Dalam
teori psikologi, begitu seseorang mengkomitmenkan diri pada seseorang atau
sesuatu maka dia akan lebih bersedia memenuhi permintaan untuk melakukan
perilaku yang konsisten dengan hal itu. Secara umum dirinya ingin berperilaku secara
konsisten, sehingga begitu committed terhadap seseorang atau sesuatu itu,
Komitmen bukan sekadar janji, yang
apabila janji terpenuhi, maka selesailah perilaku yang mewujudkan janji itu. Buah
dari perjuangan sebuah komitmen selalu berkesinambungan. Ia menarik poin-poin alfabet
lain untuk diperjuangkan, meskipun sebenarnya komitmennya hanya untuk salah
satu huruf alfabet. Ibarat salah satu huruf A misalnya, maka ia seolah menarik
kehadiran huruf B sampai Z.
Penarikan poin-poin lain selain spesifik
pada apa yang diperjuangkan, adalah buah dari konsistensi. Sebab konsistensi
merupakan panglima dalam proses pencapaian sebuah komitmen. Terkadang, keadaan
tak selamanya memihak untuk mendukung komitmen, namun hanya konsistensi yang
membuat kesadaran bahwa tujuan akhir komitmen bukan di ujung perjalanan,
melainkan selama prosesnya itulah yang akan berkesinambungan secara sadar
maupun tidak.
Sebagai contoh dalam pernikahan,
sepasang suami istri saling mengikat komitmen untuk saling setia. Bertahun-tahun
lamanya pernikahan mereka, sebenarnya keadaan tak selalu mendukung komitmen
untuk kesetiaan mereka. Buah-buah dari komitmen itu bukan hanya setia, tapi
bisa menarik sikap peduli, tolong-menolong, kertergantungan, bahkan jika salah
seorang diantaranya telah meninggal, lantas tidak meluruhkan kesetiaan itu.
Sebab proses yang bernama konsistensi itu yang terpenting.
Contoh lain, ketika seorang mahasiswa
berkomitmen untuk lulus dengan predikat cumlaude.
Ia konsisten dengan keputusannya untuk belajar tekun, rajin mengunjungi
perpustakaan untuk belajar banyak dari buku lain, atau tak jarang pula
berdiskusi dengan dosen di luar kelas. Namun, apabila akhir cerita cumlaude itu tidak dia peroleh, dia
tetap mendapatkan buah-buah dari konsistensi itu. Buah-buah itu misalnya
pengetahuan dari buku-buku yang banyak dibaca, relasi dengan para dosen, yang
ternyata sangat berpengaruh pada karirnya. Atau jika ternyata dia memang
berhasil mendapat predikat cumlaude,
secara tidak sadar jiwa-jiwa ketekunan itu telah melekat dalam dirinya. Sebab
ketekunan itu telah terbentuk secara konsisten.
Kuat atau tidaknya konsistensi seseorang
dalam keputusan untuk berkomitmen atau bahkan perwujudan komitmen, diantaranya:
1.
Kebutuhan
Manusia akan selalu
memiliki kebutuhan. Namun masing-masing berbeda dalam menggolongkan apakah ia
termasuk kebutuhan primer, sekunder, atau tersier. Semakin ia merasa butuh akan
buah-buah komitmen itu, semakin kuat pula usaha untuk mewujudkan
konsistensinya. Kebutuhan inilah yang menjadi alasan bagi dirinya. Semakin kuat
ia memiliki alasan yang akan selalu terngiang, semakin kuat pula perwujudan
komitmen. Sekalipun komitmen itu tertuju pada seseorang atau sesuatu yang lain,
namun semua tetap akan kembali pada dirinya sendiri.
2.
Pengetahuan dan pengalaman
Pengetahuan yang
membuatnya tahu diri akan resiko dan tantangannya. Setidaknya seseorang yang
memutuskan untuk berkomitmen umumnya pernah mengalami pengalaman ketika dirinya
berperilaku tanpa komitmen. Atas dasar pengalaman itu terbersit keinginan kecil
dalam hatinya sebagai bentuk penyesalan, kecewa, atau kehati-hatian, yang
selanjutnya menyentil keputusan besar untuk berkonsisten dalam berkomitmen.
3. Tingkat
komitmen untuk mengubah diri
Semua perilaku
sekalipun tertuju untuk orang lain atau sesuatu yang lain, tetap akan kembali
pada diri sendiri. Ini masih berkesinambungan dengan poin 1, seberapa besar
kebutuhan yang tercapai itu akan berpengaruh dalam hidupnya. Komitmen dengan
usaha berdagang misalnya. Semakin ia menyadari bahwa hasil usaha itu sangat berpengaruh
dalam hidupnya, atau hidupnya bergantung pada penghasilan itu, semakin kuat
pula komitmennya. Segala usaha untuk membuat penghasilan konsisten atau bahkan
penghasilan itu mengalami peningkatan setiap hari menjadi unsur yang mewakili
komitmen itu.
4. Identifikasi
diri dengan obyek
Identifikasi dan
penyatuan obyek dalam diri akan mempengaruhi emosi yang melibatkan hati
terdalam. Ketika sebuah konsistensi dilanggar, secara tidak sengaja ada
keganjalan di hati, ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang dianggap berdosa.
Secara sederhana menyangkut seberapa kemampuan mengidentifikasi diri dengan
obyek yang akan diperjuangan melalui komitmen itu. Semakin banyak hal
teridentifikasi, semakin melekat pula dalam dirinya.
Ketika seseorang
berkomitmen pada usia 24 tahun harus sudah bekerja misalnya, identifikasi obyek
bisa dijabarkan dari perjalanan kuliah. Bahwa sebelum usia 24 tahun, ia harus
sudah lulus. Sebagai syarat lulus cepat, ia tidak boleh mengulang mata kuliah
yang bisa mengulur waktu. Salah satu jalannya yakni memperoleh nilai terbaik
mata kuliah dalam sekali ambil. Lebih spesifiknya dengan cara belajar
sungguh-sungguh. Pasti akan ada kejanggalan bila terjadi masalah dalam semangat
belajarnya.
5. Keteguhan
Semakin teguh komitmen,
semakin kuat pula usaha dalam merealisasikannya. Semakin kuat perilakunya,
semakin resisten ikrar itu akan berubah. Ia akan lebih stabil dari waktu ke
waktu. Akhirnya akan memberikan dampak yang besar. Karena perjuangan yang
tertatih akan semakin menempa jiwanya, dan dalam pula bekasnya untuk selalu diingat.
Disinilah berlaku teori, membalik pikiran dan komitmen awal membutuhkan kerja
keras.
6. Penghargaan
Setiap manusia punya
kodrat untuk dihargai. Ketika dirinya berkomitmen untuk seseorang misalnya,
kemudian seseorang itu menganggap penting komitmennya, maka semakin kuat pula
konsistensi itu. Sama halnya ketika berkomitmen untuk diri sendiri, kemudian
hasilnya mengundang penghargaan dari orang lain, semakin ia bersemangat
menjalani proses komitmen itu.
Konsistensi
sejatinya berjalan beriringan dengan sebuah komitmen. Sebab sebuah keputusan
untuk berkomitmen, maka konsekuensinya itu bukan sekadar janji. Konsekuensi
lain yakni terus-menerus. Keputusan itu tetap ada, dalam berbagai kondisi
hidup. Terkadang, ketika kita sudah mengikrarkan sesuatu, maka tubuh akan turut
bersinergi . Hingga tak jarang, secara tidak sadar pikiran mampu menangkap
sesuatu yang salah bila konsisten itu mulai merosot. Kembali pada diri sendiri,
seberapa ia mampu menangkap sinyal dari diri sendiri. Ada banyak hal yang
mendukung untuk berkonsisten. Selama kebutuhan dan identifikasi melekat erat
pada keputusan untuk teguh. Sebab komitmen tinggi dibuktikan dengan adanya
sikap kuat dalam perilaku dan pertahanannya. (AL)