Menukil kalimat
seseorang, membicarakan ukhuwah terlalu panjang dan butuh waktu lama. Bahkan
sampai perbincangan itu selesai, maka sejatinya kita sudah cukup siap menghadap
Allah. Karena itu berkaitan keseharian kita.
Kalimat
yang tidak salah, namun masih perlu diperbaiki. Karena terkesan bahwa ukhuwah
terlalu rumit. Padahal ukhuwah bukan sekadar teori sebelum praktek langsung.
Tanpa berbelit-belit mempelajarinya, sejatinya ukhuwah itu sudah mengunsur
dalam masing-masing pribadi seorang muslim. Sebab ia diikat oleh iman, dan
Allah yang secara langsung menghendakinya. Ukhuwah adalah pemberian Allah, yang
tidak bisa dibeli dengan apapun.
“Walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati
mereka.”(QS: Al-Anfal: 63)
Menurut Imam
Hasan Al-Banna, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati
dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Ia merupakan jalinan hati orang-orang
beriman, dimana campur tangan Allah turut langsung di dalamnya. Menjadikannya
sama-sama menikmati, saling mendahulukan kepentingan saudara, berat sama
dipikul ringan sama dijinjing, ke gunung sama didaki ke lurah sama dituruni.
Dalam
Islam, ada beberapa tingkatan ukhuwah. Tingkatan terendah adalah slamatush
shadr, yakni bersihnya hati dari rasa iri, dengki, dan penyakit lain terhadap
saudara kita. Jika kita belum bisa
memberikan kebaikan padanya, setidaknya jangan menaburkan keburukan untuknya. Jika
kita belum bisa menciptakan kebahagiaan untuknya, setidaknya tidak perlu
mengusik dan membuatnya sedih. Jika kita belum bisa memberi apapun untuknya,
setidaknya tidak perlu meminta apalagi membebaninya. Sungguh, Allah telah
mengokohkan ikatan pada tiap diri muslim.
Untuk
membangun ukhuwah, diperlukan beberapa tahapan. Yang pertama adalah ta’aruf, yaitu saling mengenal. Tahapan
berikutnya adalah tafahum, yaitu
saling memahami. Berikutnya untuk mewujudkan ukhuwah adalah ta’awun, yaitu saling membantu dan
menolong. Semakin meningkat pemahaman adalah takaful, yakni saling sepenanggungan. Adapun tingkatan ukhuwah yang
tertinggi adalah itsaar, yaitu lebih
mementingkan dan mengutamakan saudara kita diatas diri kita sendiri. Seperti
kisah persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan oleh Allah.
Mereka adalah Abdurrahman bin Auf dan Sa’id ibn Ar Rabi’.
Seperti
kalimat Ad-Darani, “ Suatu waktu sedang kusuapi salah seorang saudaraku dan
seketika kurasakan makanan lezat itu ada di kerongkonganku”. Begitulah ukhuwah
dalam berbagi bisa menghadirkan keajaiban. Dan keajaiban akan meningkatkan
keimanan. (AL)
Semua itu atas kehendak Allah s.w.t,namun kita harus mencari dan berdoa.
BalasHapus