Banyak
pernyataan yang dikeluhkan orang lain, atau bahkan diri kita sendiri sering
berpikir tentang pernyataan-pernyataan itu.
“
Niat saya masih belum lurus, nanti dulu sajalah.”
“
Duh, saya memperbaiki niat dulu.”
“
Niat saya sudah melenceng. Bagaimana ya cara meluruskannya?”
Atau
barangkali kita pernah mendengar, “ Yuk, luruskan niat dulu, baru kita
melanjutkan pekerjaan.” Hm, agak rancu memang. Tapi, begitulah adanya, urusan
sekecil niat tapi bisa mendasari seluruh ganjaran amal kita.
Pertama,
urusan mana yang lebih dulu. Niat dulu, atau amal dulu? Melakukan amal apapun
tanpa niat, terasa hambar dan lama kelamaan akan mudah basi. Berpikir tentang
niat dulu baru beramal, pertanyaannya, apa indikator ketulusan niat? Bicara
tentang niat yang ‘lurus’, tidak jauh-jauh dari niat yang ‘ikhlas’, ‘tulus’,
‘murni’. Memang susah mendefinisikan makna ikhlas, tulus, dan murni. Tapi
secara sederhana membicarakan itu, tengoklah salah satu surat pendek di
Al-Quran. Umumnya, nama-nama surat dalam Al-Quran disebutkan dalam salah satu
atau beberapa ayat dalam surat tersebut. Tapi khusus surat ini – surat
al-ikhlas namanya – memakai kata ‘ikhlas’ dalam nama suratnya, sementara dalam
4 ayat suratnya sama sekali tidak menyebut kata ‘ikhlas’. Nah, silakan diresapi
dan memetik kesimpulan masing-masing. Betapa meski ia disebut dalam nama surat,
tapi surat Al-ikhlas tak pernah marah bila kata ‘ikhlas’ tak disebut dalam
ayatnya.
Barangkali
kita merasa jenuh dengan pernyataan-pernyataan itu, entah dari oranglain atau
diri kita sendiri. Ingat, bahwa waktu kita lebih sedikit dari
pekerjaan-pekerjaan kita. Jika telah habis oleh urusan meluruskan niat, mulai
kapan pekerjaan itu akan tersentuh? Kunci utamanya hanya satu, JALANI SAJA.
Niat dan amal, keduanya tidak tabu jika berjalan beriringan.
Karena
belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’,maka ilmu yang sangat luas ini tidak
bisa dipelajari sendiri tanpa menguhubungkan dengan ilmu lain. Karena belajar
meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka pembelajarannya adalah proses sepanjang
masa. Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka ilmu harus didatangi
dimanapun ia berada. Karena belajar meluruskan ‘niat’ adalah ‘ilmu’, maka
mintakanlah ilmu itu pada Sang Pemilik Ilmu.
Kedua, urusan
niat yang mulai melenceng, atau memang sejak awal telah melenceng. Jawabannya
sama, tetap JALANI SAJA. Niat itu fluktuatif, wajar jika ia bergeser semudah
rotasi bumi yang tidak pernah dirasa. Mudah saja naik turun sebagaimana iman
kita. Mampu terbolak-balik sebagaimana Allah membolak-balik hati kita.
Bersyukurlah bagi yang memiliki kepekaan hati jika terjadi keburaman dalam
niat. Setidaknya jika melenceng, dimana kita sedikit berbelok ke jalan yang
salah, namun kesadaran itu membuat kita ingat kembali jalan yang lurus. Ketika
sudah berbalik dan melihat jalan lurus itu lagi, tidak perlu berpikir panjang
bagaimana caranya. Itu seperti seseorang yang tersesat, kemudian berbalik badan
dan melihat jalan yang benar, tapi masih bertanya bagaimana cara menuju jalan
itu. Mudah saja. Jika memang tersesat dengan kendaraan, cukup putar arah
kendaraan lalu menuju jalan itu. Jika bepergian dengan berjalan, cukup putar
badan dan arah kaki. Tidak perlu berlama-lama berpikir dan terdiam di tempat
itu. JALANI SAJA.(AL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar