Aku hanya ingin menutup rapat hati ini, dari siapa saja yang hendak mengusik ketenangannya.
Hanya satu kunci yang bisa membukanya. Setelah aku berhasil mencintai Allah, Dia akan memberikan kunci itu pada seorang laki-laki.
Seorang laki-laki yang entah dimana dia, bagaimana rupanya, dialah orang terbaik pilihan Allah yang akan bersamaku.
Seorang laki-laki yang bahkan sebelum tidur aku selalu berdoa untuknya, meski aku sama sekali tidak mengenalnya, atau bahkan tidak menyadari sudah/pernah mengenalnya. Berdoa apa? Hanya aku dan Allah yang tahu. Yang sejati, setiap malam aku selalu berkirim salam dengannya - melalui Allah.
Aku tidak akan mencari, sebab ia akan datang sendiri - aku yakin itu. Aku tidak perlu melihat dan memandangi satu per satu laki-laki yang lewat, mana kiranya yang membuat hatiku yakin. Tanpa perlu melakukan itu, aku yakin Dia akan mengarahkan kepada siapa mata ini akan tertuju..
Aku tidak perlu berkelana jauh. Jika memang takdirku mendapatkan dirinya dari kutub, Allah punya tempat indah untuk mempertemukan. Tidak ada kebetulan. Semua sudah diatur.
Dan aku pun tidak perlu menulis semua kriteria laki-laki idaman. Sunggun tidak perlu sama sekali. Hanya mencoba memperbaiki diri dan iman, laki-laki itu mungkin tak jauh beda denganku.
Apalagi membanding-bandingkan, mana yang sekiranya lebih baik untukku. Serahkan semua pada Allah, Dia selalu memberi yang terbaik.
Dan kini, aku hanya perlu menunggu. Menunggu sesuatu yang pasti datang, hanya soal waktu. Akan tetap menunggu meskipun ketika dia berbalik sementara. Tak akan jenuh. Tidak akan pernah.
Sebab dia akan jadi laki-laki pertama dan terakhir yang pernah kumiliki, dan aku juga berharap begitu darinya.
Aamiin Ya Rabb
Karena dengan menulis, aku menyapa mereka yang jauh, memberi tanpa pamrih, dan berbagi pada yang tak terbatas.
Label
- Artikel (25)
- My Story (23)
- Quote (19)
- Cerpen (13)
- Instag's Blog (13)
- Kisah (8)
- Asma Amanina (7)
- Dentistory (3)
- About Me (1)
Sabtu, 25 Januari 2014
Senin, 20 Januari 2014
Semua Itu Ada Waktunya
Lihatlah ke langit itu. Bulan yang
menurut kita indah diapit oleh dua bintang di sisi kanan-kiri. Tak peduli bahwa
sesungguhnya keindahan itu bukanlah cahaya milik bulan. Tak peduli bagaimana
wujud bulan yang sesungguhnya. Tak peduli di sana bulan hanya diam, dan mereka
tak pernah lelah menarik perhatiannya dengan mengedipkan cahayanya.
Namun lihatlah
beberapa jam lagi. Seiring dengan perputaran bumi, akankah semuanya sama?
Akankah kedua bintang itu masih di sana? Masihkah ada teman bagi bulan itu?
Pasti tidak. Mereka bergerak dengan kecepatan berbeda sesuai perputaran bumi.
Bahkan mungkin bintang itu ditelan awan mendung. Siapa yang tahu? Yang pasti
semua tak lagi sama.
Begitu halnya.
Kesetiaan itu ada waktunya. Perasaan itu ada waktunya. Rasa menerima apa adanya
itu ada waktunya. Manusia itu tidak sempurna,bahkan kebaikan pun ada waktunya?
Jadi, pikirkan lagi jika kau hendak berjanji. Pikirkan lagi jika kau menerima
janji, jika kau menerima harapan seseorang
Lalu, bagaimana pasangan
yang bertahan bertahun-tahun? Bagaimana seseorang yang mampu menunggu
bertahun-tahun. Tanyakan pada mereka. Pasti mereka pernah merasakan di ambang
antara setia dan tidak, seiring berjalannya waktu. Hanya sebatas di ambang.
Hingga akhirnya komitmen mereka mengembalikan ambang itu ke bagian yang setia.
Tanyakan pada
pasangan yang tetap harmonis menikah bertahun-tahun. Adakalanya mereka jenuh
dan perasaan itu seakan tiada. Okelah, aku memang belum pernah merasakan, tapi
bisa dilogika. Tapi mereka memiliki komitmen. Bagaimana perasaan itu muncul
lagi dengan cara yang mereka buat sendiri. Bukan sekedar perasaan yang
irrasional, bukan sekedar perasaan tanpa alasan.
Tanyakan pada
mereka yang setia menunggu bertahun-tahun. Ah itu pasti mejenuhkan dan sangat
membosankan. Pasti adakalanya mereka jenuh dan bosan, merasa menyesal kenapa
harus berjanji untuk menunggu. Pasti ada rasa kecewa harus menunggu terlalu
lama. Pasti ada rasa putus asa. Tapi mereka bisa mempertahankan posisi mereka
di ambang, untuk kembali pada kesetiaan menanti. Itulah komitmen. Bahwa mereka
punya alasan kenapa harus menunggu. Bahwa mereka punya alasan kenapa saat itu
ia berjanji.
Tapi, semua itu
tergantung pribadi orang masing-masing. Dan jangan dikira bintang yang hilang
beberapa jam lagi, mungkin ia akan kembali beberapa jam lagi tanpa kita sadari.
Atau bahkan formasi itu akan lagi ada satu bulan kemudian, atau 1 tahun
kemudian.
Semua itu ada
waktunya.
Jumat, 03 Januari 2014
Apakah Allah Menerima Alasan?
A:
" Ya Allah, jika hambaMu melakukan kesalahan yang membuatMu murka, apakah Engkau masih mepertimbangkan alasan dia melakukannya?"
B:
" Hahaha. Apakah hakim tidak menjatuhkan hukum penjara kepada perampok,
jika perampok itu mempunyai alasan bahwa ia harus membayar pengobatan
anaknya yang sakit? Apakah dosenmu akan mengganti nilai C menjadi A jika
kamu tidak sempat belajar karena membantu ayah bekerja? Apakah polisi
membiarkanmu pergi jika kau beralasan STNK dan SIMmu ketinggalan? Apakah
jika semua alasan itu benar dan mereka semua tahu itu benar, apakah
mereka masih mempertimbangkan?"
A: Iya sih. Tapi, apakah Allah bisa disamakan dengan hakim dan dosen? Apakah Allah bsa disamakan dengan manusia?"
B:
Pertanyaan konyol. Tentu saja tidak bisa! Tapi ini hanya contoh
sederhana saja. Begini, pada dasarnya semua perbuatan yang kau lakukan
itu, pasti atas pilihanmu sendiri, kau bertekad melakukan itu. Setiap
perbuatan, setiap pilihan, pasti ada konsekuensinya. Jika kau memutuskan
melakukan kesalahan dan dosa itu, maka kau harus siap dengan
konsekuensinya. Tak peduli apapun alasanmu.
A: Jadi maksudmu, Allah tidak menerima alasan kita? Bukankah Allah itu Maha Pengampun?
B:
Tentu saja Dia Maha Pengampun! Apa yang kau ragukan? Hey, jangan dikira
ketika kau melakukan dosa dan kesalahan lalu memohon ampun, istighfar,
lantas semua selesai? Oh, nggak semudah itu. Allah memang mengampunimu
jika kau mohon ampun, tapi hukuman tetap berlaku. Seorang hamba tdak
akan masuk surga sebelum dia menyelesaikan semua hukuman atas
perbuatannya di neraka. Tidak bisa langsung masuk surga, harus mendpat
balasannya dulu. Seperti hakim, dosen, polisi itu, kau tetap harus
menerima konsekuensinya. Nah, hukumanmu itu bisa aja di dunia atau di
akerat nanti, tergantung kau mau pilih yang mana. Eh, tapi aku tidak
menjamin kau bisa memilih. Yaah, berdoa sajalah.
A: Hah, sama aja.
B:
Lalu kau mau apa? Mau marah, mau mengeluh, nggak terima dengan
ketetapan Allah? Ketika kau sadar melakukan salah, segera mohon ampun
dan memperbaiki diri. Apa susahnya? Semua amal bakal
dipertanggungjawabkan. Ketika kau ditanya, kenapa waktu itu kau
terlambat sholat shubuh dan jawabmu bangun kesiangan, itu konyol. Ketika
kau ditanya, kenapa kau tak puasa dan kau jawab tidak kuat karna
badanmu terlalu kurus, so what?
A: Kau pikir alasannya sekonyol itu??
B:
Apa bedanya? Entah alasan konyol atau tidak, itu tetap alasan. Kalau
memang begitu adanya, semua manusia di bumi ini akan punya banyak alasan
kenapa mereka tidak sholat, kenapa mereka berzina, kenapa mereka
membunuh. Dan pernah nggak mikir, satu orang beralasan dengan cara
menyalahkan orang lain. Oraang lain yang disalahkan tidak terima. Lalu
apa? Kau pikir kita punya waktu berdebat di akherat?
#Hah,
rumit banget sih. Tau deh, si A dan si B itu saling berdebat di
pikiranku. Salah satu pikiranku biiang A, tiba-tiba ada sisi lain yang
menyanggah. Entah, itu suara-suara siapa aja.
Yang jelas, mana yang benar, wallahu a'lam... Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu (Q.S. Al-Kahfi:29)
Langganan:
Komentar (Atom)