Label

Sabtu, 28 Juni 2014

Hanya Status?


Diam terduduk. Mataku masih bengkak karena semalam. Entah kenapa, aku pun tidak mengerti. Tekad ini sudah bulat. Jarak beberapa bangku dari tempatku, perempuan berjilbab ungu duduk, dengan handphone di tatapannya.
Suara langkah amat kukenal mendekat.
“ Assalamualaikum, Ukhti, apa kabar?” Suara itu, entah kenapa membuat telingaku berdengung ngilu.
Aku hanya menjawab salam dan berdiri.
“ Ukh, kamu menangis? Ada apa? Katakan, Ukhti.” Aku semakin risih mendengarnya.
Jarak kami berdiri tidak terlalu dekat. Dengan yakin atas sholat istikhorohku, tetap menunduk. “ Aku sudah istikharah. Aku rasa semua tentang hubungan kita, tidak ada ibrahnya. Jadi, ehm, jadi kita sebaiknya tidak perlu begini.”
“ Maksudmu?” Sunyi sejenak diantara kami. “ Tunggu, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba…”
“ Kenapa waktu itu kamu menembakku? Apa tujuanmu?”
“ Ya karena aku cinta.”
“ Tapi kenapa kita harus pacaran sih?”
Sunyi lagi. Dari samping mataku, perempuan berjilbab ungu itu menoleh sebentar. Seperti penonton yang sudah mulai tertarik pada dialog tokoh utama.
“ Aku belum mengerti maksudmu, Laila.”
Aku mendesah, bahuku terangkat. “ Kita berdua anak LDK, kita pacaran. Menurutmu bagaimana? Kita berdakwah tapi kita sendiri begini.”
“ Ada yang salah dengan cara kita? Bukankah kita selama ini selalu menjaga jarak? Kita hanya komunikasi lewat sms dan socmed, bertemu pun selalu didampingi adikmu itu – tidak pernah berduaan, tidak perlu berpegangan tangan, tidak melakukan hal-hal tabu, tidak…”
“ Tidak tabu?” seruku, memotong kalimatnya. Kali ini mataku melotot memandangnya, barangkali juga tatapan sedih pada ikhwan berkacamata itu. “ Apakah ini tidak tabu?”
Cahaya mata di hadapanku semakin memudar. Bibirnya terkatup rapat. Semilir angin perlahan membuat rambut gondrongnya menari gemulai. “ Kenapa waktu itu kamu terima?”
Aku menghela napas dalam. “ Aku tahu salah, dan aku baru sadar.”
“ Apakah ada yang menyindirmu? Atau ada yang bilang macam-macam ke kamu? Ada yang menghinamu? Siapa? Anak LDK juga? Jawab, La.”
“ Allah!” seruku tegas. “ Allah yang menyadarkanku. Cukuplah, Dho. Apa yang kamu harapkan dari hubungan ini? Ini cuma sebatas status ‘pacaran’, kita nggak ngapa-ngapain. Lalu apa coba kalo ini hanya sekadar status? Ada atau tidak hubungan ini, sama saja. Kita tetap harus saling menjaga. Lalu apa bedanya?”
“ Lah, jadi…, jadi mau kamu, kita ngapa-ngapain? Astaghfirullah, kamu mau kita...”
“ Stop!” seruku, memotong lagi. “ Bukan itu maksudku. Aku hanya pengen kamu sadar, ada atau tidak hubungan ini sama sekali tidak berpengaruh, Ridho. Jadi sia-sia gitu.”
Aku menatap Ridho yang kini duduk terpekur di bangku panjang. Wajahnya memandangi tanah. Entah kemana pikirannya mengarah.
Ridho, seorang ikhwan cinta pertamaku. Pertama kalinya rasa itu ada, sejak awal duduk di bangku kuliah. Akhwat mana yang tidak tertarik untuk memandang lebih dari dua kali padanya. Pada sosok berwajah putih, hidung mancung, jidat agak lebar tanda kecerdasan pemikirannya, rambut-rambut kecil di dagunya.
Aku, hanya perempuan biasa yang dibasuh cukup basah oleh agama sejak kecil. Bahkan sebelum bertemu dia, aku selalu menjaga komitmen tentang diri dan agama ini. Tidak ada yang mampu mengusik. Selain dia. Siapa yang tidak mendambanya. Aku selalu ingat bagaimana rasa kerap bergetar setiap kami berkomunikasi untuk urusan LDK pada divisi yang sama. Semakin membuncah ketika ia berkomunikasi bukan lagi sebatas teman LDK. Setiap malam selalu miscalled untuk membangunkan sholat tahajud, saling bertukar ilmu agama, saling bertukar info majelis kajian, mengingatkan untuk mengaji hingga puasa. Akhwat mana yang tidak luluh diperlakukan begitu, apalagi oleh orang yang disukainya.
Entahlah, mungkin aku terlalu berlebihan berkata tentang perasaan cinta. Aku hanya tidak ingin dia menjadi milik orang lain. Aku selalu ingin dengannya. Meski sekarang aku tahu banyak kekurangannya, termasuk tentang hubungan ini. Tapi aku sendiri pun amat buruk, tidak jauh berbeda dengannya.
Dua bulan hubungan kami, aku hanya menebalkan muka, di hadapan teman-teman LDK. Mereka mencibir, memandang heran, seringkali berkasak-kusuk. Ah, rupanya bukan hanya menebalkan muka, tapi juga menulikan telinga, membesarkan hati sendiri. Dua bulan itu, dengan segala ujian keimanan dan ukhuwah, sesungguhnya hatiku merasa hampa. Aku merasa kosong. Buncahan rasa cinta itu, tidak cukup menyembuhkan keheningan jiwaku. Meskipun sebenarnya aku dan Ridho tidak melakukan apapun tentang hubungan ini. Seperti yang kukatakan, hanya ‘status’. Status yang meskipun sekadar status, tapi itu hal tabu. Fasiknya lagi, aku paham tentang itu. Sungguh fasik, orang yang paham tentang kebenaran namun tidak mengamalkannya.
Aku paham. Segala zina hati ini dasarnya berawal dari mata. Entah berapa dosa yang dibuat mata ini kala memandang. Berapa banyak pertanggungjawaban pikiran ini di hadapanNya, karena selalu terisi oleh bayangan ikhwan. Betapa hitamnya hati ini. Berapa banyak maksiat yang kuperbuat, hingga terasa ibadah itu bukan lagi untukNya. Itukah kekosongan jiwaku, merasa jauh dari Allah.
Aku memandang sedih padanya. Belum ikhlas. Tidak ikhlas jika dia dengan perempuan lain. Hatiku semakin menciut ketika akhirnya dia berlalu meninggalkanku. Aku mencaci diriku sendiri, kenapa tidak konsisten. Kenyatannya aku masih menangis. Masih berharap.
Perempuan berjilbab ungu itu, berjalan mendekat, mengelus bahuku. “ Mbak, akan selalu ada laki-laki baik untuk perempuan yang selalu berusaha memperbaiki dirinya.” Dia memelukku.
“ Tapi…, tapi sebenarnya apa salah jika sekadar status?” isakku.
“ Bukannya tadi Mbak bilang itu sia-sia? Ada hadits kan Mbak, intinya bukan seorang muslim yang sempurna jika ia tidak meninggalkan hal yang sia-sia. Sudahlah, Mbak. Dia belum tentu ikhwan yang baik.”
Aku mengangguk, meyakinkan diri.
***
Aku berdiri menatap bayanganku di cermin, mematutkan diri dengan kebaya sederhana yang membalut tubuh. Selembar kain terkunci rapi di kepalaku, menutup sampai dada dan siku. Aku hanya melumerkan bedak tipis ke wajah. Tidak berdandan seperti layaknya wisuda lain. Hanya sederhana saja, menghindari tabarruj.
Tiga tahun aku fokus pada kuliah dan memperbaiki iman, setelah kejadian menyesakkan itu. Aku berhasil menjaga diri. Dan rasa itu? Mungkin masih ada sedikit harapan. Sedikit bagaimana? Mungkin seperti lubang yang kecil. Sekecil apa? Entahlah.
Ridho sudah lulus setengah tahun yang lalu. Sejak saat itu aku tidak lagi memperhatikannya. Yang kutahu dia mulai meninggalkan banyak organisasi dan mengambil kuliah percepatan, lulus tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude. Entah dimana sosok itu sekarang. Tidak lagi hubungan melalui pesan ataupun socmed.
Baiklah, aku tidak bisa memungkiri bahwa aku seringkali rindu. Selalu kutepis. Barangkali dia sudah dengan perempuan lain, menjalin hubungan diam-diam. Aku harus menjaga hati, untuk ikhwan terbaik dari Allah, yang nanti akan menjadi jodohku.
“ Mbak Laila,” seru Isma, adikku, membuka pintu. “ Lama amat sih? Kita semua sudah siap nih.”
Aku tersenyum kecil memandang jubah kaos warna merah marun yang ia kenakan. “ Kenapa jadi kamu yang repot sih? Yang wisuda kan aku.”
Isma terkekeh, menggamit lenganku keluar kamar. “ Mbak mau hadiah apa?”
“ Apa ya? Mbak minta doa aja deh.”
“ Yaelah kalo itu mah udah pasti, Mbak.”
Acara wisuda berakhir dhuhur itu. Matahari tepat di atas. Aku dan sekeluarga berfoto ria. Tidak peduli panas yang semakin terik.
“ Akhirnya, Nduk, kamu lulus juga. Segera dapat jodoh ya, biar Ummi bisa momong cucu,” kata ummi padaku.
Aku menjitak Isma yang terkekeh mengejekku. “ Ummi, kok sudah mikir cucu sih? Laila kan mau kerja  dulu, membantu Ummi sama Abi.”
“ Abi tidak berharap muluk dari pekerjaanmu, Laila. Biar kau yang menikmati sendiri.”
Aku memberikan senyum nostalgia. Ketika tiba-tiba terdengar suara ikhwan. Suara yang segera mengusik bahagiaku. Jantungku kembali bergetar, memandang wajah itu tersenyum ramah pada keluargaku.
“ Assalamualaikum.”
“ Wa’alaikum salam, Nak. Akhirnya kamu datang juga,” ucap abi.
Aku memalingkan wajah. Kenapa, sosok itu hadir lagi? Meskipun, tak dapat dipungkiri, rinduku sudah terjawab oleh hadirnya.
“ Laila,” ucap ummi, merangkul pundakku. “ Beberapa hari yang lalu, Ridho datang ke rumah, meminta dirimu. Dia teman kuliahmu dulu, kan?”
Mulutku ternganga. Memandang senyum manis itu.
“ Ya sudah, kalian bicara dulu, ya,” kata abi, meninggalkan kami berdua sendiri di tengah kerumunan manusia.
“ Apa kabar, Laila?”
Aku masih terdiam, hanya mengangguk.
“ Sejak hari itu, aku semakin tersadar. Bahwa kamu benar, Laila. Maaf jika saat itu aku mengajakmu pada dosa. Aku mengambil keputusan jangka panjang. Jika memang aku tidak boleh memilikimu sebagai pacar, maka…” Aku mendengar desah panjang Ridho ketika mengatakan itu. “ Maka aku pasti akan memilikimu sebagai istri, hubungan yang diijinkan oleh Allah.”
Aku ternganga menatapnya.
“ Aku memutuskan fokus belajar, mengambil kuliah percepatan. Supaya saat melamarmu, aku sudah menjadi laki-laki mapan.”
Pandanganku mengabur, dia pasti bisa melihat mata ini bening oleh air mata.
“ Jadi…, maukah kamu menerimaku, sebagai imam?”
Aku menunduk, menangis terharu. Sudah sejak lama, bertahun-tahun, aku menyimpan lubang kecil itu. Aku hanya tersenyum kecil, masih terdiam. Aku rasa dia tahu, diamnya perempuan adalah ‘iya’.

Selesai
  


 #Tunggu ya terbitan antologi cerpen ini di "Hijaber Kok Pacaran?"









Tidak ada komentar:

Posting Komentar