| Buku 'Negeri Tapal Batas' |
| Buku 'Negeri Tapal Batas' |
Malam itu terjadi pertama kalinya. Listrik padam selama dua jam
dari pukul 22.00 WITA. Kami semua menunda rapat dan terlelap setelah sholat
tarawih. Bersamaan pula angin yang sangat kencang. Pintu utama rumah kami bukan
pintu seperti biasanya. Pintu itu seperti jeruji pagar besi, yang perlu
didorong ke samping untuk membukanya. Sehingga bisa dibayangkan betapa
dinginnya setiap malam bila ada angin kencang, karena ada bagian yang terbuka
di sela-sela jeruji besi itu. Angin kencang malam itu menerobos kuat hingga membuat
gorden pink pembatas ruangan perempuan juga bergerak naik. Beberapa
perempuan terbangun dengan sigap untuk menahan gorden itu dengan beberapa
benda. Angin mulai dibarengi dengan hujan deras yang sangat berisik.
“Ngeri banget.” Satu chat Line masuk di grup.
“Tenang saja. Itu hanya efek seng di atap,” jawab Alfabi, yang
rupanya masih terbangun.
“Huwaa, tidak bisa tidur,” balas yang lain.
Sesekali petir terdengar menggelegar, membuat kami terbangun
spontan. Semua perempuan menghambur keluar, ketika menyadari angin semakin
kencang, hujan deras, dan mereka tidak bisa lagi tidur. Rupanya semua laki-laki
sedang berjuang keras di depan pintu jeruji besi. Mereka sudah setengah basah
memasang sarung masing-masing di pintu, untuk menahan supaya air dan angin tidak
banyak masuk. Radius beberapa meter lantai sudah basah. Karpet-karpet lantai
pun sudah tidak teratur bentuknya karena diusik oleh angin. Semua sofa sudah
basah. Para perempuan hanya membantu sebisanya. Mereka memindahkan meja,
menggeser sofa, menutup kembali jendela-jendela, yang lainnya bergidik di
pojokan.
Baru beberapa hari di Sebatik. Di malam hari yang berisik oleh
hujan besar dan angin kencang, sesekali petir menyambar, kami berjuang dengan
sisa-sisa rasa takut hingga tengah malam. Takut, tentu saja. Siapa yang
menyangka akan terjadi badai mengerikan di sana. Tapi ternyata, malam-malam
seperti itu akan sering kami lalui.
____________________________________________________________
Baca kisah selengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'
Suasana memang begitu mencekam apa hnya ceritanya dibuat seperti mencekam (di lebih lebih kan)?
BalasHapusSubjektif penulis (saya) memang begitu
Hapus