Label

Minggu, 15 November 2015

Dirimu vs. Dirimu




Hidup sejatinya hanya urusan dirimu dengan dirimu. Semua masalah sebenarnya hanya berurusan denganmu. Semua kompetisi pun hanya perlawanan antara dirimu dengan lawan dirimu sendiri. Kerjasama juga hanya sinergitas dirimu dengan partner diri sendiri. Bukan dengan dia, mereka, siapapun, atau apapun yang bukan menjadi bagian dari dirimu.

Tidak ada besar kecil dalam masalah. Tidak pernah ada problenometer, alat pengukur banyaknya masalah. Karena dia memang tidak pernah ada. Sekali pun tidak ada! Lalu, darimana datangnya stress, kecewa, depresi, atau kesempitan hati lainnya? Tanyakan pada hati yang begitu kecil mengkerut ditempa panas diri. Tanyakan pada hati yang begitu rapuh dan senang merapuhkan diri. Tanyakan pada hati yang begitu besar menyimpan harapan hingga menggembung dan meletus seperti balon terisi penuh udara yang tak tampak. Tanyakan! Jika dia tidak menjawab, mungkin ada yang salah dengan pendengaran kita. Mari melihat dari indera yang lain.

Tidak pernah ada persaingan yang nyata. Sekali pun tidak ada. Musuh yang kau lihat begitu berambisi, sekali pun tidak ada. Lawan yang telah mendahuluimu, sekali pun tidak ada. Orang yang berusaha menjengkangmu dari belakang untuk jatuh, sekali pun tidak ada. Untuk apa kau melihatnya terlalu jauh? Lihatlah cermin datar. Ia berani jujur menggambarkan bayangan. Kenapa kau tak jujur pada pandangan sendiri? Untuk apa peduli pada mereka yang berambisi, jika itu membuatmu semakin menciut? Untuk apa melihat lawan yang di depan, jika itu membuatmu iri tak bermanfaat. Untuk apa memaki mereka yang menjatuhkanmu? Itu hanya menguras energi. Lawan terbesarmu ada di bayangan cermin itu. Jika kau mampu menaklukkannya, kau akan terus termotivasi tanpa melihat siapapun dan apapun. Jika kau mampu berdamai dengannya, tak ada lagi resah yang mengganggu kekalahan ataupun kemenangan. Jika kau mampu mengendalikannya, tidak akan ada energi terbuang atas gejolak amarahmu. Lihat, ia begitu dekat ada di hadapanmu. Apa kau sudah mampu melihatnya? Jika belum, mungkin ada kabut menutupi pandangan kita. Mari menggunakan indera yang lain.

Tidak ada partner yang setia. Sekali pun tidak ada. Bayangan di bawah cahaya pun tak pernah benar-benar setia. Ia bisa menghilang kapan saja, tergantung sinar darimana, sungguh labil. Jadi, untuk apa kau menunggu uluran tangan ketika jatuh? Jika tak kau temui, lantas kecewa dan tak mau bangkit lagi. Untuk apa kau menunggu bahu untuk bersandar atas lelahmu? Justru akan semakin membuatmu lelah dan mengeluh, karena bahu itu tidak selalu ada. Untuk apa kau menunggu hadirnya seseorang untuk menemanimu melangkah ke depan? Waktumu hanya habis terbuang, sementara yang ditunggu belum tentu menyadari. Tapi, percayakan kembali pada cermin datar. Tersenyumlah, maka ia akan tersenyum. Sungguh saling memahami, ketika kau menangis maka ia juga ikut menangis. Sekali pun ia akan mengulurkan tangan, bersamaan dengan uluran tanganmu. Sungguh ia setia. Sangat cukup bagimu memiliki partner seperti dia. Ajaklah ia kemana pun, kokohkan, kendalikan, sebab ia sangat mempengaruhi dirimu. Bukan yang lain. Apakah kau merasakan kehadiran, uluran tangan, sandaran bahu, sentuhan motivasi darinya? Masih belum juga? Mari, kita manfaatkan satu indera lagi.

Tidak ada kalimat yang selalu membumbung jiwamu. Tidak ada kalimat yang benar-benar menyejukkanmu. Tidak ada kalimat yang sungguhan menciutkan nyali dan merontokkan semangatmu. Tidak akan ada pula kalimat yang membuatmu sakit hati. Jika mendengar jawaban hati sendiri belum bisa, untuk apa kau mendengar kalimat mereka? Menepilah sejenak, tanpa mereka yang bersyair ria dengan komentar dan cibiran. Lalu, ucapkan kalimat-kalimat yang ingin kau dengar. Itu sungguh ajaib membuatmu bangkit, jika kau yakin bahwa partner itu mengucapkan dengan sepenuh hati. Suruhlah dia berkata, ”Kamu pasti bisa!”, “Jangan menyerah!”, “ Aku bisa menyelesaikannya”. Suruhlah ia mengatakan dengan lantang. Seketika mampu menyisir lembut ke seluruh tubuhmu, menyalurkan energinya. Suruhlah dia, kau berandil besar padanya.

Sejauh mana kau mengenal dia? Awalnya boleh kau melihatnya melalui cermin. Bukan cermin yang akan mengatakanmu cantik, tapi sungguh ia sangat jujur. Jika kau lupa pada wajahnya, lihatlah kembali cermin. Sampai kalian sungguh melekat. Menyatu dalam satu tubuh.

Di antara semua masalah yang kita katakan ‘besar’, dirimu masih jauh lebih besar daripadanya. Di antara semua urusan yang kau katakan ‘rumit’, jalan termudah sebenarnya menadi bagian dari dirimu. Di antara semua hal yang kau anggap menjadi penyebab, tidak ada yang paling berandil menentukan selain dirimu. Dan di antara semua orang yang kau anggap musuh, tidak ada musuh sehebat dirimu sendiri. 

Karena memang tidak pernah ada masalah, jika bukan diri kita sendiri yang menganggapnya masalah. Untuk apa kau berambisi mengalahkan musuh yang jauh, bila musuh terdekat belum bisa dikendalikan. Untuk apa kau berkeliling mencari sahabat sejati. Yang sesungguhnya ada dalam dirimu sendiri. Untuk apa kau hiraukan kalimat manusia, mereka tetap kalah dengan kehebatan bayanganmu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar