Label

Sabtu, 23 November 2013

65 Mawar



 


“ Litsy!”
Suara itu menghentikan langkahku. Sungguh, bukan suara itu yang ingin kudengar sekarang. Disaat kerinduanku memuncak, dan aku harus sebisa mungkin menepis rasa yang kucoba tak pernah ada dalam hati. Aku berbalik, memandang pemilik suara itu. Hanya terpaku dalam pandangan hampa, pada dia yang kini terduduk lemah di atas kursi roda. Mata sipitnya kian redup, tak lagi mampu menyilet ulu hatiku.
Pandangan hampa mataku, terselingi oleh setangkai bunga mawar yang kini tergambar di bola mataku. Tanpa kusadari, cowok itu sudah di dekatku dan mengulurkan bunga mawar itu. Namun entah bagaimana. Aku merasa otot hatiku-lah yang menggerakkan ototku untuk mampu menerima bunga itu.
“ Litsy?” Mendadak aku tergagap melihat cewek turun dari mobil. “ Eh, Kansa? Jadi, kalian sudah…. Lhoh, Sy!”
Bahkan tanpa melanjutkan kalimatnya, Dewi berlari mengejarku. “ Kamu kenapa sih? Ah, nggak usah malu-malu gitu dong. Udah jadian, tapi nggak bilang-bilang.”
Aku memandang sebal dengan pertanyaan yang sudah kuduga itu. “ Siapa yang jadian?!”
“ Halaah, nggak usah gitu dong. Masak nggak ngakui pacar sendiri, di depan orangnya lagi!”
“ Hello!! Siapa yang jadian?”
“ Siapa lagi kalo bukan kamu dan Kansa – your first love,” ucap Dewi.
Aku tersenyum kecut. “ Denger ya, aku tahu cuma aku yang masih jomblo, aku nggak pernah bisa ngrasain cinta, dan mungkin menurut kalian aku kuper. Tapi, please deh, aku masih normal, dan aku pengen cintaku juga buat orang normal. Jadi, kalo aku bisa dapetin cowok yang normal, kenapa aku harus jatuh cinta sama orang sakit? Cinta pertama lagi, nggak mungkinlah!” seruku santai, meski dengan amat sangat berat hati untuk berpura-pura tidak mempedulikan cowok yang kini masih duduk di tempatnya. Berkali-kali aku menahan sesak dada saat mengatakannya.
“ Sy?? Kok kamu ngomong gitu sih?”
“ Ya, itu bukti kalo aku tuh nggak suka sama dia. Kamu suka, temen kamu jadian sama orang penyakitan? Nggak, kan?”
“ Litsy?”
Aku melangkah masuk ke halaman sekolah. Aku benci! Aku benci, kenapa aku harus dipertemukan dengan seorang cowok seperti dia. Kenapa harus ada hari itu – pertemuan pertama dua bulan yang lalu.
***
Aku melangkah kesal menuju halte. Hari yang sangat panas. Sepertinya ozon sudah benar-benar marah dengan semua polusi ini. Sambil menunggu bis, aku membuka facebook, menilik status terbaru teman-temanku.
Aku mendengus kesal dan segera log out. Tentu saja aku kesal. Status semua teman-temanku hanya tentang cinta, cinta, dan cinta. Kisah tentang hubungannya dengan pacar, kegalauan karena sakit hati-lah. Apalagi si Dewi yang lebay itu.
Sebentar aku termenung. Kapan ya, aku biSA seperti mereka? Sejak kecil, aku memang tinggal di sekolah asrama khusus putri. Dan mulai SMA ini aku berbaur dengan teman laki-laki. Tapi, aku juga tidak semudah itu menyukai salah satu dari mereka. Sejujurnya, aku ingin merasakannya, sepertinya cinta itu sebuah perasaan yang unik dan menantang.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengulurkan setangkai mawar merah di depan wajahku. Seketika aku terkesiap dan bediri kaku memandangnya. Mata sipit cowok itu benar-benar mengalirkan listrik yang membuatku luruh.
“ Maaf, ini untukmu,” ucap lembut cowok itu, semakin ingin membuatku berlari dan menghirup napas ketenangan.
“ Eh, ah, ehm, ma-makasih,” jawabku tergagap.
“ Kamu ikut Locks of Love?”
“ Ha? Eh, iya.”
Ya, aku bergabung dengan sebuah organisasi kemanusiaan untuk para penderita kanker, bernama Locks of Love. Organisasi itu didirikan bersama oleh Lembaga Swadaya Masyarakat. Kami memiliki basecamp di dekat rumah sakit, sehingga lebih mudah bersosialisasi dengan penderita kanker. Sasaran penderita kanker sebenarnya adalah dari kalangan remaja. Dan kami memiliki banyak kegiatan yang seakan memberi motivasi kepada mereka agar selalu memegang prinsip “ Life Rolls On!”. Sebab kami berusaha membuat mereka merasakan indahnya kehidupan remaja yang normal seperti kami.
“ Waah, hebat ya. Hanya orang-orang tertentu yang mau menyempatkan waktunya untuk orang-orang sakit seperti itu. Oh iya, aku Kansa.” Cowok itu mengulurkan tangannya, sementara aku semakin dag-dig-dug tak menentu.
Aku menghela napas dalam. “ Aku Litsy,” jawabku sambil menerima uluran tangan itu.
“ Kamu kenapa? Sakit, ya?”
“ Eh, nggak kok.”
Dan aku sungguh-sungguh bersujud, karena saat itu juga bis yang kutunggu akhirnya datang. Seakan memberiku kesempatan untuk menenangkan hati sejenak. Oh Tuhan, ada apa ini? Apa aku sedang sakit?
***
Dan pertemuan pertama itu berlanjut pada pertemuan selanjutnya – hampir setiap hari. Dan setiap pertemuan kami, cowok manis itu selalu memberiku setangkai bunga mawar – tentu saja aku menyimpannya baik-baik.
Sungguh bayangannya benar-benar menggangguku. Bahkan aku rela melakukan hal-hal konyol untuknya. Aku menyimpan beberapa foto dirinya -  tentu saja difoto secara sembunyi-sembunyi.
“ Hayyo…, itu fotonya siapa, Sy?” seru Saras yang langsung duduk di sampingku.
“ Ih, kamu tuh ngagetin aku aja deh,” jawabku sambil berbunga-bunga. “ Ini lho, cowok yang aku maksud.”
“ Lhoh, itu kan Kansa, cowok yang sering datang ke Locks of Love itu, kan?”
Aku tersipu malu.
“ Ciyee…, jadi dia first love-mu?? Aah…, so sweet deh.”
“ Apa? First Love? Aku nggak menyebutnya first  love. Aku pikir, ini cuma perasaan suka biasa aja deh.”
“ Ah, kamu ini tahu apa? Soal cinta kayak begini, aku juga udah berpengalaman. Dari sorot mata kamu, dari semua cerita kamu, nggak ada yang nyangkal kalo kamu lagi jatuh cinta.
“ Ah, masak sih?”
“ Dan kayaknya, dia juga ngrasain hal sama denganmu. Kalo nggak, lalu apa arti bunga-bunga ini?” Saras mengambil  setangkai bunga dari kotak besar – tenpat aku menyimpan bunga-bunga mawar dari Kansa.
Hening sesaat.
“ Sy, kamu tahu nggak bu Lilyk - salah satu pendiri Locks of Love,” kata Saras, yang sepertinya mulai serius.
“ Ya taulah. Ada apa?”
“ Aku baru tahu lho, bu Lilyk itu punya anak tunggal yang ternyata sakit.”
“ Oh iya, bu Lilyk punya anak laki-laki, ya? Tapi kok, anaknya itu nggak pernah nongol, ya?” tanyaku heran.
“ Ya mungkin karna dia sakit kali.”
“ Emang sakit apa sih?”
Sakit cystic fibrosis, semacam penyakit paru-paru gitu. Atau bahasa kerennya, penyakit 65 mawar. Dan tau nggak, penyakit itu bisa menyebabkan kematian.” Saras diam sejenak. “ Itu benar-benar membuatku semakin takut, Sy. Aku dan dia bernasib sama, sama-sama hendak menghadpi kematian yang selalu membayangi dalam kehidupan gara-gara penyakit.”
Aku tertegun. “ Ehm, nama penyakitnya kok keren banget sih? 65 mawar kau bilang?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatian.
“ Aku takut, Sy. Aku udah capek harus kemo terus, sementara nggak ada jaminan untuk sembuh,” ucap lirih cewek bertubuh kecil di sampingku itu. Aku menatap wajah pucatnya. Aku memang tak pernah mengerti apa yang sebenarnya mereka rasakan. Tapi, aku hanya berusaha membuat mereka merasakan kebahagiaan remaja normal lainnya.
“ Saras, kamu jangan ngomong gitu dong, please.” Aku mengambil foto kedua orangtuaku dari atas meja. “ Yang namanya kematian, semua orang dihadapkan pada itu, nggak cuma orang-orang sakit seperti kalian. Dulu, aku nggak pernah nyangka kematian akan menjemput oarngtuaku secepat itu.  Kamu nggak bisa duga dan wajar aja kalo ternyata aku yang akan lebih dulu meninggal sebelum kamu. Pada dasarnya kita semua sama, kehidupan kita dikelilingi oleh kematian yang kita nggak pernah tahu kapan.”
Aku mengelus rambut Saras yang mulai menipis – efek dari kemoterapi. “ Ras, hal-hal terbaik di dunia ini nggak pernah dibatasi. Dan kita bisa merangkum semua yang kita dapat dan kita pelajari hanya dengan 3 kata. Hidup terus berjalan.
Aku menghela napas saat Saras menyunggingkan senyum kecil untukku.
***
Dan waktu kebersamaan dua bulan itu, terasa seperti mimpi dan sulit dipercaya saat tiba-tiba aku menemukan kenyataan yang tersembunyi rapat.
“ Kamu mau kemana?” tanya Saras.
“ Rumah sakit. Anaknya bu Lilyk dirawat,” kataku sambil terburu-buru memakai sepatu dan mengambil tas.
“ Kayaknya penyakitnya sudah parah deh. Kasihan bu Lilyk.”
“ Semoga aja sembuh. Dah, aku berangkat!”
Dan sekali lagi, semua terasa mimpi. Lututku terasa gemetar dan aku hampir jatuh. Hatiku masih tak mempercayainya, cowok yang kuyakini telah benar-benar mengajariku tentang cinta, cowok yang sejak awal memenuhi pikiran dan ruang hatiku, bahkan mulai berpikir untuk merajut hubungan seperti teman-temanku, dia…., dialah putra bu Lilyk.
Butiran hangat mengalir lembut dari mataku yang hanya memandang dari balik kaca pintu UGD. Berkali-kali aku meyakinkan hati, itu bukan dirinya. Namun satu jam aku berdiri memandangnya, wajahnya sama, mata sipit itu tertutup rapat dan membentuk kantong mata.
“ Nggak mungkin….. Kansa?? Nggak mungkin….”
“ Nak Listy?” Aku segera mengusap air mataku dan tersenyum ramah pada wanita separuh baya yang menyapaku. “ Kamu sudah lama?”
Aku menggeleng, menyembunyikan suara parau. Bu Lilyk mengajakku duduk di kursi tunggu.
“ Apa sebelumnya kamu mengenal Kansa, Listy?”
Aku mengangguk.
“ Oh, makanya kemarin dia sempat menitipkan mawar ini, katanya buat kamu,” jelas bu Lilyk sambil menyerahkan mawar untukku.
Aku menunduk lemas, menegarkan hati. “ Bagaimana keadaan Kansa?”
Bu Lilyk menghela napas panjang. “ Ibu tidak tahu. Ibu sudah tidak mau lagi mendengar kabar apapun dari dokter, toh itu tidak sesuai dengan harapan Ibu. Tapi, ya sudahlah, sekarang kita tidak perlu membicarakan hal yang membuat kita sedih. Anggap saja ini nikmat yang pastinya ada hikmahnya.
***
Aku melempar mawar ke-64 darinya, setelah 5 mawar lainnya masih bersemayam tenang di meja depan rumah – setelah kejadian lima hari yang lalu di rumah sakit. Aku hanya bisa terduduk lemas, menangisi semuanya. Semua tentangnya. Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa ini semua terasa menyakitkan. Aku ingin menjadi Listy yang dulu, yang bahkan tidak pernah mengerti tentang cinta. Dan aku berharap, ini bukan cinta! Ya, ini bukan cinta! Aku sama sekali tidak mencintai Kansa!
“ Aaah!! Aku benci!” teriakku sambil menendang kotak besar berisi bunga-bunga mawar, dan melempar mawar-mawar itu ke setiap sisi dinding kamar. “ Nggak, nggak mungkin! Nggak mungkin….”
“ Ya ampun, Listy?” Saras menghentikan sikap aroganku terhadap mawar-mawar itu. “ Hentikan! Kamu ngapain?! Ini dari Kansa!”
Aku terduduk lemas dan masih terisak.
“ Kamu mencintai dia, Sy. Kamu nggak bisa nyangkal itu. Kamu pun nggak bisa menghapus perasaan itu dengan cara seperti ini.”
Aku manatap tajam pada Saras. “ Aku nggak mungkin suka sama cowok penyakitan!”
Tiba-tiba Saras mendorong pundakku. “ Aku juga penyakitan, Sy! Aku sakit, kenapa? Aku ataupun Kansa juga nggak mau kayak gini.”
“ Ya udah, aku cewek normal dan nggak mungkin suka sama cowok penyakitan! Aku bisa dapetin cowok normal juga!
“ Kamu sadar nggak, kamu udah menghina aku juga!!”
Aku membisu dengan bentakan Saras. Dan air mataku kembali luruh, membiarkan hatiku semakin lemah.
“ Apa kamu nggak bisa mengambil pelajaran berharga dari setiap kegiatan kita di Locks of Love? Kamu yang mengajarkan kepada kita, Sy. Tapi kenapa, kamu malah begini?”
“ Aku baru sadar, Ras. Semua orang yang pernah aku cintai, pasti ninggalin aku. Aku sangat menyayangi orangtuaku, tapi meraka….. Dan aku pun sangat menyayangimu, tapi apa? Kamu juga akan meninggalkaku, kan? Dan sekarang, saat aku tahu cinta itu apa, Tuhan pun akan mengambilnya. Aku lebih bisa mengambil pelajaran dari hidupku, bahwa cinta dan sayangku hanya malapetaka buatku dan oranglain. Dan perasaan benciku, mungkin saja kebahagiaan orang itu,” jelasku, sesekali terisak. “ Aku hanya ingin meyakinkan hati, bahwa apapun yang kusebut cinta, itu semua nggak pernah ada.”
“Sy, hal-hal terbaik di dunia ini nggak pernah dibatasi. Dan kita bisa merangkum semua yang kita dapat dan kita pelajari hanya dengan 3 kata. Hidup terus berjalan,” ucap Saras. “ Apa yang manurutmu baik, bukan berarti baik di hadapanNya. Satu hal, jika kamu masih memiliki kesempatan untuk mengatakan cinta, katakanlah atau kamu tidak akan pernah berkesempatan untuk mengatakannya dan tidak membiarkan dia tahu. Itu adalah kebahagiaan kecil yang akan mengisi hatimu yang terluka hebat.”
Aku memandang Saras dalam. “ Ini, mawar yang ke-65 dari Kansa,” lanjutnya sambil mengulurkan setangkai mawar. “ Dia ingin kau tahu. Tidakkah kau membiarkan dia tahu?”
Spontan aku bangkit. Menghapus sisa air mata. “ Apa aku masih punya kesempatan agar dia tahu?” tanyaku, terkesan khawatir.
“ Berlarilah!”

Alya Nur Fadhilah
 (Januari, 2012)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar