Label

Minggu, 16 November 2014

Diamku-Diammu




Diam, bukan berarti tanpa kata-kata. Seperti diamnya angin, bukan berarti tak ada udara di sini. Atau sunyinya malam, bukan berarti taka da kehidupan. Bahkan tumbuhan yang kau anggap, sejatinya tidak sungguh diam tanpa pertumbuhan.
       Diam yang bagaimana? Setidaknya ada tiga macam diam, berkaitan dengan jasad/tubuh (psikomotor), hati (afektif), dan pikiran (kognitif). Ketiga, diamnya pikiran. Ini terjadi ketika seseorang merasa gundah dan galau hatinya. Hanya didominasi perasaan, tanpa logika tentang hal yang membuatnya begitu. Pikirannya terdiam untuk berpikir secara logis, namun hatinya begitu ribut dengan perasaan. Terkadang itu bisa terasosiasi dengan motorik, secara sadar atau tidak melampiaskan melalui kata-kata. Kata-kata yang bahkan pikirannya tidak menyadari tentang itu.

         Kedua, diamnya hati. Seseorang yang barangkali jarang berkutik tentang hati. Melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan pikiran dan logika otak. Lantas merealisasikannya dengan aktivitas motorik. Orang seperti ini hatinya tidak pernah bicara, entah tentang kebenaran atau keburukan. Hatinya sudah terlalu lelah meraung-raung padanya, semesntara dia tidak pernah mendengar kata hati.
Pertama, diamnya jasad. Seperti aku padamu, dan kau padaku. Bibir mungkin tak merangkai kata melalui suara dengan frekuensi yang bisa kau dengar. Tubuh juga tak lantas memberi sinyal hijau padamu. Tangan tak saling memberi pertolongan kecil. Hingga langkah kaki tak pernah bergerak saling mendekat. Mata juga terus diam menunduk malu-malu. Seperti diamku padamu, dan diammu padaku selama ini.
Tapi, bukan berarti hatiku diam untuk merangkai benang-benang harapan. Bukan berarti pula pikiranku diam tentang dirimu. Di hadapanmu, aku mungkin terbungkam. Di hadapanmu mungkin aku diam, tak mendekat. Atau bahkan mataku diam untuk tak melihatmu. Namun, ada sisi tak terlihat, yang tak pernah diam, membahas tentangmu. Sisi tak terlihat itu, terlalu malu menampakkan di depanmu. Sungguh bukan suatu keengganan untuk sekadar melihatmu. Andai kau tahu, betapa pikiran dan hati ini risau dan selalu ramai bertengkar. Antara perasaan yang meluluhkan, dan segala kesadaran pikiran yang menguatkan.
Sadar, bahwa aku haram unuk sekadar melihatmu. Sadar, bahwa diri ini bisa saja menganggu kesucian hatimu. Sadar, bahwa suara ini barangkali mengusik ibadahmu. Sisi tak terlihat itu, bagian dari diriku. Meskipun tak terlihat, aku berharap kau tetap menganggapku ada. Meski hanya sekadar pernah melihat seorang gadis di rumah itu. Meski hanya itu.
Lalu, bagaimana dengan dirimu? Bagaimana maksud diammu? Apakah diammu sama denganku? Ah, mungkin hatiku terlalu ramai berharap. Atau barangkali diammu adalah wajar, untuk orang yang tak kau kenal, dan merasa tak perlu mengenalnya. Aku sedih jika kalimat terakhir memang benar adanya. Dan ramainya pikiranku kembali berkata, ini rasional. Karena kita memang bukan siapa-siapa. Aku dan kamu, bukan saling siapa-siapa.

Surakarta, 19 Oktober 2014.

 
    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar