Kelas pagi telah
bubar setengah jam lalu. Beberapa santri meramaikan dan membisingkan dapur
dengan obrolan-obrolan sembari sarapan. Beberapa terlihat berlari-lari kecil
dari ujung blok ke ujung lain. Beberapa terburu-buru dengan menenteng tas,
kuliah kampus pagi.
Dian sedang
mengepel lantai keramik blok Raudhoh. Hari ini jadwalnya piket.
Tiba-tiba datang Ime dengan langkah terburu-buru melewati lantai itu.
“ Ya Allah,
maafkan, nggak liat sedang dipel,” seru Ime, melihat tapak kakinya di lantai.
“ Nggak papa,
Im,” jawab Dian.
“ Sini sini,
biar aku yang ngepel,” kata Ime, berusaha merebut tongkat pel dari Dian.
Dian
mempertahankan. “ Eh, nggak usah! Nggak papa aku aja.”
“ Aku harus
bertanggungjawab. Sini!” seru Ime.
Keduanya masih
saling merebutkan tongkat pel dan berseru dengan kalimat masing-masing.
“ Yaelah, kain
pel aja diperebutkan!” celetuk seseorang yang memperhatikan dari dapur.
“ Itsar, Sis,
mendahulukan kepentingan saudaranya,” balas yang lain.
“ Mana, Dian!”
“ Nggak usah!”
berontak Dian.
Tiba-tiba, bruk
bruk bruk. Langkah lari seorang akhwat berjilbab merah marun, beransel di
punggung dan meneteng tas laptop. Langkah kakinya yang belum berkaos kaki juga
menapak tilas di lantai. Dian dan Ime hanya melongo melihatnya berlalu cuek.
“ Nurul,
lantainya!!!” seru keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar