Label

Sabtu, 04 Juli 2015

Arti Pergi


Aku pernah pergi menghindar dari apapun atau siapapun. Aku akan bertekad pergi jauh dari apapun atau siapapun. Aku bisa berlagak membenci apapun atau siapapun. Tapi… itu bukan berarti karena tidak suka. Bukan berarti lelah. Bukan berarti kekesalan.

Dentingan diantara kita, menunjukkan bahwa kita terlalu dekat. Mungkin kata pepatah, waktu adalah solusi. Tapi, seiring berjalannya waktu, dentingan kita sudah usai bunyinya, bukan berarti tidak akan terulang lagi. Semakin lama bersama, semakin sering frekuensi dentingan kita.

Jangan salahkan, jika aku berpikir, bahwa jarak adalah solusi. Karena dentingan piring tidak akan pernah ada jika keduanya tidak bersinggungan. Tidak bersinggungan bukan berarti tidak menjalin kedekatan. Ia dekat, hanya saja memiliki jarak kewajaran. Menjauh, menjaga jarak, atau apapun sebutannya, bukan berarti benci. Bisa jadi ia hanya ingin menyimpan kasih sayang itu dengan cara yang berbeda.

Itulah kelemahan kita, hanya bisa melihat apa yang tampak. Padahal, yang tampak itu sering menunjukkan kebohongan. Orang baik dan jahat, memiliki beragam kebohongan ekspresi. Ya, orang baik pun, bisa pandai memakai topeng ekspresi. Coba perhatikan seseorang yang baru saja tersandung dan jatuh, pada umumnya menunjukkan ‘fake smile’ dan berkata, “Tidak apa-apa.”

Jangan artikan kepergian sebagai bentuk kemarahan. Barangkali memang butuh rehat sejenak. Dan menyulam hubungan apapun – persahabatan, pertemanan, keluarga – dengan cara yang lebih indah daripada sekadar kedekatan raga. Karena raga, ia tampak. Karena ia tampak, ia bisa jadi bohong. (AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar