Dengan
semua masalah, beban pikiran, amanah yang tak kunjung usai, semakin membuat
hari-hariku berantakan. Barangkali itu ekspresi terburuk dariku. Hampir tidak
ada lagi senyum. Sapa yang kadang tak ikhlas. Uluran tangan yang terasa berat. Astaghfirullaah…
Hanya bisa berdoa Allah membuatku mampu melalui ini.
Hingga
di puncak keterpurukan, sesampai di dalam kamar, selembar amplop biru teronggok
di atas meja buku. Untukku. Dan spontan membuatku menyesal. Satu hal kecil yang
kadang dianggap remeh, tapi sebenarnya itu mungkin berarti untuk orang lain.
Mungkin
inilah ukhuwah yang disatukan oleh iman. Meski aku menjauh, beban ini akan
tetap sampai pada dia yang peduli. Meski aku mendadak bungkam – tak seceriwis
biasanya – dia akan tetap bisa mendengar. Untuk Saudariku, Ukhti, jazakillaah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar