
Jilbab bukan sekadar pelaksanaan
kewajiban agama untuk menutup aurat bagi
kaum hawa. Rupanya dia membawa identitas bahwa kita seorang muslimah. Mungkin bisa
dikatakan alhamdulillah jaman
sekarang hampir seluruh muslimah Indonesia berjilbab, tidak ada lagi kebijakan
larangan berjilbab seperti beberapa tahun sebelumnya. Namun mungkin bisa juga
dikatakan bahwa identitas yang sebenarnya tentang seorang muslimah, hancur
karena dengan jilbab itu tidak lantas menghijabi hati dan akhlak. Termasuk saya
yang menulis ini, tak jarang pula masih belum menghijabi akhlak. Semoga Allah
senantiasa menuntun dan merahmati kita.
Ini adalah kisah nyata. Tanpa pernah
sedikitpun ada niat mencemarkan nama baik sesama saudara. Mereka orang yang
beruntung adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kejadian
ini satu bulan yang lalu, dan saya baru berani menuliskan. Semoga setiap
kalimat di sini diridhoi Allah.
Sejujurnya lupa tanggal berapa tepatnya.
Saya dan teman asrama, Ime (nama samaran), mengendarai motor menuju UGM, hendak
menghadiri Forum FLP Fiksi. Tepat pukul 9, seharusnya acara sudah dimulai, tapi
kami masih terjebak macet Sunmor. Akhirnya
kami memutuskan parkir di Fakultas Biologi dan berjalan menuju Balairung Utara
UGM. Mungkin bagi mahasiswa UGM bisa menangkap deskripsi singkat tentang
beberapa daerah di UGM.
Dari Biologi, kami melintangi jalan
Kaliurang, jalan yang menghubungkannya dengan Balairung Utara. Di sana ada
gerbang merah, yang biasanya di pinggirnya dibuka untuk pejalan kaki. Rupanya belum
dibuka. Sementara di depan kami, juga ada dua orang akhwat – jilbab merah dan krem
lebar- yang hendak masuk ke Balairung. Salah satu dari mereka aku merasa tidak
asing wajahnya, barangkali pernah bertemu di kegiatan bareng tingkat
universitas.
Di pinggir pagar itu ada tembok batu kira-kira
setinggi dada. Mungkin dengan memanjat tembok itu dan meloncat ke pagar, lebih simpel
daripada harus berjalan jauh menelusuri jalan Kaliurang sampai pagar merah di
depan GSP. Pertimbangan lain kami sudah terlambat, sangat disayangkan
ketinggalan beberapa kalimat dari penulis kece novel The Lost Java, mas Kun
Geia.
Salah satu dari akhwat itu sudah
memanjat, kemudian merosot, dia sudah masuk ke Balairung. Akhwat berjilbab
krem, berusaha naik, dibantu temannya. Dan temanku, Ime, sudah bersiap hendak
mengikuti.
Mudah saja hanya naik ke tembok itu lalu
merosot di samping pagar, aku hanya perlu berjalan beberapa langkah lagi
menghadiri acara. Tapi…, ini bukan sekadar tentang simpel dan dekatnya
perjalanan kami. Bukan tentang mudah atau tidaknya memanjat tembok. Ini pun
bukan tentang kenal atau tidak orang-orang di jalan raya, yang akan melihatku
memanjat. Tapi…
Allah selalu punya cara untuk menegur
dan mengingatkan. Ketika tiba-tiba aku mendengar suara, “ Mbak, kasihan
jilbabnya!” Aku menoleh, dari seorang bapak dengan baju koko putih, berambut
dan berjenggot putih di dalam mobil. Di sampingnya ada laki-laki berhem biru,
sopir yang fokus pada spion karena mobil hendak putar balik.
“ Ime, kata bapak itu, kasihan
jilbabnya!” seruku pada Ime.
“ Bapak yang mana?”
“ Yang tadi naik mobil. Sekarang udah
pergi,” kataku, mencari mobil yang beberapa detik lalu masih di pinggir jalan.
Sreek! Kami berdua menoleh. Ups, rok
akhwat berjilbab krem itu kecantol ujung pagar yang runcing, dan sobek membelah
garis lurus sampai paha, untungnya dobelan celana panjang. Aku langsung menarik
tangan Ime, “ Ayo, kita jalan aja!”
Sekilas cerita itu, hingga kami sudah
berkeringat berjalan 15 menit menelusuri jalan Kaliurang, kemudian masuk
gerbang merah yang dibuka, dan menelusuri wilayah dalam UGM – GSP,
Perpustakaan, Rektorat, sampai tiba Balairung Utara. Dan pertolongan Allah
masih berlanjut, rupanya acara baru saja dibuka ketika kami sampai di sana.
Maha suci Allah, yang selalu menjawab
setiap keraguan, menegur baik sebelum atau setelah kita berbuat salah. Dan semoga
kita bisa mengambil ibroh tanpa perlu saya jelaskan dengan kata-kata. Singkatnya,
jilbab adalah identitas sebagai muslimah, identitas orang islam. Dimanapun kita
berada, selama jilbab itu masih melekat, siapapun yang memandang, identitas itu
tidak pernah berubah. Wallahu a’lam.(AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar