Diam,
bukan berarti tanpa kata-kata. Seperti diamnya angin, bukan berarti tak ada
udara di sini. Atau sunyinya malam, bukan berarti taka da kehidupan. Bahkan
tumbuhan yang kau anggap, sejatinya tidak sungguh diam tanpa pertumbuhan.
Diam yang bagaimana? Setidaknya ada
tiga macam diam, berkaitan dengan jasad/tubuh (psikomotor), hati (afektif), dan
pikiran (kognitif). Ketiga, diamnya pikiran. Ini terjadi ketika seseorang
merasa gundah dan galau hatinya. Hanya didominasi perasaan, tanpa logika tentang
hal yang membuatnya begitu. Pikirannya terdiam untuk berpikir secara logis,
namun hatinya begitu ribut dengan perasaan. Terkadang itu bisa terasosiasi
dengan motorik, secara sadar atau tidak melampiaskan melalui kata-kata.
Kata-kata yang bahkan pikirannya tidak menyadari tentang itu.
Kedua, diamnya hati. Seseorang yang
barangkali jarang berkutik tentang hati. Melakukan segala sesuatu hanya
berdasarkan pikiran dan logika otak. Lantas merealisasikannya dengan aktivitas
motorik. Orang seperti ini hatinya tidak pernah bicara, entah tentang kebenaran
atau keburukan. Hatinya sudah terlalu lelah meraung-raung padanya, semesntara
dia tidak pernah mendengar kata hati.
Pertama,
diamnya jasad. Seperti aku padamu, dan kau padaku. Bibir mungkin tak merangkai
kata melalui suara dengan frekuensi yang bisa kau dengar. Tubuh juga tak lantas
memberi sinyal hijau padamu. Tangan tak saling memberi pertolongan kecil.
Hingga langkah kaki tak pernah bergerak saling mendekat. Mata juga terus diam
menunduk malu-malu. Seperti diamku padamu, dan diammu padaku selama ini.
Tapi,
bukan berarti hatiku diam untuk merangkai benang-benang harapan. Bukan berarti
pula pikiranku diam tentang dirimu. Di hadapanmu, aku mungkin terbungkam. Di
hadapanmu mungkin aku diam, tak mendekat. Atau bahkan mataku diam untuk tak
melihatmu. Namun, ada sisi tak terlihat, yang tak pernah diam, membahas
tentangmu. Sisi tak terlihat itu, terlalu malu menampakkan di depanmu. Sungguh
bukan suatu keengganan untuk sekadar melihatmu. Andai kau tahu, betapa pikiran
dan hati ini risau dan selalu ramai bertengkar. Antara perasaan yang
meluluhkan, dan segala kesadaran pikiran yang menguatkan.
Sadar,
bahwa aku haram unuk sekadar melihatmu. Sadar, bahwa diri ini bisa saja
menganggu kesucian hatimu. Sadar, bahwa suara ini barangkali mengusik ibadahmu.
Sisi tak terlihat itu, bagian dari diriku. Meskipun tak terlihat, aku berharap
kau tetap menganggapku ada. Meski hanya sekadar pernah melihat seorang gadis di
rumah itu. Meski hanya itu.
Lalu,
bagaimana dengan dirimu? Bagaimana maksud diammu? Apakah diammu sama denganku?
Ah, mungkin hatiku terlalu ramai berharap. Atau barangkali diammu adalah wajar,
untuk orang yang tak kau kenal, dan merasa tak perlu mengenalnya. Aku sedih
jika kalimat terakhir memang benar adanya. Dan ramainya pikiranku kembali
berkata, ini rasional. Karena kita memang bukan siapa-siapa. Aku dan kamu,
bukan saling siapa-siapa.
Surakarta, 19 Oktober 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar