Diam
terduduk. Mataku masih bengkak karena semalam. Entah kenapa, aku pun tidak
mengerti. Tekad ini sudah bulat. Jarak beberapa bangku dari tempatku, perempuan
berjilbab ungu duduk, dengan handphone
di tatapannya.
Suara
langkah amat kukenal mendekat.
“
Assalamualaikum, Ukhti, apa kabar?” Suara itu, entah kenapa membuat telingaku
berdengung ngilu.
Aku
hanya menjawab salam dan berdiri.
“
Ukh, kamu menangis? Ada apa? Katakan, Ukhti.” Aku semakin risih mendengarnya.
Jarak
kami berdiri tidak terlalu dekat. Dengan yakin atas sholat istikhorohku, tetap
menunduk. “ Aku sudah istikharah. Aku
rasa semua tentang hubungan kita, tidak ada ibrahnya.
Jadi, ehm, jadi kita sebaiknya tidak perlu begini.”
“
Maksudmu?” Sunyi sejenak diantara kami. “ Tunggu, ada apa ini? Kenapa
tiba-tiba…”
“
Kenapa waktu itu kamu menembakku? Apa tujuanmu?”
“
Ya karena aku cinta.”
“
Tapi kenapa kita harus pacaran sih?”
Sunyi
lagi. Dari samping mataku, perempuan berjilbab ungu itu menoleh sebentar.
Seperti penonton yang sudah mulai tertarik pada dialog tokoh utama.
“
Aku belum mengerti maksudmu, Laila.”
Aku
mendesah, bahuku terangkat. “ Kita berdua anak LDK, kita pacaran. Menurutmu
bagaimana? Kita berdakwah tapi kita sendiri begini.”
“
Ada yang salah dengan cara kita? Bukankah kita selama ini selalu menjaga jarak?
Kita hanya komunikasi lewat sms dan socmed,
bertemu pun selalu didampingi adikmu itu – tidak pernah berduaan, tidak perlu
berpegangan tangan, tidak melakukan hal-hal tabu, tidak…”
“
Tidak tabu?” seruku, memotong kalimatnya. Kali ini mataku melotot memandangnya,
barangkali juga tatapan sedih pada ikhwan berkacamata itu. “ Apakah ini tidak
tabu?”
Cahaya
mata di hadapanku semakin memudar. Bibirnya terkatup rapat. Semilir angin
perlahan membuat rambut gondrongnya menari gemulai. “ Kenapa waktu itu kamu
terima?”
Aku
menghela napas dalam. “ Aku tahu salah, dan aku baru sadar.”
“
Apakah ada yang menyindirmu? Atau ada yang bilang macam-macam ke kamu? Ada yang
menghinamu? Siapa? Anak LDK juga? Jawab, La.”
“
Allah!” seruku tegas. “ Allah yang menyadarkanku. Cukuplah, Dho. Apa yang kamu
harapkan dari hubungan ini? Ini cuma sebatas status ‘pacaran’, kita nggak
ngapa-ngapain. Lalu apa coba kalo ini hanya sekadar status? Ada atau tidak
hubungan ini, sama saja. Kita tetap harus saling menjaga. Lalu apa bedanya?”
“
Lah, jadi…, jadi mau kamu, kita ngapa-ngapain? Astaghfirullah, kamu mau
kita...”
“
Stop!” seruku, memotong lagi. “ Bukan itu maksudku. Aku hanya pengen kamu
sadar, ada atau tidak hubungan ini sama sekali tidak berpengaruh, Ridho. Jadi
sia-sia gitu.”
Aku
menatap Ridho yang kini duduk terpekur di bangku panjang. Wajahnya memandangi
tanah. Entah kemana pikirannya mengarah.
Ridho,
seorang ikhwan cinta pertamaku. Pertama kalinya rasa itu ada, sejak awal duduk
di bangku kuliah. Akhwat mana yang tidak tertarik untuk memandang lebih dari dua
kali padanya. Pada sosok berwajah putih, hidung mancung, jidat agak lebar tanda
kecerdasan pemikirannya, rambut-rambut kecil di dagunya.
Aku,
hanya perempuan biasa yang dibasuh cukup basah oleh agama sejak kecil. Bahkan
sebelum bertemu dia, aku selalu menjaga komitmen tentang diri dan agama ini.
Tidak ada yang mampu mengusik. Selain dia. Siapa yang tidak mendambanya. Aku
selalu ingat bagaimana rasa kerap bergetar setiap kami berkomunikasi untuk
urusan LDK pada divisi yang sama. Semakin membuncah ketika ia berkomunikasi
bukan lagi sebatas teman LDK. Setiap malam selalu miscalled untuk membangunkan sholat tahajud, saling bertukar ilmu
agama, saling bertukar info majelis kajian, mengingatkan untuk mengaji hingga
puasa. Akhwat mana yang tidak luluh diperlakukan begitu, apalagi oleh orang
yang disukainya.
Entahlah,
mungkin aku terlalu berlebihan berkata tentang perasaan cinta. Aku hanya tidak
ingin dia menjadi milik orang lain. Aku selalu ingin dengannya. Meski sekarang
aku tahu banyak kekurangannya, termasuk tentang hubungan ini. Tapi aku sendiri
pun amat buruk, tidak jauh berbeda dengannya.
Dua
bulan hubungan kami, aku hanya menebalkan muka, di hadapan teman-teman LDK.
Mereka mencibir, memandang heran, seringkali berkasak-kusuk. Ah, rupanya bukan
hanya menebalkan muka, tapi juga menulikan telinga, membesarkan hati sendiri.
Dua bulan itu, dengan segala ujian keimanan dan ukhuwah, sesungguhnya hatiku
merasa hampa. Aku merasa kosong. Buncahan rasa cinta itu, tidak cukup
menyembuhkan keheningan jiwaku. Meskipun sebenarnya aku dan Ridho tidak
melakukan apapun tentang hubungan ini. Seperti yang kukatakan, hanya ‘status’.
Status yang meskipun sekadar status, tapi itu hal tabu. Fasiknya lagi, aku
paham tentang itu. Sungguh fasik, orang yang paham tentang kebenaran namun
tidak mengamalkannya.
Aku
paham. Segala zina hati ini dasarnya berawal dari mata. Entah berapa dosa yang
dibuat mata ini kala memandang. Berapa banyak pertanggungjawaban pikiran ini di
hadapanNya, karena selalu terisi oleh bayangan ikhwan. Betapa hitamnya hati
ini. Berapa banyak maksiat yang kuperbuat, hingga terasa ibadah itu bukan lagi
untukNya. Itukah kekosongan jiwaku, merasa jauh dari Allah.
Aku
memandang sedih padanya. Belum ikhlas. Tidak ikhlas jika dia dengan perempuan
lain. Hatiku semakin menciut ketika akhirnya dia berlalu meninggalkanku. Aku
mencaci diriku sendiri, kenapa tidak konsisten. Kenyatannya aku masih menangis.
Masih berharap.
Perempuan
berjilbab ungu itu, berjalan mendekat, mengelus bahuku. “ Mbak, akan selalu ada
laki-laki baik untuk perempuan yang selalu berusaha memperbaiki dirinya.” Dia
memelukku.
“
Tapi…, tapi sebenarnya apa salah jika sekadar status?” isakku.
“
Bukannya tadi Mbak bilang itu sia-sia? Ada hadits kan Mbak, intinya bukan
seorang muslim yang sempurna jika ia tidak meninggalkan hal yang sia-sia.
Sudahlah, Mbak. Dia belum tentu ikhwan yang baik.”
Aku
mengangguk, meyakinkan diri.
***
Aku
berdiri menatap bayanganku di cermin, mematutkan diri dengan kebaya sederhana
yang membalut tubuh. Selembar kain terkunci rapi di kepalaku, menutup sampai
dada dan siku. Aku hanya melumerkan bedak tipis ke wajah. Tidak berdandan
seperti layaknya wisuda lain. Hanya sederhana saja, menghindari tabarruj.
Tiga
tahun aku fokus pada kuliah dan memperbaiki iman, setelah kejadian menyesakkan
itu. Aku berhasil menjaga diri. Dan rasa itu? Mungkin masih ada sedikit harapan.
Sedikit bagaimana? Mungkin seperti lubang yang kecil. Sekecil apa? Entahlah.
Ridho
sudah lulus setengah tahun yang lalu. Sejak saat itu aku tidak lagi
memperhatikannya. Yang kutahu dia mulai meninggalkan banyak organisasi dan
mengambil kuliah percepatan, lulus tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude. Entah dimana sosok itu
sekarang. Tidak lagi hubungan melalui pesan ataupun socmed.
Baiklah,
aku tidak bisa memungkiri bahwa aku seringkali rindu. Selalu kutepis.
Barangkali dia sudah dengan perempuan lain, menjalin hubungan diam-diam. Aku
harus menjaga hati, untuk ikhwan terbaik dari Allah, yang nanti akan menjadi jodohku.
“
Mbak Laila,” seru Isma, adikku, membuka pintu. “ Lama amat sih? Kita semua
sudah siap nih.”
Aku
tersenyum kecil memandang jubah kaos warna merah marun yang ia kenakan. “
Kenapa jadi kamu yang repot sih? Yang wisuda kan aku.”
Isma
terkekeh, menggamit lenganku keluar kamar. “ Mbak mau hadiah apa?”
“
Apa ya? Mbak minta doa aja deh.”
“
Yaelah kalo itu mah udah pasti, Mbak.”
Acara
wisuda berakhir dhuhur itu. Matahari tepat di atas. Aku dan sekeluarga berfoto
ria. Tidak peduli panas yang semakin terik.
“
Akhirnya, Nduk, kamu lulus juga. Segera dapat jodoh ya, biar Ummi bisa momong
cucu,” kata ummi padaku.
Aku
menjitak Isma yang terkekeh mengejekku. “ Ummi, kok sudah mikir cucu sih? Laila
kan mau kerja dulu, membantu Ummi sama Abi.”
“
Abi tidak berharap muluk dari pekerjaanmu, Laila. Biar kau yang menikmati
sendiri.”
Aku
memberikan senyum nostalgia. Ketika tiba-tiba terdengar suara ikhwan. Suara
yang segera mengusik bahagiaku. Jantungku kembali bergetar, memandang wajah itu
tersenyum ramah pada keluargaku.
“
Assalamualaikum.”
“
Wa’alaikum salam, Nak. Akhirnya kamu datang juga,” ucap abi.
Aku
memalingkan wajah. Kenapa, sosok itu hadir lagi? Meskipun, tak dapat
dipungkiri, rinduku sudah terjawab oleh hadirnya.
“
Laila,” ucap ummi, merangkul pundakku. “ Beberapa hari yang lalu, Ridho datang
ke rumah, meminta dirimu. Dia teman kuliahmu dulu, kan?”
Mulutku
ternganga. Memandang senyum manis itu.
“
Ya sudah, kalian bicara dulu, ya,” kata abi, meninggalkan kami berdua sendiri
di tengah kerumunan manusia.
“
Apa kabar, Laila?”
Aku
masih terdiam, hanya mengangguk.
“
Sejak hari itu, aku semakin tersadar. Bahwa kamu benar, Laila. Maaf jika saat
itu aku mengajakmu pada dosa. Aku mengambil keputusan jangka panjang. Jika
memang aku tidak boleh memilikimu sebagai pacar, maka…” Aku mendengar desah
panjang Ridho ketika mengatakan itu. “ Maka aku pasti akan memilikimu sebagai
istri, hubungan yang diijinkan oleh Allah.”
Aku
ternganga menatapnya.
“
Aku memutuskan fokus belajar, mengambil kuliah percepatan. Supaya saat melamarmu,
aku sudah menjadi laki-laki mapan.”
Pandanganku
mengabur, dia pasti bisa melihat mata ini bening oleh air mata.
“
Jadi…, maukah kamu menerimaku, sebagai imam?”
Aku
menunduk, menangis terharu. Sudah sejak lama, bertahun-tahun, aku menyimpan
lubang kecil itu. Aku hanya tersenyum kecil, masih terdiam. Aku rasa dia tahu,
diamnya perempuan adalah ‘iya’.
Selesai
#Tunggu ya terbitan antologi cerpen ini di "Hijaber Kok Pacaran?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar