Pernahkah, suatu
ketika kau merasa telah melakukan banyak hal, memaksimalkan segalanya terbaik,
menyerahkan segenap kemampuan, untuk seseorang, banyak orang, komunitas,
organisasi, bahkan bos di tempat kerja. Namun balasan yang kau peroleh tak
serupa dengan usaha dan perlakuan terbaikmu. Pasti pernah.
Pernahkah dalam
sebuah tim kerja – kerja apapun, baik dalam urusan profesi, tim belajar, proyek
bersama – dimana masing-masing sudah terbagi tugas sesuai bidang dan kemampuan.
Namun, ketua tim sangat mengapresiasi dan memuji hasil pekerjaan teman daripada
milik kita sendiri. Bukan tentang mana yang lebih baik hasilnya, karena bidang
fokus kalian berbeda. Tapi, pujian dan penghargaan itu bukan untuk kau yang
telah menjadi orang terbaik untuk urusan bidang sendiri. Pasti pernah.
Pernahkah, dalam
suatu forum, kau merasa yakin telah menyumbangkan segenap ide-ide terbaik,
menyiapkan gagasan dengan sangat rapi semalam sebelumnya, menjelaskan semua argument
dengan sangat meyakinkan, dan seakan kaulah sorotan utama di forum itu karena
banyak menyumbangkan pikiran. Rupanya, pemimpin forum menolak semua gagasanmu,
dengan alasan yang kadang kamu tidak mengerti. Suatu ketika seorang teman yang
sedari tadi diam, dia hanya sekali berbicara menyampaikan pikiran, semua
sepakat menerimanya. Merasa tidak didengar? Merasa sia-sia usahamu? Merasa ketua
forum pilih kasih? Pasti pernah.
Pernahkah,
ketika menjelang ujian, kau memang sengaja menyepi di kamar untuk fokus
belajar. menyengajakan diri tidur siang supaya mata lebih bertahan lama ketika
malam. Di saat semua tertidur, kau berjam-jam menekuni lembaran slide materi
dan catatan kertas. Tidak ada yang mengusik, sangat tenang dan fokus. Namun,
tak selamanya kita bisa berpaku pada usaha saja. Kecewakah, ketika nilai jauh
dari harapan? Sedihkah, ketika nilai atau IP bahkan turun dari semester
sebelumnya? Disaat kau sedih dan kecewa, justru orang-orang menimpali dengan
tidak adil, menganggapmu tidak serius belajar, sering tidur, dan bermain-main
dengan ujian. Terlebih jika yang mengatakan itu adalah orangtua, menganggapmu
tidak belajar dengan serius. Hm, pasti pernah juga. Setidaknya sepintar apapun
kau, ada masa ketika kau merasa nilaimu jatuh dan orang-orang menyalahkanmu.
Terlalu banyak
dekripsi jika membahas urusan perasaan kecewa dan kawan-kawannya. Terkadang,
tidak bisa dipungkiri bahwa penilaian oranglain juga berarti untuk kita. Apresiasi
oranglain bisa menjadi motivasi bagi kita. Pujian oranglain – bila dilihat dari
sisi positif – semakin membuat kita bersemangat untuk melakukan lebih baik
karena ketagihan pujian. Bahkan penghargaan kecil seukuran didengarkan
oranglain, ditanggapi, diberi hadiah, dilihat, itu bisa memicu bahagia dan
kebanggaan.
Tapi, bagaimana
jika itu tak kita dapatkan? Merasa menyesal telah bekerja dengan baik, toh
oranglain tidak menganggap usahanya. Merasa sia-sia dengan usaha, toh hasil
tidak sesuai harapan. Merasa lelah berusaha kembali, toh tidak ada yang
menganggap usahanya penting. Padahal sebenarnya ADA.
Ada satu yang
akan selalu melihat apapun yang kau lakukan, Allah. Merasa biasa saja? Coba renungkan
satu hadits ini baik-baik. Sebelum membacanya, simpan dulu semua perasaan
kecewa yang pernah terjadi itu. Simpan dulu, boleh dibuka nanti. Dan bersiaplah
membaca dengan hatimu.
“ Sesungguhnya
jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan
berkata, ‘Wahai Jibril, aku mencintai orang ini. Maka cintailah dia!”. Maka Jibril
pun mencintainya dan mengumumkan pada penduduk langit, “ Wahai penduduk langit,
Allah telah mencintai orang ini, maka cintai pula oleh kalian!” Maka seketika
seluruh penduduk langit mencintainya. Kemudian orang itu dicintai segenap
makhluk Allah di muka bumu.” (HR Bukhori)
Jangan sedih,
jika kau merasa tidak ada orang yang melihat dan menghargai usahamu. Adakah cinta
yang lebih mulia dari kecintaan seorang Tuhan untuk hambanya? Tidak tanggung-tanggung,
namamu disebutkan dan dibanggakan oleh Allah di depan malaikat. Adakah kebanggan
yang paling istimewa selain kebanggaan Tuhan untuk hambaNya, ditambah kebanggan
malaikat? Lebih mengesankan lagi, malaikat mengumumkan kecintaannya dan
menyebut namamu di depan seluruh penghuni langit. Tahukah kau siapa penghuni
langit? Langit yang berlapis-lapis itu, yang setiap lapisnya ada tempat sendiri
untuk malaikat, para nabi dan rasul, para syuhada, dan ruh-ruh orang beriman. Kau
hanya tidak dianggap segelintir penghuni bumi saja, lantas merasa kecewa? Ada yang
lebih istimewa di langit sana, mereka bukan sekadar makhluk-makhluk biasa. Sebagai
bonusnya, seluruh penghuni langit pun membanggakanmu, dan menyebut-nyebut
namamu, maka seluruh penghuni bumi pun mendengar dan mengikutinya. Ingat,
penghuni bumi bukan hanya manusia. Jangan dikira benda-benda mati seperti
udara, hujan, air, batu itu tidak berarti. Mereka semua patuh pada Allah. Jika kau
dicintai oleh mereka, segala hal untuk menolongmu bisa saja terjadi. Udara yang
menyejukkanmu, hujan yang membawakan rahmat untukmu, air yang menyehatkanmu,
atau batu yang tidak mau kau terjatuh karenanya. Semua mungkin terjadi.
Ingat, Allah
selalu melihat. Sangat cukuplah segala usaha terbaik hanya untuk Allah. Bekerjalah
dan biarlah Allah dan RasulNya yang melihat.
Tak apa bila tak
didengar di bumi, tapi seluruh langit menyebut namamu. Lakukan yang terbaik
untuk Allah, temukan cintaNya. (AL)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar