Label

Sabtu, 07 September 2013

Pengamatan Rumah Tangga

Aku sering bertanya dalam hati. Kriteria perempuan yang bagaimanakah yang diinginkan laki-laki? Aku sering melakukan pengamatan pada rumah tangga oranglain. Bukan berarti aku sudah ingin berumah tangga yaa..., tapi aku perlu mengerti sebelum menjalaninya.
Di sekitarku, ada banyak lai-laki yang ingin segera menikah, meskipun usia mereka masih cenderung muda. Memang tidak ada batasan minimal usia menikah - kecuali program pemerintah untuk mengatasi peledakan penduduk. Bahkan Islam menganjurkan bagi para pemuda yang sudah siap, maka wajib untuk menyegerakan menikah. yah, itu tidak salah. Islam menganjurkan pasti juga ada maksudnya. Supaya nafsu mereka lebih terjaga, menyempurnakan separuh  dien, membentuk keturunan sholeh dan sholekhah. Ya, itu bagus.

Tapi, ada banyak pertanyaan yang aku tidak tahu pada siapa akan kuutarakan. Merekalah para laki-laki - yang berusaha menjaga iman - yang ingin segera menikah. Sudah bukan rahasia lagi, laki-laki memang diciptakan dengan nafsu yang besar, perbandingan nafsu laki-laki dan perempuan 9:1. Bahkan perbandingan malu laki-laki dan perempuan 1:5. Kenapa bisa begitu? Yah, tulah kodrat kedua jenis kelamin itu. 
Namun, apaah pernikahan itu, hanya sarana bagi laki-laki memuaskan nafsunya? Apakah mereka memang benar-benar memiliki apa yang diinginkan perempuan? Apakah setelah semua terasa jenuh, sikap mereka pada pasangannya akan berubah? Apakah jika kulit seorang perempuan sudah berkerut, sekalipun perempuan itu masih setia dan berbakti, maka perasaan sang laki-laki akan memudar? Begitu banyak pertanyaa
n tentang apa yang sebenarnya para laki-laki itu inginkan. 

Aku selalu mengamati, mulai dari keluargaku sendiri, orang-orang terdekat yang sudah berpasang-pasangan. Sikap mereka di awal pernikahan, akan membuat semua orang yang melihatnya merasa iri, begitu mesra, lembut, romantis. Dan kenyataannya, itu tidak akan bertahan lama. Aku pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa cinta sepasang suami istri hanya bertahan maksimal tiga tahun. Setelahnya, adalah tugas mereka untuk membangun cinta agar kehidupan rumah tangga tetap harmonis. Lalu, apakah keduanya bisa?

Berdasarkan pengamatanku lagi, tidak banyak dari mereka yang bisa. Ya, meskipun sampai saat ini mereka masih berumah tangga, tapi menurutku itu sangat menyakitkan jika aku yang mengalaminya. Seorang istri, pasti akan tetap setia, berbakti, menjalankan kewajibannya, berlemah lembut pada suaminya. Tapi aku tidak pernah rela atas perlakuan balik sang suami. Semakin lama pernikahan itu, mereka tidak lagi lemah lembut pada istrinya. Mereka tidak lagi memuji istrinya, bahkan bisa saja mencemooh dan menganggap rendah. Mereka tidak lagi mau membantu istri mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah - ya meskipun itu tugas istri, apa mereka tidak berpikir bahwa perempuan sudah cukup mengurus banyak hal. Mereka akan membiarkan istri-istri mereka belanja sendiri di luar sana. Mereka tidak lagi menemani istrinya kemanapun ia pergi - lalu apa gunanya mahram yang harus selalu mendampingi kemanapun perempuan pergi?

Ada banyak fakta di dunia ini. Dan ada banyak tanya dalam diriku. Apakah mereka benar-benar hanya membutuhkan kecantikan? Jika kecantikan itu pudar, rasa sayang dan perlakuan lembut mereka akan hilang. Jadi kalimat " Yang pertama dilihat dari perempuan itu agamanya, sholekhah." mungkin itu sudah basi. Kenyataannya, kebanyakan laki-laki tidak seperti itu. Laki-laki sholeh pun bisamengubah perempuan biasa menjadi sholekhah, karena mereka memiliki label iman (pemimpin).
Tapi..., wallahu'alam. Semoga Allah memberiku laki-laki terbaik dari sisiNya, yang bisa istiqomah dan konsisten dalam bersikap. Aaamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar