“ Litsy!”
Suara itu menghentikan
langkahku. Sungguh, bukan suara itu yang ingin kudengar sekarang. Disaat
kerinduanku memuncak, dan aku harus sebisa mungkin menepis rasa yang kucoba tak
pernah ada dalam hati. Aku berbalik, memandang pemilik suara itu. Hanya terpaku
dalam pandangan hampa, pada dia yang kini terduduk lemah di atas kursi roda.
Mata sipitnya kian redup, tak lagi mampu menyilet ulu hatiku.
Pandangan hampa mataku,
terselingi oleh setangkai bunga mawar yang kini tergambar di bola mataku. Tanpa
kusadari, cowok itu sudah di dekatku dan mengulurkan bunga mawar itu. Namun
entah bagaimana. Aku merasa otot hatiku-lah yang menggerakkan ototku untuk
mampu menerima bunga itu.
“ Litsy?” Mendadak aku
tergagap melihat cewek turun dari mobil. “ Eh, Kansa? Jadi, kalian sudah….
Lhoh, Sy!”
Bahkan tanpa melanjutkan
kalimatnya, Dewi berlari mengejarku. “ Kamu kenapa sih? Ah, nggak usah
malu-malu gitu dong. Udah jadian, tapi nggak bilang-bilang.”
Aku memandang sebal
dengan pertanyaan yang sudah kuduga itu. “ Siapa yang jadian?!”
“ Halaah, nggak usah gitu
dong. Masak nggak ngakui pacar sendiri, di depan orangnya lagi!”
“ Hello!! Siapa yang
jadian?”
“ Siapa lagi kalo bukan kamu dan Kansa – your first
love,” ucap Dewi.
Aku tersenyum kecut. “
Denger ya, aku tahu cuma aku yang masih jomblo, aku nggak pernah bisa ngrasain cinta, dan
mungkin menurut kalian aku kuper. Tapi, please deh, aku masih normal, dan aku pengen
cintaku juga buat orang normal. Jadi, kalo aku bisa dapetin cowok yang normal, kenapa
aku harus jatuh cinta sama orang sakit? Cinta pertama lagi, nggak mungkinlah!”
seruku santai, meski dengan amat sangat berat hati untuk berpura-pura tidak
mempedulikan
cowok yang kini masih duduk di tempatnya. Berkali-kali aku menahan sesak
dada saat mengatakannya.
“ Sy?? Kok kamu ngomong
gitu sih?”
“ Ya, itu bukti kalo aku
tuh nggak suka sama dia. Kamu suka, temen kamu jadian sama orang penyakitan?
Nggak, kan?”
“ Litsy?”
Aku melangkah masuk ke
halaman sekolah. Aku benci! Aku benci, kenapa aku harus dipertemukan dengan seorang
cowok seperti dia. Kenapa harus ada hari itu – pertemuan pertama dua bulan yang
lalu.
***
Aku melangkah kesal
menuju halte. Hari yang sangat panas. Sepertinya ozon sudah benar-benar marah
dengan semua polusi ini. Sambil menunggu bis, aku membuka facebook, menilik
status terbaru teman-temanku.
Aku mendengus kesal dan
segera log out. Tentu saja aku kesal.
Status semua teman-temanku hanya tentang cinta, cinta, dan cinta. Kisah tentang
hubungannya dengan pacar, kegalauan karena sakit hati-lah. Apalagi si Dewi yang
lebay itu.
Sebentar aku termenung.
Kapan ya, aku biSA
seperti mereka? Sejak kecil, aku memang tinggal di sekolah asrama khusus putri.
Dan mulai SMA ini aku berbaur dengan teman laki-laki. Tapi, aku juga tidak
semudah itu menyukai salah satu dari mereka. Sejujurnya, aku ingin
merasakannya, sepertinya cinta itu sebuah perasaan yang unik dan
menantang.
Tiba-tiba ada sebuah
tangan yang mengulurkan setangkai mawar merah di depan wajahku. Seketika aku
terkesiap dan bediri kaku memandangnya. Mata sipit cowok itu benar-benar
mengalirkan listrik yang membuatku luruh.
“ Maaf, ini untukmu,”
ucap lembut cowok itu, semakin ingin membuatku berlari dan menghirup napas
ketenangan.
“ Eh, ah, ehm,
ma-makasih,” jawabku tergagap.
“ Kamu ikut Locks of
Love?”
“ Ha? Eh, iya.”
Ya, aku bergabung dengan
sebuah organisasi kemanusiaan untuk para penderita kanker, bernama Locks of
Love. Organisasi itu didirikan bersama oleh Lembaga Swadaya Masyarakat. Kami
memiliki basecamp di dekat rumah
sakit, sehingga lebih mudah bersosialisasi dengan penderita kanker. Sasaran penderita
kanker sebenarnya adalah dari kalangan remaja. Dan kami memiliki banyak
kegiatan yang seakan memberi motivasi kepada mereka agar selalu memegang prinsip “ Life Rolls
On!”. Sebab kami berusaha membuat mereka merasakan indahnya kehidupan remaja
yang normal seperti kami.
“ Waah, hebat ya. Hanya
orang-orang tertentu yang mau menyempatkan waktunya untuk orang-orang sakit
seperti itu. Oh iya, aku Kansa.” Cowok itu mengulurkan tangannya, sementara aku
semakin dag-dig-dug tak menentu.
Aku menghela napas dalam.
“ Aku Litsy,” jawabku sambil menerima uluran tangan itu.
“ Kamu kenapa? Sakit,
ya?”
“ Eh, nggak kok.”
Dan aku sungguh-sungguh
bersujud, karena saat itu juga bis yang kutunggu akhirnya datang. Seakan memberiku kesempatan untuk
menenangkan hati sejenak. Oh Tuhan, ada apa ini? Apa aku sedang sakit?
***
Dan pertemuan pertama itu
berlanjut pada pertemuan selanjutnya – hampir setiap hari. Dan setiap pertemuan kami, cowok manis itu
selalu memberiku setangkai bunga mawar – tentu saja aku menyimpannya baik-baik.
Sungguh bayangannya
benar-benar menggangguku. Bahkan aku rela melakukan hal-hal konyol untuknya.
Aku menyimpan beberapa
foto dirinya - tentu saja difoto secara
sembunyi-sembunyi.
“ Hayyo…, itu fotonya
siapa, Sy?” seru Saras yang langsung duduk di sampingku.
“ Ih, kamu tuh ngagetin
aku aja deh,” jawabku sambil berbunga-bunga. “ Ini lho, cowok yang aku maksud.”
“ Lhoh, itu kan Kansa,
cowok yang sering datang ke Locks of Love itu, kan?”
Aku tersipu malu.
“ Ciyee…, jadi dia first
love-mu?? Aah…, so sweet deh.”
“ Apa? First Love? Aku
nggak menyebutnya first love. Aku pikir, ini cuma perasaan suka biasa aja deh.”
“ Ah, kamu ini tahu apa? Soal cinta kayak begini, aku juga udah
berpengalaman.
Dari sorot mata kamu, dari semua cerita kamu, nggak ada yang nyangkal kalo kamu
lagi jatuh cinta.”
“ Ah, masak sih?”
“ Dan kayaknya, dia juga
ngrasain hal sama denganmu. Kalo nggak, lalu apa arti bunga-bunga ini?” Saras
mengambil setangkai bunga dari kotak
besar – tenpat aku menyimpan bunga-bunga mawar dari Kansa.
Hening sesaat.
“ Sy, kamu tahu nggak bu
Lilyk - salah satu
pendiri Locks of Love,” kata Saras, yang sepertinya mulai serius.
“ Ya taulah. Ada apa?”
“ Aku baru tahu lho, bu
Lilyk itu punya anak tunggal yang ternyata sakit.”
“ Oh iya, bu Lilyk punya
anak laki-laki, ya? Tapi kok, anaknya itu nggak pernah nongol, ya?” tanyaku
heran.
“ Ya mungkin karna dia
sakit kali.”
“ Emang sakit apa sih?”
“ Sakit cystic fibrosis, semacam penyakit paru-paru
gitu. Atau bahasa kerennya, penyakit 65 mawar. Dan tau nggak, penyakit itu bisa menyebabkan kematian.” Saras diam
sejenak. “ Itu benar-benar membuatku semakin takut, Sy. Aku dan dia bernasib sama, sama-sama hendak
menghadpi kematian yang selalu membayangi dalam kehidupan gara-gara penyakit.”
Aku tertegun. “ Ehm, nama
penyakitnya kok keren banget sih? 65 mawar kau bilang?” tanyaku, berusaha
mengalihkan perhatian.
“ Aku takut, Sy. Aku udah
capek harus kemo terus, sementara nggak ada jaminan untuk sembuh,” ucap lirih
cewek bertubuh kecil di sampingku itu. Aku menatap wajah pucatnya. Aku memang
tak pernah mengerti apa yang sebenarnya mereka rasakan. Tapi, aku hanya berusaha
membuat mereka merasakan kebahagiaan remaja normal lainnya.
“ Saras, kamu jangan ngomong gitu dong, please.” Aku mengambil foto kedua
orangtuaku dari atas meja. “ Yang namanya kematian, semua orang dihadapkan pada
itu, nggak cuma
orang-orang sakit seperti kalian. Dulu, aku nggak pernah nyangka kematian akan
menjemput oarngtuaku secepat itu. Kamu nggak bisa duga dan wajar aja kalo ternyata aku yang akan lebih dulu meninggal sebelum
kamu. Pada dasarnya kita semua sama, kehidupan kita dikelilingi oleh kematian yang kita
nggak pernah tahu kapan.”
Aku mengelus rambut Saras
yang mulai menipis – efek dari kemoterapi. “ Ras, hal-hal terbaik
di dunia ini nggak pernah dibatasi. Dan kita bisa merangkum semua yang kita
dapat dan kita pelajari hanya dengan 3 kata. Hidup terus berjalan.”
Aku menghela napas saat Saras menyunggingkan senyum kecil
untukku.
***
Dan waktu kebersamaan dua
bulan itu, terasa seperti mimpi dan sulit dipercaya saat tiba-tiba aku menemukan
kenyataan yang tersembunyi rapat.
“ Kamu mau kemana?” tanya Saras.
“ Rumah sakit. Anaknya bu
Lilyk dirawat,” kataku sambil terburu-buru memakai sepatu dan mengambil tas.
“ Kayaknya penyakitnya
sudah parah deh. Kasihan bu Lilyk.”
“ Semoga aja sembuh. Dah, aku berangkat!”
Dan sekali lagi, semua
terasa mimpi. Lututku terasa gemetar dan aku hampir jatuh. Hatiku masih tak
mempercayainya, cowok yang kuyakini telah benar-benar mengajariku tentang
cinta, cowok yang sejak awal memenuhi pikiran dan ruang hatiku, bahkan mulai
berpikir untuk merajut hubungan seperti teman-temanku, dia…., dialah putra bu
Lilyk.
Butiran hangat mengalir
lembut dari mataku yang hanya memandang dari balik kaca pintu UGD. Berkali-kali
aku meyakinkan hati, itu bukan dirinya. Namun satu jam aku berdiri
memandangnya, wajahnya sama, mata sipit itu tertutup rapat dan membentuk kantong mata.
“ Nggak mungkin…..
Kansa?? Nggak mungkin….”
“ Nak Listy?” Aku segera mengusap air mataku dan
tersenyum ramah pada wanita separuh baya yang menyapaku. “ Kamu sudah lama?”
Aku menggeleng,
menyembunyikan suara parau. Bu Lilyk mengajakku duduk di kursi tunggu.
“ Apa sebelumnya kamu
mengenal Kansa, Listy?”
Aku mengangguk.
“ Oh, makanya kemarin dia
sempat menitipkan
mawar ini, katanya buat kamu,” jelas bu Lilyk sambil menyerahkan mawar untukku.
Aku menunduk lemas,
menegarkan hati. “ Bagaimana keadaan Kansa?”
Bu Lilyk menghela napas
panjang. “ Ibu tidak tahu. Ibu sudah tidak mau lagi mendengar kabar apapun dari
dokter, toh itu tidak sesuai dengan harapan Ibu. Tapi, ya sudahlah, sekarang
kita tidak perlu membicarakan hal yang membuat kita sedih. Anggap saja ini
nikmat yang pastinya ada hikmahnya.
***
Aku melempar mawar ke-64
darinya, setelah 5 mawar lainnya masih bersemayam tenang di meja depan rumah –
setelah kejadian lima hari yang lalu di rumah sakit. Aku hanya bisa terduduk lemas, menangisi semuanya.
Semua tentangnya. Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa ini semua terasa menyakitkan. Aku ingin
menjadi Listy yang dulu, yang bahkan tidak pernah mengerti tentang cinta. Dan
aku berharap, ini bukan cinta! Ya, ini bukan cinta! Aku sama sekali tidak
mencintai Kansa!
“ Aaah!! Aku benci!”
teriakku sambil menendang kotak besar berisi bunga-bunga mawar, dan melempar
mawar-mawar itu ke setiap sisi dinding kamar. “ Nggak, nggak mungkin! Nggak
mungkin….”
“ Ya ampun, Listy?” Saras
menghentikan sikap aroganku terhadap mawar-mawar itu. “ Hentikan! Kamu
ngapain?! Ini dari Kansa!”
Aku terduduk lemas dan
masih terisak.
“ Kamu mencintai dia, Sy.
Kamu nggak bisa
nyangkal itu. Kamu pun nggak bisa menghapus perasaan itu dengan cara seperti
ini.”
Aku manatap tajam pada
Saras. “ Aku nggak mungkin suka sama cowok penyakitan!”
Tiba-tiba Saras mendorong
pundakku. “ Aku juga penyakitan, Sy! Aku sakit, kenapa? Aku ataupun Kansa juga nggak mau
kayak gini.”
“ Ya udah, aku cewek
normal dan nggak mungkin suka sama cowok penyakitan! Aku bisa
dapetin cowok normal juga!”
“ Kamu sadar nggak, kamu
udah menghina aku juga!!”
Aku membisu dengan bentakan
Saras. Dan air mataku kembali luruh, membiarkan hatiku semakin lemah.
“ Apa kamu nggak bisa
mengambil pelajaran berharga dari setiap kegiatan kita di Locks of Love? Kamu
yang mengajarkan kepada kita, Sy. Tapi kenapa, kamu malah begini?”
“ Aku baru sadar, Ras.
Semua orang yang pernah aku cintai, pasti ninggalin aku. Aku sangat menyayangi
orangtuaku, tapi meraka….. Dan aku pun sangat menyayangimu, tapi apa? Kamu juga
akan meninggalkaku,
kan? Dan sekarang, saat aku tahu cinta itu apa, Tuhan pun akan mengambilnya. Aku lebih bisa mengambil pelajaran dari hidupku, bahwa
cinta dan sayangku hanya malapetaka buatku dan oranglain. Dan perasaan benciku, mungkin saja
kebahagiaan
orang itu,” jelasku, sesekali terisak. “ Aku hanya ingin meyakinkan
hati, bahwa apapun yang kusebut cinta, itu semua nggak pernah ada.”
“Sy, hal-hal terbaik di dunia ini nggak pernah dibatasi. Dan kita bisa
merangkum semua yang kita dapat dan kita pelajari hanya dengan 3 kata. Hidup
terus berjalan,” ucap Saras. “ Apa yang manurutmu baik, bukan berarti baik di
hadapanNya. Satu hal, jika kamu masih memiliki kesempatan untuk mengatakan
cinta, katakanlah atau kamu tidak akan pernah berkesempatan untuk mengatakannya
dan tidak membiarkan dia tahu. Itu adalah kebahagiaan kecil yang akan mengisi hatimu
yang terluka hebat.”
Aku memandang Saras dalam. “ Ini, mawar yang ke-65 dari Kansa,” lanjutnya
sambil mengulurkan setangkai mawar. “ Dia ingin kau tahu. Tidakkah kau
membiarkan dia tahu?”
Spontan aku bangkit. Menghapus sisa air mata. “ Apa aku masih punya
kesempatan agar dia tahu?” tanyaku, terkesan khawatir.
“ Berlarilah!”
Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar