Aku pernah pergi menghindar dari apapun
atau siapapun. Aku akan bertekad pergi jauh dari apapun atau siapapun. Aku bisa
berlagak membenci apapun atau siapapun. Tapi… itu bukan berarti karena tidak
suka. Bukan berarti lelah. Bukan berarti kekesalan.
Dentingan diantara kita, menunjukkan
bahwa kita terlalu dekat. Mungkin kata pepatah, waktu adalah solusi. Tapi,
seiring berjalannya waktu, dentingan kita sudah usai bunyinya, bukan berarti
tidak akan terulang lagi. Semakin lama bersama, semakin sering frekuensi
dentingan kita.
Jangan salahkan, jika aku berpikir,
bahwa jarak adalah solusi. Karena dentingan piring tidak akan pernah ada jika
keduanya tidak bersinggungan. Tidak bersinggungan bukan berarti tidak menjalin
kedekatan. Ia dekat, hanya saja memiliki jarak kewajaran. Menjauh, menjaga
jarak, atau apapun sebutannya, bukan berarti benci. Bisa jadi ia hanya ingin
menyimpan kasih sayang itu dengan cara yang berbeda.
Itulah kelemahan kita, hanya bisa
melihat apa yang tampak. Padahal, yang tampak itu sering menunjukkan
kebohongan. Orang baik dan jahat, memiliki beragam kebohongan ekspresi. Ya,
orang baik pun, bisa pandai memakai topeng ekspresi. Coba perhatikan seseorang
yang baru saja tersandung dan jatuh, pada umumnya menunjukkan ‘fake smile’ dan
berkata, “Tidak apa-apa.”
Jangan artikan kepergian sebagai bentuk
kemarahan. Barangkali memang butuh rehat sejenak. Dan menyulam hubungan apapun –
persahabatan, pertemanan, keluarga – dengan cara yang lebih indah daripada
sekadar kedekatan raga. Karena raga, ia tampak. Karena ia tampak, ia bisa jadi
bohong. (AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar