
Ilmu itu seperti binatang buruan. Maka ikatlah ia
dengan tulisan. (Imam
Syafi’i)
Kalimat itu
barangkali sudah bukan frekuensi baru yang didengar telinga. Kenapa Imam
Syafi’i berani mensimilekan ilmu seperti binatang buruan? Dimulai proses
pencarian dan usaha mengejar yang tentu tidak mudah. Karena ilmu hanya bisa
didapat dengan berjuang dan kerja keras. Seperti kata Ustad Salim A. Fillah
dalam bukunya Lapis-Lapis Keberkahan,
bahwa langit tidak akan menghujani ilmu pada seseorang yang hanya duduk diam di
dalam rumah. Kendatipun hujan yang tidak akan membasahi seseorang di dalam
rumah.
Ilmu mungkin
bisa didapat darimana saja. Selintas melihat benda terbang, mendengar bunyi
tertentu, menyentuh tekstur permukaan, hanya selintas. Tidak sengaja melintas.
Seperti udara yang masuk telinga kanan dan tembus telinga kiri. Sedangkal
itukah definisi ilmu? Mari telisik terminologinya menurut KBBI, bahwa ilmu
adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut
metode tertentu untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Untuk mencapai
hakikat ilmu yang sebenarnya, proses menyerapnya pun memerlukan adab. Para
ulama sendiri menjelaskan bahwa sebelum belajar ilmu, maka diwajibkan belajar
adab. Tapi sayangnya, dalam tulisan ini terlalu singkat jika harus membahas
adab.
Poin utama yang
dipelopori dalam adab berilmu adalah urusan niat. Dalam kitab para ulama
seringkali bab pertama membahas tentang niat. Kenapa? Disitulah titik poin
pencapain ibadah dan amalan. Pertanyaan mendasar, setelah memperoleh ilmu dan
menuliskannnya, niat apa yang membuat kita konsisten?
Masing-masing
diri yang suka menulis dan bermimpi menjadi penulis, tanyakan di lubuk hati
terdalam. Ketika dikatakan tentang ‘penulis’, kata apa yang terlintas di
pikiran kita? Keren? Jangan-jangan kita menulis hanya karena ingin disebut
keren. Uang? Jangan-jangan kita menulis dan membuat buku hanya karena mengharap
royalti. Like dan comment? Jangan-jangan kita yang sering
menulis status di media sosial karena ingin mendapat banyak like dan comment. Mari ditafakuri lebih ikhlas tentang mencari ilmu dan
menuliskannya.
Sejenak menyimak
secuil kisah ulama Imam Malik. Hari itu luasnya ilmu beliau dituliskan dalam
kitab Al-Mutawatho’. Hingga seseorang yang gila ketenaran menjiplak karya
beliau, dan mengaku atas nama dirinya. Apakah Imam Malik menuntut? Apakah
bergeolak emosinya, karena kerja kerasnya diakui orang lain? Jika jawaban iya,
jelas itu bukan seorang Imam Malik. Beliau sama sekali tidak khawatir, selama
ilmu yang ia sampaikan memang akan disampaikan pada orang lain. Tujuannya hanya
pada urusan umat, bukan urusan nama beliau. Karena pada akhirnya semua orang
lebih percaya pada nama Imam Malik, disebabkan gaya kepenulisan yang sudah khas
dan dikenal orang lain.
Untuk bisa
menuliskan ilmu supaya lebih tersampaikan, Ustad Dwi Budiyanto menjelaskan beberapa
tahapan singkat penulisan:
1. Prewriting
Disinilah segala
bentuk ide, tema, dan pencarian bahan dimulai. Observasi yang terpikirkan
dikembangkan dengan pencarian data yang mendukung dan pengembangan kalimat.
2. Drafting
Pernahkah kita
menulis beberapa baris kalimatatau paragraph, setelah itu semuanya berhenti
tiba-tiba? Mengalami kebuntuan pengembangan ide? Mendadak lupa poin yang hendak
disampaikan? Seringkali pening bagi kita untuk menuliskan poin-poin atau garis
besar topik yang hendak dicantumkan dalam tulisan. Setelah itu, menulislah
seperti air mengalir apa adanya. Sebab di sanalah ukuran natural sebuah ide.
Tuliskan apapun. Jangan pedulikan EYD, susunan kalimat, bahkan titik koma.
Mengalirlah apa adanya. Tahap kedua inilah titik kebebasan mengungkapkan ide.
3. Revising
Pada tahap ini
adalah cek kembali poin-poin atau ide yang belum tersampaikan. Masih adakah
yang perlu ditambah atau dikurangi.
4. Editing
Inilah tahap
akhir sebelum disahkan bahwa tulisan siap dikonsumsi. Yakni kemasan pada
kebahasaan, susunan kalimat, susunan paragraf, dan pengelompokan sesuai
subtopik.
Maka mulai dari
sekarang, tulislah meski hanya satu kata ilmu yang kita dapat. Dengan niat
berbagi ilmu, kemampuan menulis akan semakin berkah. Karena dengan menulis,
kita mengajarkan. Tetap berpondasi pada satu firman, sampaikan walau satu ayat. (AL)
#Tugas Forum 1 FLP Yogyakarta
