Masa-masa ini
saya melihat kenyataan tentang kesenjangan diantara kita. Yang paham hanya
terus-menerus berkumpul di masjid, yang belum paham juga masih asyik
berhuru-hara. Yang paham, mencela huru-hara dan memvonis kesalahan mereka. Yang
belum paham pun mencibir ketaatan dan menganggap ‘orang paham’ itu kaum
ekstrimis. Saling menunjuk kesalahan orang dan membenarkan aliran sendiri. Padahal,
mereka dalam satu kebenaran (agama) yang sama. Bagaimana bisa saling berusaha
menjatuhkan?
Maka jika boleh
saya katakan – meski rasanya tidak pantas untuk menggurui – bisa jadi ini
kesalahan orang-orang yang telah paham itu. Ibarat kata, “sholeh sendiri, yang
penting saya masuk surga, yang lain urusan mereka”. Padahal, Allah mendahulukan
perintah amar ma’ruf nahi munkar,
lebih dahulu dibanding perintah ibadah yang lainnya.
Islam terhijab
oleh kaum muslim itu sendiri. Yang sudah alim (tahu), berbaurnya dengan
orang-orang sholeh saja supaya semakin alim dan tertular sholehnya. Yang sudah
sholeh, mendekap di masjid saja untuk ibadah dan ceramah. Padahal, orang-orang
yang mendatangi masjid untuk mendengar ceramah, biasanya memang sudah paham
atau memang sudah mendapatkan hidayah untuk mengaji. Lalu, bagaimana nasib
mereka yang belum tersentuh oleh hidayah? Kita terlalu takut untuk berbaur,
takut ketularan sifat buruk, takut iman kita semakin lemah, takut ini-itu.
Dulu, Islam
masuk ke Indonesia dengan berbagai jalur, bahkan bercampur dengan budaya-budaya
nenek moyang. Wali Songo, sebagian besar adalah orang-orang Palestina. Salah satu
produk dakwah Wali Songo adalah seni wayang. Hari ini kita sibuk berdebat
masalah seni itu haram atau halal? Drama itu dosa atau tidak? Musik itu
hukumnya apa? Tidak apa, itu tidak salah. Hanya tidak terlalu penting untuk
dijadikan alasan terpecah belah. Seni wayang pada jaman dahulu juga sebagai
sarana dakwah. Misalnya tokoh Pandawa bernama Puntadewa, ia memiliki jimat
kalimasada. Dalam cerita wayang, kalimasada diartikan kalimat syahadat. Tokoh kedua,
bernama Bima yang memiliki kuku Pancanaka. Itu pun ada artinya. Kuku (kukuh),
panca (lima), naka (sholat), yang berarti kukuh dalam mendirikan sholat lima
waktu. Ada pula tokoh kembar, bernama Nakula dan Sadewa, yang bermakna bahwa
haji dan zakat itu memiliki syarat yang sama.
Itulah salah
satu makna dakwah. Akan terasa lebih sulit dakwah para Wali Songo itu, jika
datang tiba-tiba hanya berceramah di mimbar, di tengah-tengah masyarakat
Indonesia yang masih jahiliyah saat itu. Dakwah itu, seolah-olah kita mengikuti
mereka, namun sebenarnya kita juga membelokkan mereka pada kebaikan. Dalam
dakwah mengajarkan bagaimana cara kita membungkus dakwah tersebut dengan cara
yang menarik. Membaur, namun tidak ikut melebur. Ya, membaurlah dengan
orang-orang itu, tapi kita tetap berbeda.
Kita adalah dai,
bukan hakim. Dai itu mengajak, bukan memvonis apakah itu benar atau salah. Kenalkan
islam melalui diri kita. Kita berpakaian syar’i, tapi jangan menjaga jarak
dengan teman-teman yang masih berpakaian minim. Kita rajin sholat ke masjid,
tapi jangan menolak bila sekadar diajak makan atau menonton film. Siapa tahu,
sedikit demi sedikit mereka juga akan luluh jika kita ajak ke masjid. Kita rajin
berdzikir, tapi jangan menutup telinga dengan curhatan mereka. Barangkali,
kalimat dari mulut kita menjadi muasal hidayah itu dititipkan. Kita rajin
mendatangi majelis ilmu, tapi sesekali sempatkan datang ke rumah teman untuk
silaturahim. Itu pemantik kita untuk menarik objek dakwah.
Jangan bangga
menjadi orang yang sendiri dalam kebaikan. Jika kita bisa mengajak mereka
berada di jalan kebaikan, bukankah itu lebih indah? Seorang dai yang hanya
sendiri, tidak mau berbaur, bahkan tidak mendapat dukungan dari masyarakat,
energinya akan terkuras karena sibuk melakukan pembelaan-pembelaan. Jauhi
fanatisme, tapi kita juga harus tegas mengambil sikap. Ambil sikap sesuai
kebenaran yang kita tahu.
Dalam QS.
Ibrahim (4): “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa
kaumnya”. Bahasa kaum di sini, bisa bermakna kedalaman sastra, bisa pula
menggambarkan budaya (historis masyarakat). Makna sederhananya adalah, kalau
masuk kampus, ya gunakan bahasa kampus. Kalau masuk kampung, ya gunakan bahasa
kampung. Ekstrimnya, sesuaikan diri kita seperti objek dakwah, tapi kita sudah
memiliki pegangan iman. Tidak perlu memvonis, “Pakai jilbab, anak ustad, tapi
kok nyanyi-nyanyi?”. Disitu seni dakwah. Barangkali objek dakwahnya adalah para
artis. “Tilawah bagus, hafalan banyak, tapi kok suka hangout dan penampilan biasa saja?”. Memangnya kenapa? Barangkali
objek dakwahnya adalah teman dia sendiri yang masih suka berhura-hura. “Katanya
sholeh, kok ikut nongkrong malem-malem dengan para penjudi”. Siapa sangka,
setelah menonton judi, ia bisa mengajak mereka shubuhan jamaah? Dulu, ada
seorang preman yang masuk islam setelah kalah berkelahi dengan Rasulullah saw. Ada
pula kisah seorang ikhwah yang tinggal di Papua, lebih diterima ketika
membangun masjid dengan sebutan ‘gereja muslim’, dan menyebut babi, dengan
sebutan babi muslim (sapi).
Jadi, jangan
eksklusif. Pahala mengajak kebaikan itu bersifat kuadrat. A mengajak B, maka A
mendapat pahala B. B mengajak C, A tetap dapat pahala B dan C. Hidup yang
singkat, pilihlah pahala yang serba kuadrat. Wallahu a’lam. (AL)