Label

Sabtu, 17 November 2018

Basa-Basi yang Basi

Ada suatu masa, ketika kita tidak ingin bertemu dengan siapapun. Padahal kami sudah jarang bertemu atau saling sapa. Rupanya menyambung silaturahim itu sulit. Bukan perkara meluangkan waktu, tapi lebih kepada meluaskan hati. 

Pada setiap perjumpaan kawan lama, pasti ada kalimat basa-basi untuk membuka percakapan. Tidak semua kalimat basa-basi itu dianggap candaan bagi pendengar, sungguh tidak semua. Tidak semua kalimat, ”Mana nih undangan nikahnya?”, “Wah, sudah lulus belum, Bro?”, “Wah, makmur nih di perusahaan X”. Sudah lama tak berjumpa, sudah sejauh apa kita memahami kehidupannya, hingga berhak menghakimi dengan pertanyaan pribadi?

Suatu hari ketika saya pergi ke pasar dengan ummi, seorang pedagang yang kami kenal, ramai berbasa-basi denganku. “Wah, bu Dokter, sekarang sudah belanjain umminya, uangnya sudah banyak”. Entah kenapa aku sesangsi itu. Pada kondisi ketika sedang berjuang di koas, dan orangtuaku berkorban untuk biaya yang tidak sedikit, itu menyinggungku (dan mungkin ummiku juga). Mungkin ummi pernah iri dengan teman-temannya, ketika anak-anak mereka sudah mapan bekerja dan sepantasnya membelanjakan orangtua, sedangkan aku.... 

Ah, kukira saat itu aku sedang PMS dan moody, tapi ternyata kejadian yang lain juga terjadi. Ummi menegurku ketika di Solo, aku enggan berkunjung ke rumah sebelah, teman kecilku dulu. Iya, hatiku sedang sempit mungkin. Karena waktu sebelumnya, aku lelah berdalih saat temanku itu berkali-kali menanyakan tentang pernikahan. Dan aku sedang malas berdalih atau mencandai sesuatu tentang itu.

Ada pula orang-orang yang mencandaiku dengan standar sahabat-sahabatku yang sudah menikah. 
“Al, kapan nyusul temenmu itu?”
“Ciye, temen-temennya sudah pada sold out nih”
“Sendiri aja Al, temennya sudah digandeng orang ya?”

Duh, memang ya hati manusia, kalau lagi baik, aku bahagia membalas, 
“ASAP (As soon as possible), tunggu undanganku yak!”
“Iya nih, aku mahal e, makanya belum sold out”. 

Tapi, sungguh terkadang ada waktu dimana aku melengos kesal, atau menjawab jutek, “Emangnya temenku cuma itu?”
“Iya, kan mobil sport yang keren itu, bukan truk gandeng yang bikin sesak jalan.”
Bahkan kami sebahagia ini tanpa standar hidup yang kalian atur hehe

Suatu hari, aku juga pernah memergoki ekspresi sahabatku. Dia sahabatku yang sudah menikah, tapi dirinya masih koas. Meskipun suaminya sudah mapan, tapi mereka harus hidup sangat berhemat untuk biaya kuliah koasnya dan persiapan sekolah spesialis suaminya. Tentu saja itu bukan hal mudah bagi dokter fresh graduate (suaminya). Suatu ketika jas koas sahabatku tertumpah jus, lalu ia repot membersihkan. 

Seorang teman lain sedang berlalu, sambil berkata, ”Yah ngapain susah-susah dicuci. Minta masmu, belikan lagi.”

Sahabatku itu, kukenal sebagai orang yang tidak pernah ambil pusing dengan perkataan orang. Dia diam, sambil tersenyum. Entah kenapa, aku merasa, begitulah juga ekspresiku ketika sesuatu hal yang tidak enak didengar itu, harus tetap ditanggapi dengan ramah. Pasti dalam hatinya berkata, “Emang semudah itu masku mencari uang?”

Berhentilah membuat standar hidup secara umum. Bahwa seharusnya kuliah 4 tahun saja, usia sekian harus sudah menikah, selepas lulus harus langsung bekerja. Kita tidak berhak, sungguh tidak berhak menghakimi kehidupan oranglain. Niat hati untuk bercanda, tapi bagi oranglain, itu sesuatu yang sangat berarti baginya. 

Pada setiap basa-basimu soal kelulusan, rupanya ia sungguh-sungguh berjuang untuk penelitian yang harus diulang, atau judul yang masih terus direvisi. Pada setiap ejekanmu soal pernikahan, rupanya itu memang pilihan hidupnya untuk berbahagia dalam kesendirian dan membaktikan diri untuk orangtua. Pada setiap candamu soal jumlah anak, rupanya ia sedang berjuang dengan lemahnya rahim yang membuat berkali-kali mengais air mata setiap pengkuretan dan keguguran. Dalam keramahanmu menanyakan pekerjaan bergengsinya, rupanya ia sedang lelah dengan pimpinannya dan perang batin untuk pindah perusahaan. 

Lalu, basa-basi apa yang pantas untuk diucapkan? Sulitkah kau mengganti kalimat tanya, dengan pujian atau ungkapan hati?

“Wah, tambah cantik saja nih!”
“Halo, kangen banget makan bareng kamu kayak dulu.”
“Ayo kita futsal lagi!”

Pada setiap basa-basimu melalui kalimat tanya, yakinkah itu murni sebuah pertanyaan? Atau memang hanya berniat memojokkan? Atau hanya untuk kepo, untuk memuaskan dan menciutkan diri sendiri jika mendengar jawaban kejujuran? Atau memang sungguh peduli dan ingin membantu? Pilihlah kalimat yang tidak basi :D (AL)

1 komentar: