Label

Sabtu, 17 Januari 2015

" Mbak, Kasihan Jilbabnya!"




Jilbab bukan sekadar pelaksanaan kewajiban agama untuk  menutup aurat bagi kaum hawa. Rupanya dia membawa identitas bahwa kita seorang muslimah. Mungkin bisa dikatakan alhamdulillah jaman sekarang hampir seluruh muslimah Indonesia berjilbab, tidak ada lagi kebijakan larangan berjilbab seperti beberapa tahun sebelumnya. Namun mungkin bisa juga dikatakan bahwa identitas yang sebenarnya tentang seorang muslimah, hancur karena dengan jilbab itu tidak lantas menghijabi hati dan akhlak. Termasuk saya yang menulis ini, tak jarang pula masih belum menghijabi akhlak. Semoga Allah senantiasa menuntun dan merahmati kita.

Ini adalah kisah nyata. Tanpa pernah sedikitpun ada niat mencemarkan nama baik sesama saudara. Mereka orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kejadian ini satu bulan yang lalu, dan saya baru berani menuliskan. Semoga setiap kalimat di sini diridhoi Allah.

Sejujurnya lupa tanggal berapa tepatnya. Saya dan teman asrama, Ime (nama samaran), mengendarai motor menuju UGM, hendak menghadiri Forum FLP Fiksi. Tepat pukul 9, seharusnya acara sudah dimulai, tapi kami masih terjebak macet Sunmor. Akhirnya kami memutuskan parkir di Fakultas Biologi dan berjalan menuju Balairung Utara UGM. Mungkin bagi mahasiswa UGM bisa menangkap deskripsi singkat tentang beberapa daerah di UGM.

Dari Biologi, kami melintangi jalan Kaliurang, jalan yang menghubungkannya dengan Balairung Utara. Di sana ada gerbang merah, yang biasanya di pinggirnya dibuka untuk pejalan kaki. Rupanya belum dibuka. Sementara di depan kami, juga ada dua orang akhwat – jilbab merah dan krem lebar- yang hendak masuk ke Balairung. Salah satu dari mereka aku merasa tidak asing wajahnya, barangkali pernah bertemu di kegiatan bareng tingkat universitas.

Di pinggir pagar itu ada tembok batu kira-kira setinggi dada. Mungkin dengan memanjat tembok itu dan meloncat ke pagar, lebih simpel daripada harus berjalan jauh menelusuri jalan Kaliurang sampai pagar merah di depan GSP. Pertimbangan lain kami sudah terlambat, sangat disayangkan ketinggalan beberapa kalimat dari penulis kece novel The Lost Java, mas Kun Geia.

Salah satu dari akhwat itu sudah memanjat, kemudian merosot, dia sudah masuk ke Balairung. Akhwat berjilbab krem, berusaha naik, dibantu temannya. Dan temanku, Ime, sudah bersiap hendak mengikuti.

Mudah saja hanya naik ke tembok itu lalu merosot di samping pagar, aku hanya perlu berjalan beberapa langkah lagi menghadiri acara. Tapi…, ini bukan sekadar tentang simpel dan dekatnya perjalanan kami. Bukan tentang mudah atau tidaknya memanjat tembok. Ini pun bukan tentang kenal atau tidak orang-orang di jalan raya, yang akan melihatku memanjat. Tapi…

Allah selalu punya cara untuk menegur dan mengingatkan. Ketika tiba-tiba aku mendengar suara, “ Mbak, kasihan jilbabnya!” Aku menoleh, dari seorang bapak dengan baju koko putih, berambut dan berjenggot putih di dalam mobil. Di sampingnya ada laki-laki berhem biru, sopir yang fokus pada spion karena mobil hendak putar balik. 


“ Ime, kata bapak itu, kasihan jilbabnya!” seruku pada Ime.
“ Bapak yang mana?”
“ Yang tadi naik mobil. Sekarang udah pergi,” kataku, mencari mobil yang beberapa detik lalu masih di pinggir jalan.

Sreek! Kami berdua menoleh. Ups, rok akhwat berjilbab krem itu kecantol ujung pagar yang runcing, dan sobek membelah garis lurus sampai paha, untungnya dobelan celana panjang. Aku langsung menarik tangan Ime, “ Ayo, kita jalan aja!”

Sekilas cerita itu, hingga kami sudah berkeringat berjalan 15 menit menelusuri jalan Kaliurang, kemudian masuk gerbang merah yang dibuka, dan menelusuri wilayah dalam UGM – GSP, Perpustakaan, Rektorat, sampai tiba Balairung Utara. Dan pertolongan Allah masih berlanjut, rupanya acara baru saja dibuka ketika kami sampai di sana.

Maha suci Allah, yang selalu menjawab setiap keraguan, menegur baik sebelum atau setelah kita berbuat salah. Dan semoga kita bisa mengambil ibroh tanpa perlu saya jelaskan dengan kata-kata. Singkatnya, jilbab adalah identitas sebagai muslimah, identitas orang islam. Dimanapun kita berada, selama jilbab itu masih melekat, siapapun yang memandang, identitas itu tidak pernah berubah. Wallahu a’lam.(AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar