Hutan mangrove berperan besar dalam kehidupan pesisir pantai. Di
antara fungsinya adalah untuk menstabilkan pantaI, peredam gelombang pantai,
penangkap sedimen laut, serta mencegah erosi dan abrasi daerah pesisir pantai.
Bagi kehidupan, mangrove juga memiliki peran besar dalam penjagaan ekosistem
laut.
Pemahaman urgensi itulah yang mampu menggerakkan tim KKN
Universitas Borneo Tarakan (UBT) berkolaborasi dengan tim KKN-PPM Universitas
Gadjah Mada, mengadakan aksi penanaman 250 bibit mangrove. Kegiatan yang
diselenggarakan pada Minggu (31/7) di pesisir pantai Dusun Pantai Indah, Desa Tanjung
Aru, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini
bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan, perangkat desa
Tanjung Aru dan Bukit Aru Indah, Pemuda Pecinta Alam Sebatik, Pecinta Laut
Sebatik, Sebatik Community, Pramuka Sebatik, Marinir TNI AL, Pamtas
TNI-AD, serta melibatkan warga sekitar. Kegiatan yang mengusung tema besar, “250
bibit mangrove, lestarikan pesisir Desa Tanjung Aru, Sebatik” ini berlangsung
sejak pagi dengan sambutan kades dan kepala DKP sebagai pembuka acara. Mengrove
yang ditanam merupakan jenis rhizopora.
| Perjuangan menuju temoat penanaman |
“ Apakah 250 bibit mangrove ini sudah cukup untuk pantai seluas
ini? Diharapkan program ini ada keberlanjutan, terutama untuk para pemuda
Sebatik. Semangat untuk tetap melanjutkan program ini dengan melibatkan semua
pihak dan elemen,” jelas Dian Kusumanto, kepala Dinas Kelautan dan Perikana
Nunukan dalam sambutan.
Patok berupa belahan bambu yang ditancapkan pada tanah pesisir yang
berlumpur, sudah disiapkan dI hari sebelumnya oleh tim KKN kedua universitas
tersebut. Sehingga dalam acara inti ini, pastisipan hanya perlu mengikatkan
bibit mangrove pada patok bambu dengan menggunakan tali rafia. Meski
pelaksanaan membutuhkan usaha keras untuk melewati lumpur, namun itu tak
menyurutkan semangat dan suka cita pastisipan saat menanam mangrove.
“ Sebelumnya saya sangat mengapresiasi usaha mahasiswa KKN UGM dan
Borneo Tarakan, dan kegiatan ini harus tetap berlanjut, mungkin tim KKN tahun
selanjutnya,” jelas H. Palani, selaku kepala desa Tanjug Aru.
Penanaman 250 bibit ini mungkin tidak cukup memenuhi luasnya
kawasan Pantai Indah, Tanjung Aru. Sehingga langkah kecil ini perlu
dilanjutkan, dikelola, dan dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat
setempat. Diharapkan ekosistem hutan mangrove ini akan turut menjaga kehidupan
pesisir pantai dan bisa berdampak jangka panjang pada sektor pariwisata wilayah
perbatasan. (AL)
| Kolaborasi tim KKN UBT |