Ada
banyak kisah menarik dalam praktikum TKG 2 (Teknologi Kedokteran Gigi 2) di
semester ini. Ada 3 bab yang harus diselesaikan, sebelumnya pembuatan plat
dasar gigi tiruan dengan dua metode dan terakhir pengecoran logam gigi. Dan
praktikum bab terakhir itulah yang mungkin paling berkesan.
Seperti
bab sebelumnya, praktikum ini melalui beberapa tahapan. Jika sudah gagal di
salah satu tahap, ya konsekuensinya mengulang tahapan dari awal. Jadi ada berapa tahapan sih?
1.
Menempel
malam pada gigi yang akan dibuat logam. Menggunakan malam inlay, berwarna ungu,
mudah cair, dan berbau. Aku suka malam berwarna ungu ini.
2.
Mengukir
malam itu menyerupai bentuk anatomis gigi, agak susah sih.
3.
Membuat
sprue pin dan reservoir. Reservoir ini dari malam merah yang ditempelkan pada ujung casting
ring. Apa casting ring? Bentuk pipa berukuran diameter 2,5 cm dan tinggi 3,5
cm. ini nih gambarnya casting ring. Sudah jelek sih.
4.
Mengisi
gips pada casting ring itu, kali ini menggunakan gips yang berwarna merah muda,
lunak.
5.
Pre
heating, wax elimination, dan heating. Tahapan ini menggunakan anglo/tungku
yang diisi arang. Jadi untuk tetap menyalakan bara apinya, menggunakan tenaga
manusia, harus terus mengipasi. Atau ada pula yang kreatif memakai kipas angin
(heheheh)
6.
Pengecoran
logam menggunakan alat yang di kampus Cuma ada satu.
7.
Deflasking,
atau memecah gips supaya bisa mengambil hasil coran gigi
8.
Dan
ini dia hasilku, setelah di polish dengan berbagai macam bur.
Hmm,
jelek sih. Tapi wajarlah, kan baru pertama kali.
Yaah,
memang susah dijelaskan dengan teori sih. Tapi itu gambaran secara umum.
Kembali lagi, ada banyak kisah. Betapa banyak orang gagal dalam praktikum ini.
Berapa pula orang yang menangis dan frustasi. Apa masalahnya? Masalahnya adalah
alatnya Cuma satu, sehingga untuk mengecor harus rela antre dengan sekitar 150
mahasiswa, dan harus rela pulang tengah malam karena terlalu sering gagal.
Kedua, ketika gagal di salah satu tahapan, harus mengulang dari awal. Yang itu
berarti butuh pula material, gips, logam ( yang harganya nggak murah ya),
malam, dll. Itu dia masalahnya…
Ada
seorang temanku, dia sudah mengulang dua kali. Hasil pertamanya sudah sapai
tahap akhir, namun ternyata logam yang dicor tidak berbentuk gigi. Hasil
keduanya, setelah keluar di tungku dan masih panas, dia tidak sengaja memegang,
terlempar, dan pecah gipsnya. Frustasi? Pastinya. Menangis? Wajar sih. Banyak
teman yang berusaha membantu dan menghibur. Berapa banyak yang menangis malam
itu, sayangnya aku tidak menghitung.
Ada
pula, yang begitu mengharapkan kelahiran gigi logam itu, saat mereka meecah
gips. Benar-benar layaknya ibu yang mengharap kelahiran anaknya. Ada beberapa
pula yang lantas memberi nama pada gigi itu setelah lahir. Hahaha, lucu juga.
Dan
hari itu, 13 mei, pertama kalinya aku masih mengendarai motor di jalan Jogja,
pukul 11 malam. Untung Jogja masih rame jam segitu. Untung pula kegagalanku
masih di tahap awal, saat pengisian gips yang terlalu encer, jadi mengulang
hanya beberapa tahap. dan tidak perlu mengantre sampe tengah malam. Banyak lho
yang jam 1 baru pulang.
Sebenarnya
ada banyak pelajaran dari praktikum itu. Kerjasama dan saling membantu, itu
pasti. Ketika beberapa teman sudah selesai, mereka rela membelikan titipan
makanan bagi mereka yang belum selesai. Apalagi hari selasa, kuliah pagi jam 7,
dilanjutkan dua praktikum beruntun sampai sore, pasti banyak yang belum makan
siang atau seharian belum makan. Atau ada yang gagal, maka yang lain saling
membantu dan menopang.
Kedua,
aku banyak menemukan orang-orang yang memiliki wahn (cinta dunia). Sebenarnya gagal
hanya masalah sederhana, toh bisa dilanjut besok. Rasa sedih berlebihan, itu
tidak boleh. Apalagi, praktikum sampai malem, melupakan sholat isya’, tidak
sempat sholat maghrib ( wah parah banget). Emang sih pekerjaannya harus
ditunggu, apalagi kalo lagi di depan tungku, harus dijaga. Tapi kan…, ehm, tapi
Allah itu lebih penting.
Ya
begitulah, percuma sedih, menyesal, frustasi, berusaha semaksimal mungkin, tapi
usaha itu tidak dipasrahkan ke Allah. Ingat ya, “ Ikhtiar seorang muslim itu bukan pada
usahanya, melainkan pada Allah. Sedangkan ikhtiar orng kafir itu pada usahanya.”
Dan yang terakhir, di sela-sela aku menunggu antrean selama 2,5 jam, iseng membuat sesuatu dari sisa gips milik teman. ini diaa..
Sebenernya tidak penting sih, hanya mengisi waktu luang dan kebosanan aja, di sela-sela belajar buat praktikum esoknya. Aku juga bingung, kenapa mesti bentuk hati ya? Emang di dunia ini tidak ada bentuk lain selain hati? Entahlah, abaikan jika tidak penting.
Semoga
bermanfaat.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar