
Barangkali
dalam hidupmu, kau pernah merasakan keberuntungan. Barangkali dalam berbagai
kesulitan, datang pula beruntun-runtun kemudahan. Barangkali dalam segala
musibah, berkali-kali pula, dihadirkan segala pertolongan.
Ada
sisi dalam diri ini memang, yang membuat sesuatu terwujud. Orang menamainya
ikhtiyar (usaha) dan doa. Berapa banyak kata menjelaskan, jika membutuhkan
sesuatu, ya usaha dan doa. Jika menginginkan nilai bagus, ya berusaha belajar
dan berdoa. Jika menginginkan kemenangan, ya raihlah dengan usaha dan doa. Pun
jika menginginkan rejeki untuk membeli sesuatu, usahalah dengan menabung dan
mintakan pada Allah.
Namun
sayangnya, di dunia ini ada hal-hal yang tidak sempat diusahakan dan tidak
sempat dimintakan dalam doa. Sesuatu yang tidak bisa terencana. Sesuatu yang di
luar perkiraan dan rencana elit manusia. Sampai detik ini, perlu disadari bahwa
usaha dan doa diri sendiri tidak cukup menolong, mengabulkan, mendapatkan
hal-hal yang kita inginkan. Atau barangkali kita sebagai manusia biasa, tidak
cukup makbul doanya bila dibandingkan orang-orang yang dalam keadaan terijabah
doanya.
Dikisahkan
seorang laki-laki yang memiliki ibu, yang telah lama terbaring di ICU karena
penyakit kronisnya. Rasanya sudah tidak ada lagi harapan yang bisa disandarkan
untuk kesembuhan sang ibu. Harta mungkin bisa diusahakan, doa pun tidak pernah
alpa. Tapi telah lama sang ibu belum terbangun dari komanya. Suatu hari,
laki-laki ini keluar dengan mobilnya, dalam keadaan kota yang hujan deras.
Ketika sampai di pom bensin, ia melihat seekor kucing kecil yang berteduh dan
kedinginan. Laki-laki ini menyempatkan diri untuk turun, membeli makanan, dan
meletakkannya di dekat kucing. Lalu ia pun pergi. Sesampainya di rumah sakit,
ia sangat terkejut ketika tidak menemukan sosok ibunya di ruang ICU. Dalam
kepanikan ia mencari-cari dan mendapatkan penjelasan bahwa ibunya telah
dipindahkan di bangsal. Anak itu begitu bersyukur menjumpai ibu dalam keadaan
sudah sadar. Dalam pembicaraan mereka, tiba-tiba sang ibu berkata, “ Nak, tadi
ibu bermimpi melihat kucing yang berdoa.”
Agendakan
diri untuk berbuat baik pada siapapun dan apapun. Barangkali dalam sepotong
roti yang kita berikan pada anak kelaparan, ia menyisipkan satu kalimat doa
yang lebih ijabah dibandingkan ratusan kalimat doa kita sendiri. Dimana doa-doa
itu melanglang buana mengikuti kita, bahkan saat tersulit sekalipun bisa
memberikan pertolongan. Jangan remehkan bakti pada ibu dan ayah. Barangkali
satu kalimat ridho mereka sudah dinggap doa daripada puluhan kalimat harap
kita. Jangan pula lupakan saudara-saudara muslim di sekitar maupun yang jauh,
barangkali damai dan kerukunan Negara ini berkat doa saudara-saudara kita di
Negara yang tertindas itu… (AL)