Sebuah
kaki mengetuk lantai beberapa kali dengan frekuensi lama. Mereka terdiam
beberapa menit. Hingga pemilik kaki merasa jenuh. Memandang sebal cowok
jangkung yang duduk di batu besar taman itu.
Kakinya
menoleh, hendak berbalik. Diikuti badannya yang mungil.
“
Hey, mau nikah nggak sama aku?” kata Rei, cowok berkulit putih dengan mata
sipit, nada sedikit meninggi.
Ekspresi
yang tidak akan pernah Rei lihat. Mata bulat Sire semakin membulat, bibir
tipisnya terbuka, jantung berdegup. Tapi pikiran rasional gadis itu mengubah
segalanya.
“
Kamu ngomong apa?” tanya Sire
“
Aku yakin kamu udah denger tadi,” kata Rei sambil berdiri dari duduknya,
mendekat.
Sire
memandang wajah teduh tapi menyebalkan itu. Bibir Rei bergerak mengunyah permen
karet. “ Kamu serius?”
“
Kamu pernah lihat aku main-main tentang hati?”
“
Tapi..,apa kamu nggak bisa menyusun kalimat dengan baik? Kamu nggak tau gimana
adab bicara sama cewek? Apalagi kalimat lamaran kayak gitu, nggak etis.”
Mata
Rei semakin memandang tajam. “ Sejak kapan ada hukum etis lamaran? Yang pasti
aku nggak akan mengulang dua kali.”
Gadis
itu tertawa mengejek. “ Siapa juga yang mau dilamar dengan cara kayak gini, ekspresi
menakutkan, datar, nggak romantis, dan…”
“
Oke fine,” katanya sambil meludahkan
permen karet. “ Itu aku anggap penolakan.” Tubuhnya berbalik, berjalan cool, meninggalkan seorang berwajah
masam dan kesal.
Sire
marah, mengira bahwa Rei tidak serius. Padahal dalam ruang hatinya, ia sangat
menunggu kalimat itu terucap, ia akan berkata ‘ya’. Tapi perempuan mana yang
bisa terima ini.
Ia berbalik, berjalan pelan dengan wajah
memerah menahan air mata. Ia sangat mengenal Rei, cowok pujaan hati sejak SMA
yang bertahun-tahun menggantungkan hati
semua gadis, termasuk dirinya. Ia sangat mengenal Rei, cowok setia yang begitu
menjaga hati perempuan. Ia sangat mengenal Rei, meskipun selalu datar dan
sinis, tapi itu hanya topeng atas karakter hangatnya. Ia sangat mengenal Rei,
yang tidak pernah bisa terlihat untuk siapa hati itu, tidak pernah berkata
cinta pada perempuan. Sahabatnya itu, pertama kalinya langsung mengajukan
lamaran padanya, pada Sire. Sire yang memendam selama tujuh tahun.
“
Rei, kembali dan katakan itu lagi. Kembali. Kau nggak sedang mempermainkan
aku,” bisik Sire, pelan.
Beberapa
menit ia masih di sana. Telinganya awas mendengarkan langkah kaki milik Rei
mendekat. Tapi itu tidak akan terjadi. Karna beberapa meter darinya, cowok itu
duduk di atas motor Vixion hitam,
kepalanya tersandar pada stang, tangannya mengepal. Hingga sengaja membanting
helm, berteriak.
“
Bodoh! Bodoh!”
Dua
hati yang tidak teraba.
***
Mata
bulatnya memandang langit dari balik jendela kaca. Tangannya meminang-minang
sebuah cincin. Pikirannya buyar, bukan pada objek di hadapannya. Sempat terkejut
mendengar pintu terbuka. Cincin itu jatuh, menggelinding di bawah kaki Lail.
Gadis
berambut keriting itu memungutnya. “ Jadi keputusanmu?”
Sire
mengangkat bahu, kembali memandang langit.
“
Kamu kenapa sih, Re. Udah jelas Rei cuma mempermainkanmu, ngapain masih
berharap? Di depan kamu sudah ada cowok sempurna bin idaman, malah dicuekin.”
Aku
mendesah, butiran uap air membekas di kaca jendela. “ Andai kamu mengerti.”
“
Aku ngerti. Aku juga teman Rei, you know.
Dan dia nggak cukup baik buat kamu,” kata Lail tegas. “ Ya dia baik sih, cool, tampan, tapi misterius banget.
Siapa yang bisa jamin dia nggak mempermainkanmu?”
“
Kita udah deket sejak SMA, gimana mungkin dia tega? Aku sedang berpikir,
barangkali dia nggak bisa menyampaikan itu dengan baik. Entah hanya harapan
atau memang realita, aku juga merasa Rei punya rasa, karna dia peduli sama
aku.”
“
Ya dia peduli karna kalian bersahabat sejak SMA.”
Sire
mendesah lagi. Pikirannya seperti terbelah dua. Bermusuhan. Namun ia tidak bisa
membedakan mana harapan dan realita. Reski, kakak angkatan di kampus, melamar
Sire jauh hari sebelum Rei. Sebelum Rei melamar? Apakah itu bisa dikatakan
lamaran?
“
Tapi aku mau Rei,” bisik Sire. Lail
hanya memandang sedih. Memandang pada mata mengkilap yang tersembunyi. Tetap
rasa itu tak teraba.
Kalimat
yang berulang kali mengusik hati Sire. Tapi
aku hanya mau Rei.
Sire
dan Rei, dua sejoli yang saling kenal sejak SMA. Teman sekelas selama tiga
tahun. Masih dalam satu fakultas namun berbeda jurusan di sebuah universitas
impian mereka, janji kuliah di kampus yang sama. Saat SMA mereka berlima,
dengan tiga teman yang masing-masing berpencar di universitas berbeda. Hanya
mereka berdua. Sifat bertolak belakang, sering berdebat dan bertengkar, namun
janji-janji dan impian terwujud bagai sifat enzim Lock and Key, melengkapi. Sire yang ramah dan cerewet sangat
berbeda dengan sisi Rei yang cuek dan pendiam. Sire selalu terbuka, namun Rei
jarang berbagi tentang cerita hidupnya. Hanya ada satu hal yang tertutup dalam
diri Sire, tentang perasaannya, tak teraba. Dan hanya satu hal yang terbuka
dari Rei, ia selalu mengatakan, “ Aku hanya ingin mencintai satu cewek, dan
hanya ingin menikah dengannya.”
Sire
suka melukis, menggambar kartun dan animasi. Sedangkan Rei ahli bidang IT dan
desain. Semua karya tangan Sire, Rei-lah yang membuatnya dalam bentuk digital.
Impian terbesar mereka, hendak duet menulis dongeng modern dengan gambar
animasi yang menarik.
Kini
keduanya berjauhan. Mereka sudah lulus, sedang berusaha mencari pekerjaan.
Namun tidak ada lagi saling kontak. Tidak ada lagi yang mengingatkan tentang
janji impian terbesar mereka.
Satu
bulan berlalu, Sire masih menggantungkan Reski. Dan Rei? Tak ada yang tahu,
setiap hari ia menulis surat untuk Sire. Surat tak tersampaikan. Surat yang
selalu terbuang di keranjang sampah kamarnya. Surat lamaran. Pengakuan diri
Rei. Setiap hari menulis kalimat yang dirasa akan disukai Sire. Namun ia selalu
merasa gagal menulis kalimat romantis, dibuanglah surat itu. Malam selanjutnya
selalu begitu. Dengan segenap kekuatan menahan kepasrahan hati. Karena sejak
dulu ia tahu, Sire sudah dilamar Reski.
***
Langkah
Sire terhenti. Ia ragu. Sebenarnya ia ingin memulai hubungan baik, dia hanya ingin Rei. Kali ini ia melihat
Rei ada di dalam toko emas. Tangan Sire memegang sebuah map berisi berkas
lamaran pekerjaan. Sudah seharian ia berjalan menyusuri kota, masuk ke kantor
berbeda-beda. Sire berdiri dengan sabar di samping tiang lampu jalan.
Matanya
sedikit membulat. “ Tunggu. Kenapa Rei ada di toko emas ya?” Kepalanya menoleh,
melihat jemari Rei yang menautkan sebuah cincin di jemari lain miliknya.
Rupanya
mata awas Rei menangkap sosok Sire yang sedang mengamatinya. Ia segera
menyelesaikan transaksi dan keluar menemui Sire, masih dengan wajah datar.
Sire
terkesiap, memaksa senyum ramah, seakan tidak pernah terjadi hari buruk itu. “
Hai Rei, kebetulan tadi aku lewat sini terus liat kamu ada di dalam. Yaudah,
aku tungguin aja. Apa kabar?”
Rei
masih datar. “ Baik. Kamu?”
“
Aku capek banget. Nih masih muter-muter masukin berkas. Kamu nggak mau traktir
aku minum es gitu, panas banget nih. Ayolah, kita kan lama nggak berjumpa.
Traktir aku ya!” seru Sire, menggoyangkan lengan cowok itu, seperti anak kecil
yang menarik-narik baju ayahnya ketika meminta sesuatu.
Akhirnya
Rei mengangguk, berjalan mendahului Sire menuju seberang jalan. Sebuah warung
kecil es kelapa muda.
“
Kemarin udah wawancara.”
Rei
selalu menjawab singkat rentetan pertanyaan Sire. Sudah biasa. Selalu begitu. Hingga
tidak ada yang bisa membedakan bagaimana ekspresi Rei saat bahagia, sedih,
kecewa, malu. Ekspresi wajahnya selalu sama, datar. Ia seperti tubuh di balik
dinding tebal, tak terlihat dan tak teraba, hanya terdengar.
“
Doakan aku ya Rei, diterima di perusahaan itu. Aku pasti doain kamu kok.
Apalagi kantor tempat kamu melamar itu sesuai banget sama passion kamu, yang jago desain sama komputer gitu. Aku dukung kamu
banget,” kata Sire sambil sesekali menyeruput air kelapa. “ Oh iya, tadi kamu
ngapain ke toko emas itu, Rei?”
“
Beli cincin.”
“
Cincin apa?”
“
Pernikahan.”
“
Ooh, tapi kok…, maksudnya siapa yang mau nikah?”
Tenggorokan
Rei sakit meski sekedar mengulum air kelapa. Tidak tega. Tapi harus. “ Aku
sudah menemukan seseorang yang baik untukku.”
Mematung.
Sire berharap ada kalimat lanjutan, bahwa seseorang yang baik itu adalah
dirinya. Berharap kali ini Rei sungguh melamar dirinya. Beberapa menit terdiam.
“
Maksudnya siapa orang itu?” tanya Sire, memancing.
“
Aku suka jika undangan pernikahanku tulisannya R&R.” Napas Sire tercekat
dengan kalimat itu. Jelas bukan dirinya. “ Namanya Rima, teman adikku. Dia
baik, cantik, ceria dan cerewet kayak kamu.”
Kali
ini napas Sire terhenti, beberapa saat. Wajahnya menunduk, sebutir air mata
membekas di kain roknya. Rei tidak tahu.
“
Tapi kalo undangan pernikahanmu tulisannya R&S juga bagus kok, Reski dan
Sire. Aku bisa bantu desain undanganmu.”
Suara
datar itu, semakin menyakitkan. Menyakitkan untuk keduanya.
Sire
menangkupkan hp di telinganya. “ Iya,
Pak? Iya benar. Alhamdulillah, jadi saya diterima? Sekarang harus ke sana, Pak?
Lima menit? Baik, saya segera ke sana. Rei maaf aku ada panggilan kerja awal.
Dah. Iya Pak sebentar.”
Tanpa
memandang mata berkaca milik Rei, gadis itu segera berlalu. Rei tahu, amat sangat
tahu. Hp itu, tidak ada suara apapun di seberang. Sire bermain drama.
Memang
benar. Sire berlari. Menangkupkan tangannya pada bibirnya. Terpecah sudah
tangisan histerinya di pinggir jembatan. Di trotoar jalan untuk kendaraan
berkecepatan tinggi. Tidak ada yang menggubrisnya. Terisak sendiri semakin
dalam.
Sementara
Rei melaju di atas motornya tanpa fokus pada jalan. Maskernya basah. Tanpa
terisak. Ima, adiknya, sudah menunggu di depan pintu rumah dengan wajah
tersenyum bahagia, menyambut.
Setelah
turun dari motor tanpa melepas masker, Rei merogoh saku celananya.
“
Beneran sudah pas kan sama jari mas Rei? Yah semoga aja pas juga di jari calon
suamiku. Doakan ya Mas,” kata Ima ceria.
“
Pasti. Dia laki-laki yang baik. Semangat!” seru Rei, lalu berlalu, meninggalkan
ekspresi curiga di wajah adiknya.
“
Mas Rei kenapa? Kok matanya merah?”
“
Kena debu.”
***
Kakinya
tertatih berjalan menuju ruang itu. Ekspresinya sudah ia kendalikan. Masih ada
sembab di matanya, tapi ekspresi wajah ceria bisa menutupinya. Seorang
perempuan cantik dan anggun menyambutnya.
“
Eh mbak Sire, apa kabar? Mau ketemu pak Reski ya?”
“
Iya, Mas Reski ada di ruangan kan? Apa dia lagi sibuk?”
“
Ah, sesibuk apapun pak Reski dia pasti mau meluangkan waktu buat tamu spesial
seperti Mbak. Mari, saya antar.”
Sire
mengikuti sekretaris itu, masuk ke sebuah ruangan besar.
“
Permisi, Pak Reski, ada tamu spesial.”
Laki-laki
itu memutar kursinya. Segera berdiri begitu melihat Sire, membenahi letak kaca
matanya. Sire tersenyum lebar. Kini hanya mereka berdua setelah sekretaris itu
pergi. Sire memandang lekat. Laki-laki cerdas saat kuliah dulu, selalu aktif di
organisasi manapun, berpikir kritis dan selalu ramah, hari itu mengajak Sire
bertemu dan mengungkapkan lamaran dengan santun. Sire telah membuatnya menunggu
lama. Ketika Reski sudah wisuda dan langsung mengutarakan perasaan, Sire
menolak dengan alasan ingin fokus kuliah. Dan ketika Sire sudah wisuda, ia
menggantungkan cukup lama.
Sire
masih tersenyum lebar, menunjukkan punggung tangan kirinya. Di jari manisnya
tersangkut sebuah cincin. Cincin pemberian Reski.
Reski
tersenyum bahagia, mengusap wajahnya yang memerah. Keduanya berpelukan.
Selesai
Jangan lupa juga, beli bukunya yaa..