BIPOLAR
At SWEET SEVENTEEN
( Karya: Alya Nur Fadhilah)
“
Aaa!!” jeritku sambil sesekali tanganku menyambar benda-benda di sekeliling
kamar dan membuangnya. Aku masih menjerit-jerit penuh emosi, sekalipun ibu
berusaha memelukku dan menahan gerakan anarkis tanganku.
“
Sayang...., tenang, Nak,” bisik ibu dengan suara parau di telingaku.
“
Aaa! Lepasin!”
Aku
seorang gadis penderita bipolar disorder ,
kelainan mental berupa sensitifnya suasana hati yang cenderung naik atau turun
secara drastis. Seorang penderita bipolar kadang merasa sangat senang yang begitu
hiperaktif. Namun sesaat kemudian bisa berubah menjadi sangat sedih atau marah
dan melemparkan semua benda di sekeliling, menjerit-jerit, dan bahkan bertindak
sangat arogan. Dan itulah yang menimpa gadis malang sepertiku.
Aku,
penderita bipolar yang bahkan tidak tahu mengapa perasaan labil itu bisa
terjadi, tidak ada yang tahu penyebabnya. Tapi, yang kutahu, kelainan ini ada
sejak aku kehilangan ayahku karena perceraian dan selanjutnya panggilan Tuhan
akan dirinya.
Beberapa
minggu yang lalu, aku ditempatkan di rumah sakit yang mengamankanku untuk
menjalani beberapa tes. Di sanalah aku mendapatkan pengobatan terbaik dan
pelajaran penting tentang kesulitan yang dihadapi bila hidup bersama penderita
kelainan ini. Sejak itulah aku berusaha menata hati semaksimal mungkin saat
menjalani kehidupan di sekolah. Ya, kehidupan bersama teman-temanku.
Dan
kini, entah kenapa suasana hatiku benar-benar kacau, sangat kacau.
“
Aku pengen nulis! Aku pengen jadi penulis! Aku pengen nulis novel! Aku pengen
jadi penulis! Tapi aku nggak punya laptop!”
“
Sabar, Sayang. Ibu pasti akan....”
“
Gimana caraku mengetik naskah??! Buku ini nggak akan diterima penerbit!” seruku
sambil menyobek beberapa bagian buku yang merupakan kumpulan karyaku. “ Aku
benci! Ini gara-gara Ibu! Ini karena Ibu miskin! Di mana ayah, Bu??!”
Ibu
berusaha merangkulku, tapi aku selalu mengelak dan bertindak lebih brutal. “
Keluar! Keluar!” Aku mendorong tubuh kurus ibuku agar keluar kamar. Dan setelah
itu, aku akan mengunci pintu dan tidur di kolong ranjang sambil menutup kepala
dengan bantal. Tidur dalam keheningan, tidur dalam kesenyapan, tidur dalam
kedinginan.
***
Dengan
semangat aku melangkah menuju sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang cukup
dekat, tidak terlalu melelahkan bagiku untuk berjalan kaki. Tentu saja berjalan
kaki, karena aku juga tidak punya sepeda motor seperti teman-temanku lainnya.
Di
sisi lain, di tengan perjalanan saat KBM dimulai, rasa bosan dan malas pastinya
akan melanda kebanyakan siswa, terutama aku. Dan suasana seperti itulah yang
paling aku benci. Sebab aku juga harus berusaha menahan rasa iri atas apapun
yang bisa dilakukan teman-temanku. Semua hanya akan menimbulkan berontak akan
keinginan yang sulit untuk menjadi kenyataan.
Tentu
saja, aku hanya selintas memandang temanku yang sibuk dengan BB-nya di laci.
Atau, aku akan memikirkan sesuatu agar pikiranku tidak sempat memikirkan
perbincangan teman-temanku tentang fashion, tentang film, atau bahkan tentang
gaya hidup luar biasa mereka – karena aku tahu itu tidak terjadi padaku. Dan
yang paling miris, aku hanya akan menggigit bibir saat melihat kebanyakan
temanku membawa laptop. Sedangkan aku??
Lamunanku
terbuyar saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“
Kamu jangan melamun, Safa,” ucap gadis itu padaku. “ Jangan buat pikiranmu jadi
kacau, oke?”
Aku
tersenyum manis pada Kezi, teman yang paling dekat denganku. Gadis blasteran
arab-indo itu yang lebih banyak mengerti tentang persoalan hidupku, karena kami
memang sudah akrab sejak SMP – saat hidup bahagiaku bersama kedua orangtua.
“
Ini, kamu mau?” Kezi menyodorkan bekalnya padaku.
“
Lhoh, emang udah istirahat, ya?” tanyaku yang langsung membuat Kezi terkekeh.
Dengan senang aku mengambil sepotong brownies dari wadah. “ Makasih, ya.”
“
Kamu mikirin apa, sih?” Aku hanya menggeleng dengan pertanyaan itu. “ Oh iya, besok malam Vio ulang tahun lho.
Sweet seventeen, jadi acaranya pasti meriah. Dan dia juga mengundang seluruh
anak kelas sebelas.”
Vio,
siapa sih yang tidak mengenal dia? Gadis cerdas, cantik, dan sangat kaya. Sosok
sempurna bagi siapapun.
“
Kita datang, yuk! Pasti nggak rugi deh,” ajak Kezi.
“
Tapi aku....” Aku sempat berpikir sebelum melanjutkan kalimatku. Sedangkan mulai
kulihat gurat kecewa wajah Kezi. “ Tapi aku..., aku nggak punya baju pesta,
Zi.”
Seketika
Kezi tertawa. “ Ya ampun, jadi selama ini kamu slalu menolak undangan ultah
sweet seventeen hanya gara-gara baju pesta? Kamu kan tinggal bilang sama aku,
ntar juga aku pinjami kok.”
Aku
menunduk.
Kezi
merangkul pundakku. “ Safa, sweet seventeen itu mungkin jadi momen bahagia tiap
orang. Di hari ulangtahunnya ke tujuh belas, dia pasti sangat bahagia dan ingin
mengajak banyak orang untuk bahagia. Jadi, sangat disayangkan banget kalo kita
nggak turut merayakan kebahagiaan oranglain, apalagi teman sendiri,” jelasnya.
“
Ya udah, ntar kamu ke rumahku, silakan kamu pilih baju pesta yang ada. Dan
besok, kita berangkat bareng, oke?” lanjut Kezi.
***
Aku
menari-nari bahagia di depan cermin yang melukiskan seluruh bayang tubuhku
dengan gaun putih selutut. Berkali-kali kurapikan rambut sebahuku yang juga
nampak indah dengan pita putih di atas kepala. Aku tersenyum, menampakkan aura
kecantikan wajahku yang terbalut make up tipis oleh ibuku.
“
Sayang, ini sepatunya.” Ibu meletakkan high
heels di dekat kakiku.
“
Ibu, Safa takut jatuh kalo pake kayak gini.”
Ibu
tersenyum. “ Sayang, masak kamu mau pakai sepatu selop? Terlihat aneh lho.”
Aku
berpikir sejenak. “ Ya udah deh. Aku harus tampil maksimal di hari bahagia temanku.
Dia ulang tahun yang ke tujuh belas lho, Bu. Jadi inget, hari spesial Safa
beberapa hari lagi,” jelasku sambil mematutkan diri dengan high heels itu. Ya, beberapa hari lagi aku akan seperti Vio dan
beberapa temanku lainnya – merasakan gejolak kebahagiaan sweet seventeen.
Dari
cermin kulihat gurat sedih pada wajah ibu. Ibu termenung, seperti sedang
memikirkan sesuatu.
“
Ibu? Ada apa, Bu?”
Ibu
tersenyum. “ Sepatu ini pinjam tetangga, jadi jaga baik-baik, ya.”
Aku
tertawa. “ Jadi tadi ibu mikirin sepatu ini? Oke deh, demi Ibu.”
Terdengar
suara klakson mobil, yang pastinya itu mobil Kezi. Aku segera bergegas
mengambil tas kecil dan mencium kedua pipi ibu. “ Mobil untuk menjemput Putri
Safa – anak tercantik Ibu – udah datang,” kataku, girang sekali. “ Love You, Mom!”
“
Love You,” balas ibu.
***
Tidak
butuh waktu banyak bagi mobil Kezi untuk sampai di pesta yang diadakan di hotel
berbintang. Kami berdua tersenyum bahagia saat melihat kemewahan acara pesta
dan disambut dengan hangat oleh Vio dan keluarganya. Kezi segera mengambil dua
gelas minuman – untuk dirinya dan untukku.
“
By the way, konsep pestanya mewah banget ya.” Terdengar suara itu saat kami
melewati kerumunan orang.
“
Jadi pengen deh, Fa,” kata Kezi setelah mendapat tempat duduk.
“
Ya udah. Kamu kan dua bulan lagi, cukup banyak waktu kok untuk mempersispkan
pesta yang lebih dari ini,” sahutku.
“
Hh, kamu ini kayak nggak tahu keluargaku aja. Mereka terlalu sayang uang untuk
acara kayak begini.”
Kami
berkumpul saat acara inti akan dimulai. Peniupan lilin dan pemotongan roti
sudah berlangsung. Hari ini Vio terlihat cantik sekali. Dia memang sudah sangat
cantik, tapi aura kebahagiaan terpancar jelas pada matanya. Apalagi saat kedua
orangtuanya memberi surprise tentang sesuatu yang seakan menghancurkan pestanya.
Ya, sebuah mobil mewah yang tiba-tiba datang dan menabrak meja makanan.
“
Aaah..., surprised banget ya, Fa. Kayak cerita novel yang kamu pinjami dulu
deh,” kata Kezi, sempat membuat senyumku memudar.
Novel?
Ya, aku sempat berpikir, kapan novelku kuselesaikan dan mulai kuketik di
laptop. Berusaha menepis mimpi-mimpi itu untuk sementara. Dan aku kembali
terhanyut oleh iringan musik pesta.
***
Aku
mengerjapkan mata saat cahaya silau berada di atas wajahku. Aku berusaha duduk
dan mencoba mengingat kenapa aku ada di sini, di ranjang putih, kasur putih,
dan ruangan dengan cat putih. Semua serba putih.
Aku
mendengus saat teringat kejadian kemarin. Saat tiba-tiba aku kembali dengan
perasaan sedih dan marah. Aku memecahkan kaca almari besar dengan tanganku -
hingga sekarang tangan kananku masih diperban. Dan saat tiba-tiba beberapa
pasang tangan menyeretku dari kolong ranjangku kemudian menyuntikkan jarum di
tanganku.
“
Ibu??” panggilku.
Aku
yakin, pasti ibu yang kembali memasukkanku di rumah sakit. Akhir-akhir ini
memang aku sering memberontak, dan itu berarti pengobatanku harus diganti.
Seorang bipolar sepertiku, kadang harus menjalani pengobatan yang berbeda dari
sebelumnya. Proses kimiawi berubah dan menyebabkan obat tidak berhasil,
sehingga harus menjalani pengobatan baru.
Seorang
perawat menengokku dari jendela pintu. Dan tiba-tiba saja pintu terbuka dan
Kezi datang membawa kue ulangtahun dengan lilin berbentuk angka tujuh belas. Di
belakangnya disusul beberapa perawat.
“
Happy Birthday, Safa. Happy Birthday Safa. Happy birthday, happy birthday,
happy birthday, Safa. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang
juga. Sekarang juga, sekarang juga.”
Aku
tersenyum bahagia dan menangkupkan kedua tanganku untuk make a wish. “ Ya Allah, hari ini aku berulang tahun di rumah
sakit. Hari ini, aku bahagia Engkau masih memberiku kebahagiaan di tujuh belas
tahun ini. Terimakasih padaMu atas seorang ibu yang selalu menyayangi aku dan
sabar menghadapiku. Terimakasih Engkau juga mengirimkanku seorang teman seperti
Kezi. Dan terimakasih atas semua anugerahMu, ya Allah. Tetaplah Engkau beri
kebahagiaan di hati kami dan di hati ayah yang kini bersamaMu. Sungguh, aku
tidak mengharapkan hadiah spesial dari ibuku ataupun oranglain. Karna aku
yakin, hadiahMu jauh lebih spesial dari apapun yang ada di bumi ini. Ya,
hadiahMu pasti jauh lebih spesial,” do’aku dalam hati.
Aku
segera meniup lilin diiringi tepuk tangan.
“
Selamat ulangtahun ya, Safa. Semoga panjang umur,” kata Kezi, memelukku. “
Sekarang, potong kue pertama untuk orang spesial.”
“
Tapi, dimana ibu?”
“
Mungkin ibumu sedang membelikan hadian spesial untukmu, Safa,” sahut seorang
perawat.
Aku
tersenyum membayangkan ibu tiba-tiba datang membawa sesuatu yang spesial
untukku. Aku mengambil pisau dan memotong kue dengan tangan kiriku – sebab
tangan kanan masih sakit. Merasa agak susah, tangan kananku membantu memegang
kue yang hendak kupotong untuk orang spesial – ibu. Dan tiba-tiba saja....
“
Aww!”
“
Ya ampun, tangan kananmu berdarah lagi. Suster? Tolong ini.”
Aku
sempat memandangi sepotong kue – yang hendak kuberikan untuk ibu – terdapat
bercak darahku. Seketika aku menjatuhkan sepotong kue itu, hingga seorang
dokter berlari mendatangiku dan mengatakan bahwa aku harus bersabar.
“
Apa maksud Dokter?” tanyaku heran dengan pikiran mulai kacau.
Dari
pintu yang terbuka, aku bisa melihat dengan amat sangat jelas sebuah ranjang
didorong dengan membawa sebujur kaku berlumuran darah. Dan seseorang iu
adalah....
“
Ibu?? Ibu!” Aku berlari keluar dan menahan ranjang itu. Kuusap wajah itu dari
darah yang menutupinya. “ Ibu?? Nggak mungkin! Ibu! Ibu!”
“
Safa....,” isak Kezi sambil memelukku.
“
Dia bukan ibuku, Zi. Ibuku akan datang membawa hadiah spesial. Dan hadiah
spesial itu dari Tuhan, karena memberi rejeki agar ibuku membelikan sesuatu!”
Tiba-tiba aku tersentak dengan kalimatku. Dan
hadiah spesial itu dari Tuhan.
“
Ibu ini tertabrak truk. Dan kami sempat menemukan ini di dekat tangannya,” kata
seorang polisi.
Aku
menerima sebuah tas dan kuambil sebuah laptop yang layarnya sudah retak di dalamnya. Kembali aku terisak
dan semua ini, sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Tentu saja, ini semua
sebuah kejutan. Surprise dari ibu yang tersayang, dan surprise spesial dari
Tuhan. Hanya beberapa menit yang lalu, aku berdo’a padaNya, berharap Dia
memberiku hadiah spesial di usiaku yang ke tujuh belas. Dan ternyata, menjadi
yatim piatu adalah hadiah spesial bagi seorang penderita bipolar disorder. Kehidupan yang amat memuakkan.
Aku
langsung membanting laptop itu hingga remuk setelah menghantam dinding. “
Laptop itu nggak jauh berharga dari Ibu! Ibu, maafkan aku! Ibu, bangunlah!
Seorang ibu yang jahat yang meninggalkan anaknya sendiri!! Aku nggak butuh
itu!” Semua orang berusaha menarikku menjauh dari tubuh ibu yang kuguncang amat
keras, pelampiasan amarah dan kecewaku. “ Aku nggak butuh laptop itu!! Aku
benci Ibu!! Aaa!!!”
Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)

