RAINBOWNiSTAR of LOVE
(Karya: ALYA NUR
FADHILAH)
(Kamis,26/04)
Polisi kembali
kehilangan jejak FPT (Federasi Pembasmi Teroris) yang menjalankan aksinya
kemarin, 25 April 2012 di salah satu apartemen yang pemiliknya ditemukan sudah
tergantung. Kelompok organisasi ilegal itu nampaknya sudah dilatih penuh untuk
mensukseskan misinya, yakni membunuh secara tidak hukum anggota teroris, bahkan
tanpa ditemukan jejak sedikitpun. Tidak ada yang salah dari sebuah misi
mengentaskan terorisme, namun sikap dan cara yang tidak kemanusiaan menjadikan
mereka terperangkap dalam buronan seluruh kepolisian daerah.
***
Sesekali
rintik-rintik hujan mengguyur malam pekat berbulan separuh pisang. Hawa dingin
nan syahdu agaknya tidak tepat ada sebuah adegan di sebuah jalan kecil daerah
persawahan.
Dengan
menarik gas penuh sementara mata sipitnya menajam menembus kabut dan aliran
gerimis, di belakangnya disusul tiga motor dengan pengendara serba hitam. Ia
semakin menekankan gasnya, hingga roda melaju dengan kecepatan di luar
semestinya.
Hawa
dingin semakin menusuk-nusuk tubuhnya yang hanya berkemeja panjang – tidak
berjaket tebal. Bila saja mereka adalah para ghost rider, akan terbentuk api yang saling menyusul. Hingga salah
satu pengendara berpakaian serba hitam berhasil mensejajarinya dan tanpa babibu
menendang tubuh kedinginan itu.
SREETTT!!!
BLAK!
“
Agaknya kita bisa membunuhnya sekarang juga!”
“
Kamu yakin, dia seorang teroris??” Sebuah suara perempuan menengahi.
Samar-samar,
cowok yang kini menggelepar lemah masih bisa mendengar suara percakapan itu.
“
Hey, toloong! Ada yang kecelakaan! Di sana!”
“
Gawat! Ayo kita pergi!”
***
Goresan
kuas yang menampilkan warna lamat-lamat secara perlahan mulai menghapus warna putih.
Tangannya yang kekar, kini hanya mampu sekedar menggoreskan seni yang ada dalam
otaknya. Dan semua itu, semua yang ada dalam pikiran dan hatinya sekalipun, tak
pernah bisa terungkap dengan sebuah suara.
Tiba-tiba
tangannya menyenggol sebotol cat warna dan membuatnya menggelinding harmonik
hingga di bawah sebuah kaki bersandal warna pelangi. Cewek itu berjongkok
mengambil botol. Membiarkan rambut lurusnya jatuh tergerai ke pipinya.
“
Ini punyamu?” tanya cewek itu, tersenyum manis.
Aldi
hanya memandang takjub pada gadis itu. Pada mata tajamnya di balik lensa kaca
mata. Pada tas berwarna pelangi. Pada anting-anting bermanik lingkaran dengan
warna pelangi pula. Dan semua itu mengingatkannya akan seseorang.
“
Namaku Pelangi. Kamu?”
Aldi
hanya menyambut uluran tangan itu dan langsung menuliskan sesuatu di kertas.
“
Ooh, nama kamu Aldi? Senang berkenalan denganmu. Tapi, kamu sendiri di sini?”
Aldi
kembali menuliskan sesuatu. Iya, aku
sedang sendiri. Tapi jika aku butuh teman, aku bisa sms adikku.
“Ooh,
boleh aku menemanimu di sini? Kebetulan aku lagi butuh temen. Nanti kalo kamu
mau pulang, aku juga bisa nganter kok. Rumah kamu nggak jauh dari sini, kan?”
Aldi
menyipitkan matanya -
membuatnya semakin sipit. Seakan bertanya, “Bagaimana
kamu tahu?”
“
Oh, tentu saja aku tahu. Aku sering melihatmu di taman ini, dan aku juga pernah
liat kamu sama adikmu itu keluar dari rumah. Cuma kebetulan.”
Gadis
itu duduk di bangku di samping kursi roda Aldi. Ia tersenyum sambil mengamati
hasil lukisan cowok manis di sampingnya itu.
“
Lukisanmu bagus banget. Kamu hebat deh,” puji Pelangi.
Matahari
mulai menyingsing hingga ke barat, membiarkan mereka berdua tenggelam – seperti
dirinya yang berganti malam – dalam keasyikan. Aldi merasa, ia sudah sangat
mengenal lama pribadi gadis itu. Dan jauh dalam lubuk hati yang terdalam, gadis
itupun merasakannya. Namun dalamnya sebuah niat atas misi itu, lebih mampu
menutupi apa yang masih bisa dikata perasaan.
***
“
Hai, Rindu!”
“
Mbak Pelangi?? Itu mas Aldi lagi di ruang tengah.”
Sejenak
tangan Adi berhenti saat matanya menangkap sosok gadis yang tersenyum ceria
menghampirinya. Kini ia mengenakan rok berwarna-warni – seperti pelangi.
Pelangi
mengamati lukisan di hadapan Aldi. Sebuah bebek boot di atas air, dan dua bocah
kecil menaiki bebek boot itu. Alam bawah sadarnya bergejolak, meminta dirinya
segera bangun dan mengaktifkan kembali memori itu. Tapi itu dirasa tidak perlu
untuk menjalankan misinya.
Aldi
mengibaskan tangannya, membuat Pelangi tersadar.
“
Eh, maaf. Ehm, lukisanmu yang ini bagus kok.” Pelangi berjalan mengelilingi
ruangan yang semua sisinya terpajang lukisan hasil karya Aldi. “ Al, gimana
kalo kamu buat pameran lukisan aja. Daripada lukisanmu cuma dipajang di sini,
kamu kan bisa memperoleh keuntungan.” Mata Pelangi menangkap sebuah lukisan yang
sepertinya masih dalam proses penyelesaian. Sebuah pelangi yang setengah
melingkar indah di atas rumput hijau, dan setitik bintang kecil. Namun tak
dihiraukannya keheranan itu, dan melanjutkan mengamati lukisan lain.
“
Hallo, semua. Nih, ada pisang goreng buatan Rindu. Ayo, cobain, cobain!” seru
gadis remaja yang kini meletakkan sepiring pisang goreng.
“
Ehm, enak nggak nih?” tanya Pelangi mulai menyomot pisang itu.
“
Yee, pasti enak dong.”
Aldi
masih sibuk mengelap tangannya yang kotor beberapa warna cat. Pelangi yang
memperhatikan itu langsung menyuapkan pisang ke mulut Aldi.
***
“
Tapi aku nggak bisa!” seru cewek itu, berdiri dari duduknya dan memandang
bangunan-bangunan tinggi dari jendela lantai 5.
“
Kapan lagi?! Kamu selalu mengelak,
nggak ada kesempatan-lah, nggak bisa nglakuin sendiri-lah, bahkan sampe lupa
aja dijadiin alesan. Emang apa sih yang kalian lakukan selama ini?!” seru Riko,
yang mulai tak bisa mengendalikan emosi.
“
Riko, aku butuh….”
“
Butuh satu bulan lagi?? Udah satu bulan berlalu,!” Riko menggebrak meja, hingga
cowok perokok yang duduk di sisinya beranjak keluar kamar. “ Teman-teman kita
masih sibuk mengentaskan teroris lain di sana. Dan selama ini, kita nggak
pernah menyelesaikan misi sampe satu minggu lebih, nggak pernah! Tapi kamu?
Target orang cacat aja sampe satu bulan! Kamu bisa nggak sih?”
Cowok
perokok kembali tanpa membawa puntung rokok. Ia mendekati cewek itu dan berdiri
di sampingnya, mengamati bangunan dari jendela. “ Ada sesuatu denganmu?
Katakanlah!”
Cewek
itu berusaha menyembunyikan mata merahnya. Berusaha membendung air yang sedari
tadi ingin mengucur. Ia memendam perasaan yang bahkan tidak bisa ia artikan
maknanya.
“
Aku hanya merasa nggak sanggup aja, Mas. Aku merasa, ada sesuatu antara aku dan
dia. Tapi nggak tahu itu apa,” ucap cewek itu.
“
Kamu kasihan dengan orang cacat?”
“
Bukan masalah itu. Tapi, ada sesuatu, sesuatu tentang masa lalu yang bahkan aku
udah melupakannya.”
“
Aku tahu, kita semua tahu. Masa lalumu itu adalah bagian terburuk dalam
hidupmu. Tapi sekarang, kita semua sedang berusaha membalas dendam atas masa
lalu kita itu,” jelas cowok itu. “ Mungkin sekarang kamu sedang merasa bosan,
itu wajar. Tapi, ingatlah kedua orangtuamu yang tiba-tiba saja meninggalkanmu, ditarik
paksa petugas, difitnah sebagai teroris, diadili dan dibunuh oleh mereka dengan
kejam. Dan bahkan masa kecilmu dulu, kau habiskan dalam pengejaran petugas,
dikucilkan karena dianggap keluarga teroris, dan siapa yang menyelamatkanmu
dari itu semua?? Ingat itu! Kumohon, ingat dan jangan pernah lupakan!”
Cewek
itu menghela napas dalam, seperti ada kelegaan yang menutupi sebagian
keraguannya.
“
Baik, sekarang kamu udah tenang. Dan, lakukan sekarang!”
***
Aldi
menatap semua lukisan yang terjajar rapi. Matanya menerawang begitu jauh, apa
makna hasil karyanya itu. Perlahan kenangan itu terkuak.
“ Bintang, nanti kamu
mau jadi apa?”
“ Aku pengen jadi
pembalap. Tapi kata mama, aku bisa jadi pelukis.”
“ Aah, itu cita-cita
murahan. Aku mau jadi pelangi.”
“ Iya juga ya. Nanti
kamu jadi pelangi, dan aku bintangnya. Bagus!”
“ Hey, kau ini ikut-ikut
saja! Bintang kan pas malam, mana mungkin ada pelangi di malam hari?”
“ Bisa dong. Nanti,
kita harus membuat itu bisa, Pelangi.”
Aldi
menutup matanya, membulirkan setitik air di pipi.
“ Ayo kita naik bebek
boot!”
“ Sayang, mama harus
ikut dong, buat jagain kalian!”
“ Aah, mama sama
mamanya Bintang naik aja sendiri. Kita maunya cuma naik berdua. Kan ada Bintang
yang jagain Pelangi, Ma!”
“ Iya, Tante. Bintang
bisa kok sama Pelangi.”
“ Yee, ada ikan oranye!
“ Pelangi, jangan
nengok-nengok gitu, nanti kamu nyebur lho.”
BYUUR!!
“ Pelangi! Aduh,
Pelangi?? Mama, Tante, Pelangi
jatuh! Pelangi, aku akan bantuin kamu,” kata bocah itu sebelum nyebur menyusul
gadis kecil yang meraup-raup di air.
Aldi
semakin mengusik kenangan.
“ Bintang, hiks. Mama
dan papa ditangkap. Mereka nggak bersalah! Tolongin mereka.”
“ Pelangi, aku akan jagain kamu. Kamu jangan
sedih dong. Ada mamaku juga kok. Iya, kan, Ma?”
“Iya, Sayang. Mama dan
papamu pasti baik-baik saja. Mereka tidak akan diapa-apain sama petugas itu.”
“ Mereka bilang, mama
dan papa itu – apa namanya – anggota teris, Tante. Pelangi nggak ngerti teris
itu apa.”
Dan
sebuah suara di gelapnya malam gerimis itu, menjatuhkan ia hingga melumpuhkan
bagian otak yang mensarafi kaki dan pita suaranya.
“ Kamu yakin, dia seorang
teroris?”
Aldi
menatap sebuah ID-Card dalam genggamannya. ID-Card, sebagai tanda anggota
sebuah organisasi ilegal yang selama ini jadi buronan.
“
Hai, Aldi!” seru Pelangi yang ternyata sudah berdiri di belakang Aldi.
Aldi
segera menyembunyikan ID-Card itu.
“
Ke taman,yuk! Aku punya kejutan lho.”
Aldi
menutup matanya, berusaha mengorbankan semuanya. Demi sebuah cinta yang lama ia
pendam sejak kecil. Cinta Bintang dan Pelangi.
Aldi
membiarkan begitu saja dengan segenap ketulusan, saat Pelangi mendorong kursi
rodanya. Hingga di taman itu, Pelangi membawanya ke sebuah tempat yang cukup
sepi dari keramaian.
“
Aldi, kamu di sini bentar ya. Aku mau ke toilet,” kata Pelangi dengan sinar
mata menyilaukan, seakan bermakna bagi Aldi.
Aldi
menahan tangan Pelangi, menyelipkan sebuah kertas dalam genggamannya. matanya
mengisyaratkan agar Pelangi membacanya sekarang. Namun Pelangi tergesa-gesa
menuju toilet yang ia maksud sendiri.
Sementara
tangan Aldi mengepal, menampakkan otot-otot. Ia berusaha menegarkan hati. Tak
pernah ia sangka, gadis yang sangat ia cintai sejak kecil, adalah dia. Ya,
dialah gadis kecil itu yang kini beranjak dewasa dan larut dalam kenangan yang
mengubah seluruh hidupnya.
“ Bintang, mereka
menuduh mama dan papa adalah teris. Apa itu teris, Bintang? Gara-gara teris,
mama dan papa dibunuh. Aku benci teris!”
***
“
Mbak Pelangi!” seru gadis yang matanya sembab. “ Dimana mas Bintang?! Dimana?!”
Pelangi
menatap tajam gadis itu. “ Dia adalah teroris. Dan teroris, berhak mendapat
balasan seperti yang ia lakukan!”
“
Atas dasar apa? Haa?! Dia kakakku!”
Pelangi
menggebrak meja, hingga beberapa cat warna dan kuas jatuh berserakan. “ Peduli
apa aku! Mereka yang menyebabkan orangtuaku mati! Dan mereka pun harus mati!
Kamu cuma bocah kecil yang nggak tahu apa-apa.” Pelangi membuka kain putih
panjang yang menutupi beberapa lukisan. Ia hendak menyita semua lukisan itu.
Namun
tiba-tiba, gerakannya membereskan lukisan terhenti saat kedua matanya menangkap
beberapa lukisan di sudut. Lukisan bebek boot itu, lukisan dua bocah bermain
layangan, dan semua aktivitas yang dilakukan dua bocah pun dilukiskan di atas
kanvas. Tapi, yang paling membuatnya miris, ada sebuah pelangi besar di malam
hari, dan di sampingnya ada setitik bintang terang.
“
Selama ini, mas Aldi selalu mencari Mbak Pelangi. Tapi ternyata, Mbak tega,
ya.”
Pelangi
segera membuka lipatan kertas yang sempat Aldi berikan.
Dulu kita pernah berjanji,
akan menyatukan pelangi dan bintang agar bisa bersama. Dan aku berhasil menyatukannya
dalam lukisan. Kau pun ingin menjadi pelangi, Dan kini kau lebih dari sebuah
pelangi. Kau lebih dari seorang Pelangi.
Maaf, saat itu, aku
tidak bisa menyelamatkanmu dari pengejaran petugas, Mereka yang menuduh
keluargamu sebagai kelompok yang kau anggap ‘teris’ Mereka memang jahat,
Pelangi. Tapi kau berdosa, bila membalas masa lalu yang sudah digariskan Tuhan.
Terimalah, Pelangi. Terima. Seperti sebuah bintang yang menanti pelangi di
malam hari.
Bintang Renaldi
Pelangi
jatuh terduduk, tubuhnya lemas, air matanya bercucuran bersamaan lelahnya hati
atas penantian panjang itu. Dan cinta yang ia mimpikan setiap malam, selama ini
ada di hadapannya.
“
Bintang….,” isaknya.
“
Dimana mas Aldi?!”
Pelangi
terkesiap. “ Riko? Riko yang membawanya!” serunya sambil berlari menuju taman,
berharap mereka belum menyelesaikan misinya itu. Sebab Bintang tidak bersalah.
SELESAI
Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar