Label

Minggu, 15 November 2015

Filosofi Sepotong Roti



 
Menukil kalimat seseorang, membicarakan ukhuwah terlalu panjang dan butuh waktu lama. Bahkan sampai perbincangan itu selesai, maka sejatinya kita sudah cukup siap menghadap Allah. Karena itu berkaitan keseharian kita.
            Kalimat yang tidak salah, namun masih perlu diperbaiki. Karena terkesan bahwa ukhuwah terlalu rumit. Padahal ukhuwah bukan sekadar teori sebelum praktek langsung. Tanpa berbelit-belit mempelajarinya, sejatinya ukhuwah itu sudah mengunsur dalam masing-masing pribadi seorang muslim. Sebab ia diikat oleh iman, dan Allah yang secara langsung menghendakinya. Ukhuwah adalah pemberian Allah, yang tidak bisa dibeli dengan apapun.
“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”(QS: Al-Anfal: 63)
Menurut Imam Hasan Al-Banna, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Ia merupakan jalinan hati orang-orang beriman, dimana campur tangan Allah turut langsung di dalamnya. Menjadikannya sama-sama menikmati, saling mendahulukan kepentingan saudara, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, ke gunung sama didaki ke lurah sama dituruni.
            Dalam Islam, ada beberapa tingkatan ukhuwah. Tingkatan terendah adalah slamatush shadr, yakni bersihnya hati dari rasa iri, dengki, dan penyakit lain terhadap saudara  kita. Jika kita belum bisa memberikan kebaikan padanya, setidaknya jangan menaburkan keburukan untuknya. Jika kita belum bisa menciptakan kebahagiaan untuknya, setidaknya tidak perlu mengusik dan membuatnya sedih. Jika kita belum bisa memberi apapun untuknya, setidaknya tidak perlu meminta apalagi membebaninya. Sungguh, Allah telah mengokohkan ikatan pada tiap diri muslim.
Untuk membangun ukhuwah, diperlukan beberapa tahapan. Yang pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Tahapan berikutnya adalah tafahum, yaitu saling memahami. Berikutnya untuk mewujudkan ukhuwah adalah ta’awun, yaitu saling membantu dan menolong. Semakin meningkat pemahaman adalah takaful, yakni saling sepenanggungan. Adapun tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsaar, yaitu lebih mementingkan dan mengutamakan saudara kita diatas diri kita sendiri. Seperti kisah persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan oleh Allah. Mereka adalah Abdurrahman bin Auf dan Sa’id ibn Ar Rabi’.
            Untuk memahaminya, terdapat filisofi yang begitu sederhana dari sepotong roti. Suatu hari dalam keadaan lapar, seseorang memiliki roti untuk mengganjal perut. Tibalah seorang sahabat datang mengeluhkan perut dan kosongnya perbekalan. Ketika ukhuwah itu hanya setingkat taawun (saling membantu), maka akan kau ambil roti lain dari tasmu untuk diberikan padanya, atau memintakan pada orang lain yang memiliki perbekalan lebih jika kau hanya memiliki satu roti. Dalam kondisi kau hanya memiliki sepotong roti, maka ujian ukhuwahmu berbeda. Jika ukhuwah hanya setingkat takaful (saling sepenanggungan), maka akan kau bagi sepotong roti itu untuk berdua, separuh untukmu dan separuh untuknya. Bagi seseorang yang sempurna ukhuwah pada tingkatan tertinggi, tanpa memikirkan diri sendiri, segera kau berikan seluruh roti itu pada sahabatnya, atau kita sebut itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya).
            Seperti kalimat Ad-Darani, “ Suatu waktu sedang kusuapi salah seorang saudaraku dan seketika kurasakan makanan lezat itu ada di kerongkonganku”. Begitulah ukhuwah dalam berbagi bisa menghadirkan keajaiban. Dan keajaiban akan meningkatkan keimanan. (AL)

1 komentar: