Hari ahad sore itu, jajaran manusia
duduk dalam diam di atas bangku tunggu shelter
bus Trans Jogja (TJ) di bandara Adi Sucipto/stasiun Maguwo. Aku turut di
antaranya, sambil sesekali membaca chat di hp ketika bosan membaca buku materi
untuk ujian senin besok. Beberapa bus Tj sudah melintas, tapi bukan bus
tujuanku untuk kembali ke asrama. Sudah kuduga, bus yang kutunggu adalah yang
paling lama melintas tapi paling ramai penumpang.
Beberapa menit berlalu. Ketika tiba-tiba
terdengar dari microphone suara
petugas shelter TJ seperti biasa
menyebutkan nomor bus dan tempat-tempat tujuannya, “ Yak, jalur 3A menuju ke Ringroad
Utara, Makro, Instiper, UPN, bla bla bla….” Sangat panjang dan hafal semua
daerah tujuan bus dengan frekuensi pengucapan sangat cepat.
Seperti dugaanku, kerumunan calon
penumpang terbanyak untuk bus ini. Dari jauh sudah kulihat bus cukup penuh.
Jadi, aku masih duduk tanpa beranjak, karena pasti penumpang sangat dibatasi. “
Beri jalan untuk yang turun! Beri jalan dulu untuk yang turun!” seru petugas shelter. Aku memperhatikan, sepasang
muda yang sedari tadi mesra duduk di bangku di hadapanku, turut mengantre untuk
masuk bus. Satu per satu masuk, kernet bus masih mempersilakan. Hingga tiba
giliran gadis itu, namun tiba-tiba kernet bus menutup pintu dan memberi
perintah sopir untuk berjalan. Gadis itu berteriak, mengulurkan tangan pada
laki-laki yang masih berdiri di tepian shelter,
namun percuma bus sudah berjalan dan kernet menahan gadis itu. Bus semakin
jauh. Aku? Segera menutup sebagian muka dengan buku, menahan tawa. Terlebih
ketika seseorang di sebelahku tidak sengaja nyeletuk, “ Hoo, kasihan. Terpisah
oleh jarak dan waktu.” Jadilah aku tertawa sungguhan.
Beberapa menit masih menunggu, tibalah
bus selanjutnya. Aku segera naik dan duduk di kursi kosong. Di hadapanku ada
seorang kakek kira-kira usia 70an. Bus terus melaju, hingga beberapa penumpang
turun di shelter tujuan. Kursi
sebelah kakek itu kosong, dan terdengar panggilannya pada seorang nenek yang
duduk di kursi lain agak jauh dari beliau. Berdirilah sang nenek, hendak pindah
di sebelah suaminya. Namun bus mulai melaju, membuat tubuh lemah nenek ini
terhuyung. Untungnya kakek segera sigap menangkap tangannya, dan menuntun
sampai di kursinya. Aku yang di hadapannya, hanya tersenyum haru.
Beberapa menit tentang bus TJ, punya dua
kisah di sore itu. Bus TJ saja tahu mana yang harus dipisahkan dan mana yang
terus disatukan. Kamu bagaimana? (AL)
#UdahPutusinAja (Ups! :v)