APA ADANYA
(Alya Nur Fadhilah)
“Haloo,
Pak Direktur sudah makan?”
Suara itu, segera membuatku menoleh
dan tersenyum. Gadis berkulit putih, mata bulat, hidung pesek, dan perawakan
sedang.
***
“Misalkan
Anda di bagian customer service. Tamu
complain karena seprai dan selimut
bau, ada bercak kotoran dari tamu
sebelumnya. Bagaimana cara meyakinkan agar mereka percaya bahwa segala
fasilitas kamar sudah dibersihkan dan diganti?”
Keningku berkerut menatap tiga wajah
laki-laki berjas di seberang meja. “Maaf, memangnya seprai dan selimut tidak
pernah diganti?”
“Hey, kau jawab saja pertanyaan.
Urusan itu sudah diatur berapa bulan sekali harus mencuci dan mengganti
fasilitas kamar.” Jari salah satu juri menudingku.
“Sebagai pegawai hotel bintang lima
yang jujur saya akan menjawab, ‘Maafkan keteledoran kami. Kami akan segera
mengganti seluruh fasilitas di kamar Anda.’”
***
“Bagaimana Anda meyakinkan pelanggan
bahwa sofa ini, bahannya adalah busa impor dan memiliki pengaruh kesehatan
karena sirkulasi udara yang sudah diatur.”
Aku manggut-manggut sambil berpikir.
“Kalau begitu saya harus tahu dulu, busa impor itu memiliki tipe apa, proses
pembuatan dan pengaturan sirkulasi udara, sampai proses pembuatan busa itu
sendiri apakah melalui tahap sterilisasi dan sebagainya.”
“Kenapa malah balik tanya? Aku suruh
kau merangkai kata-kata supaya pembeli percaya ini sofa bagus makanya mahal!”
Laki-laki berambut keriting duduk di sofa itu. “Sarjana ekonomi harusnya tahu,
bagaimana memperoleh keuntungan maksimal dengan modal minimal.”
“Maaf, ilmu ekonomi juga mengajarkan
tentang kejujuran. Saya akan mengatakan jenis sebenarnya sofa itu. Jika memang
harus dikaitkan dengan kesehatan, saya bisa mengatakan bahwa busa yang empuk
bisa memberikan kenyamanan dan mempengaruhi pikiran yang tenang. Atau…”
“Stop! Saya bisa rugi punya pegawai
sepertimu. Sofa seperti ini banyak, tapi masing-masing punya keunikan sendiri
dalam pemasaran supaya menarik pembeli. Silakan cari pekerjaan lain!”
***
“Jika kamu sebagai bagian pemasaran,
bagaimana kalimat meyakinkan bahwa tahu bakso ini no-formalin dan no-boraks.”
Aku menerima sepotong tahu bakso
mentah dari uluran perempuan yang rambutnya mulai memutih. Mengamati subjek itu
lekat dari balik kacamataku.
“Bagaimana, Mas?”
“Tahu ini, kenyal, sudah diproduksi beberapa
hari lalu.”
Wajah perempuan itu mulai memerah.
“Saya tidak meminta Anda mengamati tahu!”
“Maaf, saya tidak berbohong.
Seharusnya jika memang produk Anda ingin mengalahkan produsen lain, gunakan
cara yang inovatif dan berbeda dalam rasa atau harga, bukan komposisi bahan
yang terlarang.”
“Anda itu lulusan ekonomi, bukan
ahli pangan. Sikap seperti ini, sudah berapa kali Anda ditolak?”
Wajah sinis itu tidak mengubahku. “Mau
ditolak seratus kali tidak akan mengubah prinsip saya. Bisnis itu bukan tentang
penipuan, tapi strategi. Anda seharusnya sekolah di ekonomi dan bisnis dulu
sebelum membuka usaha. Permisi.”
“Lancang!”
***
“Kamu maunya bagaimana? Sudah sembilan
wawancara ditolak.” Ibu berkata tenang, badannya sudah kurus kering, bukti
perjuangan membesarkan dua anak.
“Dulu Ayah selalu memukulku jika aku
berbohong. Sekarang memang tidak ada yang memukulku lagi. Tapi tetap pada
prinsip, aku akan mendapatkan rejeki yang barokah dari kejujuran.”
Ibu mengangguk. “Jika itu prinsip,
tetap peganglah. Pasti ada pekerjaan baik untukmu.”
“Maafkan Zikri, Bu. Zikri tahu dua
bulan lagi Ilma harus daftar kuliah.”
“Tenang, Ibu masih punya tabungan
untuk kuliah Ilma.”
***
Laki-laki itu melempar map. “Saya
tidak butuh nilai, IPK, prestasi akademik. Semua pegawai keuangan di sini IPK
cumloude, lulus sangat memuaskan, tapi…,” katanya sambil menggelengkan kepala.
Suaranya sudah serak dan lemah. “Yakinkan saya bahwa kamu orang jujur.”
“Saya ditolak sembilan kali
sebelumnya, karena selalu mengatakan apa adanya tentang kasus yang mereka
berikan. Dan putus dengan pacar pertama bernama Zia, karna saya jujur
mengatakan Laili – sahabat sejak kecil, jauh lebih cantik daripada Zia. Dia
mengira saya menyukai Laili, dan tidak percaya bahwa saya mencintainya apa
adanya.”
Aku tersenyum melihat anggukan
laki-laki itu, setelah mendengarkan kisah panjang dariku.
Di sanalah semua bermula. Aku hanya
ingin mencari rejeki barokah. Tahun pertama hanya 1juta/bulan di staf keuangan
bank lokal itu. Direktur keuangan dipecat dan aku gantikan hingga kini.
“Haloo, Pak Direktur sudah makan?”
Aku tersenyum. “Jika aku sudah jadi
suamimu, apa kau akan tetap memanggilku ‘pak direktur’?”
Zia tersenyum. “Ini nasi goreng.
Beri komentar ya.”
“Dulu keasinan, sekarang tidak ada
rasanya.”
Zia cemberut sebentar. “Aku akan
berusaha belajar masak lagi, jadi istri yang baik.”
Kami berdua tersenyum. Dia menerima
kejujuranku.
Tunggu ya terbitan bukunya..., ^_^
Tunggu ya terbitan bukunya..., ^_^