Label

Rabu, 12 Agustus 2015

Itsar




Kelas pagi telah bubar setengah jam lalu. Beberapa santri meramaikan dan membisingkan dapur dengan obrolan-obrolan sembari sarapan. Beberapa terlihat berlari-lari kecil dari ujung blok ke ujung lain. Beberapa terburu-buru dengan menenteng tas, kuliah kampus pagi.

Dian sedang mengepel lantai keramik blok Raudhoh. Hari ini jadwalnya piket. Tiba-tiba datang Ime dengan langkah terburu-buru melewati lantai itu.

“ Ya Allah, maafkan, nggak liat sedang dipel,” seru Ime, melihat tapak kakinya di lantai.

“ Nggak papa, Im,” jawab Dian.

“ Sini sini, biar aku yang ngepel,” kata Ime, berusaha merebut tongkat pel dari Dian.

Dian mempertahankan. “ Eh, nggak usah! Nggak papa aku aja.”

“ Aku harus bertanggungjawab. Sini!” seru Ime.

Keduanya masih saling merebutkan tongkat pel dan berseru dengan kalimat masing-masing.

“ Yaelah, kain pel aja diperebutkan!” celetuk seseorang yang memperhatikan dari dapur.

“ Itsar, Sis, mendahulukan kepentingan saudaranya,” balas yang lain.

“ Mana, Dian!”

“ Nggak usah!” berontak Dian.

Tiba-tiba, bruk bruk bruk. Langkah lari seorang akhwat berjilbab merah marun, beransel di punggung dan meneteng tas laptop. Langkah kakinya yang belum berkaos kaki juga menapak tilas di lantai. Dian dan Ime hanya melongo melihatnya berlalu cuek.

“ Nurul, lantainya!!!” seru keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar