Label

Minggu, 02 Maret 2014

Cinta di Al-A'raf (Flash Fiction)



Cinta di Al-A’raf
(Alya Nur Fadhilah)

“Kenapa dulu aku mati, Tuhan?”
            Aku mendesah kecewa. Dari tempatku berpijak, ruang tak tertulis dalam bahasa manusia, mengamati pasangan putih abu-abu di taman. Agak jauh pasangan lain mengaitkan jemari. Lain halnya sekumpulan orang di clubbing.
            “Aku ingin seperti mereka.”
            Suara gaib itu menyanggah. “Bersyukurlah Tuhan segera memanggilmu, sebelum kau menanggung dosa sendiri.”
            “Heh, apa maksudmu?”
            “Kau beruntung tidak ada kesempatan mendosa, seperti yang kau lihat kini. Juga, sebelum menambah penderitaan orangtuamu.”
            Aku menunduk lesu. Ibuku…
***
            “Durhaka kamu menendang Ibu!” Mata ibu melotot.
            “Ibu juga jahat tidak memberiku uang!” bantahku.
“Ibu bekerja keras dan kamu meminta uang untuk main PS? Mau jadi apa kamu besok, Nak, jika pekerjaanmu hanya bermain?”
***
“Apa kau ingat masa SMPmu? Apa kau ingat doa ibumu?” Suara antah berantah itu lagi.
“Radja, sekarang kamu sudah baligh. Sholatlah, Nak!”
“Ibu berisik! Aku masih punya umur panjang. Sholat itu buat orang yang mau mati, segera taubat.”
“Astagfirullah…. Ibu tidak pernah mengajarkan begitu,” suara ibu, serak.
“Aku masih bisa hidup bahagia tanpa sholat. Aku titip doa ya, Bu.” Mataku tak pernah beralih dari layar hp.
“Ibu selalu berdoa semoga kau jadi anak sholeh. Dan memudahkan pertanggungjawaban Ibu di akherat.” Suara semakin serak.
“Amin.”
“Meski kau tak mengamini sungguh-sungguh, tapi ibumu berdoa tulus dan memohon. Allah yang mencintai hambaNya, pasti mengabulkan.”
Aku terdiam sejenak. “Apa ibu juga berdoa supaya aku segera mati?”
“Ibu mana yang begitu jahat? Cobalah ingat sendiri.”
***
“Ibu, pacarku minta boneka untuk kado ulang tahun.”
Ibu hanya memandangku heran.
“Kali ini Ibu harus memberiku uang.” Aku menggebrak meja.
“ Tidak bisakah kamu menghargai ibumu lebih dari penghargaanmu pada pacarmu? Surgamu ada di sini.”
Aku mengibaskan tangan, melangkah pergi.
“Radja, Ibu slalu berdoa Allah merahmatimu dan menuntunmu ke surga, meski tanpa melalui kakiku.”
***
“Doa itu tulus, Radja. Allah mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh. Rahmat Allah, kasih sayang, dan cintaNya, untuk semua hambaNya.”
Aku menggeleng.
“Cinta Tuhan tidak bisa disamakan dengan konsep cinta manusia. Jika kesetiaan cinta manusia hanya untuk satu, Tuhan untuk semua. Jika cinta manusia kadang tidak bisa memiliki, Tuhan bisa memiliki apapun, mutlak. Jika cinta manusia ibarat kuku yang sering dipotong dan berganti, ukuran cinta Tuhan bukan di bumi ini.”
Aku sedikit luluh.
“Kau ingat, ketika kau berusaha menolong kucing tergeletak di tengah jalan dan truk menabrakmu, itulah bentuk cintaNya. Dunia tidak baik untukmu, semakin kau lama hidup, semakin banyak dosa. Kucing itu menghapus dosamu, atas kehendakNya. Tidak ada yang bisa menghindar dari panggilan kerinduanNya.”
“Lalu tempat ini? Apakah surga?”
“Bukan. Ini al-a’raf. Antara surga dan neraka. Balaslah kerinduan Tuhanmu dengan rindumu, kau akan bertemu  denganNya, di surga. Juga ibumu.”

#Temui juga tulisanku lain di bukunya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar