| Program penanaman mangrove |
Malam
setelah pemasangan patok untuk penanaman mangrove,
hujan deras mengguyur disertai angin kencang. Badai malam seperti biasa. Kami
sudah berketar-ketar jika sekiranya patok itu rusak bahkan hanyut ke laut.
Pagi
menjelang dengan nuansa kelam selepas badai semalam. Akibatnya tanah becek,
bahkan pohon di depan pondokan kami tumbang. Jalan-jalan tampak abu karena
gerombolan laron yang datang entah darimana. Langit masih mencurahkan
rintik-rintik halusnya. Keadaan nyaman ini memaksa kami membangkitkan semangat
lebih agar tidak tidur setelah subuh. Pagi yang tenang, tak ada yang berebutan
kamar mandi. Karena memang kami berencana tidak mandi, toh setelah ini akan bermandian lumpur di pantai.
Kami
dengan sigap bekerja sesuai tugas masing-masing yang telah dibagi di
rapat-rapat sebelumnya. Barti dan beberapa teman laki-laki segera menuju ke
lokasi penanaman untuk memastikan patok baik-baik saja. Alya dan Suci berboncengan
menembus laron-laron untuk menjemput konsumsi di desa Sungai Nyamuk. Bukan
hanya laron rupanya. Pagi kelabu usai badai itu membuat beberapa hewan keluar
di jalanan. Anjing-anjing liar – sepanjang jalan Sebatik memang banyak anjing –
dengan santai tiduran di tengah jalan, ayam-ayam pun seakan membuat perlombaan
lari di jalanan tanpa peduli kendaraan berlalu-lalang, ditambah sesekali sapi
liar menyeberang dengan anggun, membuat Alya berkali-kali mengerem mendadak. Akbar
dan Alfa telaten menempel logo tambahan secara manual pada spanduk bertuliskan
‘250 Bibit Mangrove Lestarikan
Pesisir Desa Tanjung Aru’.
Seluruh
undangan telah disebar ke segala penjuru desa Tanjung Aru, termasuk Pamtas
TNI-AD dan Marinir TNI-AL. Hari ini juga akan dihadiri oleh pak Dian Kusumanto,
selaku kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Nunukan. Program besar ini juga dihadiri oleh perangkat desa Tanjung Aru dan
Bukit Aru Indah, Pemuda Pecinta Alam Sebatik, Pecinta Laut Sebatik, Sebatik
Community, Pramuka Sebatik, Marinir TNI AL, Pamtas TNI-AD, serta melibatkan
warga sekitar.
Baru pukul 8 lebih, acara dibuka oleh Alfabi sebagai MC. Sambutan
diberikan oleh Tito selaku ketua panitia, pak Palani sebagai kepala desa
Tanjung Aru, dan pak Dian selaku kepala Dinas Kelautan dan Perikanan.
Selanjutnya penyerahan bibit dari Rizal, kormanit, untuk pak Dian yang akan
memberikan contoh cara penanaman yang baik.
Hujan semalam berefek pada semakin beceknya lumpur di pantai itu. Kami
harus melalui sekitar 50 meter wilayah berlumpur untuk menuju lokasi penanaman.
Tergantung berat badan dan konsistensi lumpur, ia mampu menenggelamkan badan
sampai selutut bahkan lebih dari itu. Semua sandal dilepas, bahkan tidak peduli
lagi ada makhluk apa saja di bawah lumpur itu.
Tampak para TNI mendahului dengan mudah melewati lumpur. Beberapa
pemuda berkaos biru tua – tim KKN UBT – berjalan terseok-seok, langkah per
langkah mengarungi lumpur. Pemuda lain berkaos merah – tim KKN UGM – mencoba
jalur lain di sisi kanan. Ada pula beberapa orang yang memilih untuk merangkak
untuk membagi masa tubuh di permukaan lumpur. Jalur kiri ternyata zonk, lumpurnya terlalu becek dan dalam.
Di sisi kanan, banyak orang mulai berhasil mencapai patok, karena tanahnya
lebih keras dan telah dibantu beberapa pemasangan papan kayu untuk pijakan para
perempuan di belakang. Saling bahu membahu, tarik menarik, ulur-mengulur tangan
maupun tongkat, yang penting sampai tujuan dengan bersama. Terlihat pula beberapa
anak kecil yang dengan mudahnya melangkah, karena ringannya berat badan mereka.
Beberapa menit cukup lama, akhirnya mereka sudah berkumpul di
wilayah penanaman dan mulai sibuk dengan patok masing-masing. Beberapa orang
tidak mau melewatkan momen itu tanpa berfoto. Meski berbalut lumpur, tak bisa
dipungkiri tawa-tawa dan teriakan bahagia itu terdengar.
_____________________________________________________________
Baca kisah selengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar