Label

Rabu, 04 Desember 2013

Hakikat Kebahagiaan Sejati



Dalam salah satu perjalanan jauh yang pernah Ayah lakukan, Ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tau apa sufi? Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, di antara banyak sufi, tidak semuanya berhasil mencapai pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar tentang kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa tujuan dan makna hidup, ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagiaan hidup.

            Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Tidak ada dari sekelompok sufi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Merekamenggeleng, hingga akhirnya salah seorang dari merekamenyarankan agar Ayah berangkat ke salah satu lereng gunung. Di sana tinggal salah satu sufi besar, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengemas ransel,  berangkat siang itu juga.

            Ayah menemui Sang Guru. Da menerima Ayah dengan ramah, member Ayah kesempatan bertanya. Pertanyaan Ayah hanya satu. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru terdiam lama, menggeleng, berkata bahwa Ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di dunia yang bisa menjawabnya. Ayah mendesah kecewa, kemana lagi harus mencari tahu. Sang Guru menatap Ayah lamat-lamat, berpikir sejenak.

            Sang Guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaan teraneh yang pernah Ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan itu. Perkampuangan itu butuh sumber mata air berupa dana. Sang Guru menyuruh Ayah membuatkan danau di tanah luas itu. Itu bukan pekerjaan mudah. Ayah tertawa pelan, membuat napas sediki tersengal.

            Sang Guru bilang, “ Ketika kau berhasil membuat sebuah danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat kebahagiaan sejati. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang. Aku akan melihat, apakah danau itu sudah sebening air mata.”

            Walau tidak ad aide apapun soal danau itu, Ayah menganguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian tertinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperolah hanya dengan membaca buku atu bertanya. Ayah berangkat, meulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.

            Kau tahu, tidak berbilang tanah yang harus dipindahkan. Erkuba licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari erbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah beru berhenti saat galian itu memliki kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan Ayah aru separuh slesai. Ayah kemudian membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang.

            Sesuai janji, Guru datang menjenguk ayah pada hari yang ditentukan. Siangnya, malam sebelum dia datang, hukan turun. Sumber mata air di hutan menadi kotor. Ayah yang semangat mengajak Guru ke tepi danah mendesah kecewa. Lihat, danau yang Ayah buat jauh dari bening. Sang Guru berkata, Ayah tidak boleh putus asa. Sang Guru  menepuk bahu Ayah., tahun depan sang Guru akan kembali.

            Setelah memikirkan jalan keluarnya, Ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.

            Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk Ayah. Lihat, danau buatan Ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan Ayah. Sang Guru menggeleng. Dia mengambil sepotong bamboo panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru, mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar sajs, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung megeluarkan kepul lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau being itu musnah. Sang Guruh menepuk-nepu bahu Ayah lalu berkata, “Kau pikirkan lagi, tahun depa aku akan kembali.”

            Dua tahun sia-sia. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkin hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahu berlalu, Ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanahnya, kedalaman danau sudah 10 meter. Sang Guru datang, melihat dengan takzim Ayah yang sibuk bekerja. Dua tahun berlalu, Ayah masih berkutat mengaduk tanah. Tiga tahun berlalu, setelah kerja keras  siang malam, akhirnya Ayah berhaasil menyetuh dasar bebatuan. Air kaluar deras dari sela-sela bebatuan. Ayah tertawa senang. Semua parit Ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airna sendiri.

            Guru datang pada hari yang dijanjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai Kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit yang bocor dan sejenak membuat keruh. Sang Guru menatap Ayah, bertanya apakah Ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng, Ayah sudah tahu jawabannya.

            Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membua hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidk akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jaatan, semua itu tidak hakiki. Itu dtang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat itu semua datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

            Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dla hati itu onkret. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebehagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, Karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih,bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gellisah. Padahal apa susahnya ikut senang.

            Itulah hakikat kebahagiaan sejati. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, apa adanya.



Dikutip dari “Ayahku (bukan) Pembohong” Tere Liye

Tidak ada komentar:

Posting Komentar