Label

Rabu, 12 Februari 2014

Aku Tak Bisa Mengakui Rasa Itu





Sulit bagiku untuk bilang suka. Aku tidak bisa mengaku tentang perasaan itu. Entah aku terlalu sombong, atau terlalu rendah diri. Tapi ini bukan tentang itu. Karena itu berbeda.

Sebelumnya aku memang pernah menyukai seseorang. Ketika perasaan itu muncul, aku sanggup mengakui bahwa aku menyukainya. Ketika aku sedih, aku segera mengakui bahwa aku sakit hati.

Tapi perasaan ini berbeda. Dulu saat aku mampu mengakui bahwa aku suka dia, aku sering mengalami apa yang banyak orang katakan tentang cinta. Aku merasa deg-degan bahkan sekedar melihatnya. Aku selalu merasa bahagia sendiri begitu bertemu dengannya. Aku selalu berusaha mencari tahu apapun tentangnya. Aku selalu berusaha mencari cara untuk dekat dengannya. Bahkan aku tak pernah bisa berkata-kata jika berhadapan dengannya.

Dan kali ini, semua sungguh berbeda. Pertama kali aku mendengar namamu dari orang lain, aku tidak peduli. Bahkan pertama kali melihatmu dan saat itu kau tersenyum padaku, aku hanya memandang heran. Kedua kali bertemu denganmu dan kau memperhatikanku, aku masih tidak peduli. Ketiga kalinya kau tersenyum melihatku, aku masih biasa saja.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Setelah beberapa lama, aku memang memperhatikanmu karena penasaran. Dan sejujurnya aku hanya senang. Aku suka wajah teduh milikmu. Meski hanya kuintip dari  balik tirai jendela. Langkahmu yang tenang dengan pakaian rapi berjalan dengan pandangan menunduk. Tapi, aku tidak pernah  merasakan deg-degan, sekalipun berpapasan denganmu. Maksimal hanya senyum lebar dariku, lebih sering hanya senyum kecil – tanpa kau tahu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Aku memang sering mencari tahu tentangmu, sejak itu. Tapi hanya sebatas hal-hal umum. Tidak pernah seperti yang aku lakukan sebelumnya.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Jika dulu aku begitu mudah memimpikan orang yang aku suka. Bahkan aku tidak pernah bermimpi tentangmu. Mungkin pernah, dan setelah terbangun aku lupa.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Orang yang jatuh cinta, mungkin matanya akan buta melihat kekurangan orang itu. Semua hal tentangnya selalu sempurna,meskipun sebenarnya biasa saja. Dan aku tidak merasakan itu padamu. Aku memandangmu sebagai laki-laki dewasa biasa, dengan kelebihan dan kekurangan yang bahkan aku nggak peduli. Tapi anehnya, aku bahkan mengenali suara sandalmu ketika lewat di depan rumah. Suara adzan yang khas itu, masih bisa membangunkanku untuk sholat shubuh. Masa lalu burukmu, aku memahami itu hal biasa dan semua orang bisa berubah. Semua kelebihanmu kuanggap biasa dan hanya sekedar kagum. Kekurangan milikmu, aku bisa memahami itu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Melakukan kekonyolan di depanmu, lantas tak bisa membuatku malu setengah mati. Tertawa dan kehilangan keanggunan di depanmu, tak terlalu masalah bagiku. Aku jarang memperhatikan penampilanku di depanmu. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku merasa tidak perlu menyamaimu untuk menarik perhatian. Tidak perlu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi aku slalu ingin melihatmu. Aku suka memperhatikan tingkahmu. Lantas membuatku terheran-heran, membuatku merasa teduh, membuatku tertawa geli. Meski aku tak pernah sekalipun selangkah lebih maju untuk mendekatimu. Saling bertukar kata pun tak pernah. Dan aku tak pernah berkeinginan begitu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi kini…., kenyataannya aku merasa kehilangan saat kau pergi jauh. Pergi saat aku bahkan sedang tidak ada disitu.  Pergi dan takkan ada alasan untuk kembali lagi. Aku sedih. Ada yang hilang.

Entahlah, aku tidak bisa mengakui itu. Secara sederhana, aku memandangnya sebagai kebahagiaan atas kehadiranmu, dan kehilangan atas kepergianmu. Tanpa pernah aku melebih-lebihkan hati.

Solo, 3 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar