Rasanya semua untaian kata di sini,
sebenarnya sudah lama menggunung dalam pikiran. Baiklah, ijinkan saya menulis
cerita nonfiksi, melepas semua atribut media, dan ini hanyalah secuil ungkapan
hati salah satu gadis Solo. Ijinkan saya menatanya dengan kalimat santun, untuk
mengobati media yang mungkin menyakiti Bapak – itupun jika Bapak membaca semua
pemberitaan.
Inilah ungkapan hati gadis kecil yang
dulu masih polos. Semua rasanya berlalu begitu cepat. Pernahkah melihat gadis
kecil itu matanya berbinar, diikuti seruan teman-teman seusianya. Ketika Bapak
pernah datang ke masjid kami di bulan Ramadhan. Hingga masjid yang sudah sepi
jamaah karena ramadhan sudah terlalu lama, mendadak malam itu jamaah membludak.
Demi mengharap pertemuan dengan bapak. Ah, wajah-wajah polo situ, bangga saja
menerima uang dan alat tulis. Yaa, sungguh polos dan sewajarnya seusia mereka
begitu hormat karena hadiah dari bapak. Tapi, semoga bapak memang ikhlas
memberi ketika itu.
Dan beberapa bulan kemudian, ketika
bapak sudah ‘jadi’ seperti apa yang Bapak inginkan, semua rakyat Solo
mengelu-elukan nama Bapak. Termasuk, ketika hari itu, Bapak dengan beberapa
kawanan pejabat yang bersepeda, menerobos ‘blusukan’ ke daerah, dan sebuah SD.
Sayangnya gadis kecil itu sudah memiliki gengsi untuk sekedar bersalaman dan
meminta tanda tangan. Hari sabtu itu, semua piranti masyarakat berbenah dan
menghias jalan yang hendak dilalui Bapak. Ah, sungguh spesialnya orang nomor
satu di Solo itu. namun gadis itu, sekali-kali hanya melirik dan sibuk dengan
urusannya sendiri, bermain kuas cat dan mengoleskannya di tembok. Beberapa
teman bertanya, “ Kok kamu nggak minta tanda tangan?”. Dia menjawab, “ Kenapa
harus minta tanda tangan?” Ah, ‘congkak’ dan ‘gengsi’ memang dia. Tapi, sekilas
dalam hatinya mulai segan, melihat pejabat itu mau bersalaman dengan
teman-temannya yang kotor, berdebu setelah kerja bakti sekolah, kumal, dan
penampilan tak jelas. Ah Pak Jokowi, wajah yang bersinar dengan kostum putih.
Mungkin gadis kelas 4 SD itu hendak mengungkapkan ‘kerakyatan’, tapi dalam
pikirannya hanya sampai pada ‘walikota yang baik’.
Beberapa tahun beranjak. Sikap pak
Jokowi sungguh spesial di hati kami, orang Solo. Gadis itu mulai paham dan
bangga memiliki pemimpin seperti pak Jokowi. Ketika dia mendengar langsung,
bahwa pak Jokowi memberikan bantuan bagi orangtua manapun yang datang ke
kantornya karena anaknya terancam tidak sekolah. Lantas pak Jokowi menjanjikan
dengan real akan membiayai. Ah, itu sungguh perbuatan mulia.
Beberapa tahun berlalu lagi. Beberapa
kejadian tak sempat diingat. Namun kota Solo berubah banyak. Dari tata letak
wilayah kota, go green di beberapa sisi jalan, dan event-event menarik dengan
budaya khas Solo. Ketika itu, gadis kecil sudah beranjak remaja. Beberapa kali
pula menjumpai pak Jokowi dalam event itu.
Hingga sebuah tragedi yang tak
terlupakan dan sempat mencekam wilayah Solo tempatku tinggal, bentrok antar
agama, karena terbunuhnya dua muslim oleh Iwan Walet. Ah, sungguh pemimpin yang
‘ngayomi’ bagi kami. Ketika akhirnya beliau terjun dan berkata, “ Kalian maunya
bagaimana?” Ah, kata itu sederhana sekali. Tak terelakkan lagi, gadis itu
sungguh kagum. Ya, amat kagum dengan sikap ‘santai’ Bapak.
Beberapa tahun lagi. Tentu saja orang
sebaik Bapak, tidak akan berhenti sampai di sini. Kami sungguh bangga mendengar
Pak Jokowi dinobatkan sebagai Walikota terbaik. Tentu saja, semua yang Bapak
lakukan, sungguh bukan main-main. Namun seiring penghargaan ini, rupanya ada
tugas yang lebih mulia di Jakarta. Meski terpilihnya Bapak menjadi Gubernur,
berarti kami orang Solo telah kehilangan, namun rasa bangga kami menyertai
kepergian Bapak. Ya, Bapak sudah teramat baik dan sempurna membenahi Solo,
mungkin lebih adil jika saudara kami di Jakarta juga terbenahi oleh Bapak.
Andai Bapak ingat, betapa besar harapan kami untuk Bapak kala itu. Harapan
bahwa Pak Jokowi bisa membenahi Jakarta. Harapan ini, bukan semata dilepaskan
orang Solo atas kepergian, tapi juga disematkan orang-orang Jakarta atas
kedatangan Bapak.
Waktu berlalu lagi. Gadis itu sungguh
bukan anak kecil lagi. Sedikit banyak ia tahu. Karena sesuatu yang dia tahu
itulah, harapannya membalik menjadi kecewa. Ketika mendengar bahwa Pak Jokowi
mencalonkan Presiden. Ah, memang seharusnya kami orang Solo turut bangga, Pak
Jokowi, mantan walikota kami, mencalonkan presiden. Akan lebih membuncahkan
bangga kami jika Bapak berhasil memimpin Indonesia. Mungkin diantara ribuan
penduduk Solo, dia termasuk dari segelintir orang yang mengaku kecewa atas
keputusan ini. Ya, kecewa dan berharap yang terbaik agar Bapak menjadi presiden
di lain kesempatan saja – insyaAllah masih ada waktu kok Pak. Maafkan gadis
itu, Pak. Ia telah meninggalkan Solo sejak kuliah, dan justru bergabung dengan
kebanyakan mahasiswa lain yang jelas menolak Bapak. Bukan bermaksud ia durhaka,
sungguh bukan. Ini bukan tentang pak Jokowi. Bapak adalah walikota terbaik yang
pernah dikenal gadis itu, dan semua orang tahu. Tapi, jika politik ini hanyalah
urusan ‘kepentingan’, semua orang pun juga tahu Bapak tidak akan menjadi diri
sendiri. Sudah banyak yang menduga sejak awal, bahwa ada pemimpin di atas
kepemimpinan Bapak.
Gadis itu juga beberapa kali mendengar,
bahwa uang tersebar dimana-mana. Ah, ia jadi teringat ketika masih SD, dengan
polosnya menerima label ‘fitrah lebaran’ dari Bapak. Wajar, karena gadis itu
masih kecil dan belum mafhum. Tapi, apakah kepolosan dan keluguan tentang
semacam ini juga bisa terjadi pada orang-orang dewasa, tukang becak, tukang
parkir, buruh, hingga masih berbinar menerima selebaran untuk dijajakan itu?
Ah, sudahlah, itu hanyalah masa lalu
yang terlalu naïf untuk dibahas. Gadis itu, dan ribuan mahasiswa lain tetap
mendukung kerja pak Jokowi setelah terpilih. Bagi mereka, Bapak tetaplah orang
baik yang memimpin negeri ini. Mereka para mahasiswa itu, dengan bangga
mengawal orang nomor satu di negeri ini. Sebab bagi mereka, pemimpin tetap
harus dihormati dan dipatuhi selama tidak menyimpangkan negeri.
Beberapa bulan berlalu. Ah, gadis itu
terlalu menangkap banyak perubahan di Indonesia. Karena media begitu ramai memberitakan.
Tentu saja, orang nomor satu, sayang sekali jika tidak disorot. Sayangnya
lagi-lagi, media hanya urusan ‘kepentingan’. Bapak tidak perlu peduli pada
siapa gadis itu percaya, tentang semua pemberitaan miring, bahkan dibahas sejak
semua kejadian serong di Solo. Tapi Bapak harus peduli, bahwa ia sedih ketika
harapan yang dipaksa bangkit sejak terpilihnya Bapak, bersama ribuan mahasiswa
lain, rupanya seperti kesalahan yang disengaja oleh mereka. Coba tilik, jutaan
rakyat kecil memilih Bapak, tapi justru mereka yang paling dibuat kecewa.
Ah, gadis itu hanya ingin berprasangka
baik. Bahwa mengurus Indonesia memang tak sesimpel mengurus Solo yang hanya
kota kecil. Bagaimanapun, Bapak tetap keluarga kami di Solo, tolong tetap amalkan
nilai-nilai luhur selama puluhan tahun dewasa di Solo, Pak. Bagaimanapun juga,
Bapak tetap tercatat sebagai alumni, tolong amalkan setiap pendidikan
kerakyatan yang pernah universitas itu ajarkan. Sudah lama tidak melihat wajah
Bapak, apakah semakin sendu dan bertambah keriput karena memikirkan negeri?
Ataukah bapak bertambah kurus karena tak sempat makan, demi kami? Atau senyum
Bapak pada mereka, sebenarnya menuai dilema yang mungguk di pikiran?
Penduduk Solo sudah mengharapkan Bapak
kembali ke Solo. Namun saran gadis itu, semalu apapun dirinya, tetap jadilah
diri sendiri Pak. Iya, gadis itu, bersama penduduk Solo lain, merasa malu. Atau
bahkan, orang-orang yang pernah memilih Bapak, kini hanya terbungkam. Orang
yang pernah dielu-elukan, dibuka semua kebaikannya, ditutupi aibnya ketika masa
kampanye, rupanya tetaplah manusia yang bisa berevolusi kapan saja. Atau bahkan
sebenarnya ia tidak berevolusi, melainkan seperti siput yang sudah terbuka
cangkang indahnya. Yang terlihat hanya siput yang lembek dan menjijikkan bagi
kebanyakan orang. Tenang Pak, gadis itu sedang tidak memikirkan itu.
Jika politik Bapak adalah urusan
kepentingan, maka, dimana Bapak menaruh rakyat dalam kepentingan itu? Tetaplah
menjadi pak Jokowi seutuhnya. Karena kami yang mengenal Bapak, bagi kami dalah
orang yang ‘legowo’, sederhana, dan merakyat. AL
Suka dek :')
BalasHapusAlhamdulillaaah.. buat mb bin apa sih yg ga? :D
BalasHapus