Bagaimana
rasanya, ketika suatu hari kau menyapa seseorang yang kau kenal, ternyata dia
lupa namamu? Bagaimana rasanya, ketika kau menerima janji bertemu, ternyata dia
lupa dan tidak menemuimu. Bagaimana rasanya, ketika seseorang meminjam barangmu,
dan dia lupa dimana meletakkannya? Sakit. Kesal. Kecewa. Tanpa perlu aku
sebutkan jawabnya, sepertinya kau telah membatin jawaban setelah selesai
membaca satu per satu kalimat.
Ya,
memang begitu hakikat manusia. Pada dasarnya ia diciptakan sebagai makhluk yang
lalai dan lupa. Begitulah kita, makhluk yang diberi hati untuk merasa. Sampai semua
rasa bisa bercampur aduk, berganti-ganti, sesuka yang memiliki hati. Lalai dan
lupa memang tidak bisa dikendalikan, itu autonom.
Salah seorang peneliti memori terkemuka saat ini, Elizabeth
Loftus, telah menemukan empat alasan utama mengapa orang lupa: kegagalan
mengambil informasi, memori-memori yang ada saling mengganggu, kegagalan untuk
menyimpan informasi, dan termotivasi untuk melupakan.
Untuk menguji ingatan kita tentang apa yang disampaikan
Elizabeth Loftus di atas, yuk, kita bahas secara acak. Pertama, termotivasi
untuk melupakan. Nah, ini bisa jadi karena kenangan yang begitu menyakitkan
sehingga dia hanya ingin melupakan. Tapi, coba kita lihat realita. Terkadang,
sesuau yang ingin kita lupakan, justru ia semakin melekat di pikiran kita. Why?
Karena kita sering berpikir untuk ingin melupakannya. Yah, bagaimana bisa lupa
jika dipikirkan terua? J
Kedua, lupa karena kegagalan mengambil informasi. Terkadang informasi-informasi
hanya lalu lalang begitu saja di pikiran, sedangkan kita tidak mengikatnya
dengan reseptor di otak. Ketiga, kegagalan menyimpan infomasi. Hm, kenapa ini
bisa terjadi ya? Pernah tidak, ketika seseorang menitipkan sesuatu lalu kita
melupakannya. Karena saat infomasi itu masuk, rupanya kita sedang terburu-buru
hendak pergi mengejar waktu.
Ketiga, karena ada gangguan di otak, misanya stress, stroke,
tumor, infeksi, dan lainnya. Padahal sudah kita ketahui bahwa otak adalah pusat
memori. Bagaimana isinya bisa bagus dan terjaga, jika wadahnya rusak?
Keempat, adanya gangguan memori lain. Memori kita mungkin
bisa aus seiring berjalannya waktu. Ketika mendapat materi di bangku kuliah,
materi-materi lain ketika SMA terlupa. Ketika menyerap infomasi baru, infomasi
lama dilupakan. Itu hal biasa, bukan?
Kelima, ingatkah kamu 4 poin yang disebutkan oleh Elizabeth
Lotfus di atas? Sadarkah kamu, bahwa poin ‘ketiga’ yang pertama sebelum ini
sebenarnya tidak termasuk factor yang disebut Elizabeth Lotfus? Tuh kan…
Nah, di sinilah titik pentingnya. Tulisan ini tidak akan
membahas tentang faktor-faktor penyebab lupa. Tapi, sesuai judulnya, tentang ‘terlupa’
dan ‘dilupakan’. Berbeda? Jelas.
Ketika terkecoh dengan paragraf di atas, apakah kamu merasa ‘sengaja’
melupakan empat faktor yang disebutkan Elizabeth? Apakah kamu memang sengaja
dan tidak berniat mengingatnya? Bisa jadi. Atau memang segalanya di luar
kuasamu?
Di sini akan membahas tentang orang yang ‘terlupa’ dan ‘dilupakan’.
Jika kamu merasa tidak sengaja melupakan sesuatu, berarti itu wajar juga jika
dilakukan oleh oranglain terhadapmu. Karena sekali lagi, hakikat manusia itu
adalah lupa. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Sesuatu yang dianggap penting
sekalipun, materi ujian misanya, bisa terlupa begitu saja ketika kita sedang
mengerjakan ujian. Apakah itu sengaja? Tidak, kan? Sekaipun kita menganggap
ujian sangat penting. Pun halnya, ketika kita berada di posisi sebagai orang
yang ‘terlupa’ atau ‘dilupakan’, ayolah, jangan berkecil hati. Bisa jadi, bukan
karena kesengajaan. Karena seperti yang telah dibahas di atas, sesuatu yang
ingin kita lupakan justru malah sulit dilupakan karena kita secara tidak sadar
memikirkannya terus. Jadi, dari sini, berani diambil kesimpulan bahwa tidak akan
ada kata ‘dilupakan’. Jika bicara kata ‘dilupakan’, maka itu condong pada ‘sengaja’.
Padahal, belum tentu.
Nah, selesai. Sekarang giliran bahasan kita tentang ‘terlupa’.
Tidak perlu panjang lebar, sudah terbahas bahwa hakikat manusia memang lupa. Suatu
masa, ada saatnya kita riwuh dengan banyak urusan dan urusan lain terlupa. Belum
tentu ‘urusan lain terlupa’ itu adalah sesuatu yang tidak penting. Karena ia
bisa datang lagi kapan saja, ketika urusan-urusan lain yang riwuh itu sudah
selesai. Cobalah kita berkaca pada diri sendiri. Ketika hari itu lupa makan
karena rentetan urusan tidak berhenti sepanjang hari. Tapi ketika semua urusan
telah selesai, di malam hari atau keesokannya, pasti kau akan ingat bahwa kau
belum makan. Lalu, apakah urusan makan itu tidak penting?
Jika lupa itu terkadang tidak bisa dikendalikan, tapi urusan
hati dan rasa selalu bisa diolah. Kau sedih, karena kau memilih untuk sedih. Tapi
ketika kita memilih untuk berpikir positif ketika seseorang lupa dengan urusan
kita, tidak akan ada rasa sedih, kecewa, atau kesal.
Urusan hati, ada pada kita. Urusan lupa, itu masalah orang
lain. Bukankah mengatur diri sendiri lebih mudah daripada mengatur masalah
oranglain? (AL)
#Sekaligus permohonan maaf dariku, jika ada yang merasa ‘terlupa' :))
