Aku memiliki adik perempuan tepat di
bawahku, kelahiran 1999 dan saat ini masih kelas IX SMP. Setiap kita jalan
bareng, selalu ada yang mengira dialah sang kakak dan aku adiknya. Yaah, tinggi
badan kita memang hampir sama. Tapi itu tidak terlalu masalah jika aku dianggap
adiknya, Barangkali aku terlihat lebih muda darinya (hehehe).
Adikku punya seorang teman laki-laki
satu SMP yang masih satu RT dengan kami, sebut saja dia Rohmat. Ibunya mengenal
baik aku dan keluargaku. Setiap kali aku bertemu dengan ibunya, beliau selalu
menyapaku dengan nama adikku. Aku sih cuek. Kebanyakan tetangga emang lebih
banyak mengenal adikku daripada aku yang jarang keluar rumah, sejak dulu sibuk
dengan urusan sekolah, bahkan sekarang kuliah jauh dari rumah.
Setiap kali aku bertemu dengan ibu
Rohmat dan kami punya waktu mengobrol, ibu itu selalu cerita tentang anak
laki-lakinya itu, apa saja. Aku memang mengenal Rohmat, kita pernah satu TPA
waktu kecil dulu. Tapi aku nggak paham kenapa ibunya itu sering cerita tentang
Rohmat, yang menurutku sama sekali nggak penting buatku (hehehe). Tapi,
kudengarkan saja semua cerita itu, tentang ranking-rangking Rohmat selama SMP
ini, cerita Rohmat tentang guru-guru galak di SMP (kebetulan aku nyambung karna
pernah sekolah di SMP itu dulu), bahkan pujian untuk Rohmat di depanku. Hingga
saat itu sang ibu masih menganggapku sebagai Ma misalnya – adikku. Huft,
perasaan wajah aku dan adikku beda, warna kulit kita beda, banyak hal berbeda
secara fisik.
Pernah suatu kali libur kuliah dan
aku pulang ke solo. Saat kita bertemu, ibu itu tanya, “ Lhoh, Ma, libur tho?”
“ Inggih,” jawabku sambil senyum.
“ Kenapa? Masuk angin po?”
“ Ndak, Bu.”
Setelah itu kita berlalu, dan aku
masih berpikir. Yang namanya liburan kuliah, kenapa harus nunggu masuk angin.
Baru setelah itu aku sadar, ternyata aku dianggap adikku.
Kata ummi, ibu itu juga sering
cerita banyak tentang Rohmat kalo ketemu ummi. Bahkan dulu ibunya pernah datang
ke rumah untuk menanyakan Rohmat yang sore itu belum pulang dari sekolah.
Tanya, apa Rohmat maen sama Ma? Aku ejek habis-habisan adikku, sejauh apa
kedekatan mereka. Ternyata adikku sama sekali nggak pernh berhubungan, nggak
pernah sekelas, bicara pun tidak pernah dengannya. Dan soal ibunya, bahkan
adikku mengaku jarang bertemu dengan ibunya. Kalaupun bertemu, nggak pernah
menyapa seperti ibu itu menyapaku.
“ Jangan-jangan dia itu sebenernya
nggak kenal sama Ma asli. Yang terkenal cuma nama Ma aja, wajahnya nggak. Hmm, coba
ibu itu tau wajah Ma yang asli, pasti nggak pernah dijodoh-jodohi sama
anaknya,” kataku waKtu itu, bercanda.
“ Yee, siapa juga yang mau sama si
Rohmat,” balas adikku.
“ Makanya, buruan liatin muka
aslimu, biar ibunya itu nggak jodoh-jodohin. Ibu itu kan sukanya sama mukaku
sebenernya. Tapi kalo dia tahu aku udah kuliah, nggak mungkin dojodohin sama
anaknya yang masih SMP itu!. Week.”
“ PD banget!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar