| Gb. Ilustrasi Kelas Asma |
Mataku samar-samar memandang ustadz yang sedang mengisi
materi malam ini. Hari ini jadwal kuliah dan amanah padat dari jam 7 pagi
hingga hampir isya. Belum ada waktu untuk mandi, sekadar mencuci wajah dan
makan sebentar, belajar sesuatu yang lain dimulai pukul 8 malam. Kelas dimulai
dengan tanda bel tiga kali. Terlambat datang ke kelas, ada iqob.
Bermacam-macam, mungkin membuang tong sampah ke luar, merapikan sandal,
merapikan tempat cuci dan jemuran, selalu ada pekerjaan. Selalu ada tuntutan
pula bagi masing-masing tentang kesadaran diri sendiri, sebelum iqab itu
dinggap hutang dan diminta di akherat.
Beberapa detik aku sadar, lalu terbuai lagi dengan kantukku.
Suara ustadz pun hanya samar-samar sesekali turun naik frekuensinya. Tak
terbayang bagaimana pula naik-turunnya tulisanku di buku catatan. Membosankan,
terlebih pelajaran sejarah peradaban islam. Uft, aku selalu tidak suka sejarah.
Aku mencubit punggung tanganku sendiri, merintih perlahan,
sakit. Saat itu pula mataku melek, menahan sakit. Entahlah, hingga saat ini pun
aku belum menemukan cara ampuh mengusir kantuk ketika kelas. Minum kopi, yang
ada lambungku tidak kuat. Ngemut permen, sama sekali tidak berefek. Sebenarnya
aku selalu siap cemilan pedas, tapi di kelas tidak boleh makan. Padahal pemandu
asrama berkali-kali mengingatkan, bahwa kita harus meniatkan sungguh-sungguh
untuk belajar dan tidak mengantuk. Setali tiga uang, motivasi itu masih kalah
dengan godaan setan yang menutup mata kami supaya terpejam. Seringkali aku
merasa ‘pekewuh’ dengan ustadz yang mengisi materi. Apalagi hijab antara santri
dan ustadz memang sengaja dibuat rendah, kira-kira setinggi pinggul. Jadi kami
bisa saling bertatap muka. Ketahuan deh, kalo santri ngantuk.
“ Srott!”
Di ambang kesadaran, aku menyempatkan menoleh pada teman
yang duduk di sebelahku. Mataku terbelalak melihat aksi kedua temanku. Salah
seorang membuka mata lebar, seorang lagi memfokuskan semprotan burung di depan
matanya. Srott! Semprotan itu tepat mengenai sepasang mata.
“ Eh, kalian ngapain?” tanyaku sambil berbisik, heran.
“ Biar nggak ngantuk,” jawab Feti, wajahnya basah oleh air
di dalam semprotan itu.
“ Itu isinya apa? Pelicin setrika?” tanyaku.
“ Ya nggak mungkinlah, ini air biasa.”
Tawaku menyembur, saking tak kuatnya menahan. Beberapa santri
menoleh. Awas dengan keadaan sekitar dan sekilas menangkap kalimat ceramah
ustad. Astaghfirullah, ustad sedang menyampaikan kisah penyiksaan para sahabat
di awal kedatangan wahyu Rasul. (AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar