Sulit bagiku
untuk bilang suka. Aku tidak bisa mengaku tentang perasaan itu. Entah aku
terlalu sombong, atau terlalu rendah diri. Tapi ini bukan tentang itu. Karena
itu berbeda.
Sebelumnya
aku memang pernah menyukai seseorang. Ketika perasaan itu muncul, aku sanggup
mengakui bahwa aku menyukainya. Ketika aku sedih, aku segera mengakui bahwa aku
sakit hati.
Tapi
perasaan ini berbeda. Dulu saat aku mampu mengakui bahwa aku suka dia, aku
sering mengalami apa yang banyak orang katakan tentang cinta. Aku merasa
deg-degan bahkan sekedar melihatnya. Aku selalu merasa bahagia sendiri begitu
bertemu dengannya. Aku selalu berusaha mencari tahu apapun tentangnya. Aku
selalu berusaha mencari cara untuk dekat dengannya. Bahkan aku tak pernah bisa
berkata-kata jika berhadapan dengannya.
Dan kali
ini, semua sungguh berbeda. Pertama kali aku mendengar namamu dari orang lain,
aku tidak peduli. Bahkan pertama kali melihatmu dan saat itu kau tersenyum
padaku, aku hanya memandang heran. Kedua kali bertemu denganmu dan kau
memperhatikanku, aku masih tidak peduli. Ketiga kalinya kau tersenyum
melihatku, aku masih biasa saja.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Setelah beberapa lama, aku memang
memperhatikanmu karena penasaran. Dan sejujurnya aku hanya senang. Aku suka
wajah teduh milikmu. Meski hanya kuintip dari
balik tirai jendela. Langkahmu yang tenang dengan pakaian rapi berjalan dengan pandangan menunduk. Tapi, aku tidak pernah merasakan deg-degan, sekalipun berpapasan
denganmu. Maksimal hanya senyum lebar dariku, lebih sering hanya senyum kecil –
tanpa kau tahu.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Aku memang sering mencari tahu tentangmu, sejak
itu. Tapi hanya sebatas hal-hal umum. Tidak pernah seperti yang aku lakukan
sebelumnya.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Jika dulu aku begitu mudah memimpikan orang
yang aku suka. Bahkan aku tidak pernah bermimpi tentangmu. Mungkin pernah, dan
setelah terbangun aku lupa.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Orang yang jatuh cinta, mungkin matanya akan
buta melihat kekurangan orang itu. Semua hal tentangnya selalu
sempurna,meskipun sebenarnya biasa saja. Dan aku tidak merasakan itu padamu.
Aku memandangmu sebagai laki-laki dewasa biasa, dengan kelebihan dan kekurangan
yang bahkan aku nggak peduli. Tapi anehnya, aku bahkan mengenali suara sandalmu
ketika lewat di depan rumah. Suara adzan yang khas itu, masih bisa membangunkanku untuk sholat shubuh. Masa lalu burukmu, aku memahami itu hal biasa dan semua orang
bisa berubah. Semua kelebihanmu kuanggap biasa dan hanya sekedar kagum.
Kekurangan milikmu, aku bisa memahami itu.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Melakukan kekonyolan di depanmu, lantas tak
bisa membuatku malu setengah mati. Tertawa dan kehilangan keanggunan di depanmu,
tak terlalu masalah bagiku. Aku jarang memperhatikan penampilanku di depanmu.
Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku merasa tidak perlu menyamaimu untuk menarik
perhatian. Tidak perlu.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi aku slalu ingin melihatmu. Aku suka
memperhatikan tingkahmu. Lantas membuatku terheran-heran, membuatku merasa
teduh, membuatku tertawa geli. Meski aku tak pernah sekalipun selangkah lebih
maju untuk mendekatimu. Saling bertukar kata pun tak pernah. Dan aku tak pernah
berkeinginan begitu.
Aku tidak
bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi kini…., kenyataannya aku merasa kehilangan
saat kau pergi jauh. Pergi saat aku bahkan
sedang tidak ada disitu. Pergi dan
takkan ada alasan untuk kembali lagi. Aku sedih. Ada yang hilang.
Solo, 3
Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar