Hidup sejatinya hanya urusan dirimu
dengan dirimu. Semua masalah sebenarnya hanya berurusan denganmu. Semua
kompetisi pun hanya perlawanan antara dirimu dengan lawan dirimu sendiri.
Kerjasama juga hanya sinergitas dirimu dengan partner diri sendiri. Bukan dengan dia, mereka, siapapun, atau
apapun yang bukan menjadi bagian dari dirimu.
Tidak ada besar kecil dalam masalah.
Tidak pernah ada problenometer, alat
pengukur banyaknya masalah. Karena dia memang tidak pernah ada. Sekali pun
tidak ada! Lalu, darimana datangnya stress, kecewa, depresi, atau kesempitan
hati lainnya? Tanyakan pada hati yang begitu kecil mengkerut ditempa panas
diri. Tanyakan pada hati yang begitu rapuh dan senang merapuhkan diri. Tanyakan
pada hati yang begitu besar menyimpan harapan hingga menggembung dan meletus
seperti balon terisi penuh udara yang tak tampak. Tanyakan! Jika dia tidak
menjawab, mungkin ada yang salah dengan pendengaran kita. Mari melihat dari
indera yang lain.
Tidak ada partner yang setia. Sekali pun tidak ada. Bayangan di bawah cahaya
pun tak pernah benar-benar setia. Ia bisa menghilang kapan saja, tergantung
sinar darimana, sungguh labil. Jadi, untuk apa kau menunggu uluran tangan
ketika jatuh? Jika tak kau temui, lantas kecewa dan tak mau bangkit lagi. Untuk
apa kau menunggu bahu untuk bersandar atas lelahmu? Justru akan semakin
membuatmu lelah dan mengeluh, karena bahu itu tidak selalu ada. Untuk apa kau
menunggu hadirnya seseorang untuk menemanimu melangkah ke depan? Waktumu hanya
habis terbuang, sementara yang ditunggu belum tentu menyadari. Tapi, percayakan
kembali pada cermin datar. Tersenyumlah, maka ia akan tersenyum. Sungguh saling
memahami, ketika kau menangis maka ia juga ikut menangis. Sekali pun ia akan
mengulurkan tangan, bersamaan dengan uluran tanganmu. Sungguh ia setia. Sangat
cukup bagimu memiliki partner seperti
dia. Ajaklah ia kemana pun, kokohkan, kendalikan, sebab ia sangat mempengaruhi
dirimu. Bukan yang lain. Apakah kau merasakan kehadiran, uluran tangan,
sandaran bahu, sentuhan motivasi darinya? Masih belum juga? Mari, kita
manfaatkan satu indera lagi.
Tidak ada kalimat yang selalu membumbung
jiwamu. Tidak ada kalimat yang benar-benar menyejukkanmu. Tidak ada kalimat
yang sungguhan menciutkan nyali dan merontokkan semangatmu. Tidak akan ada pula
kalimat yang membuatmu sakit hati. Jika mendengar jawaban hati sendiri belum
bisa, untuk apa kau mendengar kalimat mereka? Menepilah sejenak, tanpa mereka
yang bersyair ria dengan komentar dan cibiran. Lalu, ucapkan kalimat-kalimat
yang ingin kau dengar. Itu sungguh ajaib membuatmu bangkit, jika kau yakin
bahwa partner itu mengucapkan dengan
sepenuh hati. Suruhlah dia berkata, ”Kamu pasti bisa!”, “Jangan menyerah!”, “
Aku bisa menyelesaikannya”. Suruhlah ia mengatakan dengan lantang. Seketika
mampu menyisir lembut ke seluruh tubuhmu, menyalurkan energinya. Suruhlah dia,
kau berandil besar padanya.
Sejauh mana kau mengenal dia? Awalnya
boleh kau melihatnya melalui cermin. Bukan cermin yang akan mengatakanmu
cantik, tapi sungguh ia sangat jujur. Jika kau lupa pada wajahnya, lihatlah kembali
cermin. Sampai kalian sungguh melekat. Menyatu dalam satu tubuh.
Di antara semua masalah yang kita
katakan ‘besar’, dirimu masih jauh lebih besar daripadanya. Di antara semua
urusan yang kau katakan ‘rumit’, jalan termudah sebenarnya menadi bagian dari
dirimu. Di antara semua hal yang kau anggap menjadi penyebab, tidak ada yang
paling berandil menentukan selain dirimu. Dan di antara semua orang yang kau
anggap musuh, tidak ada musuh sehebat dirimu sendiri.
Karena memang tidak pernah ada masalah,
jika bukan diri kita sendiri yang menganggapnya masalah. Untuk apa kau berambisi
mengalahkan musuh yang jauh, bila musuh terdekat belum bisa dikendalikan. Untuk
apa kau berkeliling mencari sahabat sejati. Yang sesungguhnya ada dalam dirimu
sendiri. Untuk apa kau hiraukan kalimat manusia, mereka tetap kalah dengan
kehebatan bayanganmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar