Nasionalisme bukan hanya pekerjaan sipil. Ia bukan semata memilih
untuk bekerja mengabdikan diri di luar negeri atau dalam negeri, menggunakan
mata uang rupiah atau ringgit, bukan pula sekadar membeli produk dalam negeri
atau luar negeri. Faktanya, ketika pekerjaan di luar negeri lebih menjanjikan,
tak banyak yang memilih untuk menetap di Indonesia. Pun ketika dihadapkan pada
dua mata uang, tak sedikit pula yang memikirkan untung rugi berdasarkan nilai
jualnya. Begitu pula ketika dihadapkan pada produk yang lebih berkualitas dan
mudah dijangkau, pertimbangan apalagi bagi masyarakat sebagai subjek ekonomi?
Ibarat dua sisi mata uang, nasionalisme tak bisa hanya dilihat dari
segmentasi bagi masyarakat perbatasan. Pulau Sebatik yang terletak di kabupaten
Nunukan, Kalimantan Utara, terbagi menjadi dua kepemilikan negara, yaitu
Indonesia dan Malaysia. Membicarakan pulau unik ini, tak banyak yang tahu
bahkan membayangkan dimana letaknya. Hampir semua orang Indonesia perlu membuka
peta untuk mengetahui letaknya.
Sebagian besar Pulau Sebatik dihuni oleh suku Bugis, imigrasi dari
Sulawesi Selatan. Membicarakan nasionalisme masyarakat perbatasan wilayah ini,
pro dan kontra pasti terjadi. Secara umum mempertanyakan letak nasionalisme
dalam tindakan dan keputusan mereka untuk bekerja di Malaysia, menjual
produk-produk mentah dan perkebunan ke negara tetangga sebelum akhirnya diolah
dan dijual kembali ke tanah air, atau transaksi dengan mata uang negara lain. Ya,
jangan heran apabila banyak produk Malaysia yang lebih mereka pilih, terutama
bahan-bahan makanan pokok. Keputusan-keputusan itu bisa menjadi sebuah
kewajaran apabila menilik dan merasakan sendiri nasib hidup masyarakat perbatasan.
Bukan salah perut yang lapar. Masyarakat ini hanya sewajarnya untuk
tetap bertahan hidup dan memperoleh keuntungan. Untuk apa memuja-muja
nasionalisme, bila keuntungan berupa kehormatan negara itu hanya dirasa para
pejabat di pusat sana. Sementara tangan-tangan mereka tidak terorganisir untuk
mengulurkan bantuan membangun seluruh kekurangan.
Bukan tanpa nasionalisme. Jiwa masyarakat ini akan tetap tertuju
pada rumah sendiri, Indonesia. Mereka hanya pergi sementara, untuk menyambung
hidup. Apabila ditanya, sebagian besar masyarakat akan lebih memilih tetap
tinggal di Indonesia. Berbagai keperluan dengan negara sebelah hanya urusan
perut. Urusan sederhana yang seringkali media menggembor-gemborkan sampai mempertanyakan nasionalisme.
Jangan mempertanyakan nasionalisme pada rakyat perbatasan. Tapi
tanyakanlah nasionalisme dan kesatuan pada seluruh elemen negeri ini. Jangan
salahkan orang yang tidak mampu, namun mintakan pertanggungjawaban pada mereka
yang mampu namun tidak mengulurkan tangan. Karena membangun wilayah perbatasan,
bukan sekadar memberi sumbangan uang, raskin, kunjungan, atau bantuan
perkebunan dan perikanan. Pun menancapkan nasionalisme, bukan sekadar mencekoki
dengan ideologi negara. Ideologi bisa saja luntur oleh realita yang ada.
Membangun masyarakat tapal batas membutuhkan kesatuan program yang terstruktur
dari berbagai sektor dan memandang jauh ke depan.
Jiwa nasionalisme mereka
mungkin sudah mengakar kuat. Jangan heran apabila dalam beberapa wilayah,
kalimat-kalimat pengakuan dan kebanggaan NKRI tercantum. Contohnya adalah di
Tugu Perbatasan Garuda Perkasa yang bertuliskan ‘NKRI Harga Mati’.

Gb. Tugu Perbatasan Garuda Perkasa
Setiap alasan yang diberikan mengenai pertanyaan, mengapa memilih
Malaysia daripada Indonesia? Jawaban utama hanya terkait perut. Tantangan untuk
menunjukkan nasionalisme di wilayah perbatasan jauh lebih sulit dibandingkan
pembuktian dari zona nyaman dan dekat dengan infrastruktur maju negara. Jangan
salahkan bila mereka mengatakan Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku. (AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar