Label

Sabtu, 23 November 2013

Bipolar at Sweet Seventeen



BIPOLAR At SWEET SEVENTEEN
( Karya: Alya Nur Fadhilah)


“ Aaa!!” jeritku sambil sesekali tanganku menyambar benda-benda di sekeliling kamar dan membuangnya. Aku masih menjerit-jerit penuh emosi, sekalipun ibu berusaha memelukku dan menahan gerakan anarkis tanganku.
“ Sayang...., tenang, Nak,” bisik ibu dengan suara parau di telingaku.
“ Aaa! Lepasin!”
Aku seorang gadis penderita bipolar disorder , kelainan mental berupa sensitifnya suasana hati yang cenderung naik atau turun secara drastis. Seorang penderita bipolar kadang merasa sangat senang yang begitu hiperaktif. Namun sesaat kemudian bisa berubah menjadi sangat sedih atau marah dan melemparkan semua benda di sekeliling, menjerit-jerit, dan bahkan bertindak sangat arogan. Dan itulah yang menimpa gadis malang sepertiku.
Aku, penderita bipolar yang bahkan tidak tahu mengapa perasaan labil itu bisa terjadi, tidak ada yang tahu penyebabnya. Tapi, yang kutahu, kelainan ini ada sejak aku kehilangan ayahku karena perceraian dan selanjutnya panggilan Tuhan akan dirinya.
Beberapa minggu yang lalu, aku ditempatkan di rumah sakit yang mengamankanku untuk menjalani beberapa tes. Di sanalah aku mendapatkan pengobatan terbaik dan pelajaran penting tentang kesulitan yang dihadapi bila hidup bersama penderita kelainan ini. Sejak itulah aku berusaha menata hati semaksimal mungkin saat menjalani kehidupan di sekolah. Ya, kehidupan bersama teman-temanku.
Dan kini, entah kenapa suasana hatiku benar-benar kacau, sangat kacau.
“ Aku pengen nulis! Aku pengen jadi penulis! Aku pengen nulis novel! Aku pengen jadi penulis! Tapi aku nggak punya laptop!”
“ Sabar, Sayang. Ibu pasti akan....”
“ Gimana caraku mengetik naskah??! Buku ini nggak akan diterima penerbit!” seruku sambil menyobek beberapa bagian buku yang merupakan kumpulan karyaku. “ Aku benci! Ini gara-gara Ibu! Ini karena Ibu miskin! Di mana ayah, Bu??!”
Ibu berusaha merangkulku, tapi aku selalu mengelak dan bertindak lebih brutal. “ Keluar! Keluar!” Aku mendorong tubuh kurus ibuku agar keluar kamar. Dan setelah itu, aku akan mengunci pintu dan tidur di kolong ranjang sambil menutup kepala dengan bantal. Tidur dalam keheningan, tidur dalam kesenyapan, tidur dalam kedinginan.
***
Dengan semangat aku melangkah menuju sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang cukup dekat, tidak terlalu melelahkan bagiku untuk berjalan kaki. Tentu saja berjalan kaki, karena aku juga tidak punya sepeda motor seperti teman-temanku lainnya.
Di sisi lain, di tengan perjalanan saat KBM dimulai, rasa bosan dan malas pastinya akan melanda kebanyakan siswa, terutama aku. Dan suasana seperti itulah yang paling aku benci. Sebab aku juga harus berusaha menahan rasa iri atas apapun yang bisa dilakukan teman-temanku. Semua hanya akan menimbulkan berontak akan keinginan yang sulit untuk menjadi kenyataan.
Tentu saja, aku hanya selintas memandang temanku yang sibuk dengan BB-nya di laci. Atau, aku akan memikirkan sesuatu agar pikiranku tidak sempat memikirkan perbincangan teman-temanku tentang fashion, tentang film, atau bahkan tentang gaya hidup luar biasa mereka – karena aku tahu itu tidak terjadi padaku. Dan yang paling miris, aku hanya akan menggigit bibir saat melihat kebanyakan temanku membawa laptop. Sedangkan aku??
Lamunanku terbuyar saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“ Kamu jangan melamun, Safa,” ucap gadis itu padaku. “ Jangan buat pikiranmu jadi kacau, oke?”
Aku tersenyum manis pada Kezi, teman yang paling dekat denganku. Gadis blasteran arab-indo itu yang lebih banyak mengerti tentang persoalan hidupku, karena kami memang sudah akrab sejak SMP – saat hidup bahagiaku bersama kedua orangtua.
“ Ini, kamu mau?” Kezi menyodorkan bekalnya padaku.
“ Lhoh, emang udah istirahat, ya?” tanyaku yang langsung membuat Kezi terkekeh. Dengan senang aku mengambil sepotong brownies dari wadah. “ Makasih, ya.”
“ Kamu mikirin apa, sih?” Aku hanya menggeleng dengan pertanyaan itu.   “ Oh iya, besok malam Vio ulang tahun lho. Sweet seventeen, jadi acaranya pasti meriah. Dan dia juga mengundang seluruh anak kelas sebelas.”
Vio, siapa sih yang tidak mengenal dia? Gadis cerdas, cantik, dan sangat kaya. Sosok sempurna bagi siapapun.
“ Kita datang, yuk! Pasti nggak rugi deh,” ajak Kezi.
“ Tapi aku....” Aku sempat berpikir sebelum melanjutkan kalimatku. Sedangkan mulai kulihat gurat kecewa wajah Kezi. “ Tapi aku..., aku nggak punya baju pesta, Zi.”
Seketika Kezi tertawa. “ Ya ampun, jadi selama ini kamu slalu menolak undangan ultah sweet seventeen hanya gara-gara baju pesta? Kamu kan tinggal bilang sama aku, ntar juga aku pinjami kok.”
Aku menunduk.
Kezi merangkul pundakku. “ Safa, sweet seventeen itu mungkin jadi momen bahagia tiap orang. Di hari ulangtahunnya ke tujuh belas, dia pasti sangat bahagia dan ingin mengajak banyak orang untuk bahagia. Jadi, sangat disayangkan banget kalo kita nggak turut merayakan kebahagiaan oranglain, apalagi teman sendiri,” jelasnya.
“ Ya udah, ntar kamu ke rumahku, silakan kamu pilih baju pesta yang ada. Dan besok, kita berangkat bareng, oke?” lanjut Kezi.
***
Aku menari-nari bahagia di depan cermin yang melukiskan seluruh bayang tubuhku dengan gaun putih selutut. Berkali-kali kurapikan rambut sebahuku yang juga nampak indah dengan pita putih di atas kepala. Aku tersenyum, menampakkan aura kecantikan wajahku yang terbalut make up tipis oleh ibuku.
“ Sayang, ini sepatunya.” Ibu meletakkan high heels di dekat kakiku.
“ Ibu, Safa takut jatuh kalo pake kayak gini.”
Ibu tersenyum. “ Sayang, masak kamu mau pakai sepatu selop? Terlihat aneh lho.”
Aku berpikir sejenak. “ Ya udah deh. Aku harus tampil maksimal di hari bahagia temanku. Dia ulang tahun yang ke tujuh belas lho, Bu. Jadi inget, hari spesial Safa beberapa hari lagi,” jelasku sambil mematutkan diri dengan high heels itu. Ya, beberapa hari lagi aku akan seperti Vio dan beberapa temanku lainnya – merasakan gejolak kebahagiaan sweet seventeen.
Dari cermin kulihat gurat sedih pada wajah ibu. Ibu termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ Ibu? Ada apa, Bu?”
Ibu tersenyum. “ Sepatu ini pinjam tetangga, jadi jaga baik-baik, ya.”
Aku tertawa. “ Jadi tadi ibu mikirin sepatu ini? Oke deh, demi Ibu.”
Terdengar suara klakson mobil, yang pastinya itu mobil Kezi. Aku segera bergegas mengambil tas kecil dan mencium kedua pipi ibu. “ Mobil untuk menjemput Putri Safa – anak tercantik Ibu – udah datang,” kataku, girang sekali.  “ Love You, Mom!”
“ Love You,” balas ibu.
***
Tidak butuh waktu banyak bagi mobil Kezi untuk sampai di pesta yang diadakan di hotel berbintang. Kami berdua tersenyum bahagia saat melihat kemewahan acara pesta dan disambut dengan hangat oleh Vio dan keluarganya. Kezi segera mengambil dua gelas minuman – untuk dirinya dan untukku.
“ By the way, konsep pestanya mewah banget ya.” Terdengar suara itu saat kami melewati kerumunan orang.
“ Jadi pengen deh, Fa,” kata Kezi setelah mendapat tempat duduk.
“ Ya udah. Kamu kan dua bulan lagi, cukup banyak waktu kok untuk mempersispkan pesta yang lebih dari ini,” sahutku.
“ Hh, kamu ini kayak nggak tahu keluargaku aja. Mereka terlalu sayang uang untuk acara kayak begini.”
Kami berkumpul saat acara inti akan dimulai. Peniupan lilin dan pemotongan roti sudah berlangsung. Hari ini Vio terlihat cantik sekali. Dia memang sudah sangat cantik, tapi aura kebahagiaan terpancar jelas pada matanya. Apalagi saat kedua orangtuanya memberi surprise tentang sesuatu yang seakan menghancurkan pestanya. Ya, sebuah mobil mewah yang tiba-tiba datang dan menabrak meja makanan.
“ Aaah..., surprised banget ya, Fa. Kayak cerita novel yang kamu pinjami dulu deh,” kata Kezi, sempat membuat senyumku memudar.
Novel? Ya, aku sempat berpikir, kapan novelku kuselesaikan dan mulai kuketik di laptop. Berusaha menepis mimpi-mimpi itu untuk sementara. Dan aku kembali terhanyut oleh iringan musik pesta.
***
Aku mengerjapkan mata saat cahaya silau berada di atas wajahku. Aku berusaha duduk dan mencoba mengingat kenapa aku ada di sini, di ranjang putih, kasur putih, dan ruangan dengan cat putih. Semua serba putih.
Aku mendengus saat teringat kejadian kemarin. Saat tiba-tiba aku kembali dengan perasaan sedih dan marah. Aku memecahkan kaca almari besar dengan tanganku - hingga sekarang tangan kananku masih diperban. Dan saat tiba-tiba beberapa pasang tangan menyeretku dari kolong ranjangku kemudian menyuntikkan jarum di tanganku.
“ Ibu??” panggilku.
Aku yakin, pasti ibu yang kembali memasukkanku di rumah sakit. Akhir-akhir ini memang aku sering memberontak, dan itu berarti pengobatanku harus diganti. Seorang bipolar sepertiku, kadang harus menjalani pengobatan yang berbeda dari sebelumnya. Proses kimiawi berubah dan menyebabkan obat tidak berhasil, sehingga harus menjalani pengobatan baru.
Seorang perawat menengokku dari jendela pintu. Dan tiba-tiba saja pintu terbuka dan Kezi datang membawa kue ulangtahun dengan lilin berbentuk angka tujuh belas. Di belakangnya disusul beberapa perawat.
“ Happy Birthday, Safa. Happy Birthday Safa. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Safa. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga.”
Aku tersenyum bahagia dan menangkupkan kedua tanganku untuk make a wish. “ Ya Allah, hari ini aku berulang tahun di rumah sakit. Hari ini, aku bahagia Engkau masih memberiku kebahagiaan di tujuh belas tahun ini. Terimakasih padaMu atas seorang ibu yang selalu menyayangi aku dan sabar menghadapiku. Terimakasih Engkau juga mengirimkanku seorang teman seperti Kezi. Dan terimakasih atas semua anugerahMu, ya Allah. Tetaplah Engkau beri kebahagiaan di hati kami dan di hati ayah yang kini bersamaMu. Sungguh, aku tidak mengharapkan hadiah spesial dari ibuku ataupun oranglain. Karna aku yakin, hadiahMu jauh lebih spesial dari apapun yang ada di bumi ini. Ya, hadiahMu pasti jauh lebih spesial,” do’aku dalam hati.
Aku segera meniup lilin diiringi tepuk tangan.
“ Selamat ulangtahun ya, Safa. Semoga panjang umur,” kata Kezi, memelukku. “ Sekarang, potong kue pertama untuk orang spesial.”
“ Tapi, dimana ibu?”
“ Mungkin ibumu sedang membelikan hadian spesial untukmu, Safa,” sahut seorang perawat.
Aku tersenyum membayangkan ibu tiba-tiba datang membawa sesuatu yang spesial untukku. Aku mengambil pisau dan memotong kue dengan tangan kiriku – sebab tangan kanan masih sakit. Merasa agak susah, tangan kananku membantu memegang kue yang hendak kupotong untuk orang spesial – ibu. Dan tiba-tiba saja....
“ Aww!”
“ Ya ampun, tangan kananmu berdarah lagi. Suster? Tolong ini.”
Aku sempat memandangi sepotong kue – yang hendak kuberikan untuk ibu – terdapat bercak darahku. Seketika aku menjatuhkan sepotong kue itu, hingga seorang dokter berlari mendatangiku dan mengatakan bahwa aku harus bersabar.
“ Apa maksud Dokter?” tanyaku heran dengan pikiran mulai kacau.
Dari pintu yang terbuka, aku bisa melihat dengan amat sangat jelas sebuah ranjang didorong dengan membawa sebujur kaku berlumuran darah. Dan seseorang iu adalah....
“ Ibu?? Ibu!” Aku berlari keluar dan menahan ranjang itu. Kuusap wajah itu dari darah yang menutupinya. “ Ibu?? Nggak mungkin! Ibu! Ibu!”
“ Safa....,” isak Kezi sambil memelukku.
“ Dia bukan ibuku, Zi. Ibuku akan datang membawa hadiah spesial. Dan hadiah spesial itu dari Tuhan, karena memberi rejeki agar ibuku membelikan sesuatu!” Tiba-tiba aku tersentak dengan kalimatku. Dan hadiah spesial itu dari Tuhan.
“ Ibu ini tertabrak truk. Dan kami sempat menemukan ini di dekat tangannya,” kata seorang polisi.
Aku menerima sebuah tas dan kuambil sebuah laptop yang layarnya sudah retak di dalamnya. Kembali aku terisak dan semua ini, sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Tentu saja, ini semua sebuah kejutan. Surprise dari ibu yang tersayang, dan surprise spesial dari Tuhan. Hanya beberapa menit yang lalu, aku berdo’a padaNya, berharap Dia memberiku hadiah spesial di usiaku yang ke tujuh belas. Dan ternyata, menjadi yatim piatu adalah hadiah spesial bagi seorang penderita bipolar disorder. Kehidupan yang amat memuakkan.
Aku langsung membanting laptop itu hingga remuk setelah menghantam dinding. “ Laptop itu nggak jauh berharga dari Ibu! Ibu, maafkan aku! Ibu, bangunlah! Seorang ibu yang jahat yang meninggalkan anaknya sendiri!! Aku nggak butuh itu!” Semua orang berusaha menarikku menjauh dari tubuh ibu yang kuguncang amat keras, pelampiasan amarah dan kecewaku. “ Aku nggak butuh laptop itu!! Aku benci Ibu!! Aaa!!!”
 Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar