana, adik Rama yang setia menemani mereka berpetualang, membujuk Rama.
"
Astaga, kau ingin kakakmu ini mendapatkan jodoh melalui sebuah
sayembara? Itu jelas bukan awal isah cinta sejati, tidak akan ada Resi
yang pernah menulisnya," kata Rama, menggeleng.
" Apa
salahnya mencoba? Setidaknya Kakanda melihat dulu putri itu. Matanya
mampu meruntuhkan dinding kseombongan. Dan hatinya bahkan bisa
menaklukkan senjata paling hebat di dunia."
Baiklah, seperti apa omong kosong kecantikan gadis itu,
Rama mendengus. Mereka berputar haluan menuju ibu kota Wideha. Ketika
semua pangeran sudah berkumpul di balai agung ibu kota Widehs, Rama yang
terlambat justru salah masuk ruangan. Di rungan itulah ia terpesona
ketika melihat seorang gadis membantu dayang-dayang yang tak sengaja
menumpahkan nampan berisi buah-buahan. Rama tertegun, mencengkeram
lengan Laksmana, "Siapakah gadis itu?"
Shinta lebih dulu menoleh, para dayang berseru kaget melihat laki-laki memasuki bangunan khusus perempuan.
" Maaf, sungguh maafkan kami," kata Rama. " Kami sedikitpun tidak bermaksud buruk. Kami salah masuk ruangan."
Itulah
pertemuan pertama mereka. Percakapan yang pendek, patah-patah,
malu-malu, tapi mengesankan. Dan sayembara itu amat mudah sekali, bukan
tentang memanah, mengejar, membunuh raksasa, bukan tentang fisik. Mereka
hanya diminta menarik busur, pusaka kerajaan Wideha. Itu bukan busur
biasa, itu busur milik Dewa Siwa yang dihadiahkan ke bumi. Jangankan
menarik talinya, mengangkat busur itu saja tidak ada yang mampu. Dan
tentu saja Rama yang memenangkan sayembara itu. Tidak ada yang tahu
kekuatan apa yang ia miliki, mungkin kekuatan cinta. Dan di kursi
singgasana, Sinta tersipu malu, ikut bersorak senang. Dan alhasil,
pernikahan mereka pun dilangsungkan.
Ada sebuah intrik
dari ibu tiri Rama, hingga membuar Rama dan Shinta dibuang ke hutan
rimba selama 14 tahun. Dan Shinta, selalu menemani. Itulah bukti cinta
yang tiada tara. Mereka berdua, ditemani Laksmana, tinggal di dalam
hutan. Dan rintangan hidup tidak sampai di sana.
Hari
naas itu, Shinta meminta Rama mengejar anak kijang yang lucu. Pergilah
Rama mengejarnya, dan tinggallah Shinta dan Laksmana. Tentu saja kijang
itu hanya tipuan Rahwana, raja para raksasa. Rama berhasil memanah
kijang itu, yang seketika berubah bentuk dan berteriak menirukan suara
Rama meminta tolong. Laksmana menyusul mengikuti arah suara itu, dan
tinggallah Shinta sendirian. Dengan kelicikan dan tipu daya Rahwana,
Shinta berhasil diculik dan dibawa terbang ke kerajaan Alengka, yang
berada di seberang lautan daratan India. Dan dimulailah kisah mahsyur
itu, yang semua orang tentu tahu pengorbanan Rama menyelamatkan Shinta.
Rama
meminta bantuan wanara, alias manusia kera. Bahkan ia pun mengancam
Baruna (dewa samudra) untuk membantunya. Semua pekerja dikerahkan
siang-malam untuk membangun jembatan yang membentang atas nama cinta -
sebagai jalan menuju seberang lautan. Dan di tempat itulah kedua pasukan
bertarung. Panah sakti milik Rama menghujam jantung Rahwana. Dan Shinta
berhasil diselamatkan.
Kisah itu belum berakhir.
inilah
masalah baru pasangan Rama-Shinta. Rakyat bersorak senang melihat Rama
membawa pulang Shinta, bertepatan berakhirnya masa pembuangan mereka
selama 14 tahun. Dan saat itu, Rama diangkat menjadi raja. Kesenangan tu
hanya sebentar. Entah bagaimana awalnya, ada bisik-bisik kotor
memasuki kerajaan Kosala. Apalgi kalau bukan kabar burung: Shinta sudah
tidak suci lagi.
Rama berdebat lama dengan Laksmana di suatu ruangan.
"
Bagaimana mungkin kau tidak memercayainya, Kakanda?" kata Laksmana. "14
tahun Shinta menemani di hutan riba, tahan hidup penuh penderitaan,
berbulan-bulan ditahan Rahwana. Bagaimana mungkin kau tidak percaya
padanya?
" Berbulan-bulan," Rama mendesah. "Karena berbulan-bulan itulah, Laksmana, siapa yang tahu apa yang terjadi di Alengka?"
"
Aku tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutmu, Kakanda. Aku
bersumpah, Shinta tidak akan berkhianat. Seharusnya Kakanda tidak
percaya bisik-bisik mereka! Dimana mereka saat Kakanda 14 tahun di hutan
rimba. Dimana mereka saat Kakanda berbulan-bulan menyelamatkan Shinta?
Kenapa sekarang mereka peduli dengan sesuatu yang bukan urusan mereka?"
"
Tapi mereka rakyatku, Laksmana. Au tidak akan bisa menjadi raja yang
baik jika mereka tidak mempercayai ratunya." Dan keputusan besar itu
diambil Rama. Maka ujian kesucian digelar oleh Shinta. Melewati api yang
berkobar tinggi. ika Shinta selamat melaluinya, maka tidak akan ada
keraguan lagi.
" Maka Kakanda telah melakukan kesalahan besar.
Kepercayaan adalah fondasi penting sebuah cinta. akanda telah
kehilangan fondasi itu. Besok, Shinta akan berhasil melewati kobaran api
itu, tapi Kakanda tidak akan berhasil memadamkan keresahan itu."
Laksmana izin oamit, melangkah menuju pintu keluar.
Keesoka
harinya, Shinta menjalani uji kesucian itu. Laksmana benar, satu menit
Shnta melangkah anggun keluar dari kobaran api. Bahkan api tak kuasa
membakar seujung kuku pakaian yang dikenakan Shinta. Dan cerita, masih terus berlanjut.
Beberapa
bulan sejak prosesi itu, orang-orang berbisik bahwa prosesi api itu
bohong. Shinta bisa saja menggunakan ilmu sihir untuk menembus kobaran
api. Itu sangat mudah dilakukan.
" Kau tidak akan melakukannya, Paduka Rama," kata Hanoman, manusia kera, bangsa wanara.
" Siapa yang bisa bersaksi Shinta tidak sedang menipu kita semua?" tanya Rama.
"
Astaga Paduka Rama, tidak ada yang terjadi di taman Asoka. Bukankah kau
sendiri yang menyuruhku mengintai Alengka selama berbulan-bulan. Dan
istrimu adalah perempuan terhormat. Akulah saksinya.
Rama menggeleng.
"Paduka tidak percaya padaku?
"Aku
tidak bisa lagi percaya pada siapapun dalam kondisi seperti ini,
Pamanda." Rama menjawab pelan. Dan keputusan kembali diambil. Shinta
diusir dari Ayodya, keputusan itu dibacakan sendiri oleh Rama, di
hadapan rakyat yang gegap gempita menyambutnya.
Hanoman tertunduk dalam. "Apa kau masih mencintai Shinta, Paduka Rama?"
"
Tentu saja, Pamanda," jawab Rama. "Aku mencintainya. Tapi rakyat Ayodya
membutuhkan bukti bahwa Shinta akan mampu melewati masa pembuangannya."
Hanoman
menggeleng sedih. "Camkan ini, Paduka. Esok lusa, Shinta akan berhasil
melalui masa terbuangnya, tapi Paduka tidak akan mampu melewati resah
itu."
Shinta mengangguk mendengar keputusan
oengusiran itu. Ia memang sedih, sama sekali tidak meragukan cinta Rama,
tapi kesedihannya karena tak kunjung meyakinkan rakyat Ayidya, dan ia
sedih karena harus berpisah dengan suami tercinta.
" Jangan cemaskan aku, Kakanda," bisik Shinta. "Aku akan baik-baik saja. Apalah arti sepuluh tahun demi membuktikan cinta kita akan abadi. Jangan cemasan aku Kakanda."
Sendirian,
Shinta dilepas meninggalkan istana, meninggalkan gerbag ibu kota
Ayodya. Melangkah menuju barisan rapat pohon-pohon di hitan rimba. Tanpa
seorang pun tahu, bahkan Rama, bahwaa Shinta sedang mengandung anak
mereka.
Hutan gela menyambut langkah Shinta. Terdengar
suara beruang raksasa, Shinta berseru pias. Ia terseok-seok melarikan
diri dari kejaran binatang buas itu. Hingga kakinya tersangkut akar,
napasnya tersengal hampir habis. Dan beruang raksasa itu siap menerkam.
Persis
sepersekian detik kuku itu menyentuh wajahnya, dari pepohonan gelap,
melesat belasan panah. Itulah panah Resi Walmiki (penulis syair0syair
kisah Ramayana), dan segera membawa Shinta ke padepokannya. Rei Walmiki
adalah pertapa dengan kemampuannya melihat watak seseorang hanya dengan
melihat wajahnya. Dan dengan melihat wajah Shinta, ia memutuskan
menampung Shinta di padepokannya.
Tidak ada yang tau
siapa Shinta sebenarnya, hanya Resi Walmiki yang tahu. Para penghuni
padepokan adalah murid-murid Resi yang belajar tentang kebijaksanaan
hidup, bercocok tanam, dan sedikit memanah. Di sana, setiap pagi Shinta
hanya duduk termenung mengingat wajah suaminya. Malam-malam Shinta
sering menatap langit penuh bintang. Setiap hela napas menyebut nama
suaminya. Sambil berkata lirih, aku baik-baik saja, Kakanda. Aku akan mampu meleati masa-masa ini.
Hari-hari
berlalu. Shinta melahirkan bayi kembar laki-laki bernama Lawa dan Kusa.
Kehadiran kedua bayi itu, membuat Shinta sedikit lebih baik. Dua anak
kembar itu tumbuh sehat, mewarisi ketampanan Rama, , cerdas, dan
menguasai syair-syair panjang kebijaksanaan orang dewasa. Dan mereka
tumbuh menjadi kesatria yang baik, pemanah yang handal. Resi Walmiki
menghadahkan busur panah kembar dari Dewa Brahma, itu bukan panah
mematikan seperti milik Rama, namun memiliki rahasia tersendiri.
Hingga
sepuluh taun masa pengasingan itu berakhir, Shinta masih termenung,
menunggu suaminya hendak menjemput dengan pasukan kuda kerajaan. Ia
selalu menunggu. Bahkan tak mau membiarkan suaminya datang sementara ia
sedang tertidur. Ia hanya terjaga, terus menunggu.
Rama
tidak akan pernah datang menjemput Shinta. Resi Walmiki tahu itu.
Karena ia diam-diam menyamar datang ke istana Ayodya, dan amat tahu
bahwa Raja yang gagah perkasa itu, kini aamat ringkih hatinya, lapuk
hatinya. Apakah Rama masih mencintai Shinta? Tentu saja. Cinta itu sama
besar sejak mereka bertemu pertama kali dulu. Tapi, cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.
Satu
hai berlalu, satu minggu, satu bulan, bahkans atu tahun lebih, Shinta
semakin putus asa. Penghuni padepokan ikut sedih melihat Shinta yang
terus menunggu. Dan dua anak kembarnya, yang telah menginjak usia dua
belas tahun, menemukan catatan Resi Walmiki, syair tentang Rama dan
Shinta. Dan mereka tahu semuanya.
Dan busur milik si
kembar menampakkan rahasianya: Kebencian. Busur itu akan berlipat-lipat
menjadi lebih kuat jika menemukan alasan kebencian yang direstui Dewa.
Mereka tahu ibunya diasingkan selama 10 tahun hanya karena prasangka.
Dan setelah masa pembuangan erlalu, ayahnya tidak tergerak untuk datang
menjemput.
Lawa dan Kusa menggenggam tangan satu sama
lain, bersumpah membals perlakuan ayahnya pada ibu mereka. Tanpa
diketahui penghuni padepokan, mereka berangkat menyerbu kota demi kota
kerajaan Kosala. Mereka menghukum semuanya, menghancurleburkan kerajaan
Kosala. Bahkan pasukan besar di bawah pimpinan Hanoman yang dikirmkan
Rama pun sia-sia, kalah oleh mereka. Rama berseru marah. Ia
memerintahkan seluruh pasukan kerajaan Kosala berkumpul di ibu kota
Ayodya.
Dan kecamuk itu baru didengar para penghuni
padepokan. Shinta dan Resi Walmiki segera berangkat menuju Kosala.
Sementara di halaman istana, napas prajurit dan rakyat jelata tertahan
melihat kedua anak kembar itu memasuki gerbang istana.. Yang membuat
napas mereka semakin tertahan, dua anak kembar itu datang sambil
menyanyikan lagu prosesi ujian milik Shinta, saat ia hendak melalukan
uji kesucian dan uji pengasingan 10 tahun:
Dusta takkan bercampur dengan jujur
Hina takkan bercampur dengan mulia
Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan iar
Kebaikan takkan bercampur dengan keburukan
Kesetiaan takkan bercampur dengan pengkhianatan
Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina
Rama berdiri dari singgasananya, menyiapkan busur dan anak panahnya.
"Hentikan!"
Suara perempuan terdengar dari gerbang kota. " Hentikan, aku mohon."
Shinta berseru datang, memeluk kedua anak kembar itu.
" Shinta, kaukah itu?" Rama menurunkan anak panah, menuruni anak tangga.
"Lepaskan kami, Ibu!"
" Dia ayah kalian, Nak!"
"
Tidak! Dia bukan ayah kami!. Dia bukan siapa-siapa kami. Kami akan
membalaskan sakit hati Ibu. Kami akan menghukum seluruh Ayodya.
"Shinta istriku." Rama sudah dekat dengan Shinta. Langkahnya tertahan, tidak mengerti. " Siapa mereka, Shinta?"
" Dia anak-anakmu, Paduka Raja." Resi Walmiki yang menjawab.
" Anak-anakku?" Rama berseru tertahan. " Mereka sungguh anak-anakku, Shinta?" Rama bertanya, memastikan.
Shinta
mengangguk lemah. Rakyat Ayodya berbisik. Tidak mungkin. Bagaimana
mungkin raja memiliki anak kalau istrinya yang ternoda itu dibuang
belasan tahun di hutan rimba? Bagaimana ia hamil?
Dan urusan ini, kata Laksmana belasan tahun lalu benar. Shinta akan berhasil memadamkan api suci, tapi Rama tidak akan pernah berhasil memadamkan resah di hatinya. Kalimat Hanoman juga, Shinta akan berhasil melalui masa-masa pembuangannya, tapi Rama tidak akan berhasil mealui resah di hatinya.
Rama
menggeleng, tidak mungkin, mereka bukan anakku. Shinta tertunduk,
menangis tersedu. Oh ibu, lihatlah etelah begitu banyak pengorbanan yang
ia lalukan, setelah begitu besar harapan yang ia bangun, siang ini
disaksikan ribuan orang suaminya menolak percaya atas anggukan pelannya
tadi. Apalah artinya cinta jika tanpa sebuah kepercayaan?
Sebelum
semua orang menyadarinya, Shinta menciumi kedua anaknya sebelum ia
mengakhiri semuanya. Ia berlari menjauh dari Rama, sambil berseru, " Oh
Ibu, dengarkan anakmu! Dengarkan anakmu!" Shinta memanggil keadilan.
Resi Walmiki hanya menelan ludah. Ia tahu apa yang akan dilakukan Shinta.
"
Oh Ibu, belahlah tanahmu! Belahkah perutmu!" Shinta berlari, hingga
akhirnya tersungkur. " Oh Ibu, bukalah pintumu! Buktikanlah ke seluruh
semesta. Jika anakmu ini memang ternoda, maka tolaklah diriku yang hina.
Lemparkan aku kembali ke langit tanpa nyawa. Tapi jik aku memang suci,
terimalah anakmu kembali, kumohon. Aku sungguh tidak kuat lagi."
" Jangan lakukan!" Rama akhirnya paham melihat pengorbanan itu. " Jangan lakukan, Shinta, demi aku!"
" Ibu, bukalah pintumu," Shinta memukul-mukul tanah seperti orang gila.
"
Dengarkan aku, Shinta," Rama berlutut, berusaha menggapai tubuh
istrinya. "Maafkan aku, maafkan aku yang tidak mempercayaimu. Kebalilah
padaku, Shinta. Demi anak-anak kita."
Sejengkal lagi tangan itu
menahan Shinta, bumi lebih dulu merekah. Shinta berurai air mata, tanpa
berpikir panjang langsung melompat.
Rama terkesiap, segera
berdiri gagah menarikk busur pusakanya, hadiah Dewa Siwa. "Wahai Ibu
Pertiwi, kembalikan Dewi Shintaku, atau kululuh-lantakkan tubuhmu!"
Sayangnya Rama tak pernah tahu, busur Dewa Siwa itu juga menyimpan
rahasia. Busur itu sejatinya milik Shinta. dan hanya bsa ditarik oleh
orang yang diinginkan Shinta. Itulah kenapa dulu Rama memenangkan
sayembara itu, karena Shinta mencintainya dan menginginkan ia menjadi
suaminya. Shinta telah ditelan bumi. Tidak ada yang merestui busur itu.
Rama berseru-seru, memanggil, memohon, tapi semua sudah terlambat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apalah arti cinta tanpa sebuah kepercayaan.
(Cuplikan "Sepotong Hati Yang Baru" Tere Liye)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar