Cinta di Al-A’raf
(Alya Nur Fadhilah)
“Kenapa dulu aku mati,
Tuhan?”
Aku
mendesah kecewa. Dari tempatku berpijak, ruang tak tertulis dalam bahasa
manusia, mengamati pasangan putih abu-abu di taman. Agak jauh pasangan lain
mengaitkan jemari. Lain halnya sekumpulan orang di clubbing.
“Aku
ingin seperti mereka.”
Suara
gaib itu menyanggah. “Bersyukurlah Tuhan segera memanggilmu, sebelum kau
menanggung dosa sendiri.”
“Heh,
apa maksudmu?”
“Kau
beruntung tidak ada kesempatan mendosa, seperti yang kau lihat kini. Juga,
sebelum menambah penderitaan orangtuamu.”
Aku
menunduk lesu. Ibuku…
***
“Durhaka kamu menendang Ibu!” Mata ibu
melotot.
“Ibu juga jahat tidak
memberiku uang!” bantahku.
“Ibu bekerja keras dan kamu meminta uang untuk main PS? Mau
jadi apa kamu besok, Nak, jika pekerjaanmu hanya bermain?”
***
“Apa kau ingat masa SMPmu?
Apa kau ingat doa ibumu?” Suara antah berantah itu lagi.
“Radja, sekarang kamu sudah baligh. Sholatlah, Nak!”
“Ibu berisik! Aku masih punya umur panjang. Sholat itu buat
orang yang mau mati, segera taubat.”
“Astagfirullah…. Ibu tidak pernah mengajarkan begitu,” suara
ibu, serak.
“Aku masih bisa hidup bahagia tanpa sholat. Aku titip doa ya,
Bu.” Mataku tak pernah beralih dari layar hp.
“Ibu selalu berdoa semoga kau jadi anak sholeh. Dan
memudahkan pertanggungjawaban Ibu di akherat.” Suara semakin serak.
“Amin.”
“Meski kau tak mengamini
sungguh-sungguh, tapi ibumu berdoa tulus dan memohon. Allah yang mencintai
hambaNya, pasti mengabulkan.”
Aku terdiam sejenak. “Apa
ibu juga berdoa supaya aku segera mati?”
“Ibu mana yang begitu
jahat? Cobalah ingat sendiri.”
***
“Ibu, pacarku minta boneka untuk kado ulang tahun.”
Ibu hanya memandangku heran.
“Kali ini Ibu harus memberiku uang.” Aku menggebrak meja.
“ Tidak bisakah kamu menghargai ibumu lebih dari penghargaanmu
pada pacarmu? Surgamu ada di sini.”
Aku mengibaskan tangan, melangkah pergi.
“Radja, Ibu slalu berdoa Allah merahmatimu dan menuntunmu ke
surga, meski tanpa melalui kakiku.”
***
“Doa itu tulus, Radja.
Allah mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh. Rahmat Allah, kasih sayang,
dan cintaNya, untuk semua hambaNya.”
Aku menggeleng.
“Cinta Tuhan tidak bisa
disamakan dengan konsep cinta manusia. Jika kesetiaan cinta manusia hanya untuk
satu, Tuhan untuk semua. Jika cinta manusia kadang tidak bisa memiliki, Tuhan
bisa memiliki apapun, mutlak. Jika cinta manusia ibarat kuku yang sering
dipotong dan berganti, ukuran cinta Tuhan bukan di bumi ini.”
Aku sedikit luluh.
“Kau ingat, ketika kau
berusaha menolong kucing tergeletak di tengah jalan dan truk menabrakmu, itulah
bentuk cintaNya. Dunia tidak baik untukmu, semakin kau lama hidup, semakin
banyak dosa. Kucing itu menghapus dosamu, atas kehendakNya. Tidak ada yang bisa
menghindar dari panggilan kerinduanNya.”
“Lalu tempat ini? Apakah
surga?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar