
Jumat, 4 April
2014 Kammus menggelar acara Kantin (Kajian Rutin) di halaman rumput mushola
Al-Ikhsan FKG UGM. Kajian yang digelar rutin setiap dua pekan pukul 16.00 WIB
kali ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa FKG UGM. Mengangkat tema ‘Cerdas Memilih
untuk Indonesia’, dr.Raehanul Bahraen selaku pembicara menjelaskan secara
terbuka bagaimana menanggapi demokrasi pemilu dan memilih pemimpin yang baik.
dr. Bahraen
mengungkapkan, bahwa demokrasi hukum asalnya adalah haram. “ Profesor nyoblos
dibandingkan dengan dua orang yang baru aja keluar dari rumah sakit jiwa nih,
tetap yang menang adalah suara dua orang yang keluar dari rumah sakit jiwa.
Begitulah demokrasi. Tapi Islam itu tidak kaku. Kalo memang harus memilih,
pilihlah yang terbaik, yang minimal dia beriman dan sholat.”
Dosen
FK Universitas Mataram itu juga menyampaikan pesan dari Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam
keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama
dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan
dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga
penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun,
jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika
tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan
terjadi pada pemimpin mereka.”
Pemimpin
adalah cerminan diri rakyat, begitulah yang sering terulang dalam kalimat dr.
Raehanul Bahraen. Sehingga jangan hanya fokus menuntut pemimpin sempurna yang
harus begini begitu, tapi juga harus berpikir bagaimana memperbaiki rakyat dan
masyarakat.
Beliau
juga mengungkapkan, seorang pemimpin yang baik belum tentu rakyatnya juga baik.
Jaman dahulu Bani Israil adalah kaum yang dipimpin oleh para nabi, diantaranya
nabi Musa as., nabi Harun as., dan nabi Sulaiman as. Namun perilaku mereka
mendatangkan laknat Allah bahkan ada yang dikutuk menjadi kera. Sehingga
hancurnya rakyat belum tentu disebabkan oleh pemimpin. Namun pemimpin adalah
cerminan diri rakyat. Sehingga lebih baik kita fokus memperbaiki diri sandiri
dan masyarakat terlebih dahulu.
Jika
harus mengubah negara, kita memang harus menguasai konstitusi. Dan untuk
mengubah negara menjadi islam, maka harus menguasai konstitusi pula. Namun
untuk melakukan itu di negara itu butuh proses lama dan sulit. dr. Bahraen
kembali mengingkatkan bahwa kita harus memperbaiki rakyat terlebih dahulu.
Beliau bercerita tentang kisah Najashi, raja Etiopia. Ketika menjadi raja di
negara itu, Najashi justru menyembunyikan keislamannya.
“
Jangan fokus mengisi parlemen dengan orang islam, siap nggak rakyatnya?” kata
dr. Bahraen. Beliau menjelaskan bahwa masalah di negara Indonesia itu banyak,
jadi jangan hanya fokus memasukkan orang islam di parlemen lalu mengubah
menjadi negara islam. Sebelum mengarah ke jauh, lebih baik memperbaiki hal-hal
sederhana rakyat, misalnya menyembah kubur sebagai perbuatan syirik, berzina,
memakan harta rakyat, dan sebagainya. Bahkan kepemimpinan Rasulullah saw.
selama 10 tahun hanya memperbaiki keimanan umatnya.
So,
gunakan hak pilihmu dengan baik. Jadilah rakyat yang memenuhi hak Allah, insya
Allah, Dia akan memberikan pemimpin yang baik untuk kita.Wallaahu a’lam. (AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar