Selama pelaksanaan dan perumusan, kami dibantu oleh PPL Perikanan,
kak Adi dan kak Finza namanya. Mereka termasuk PPL baru yang ditempatkan di
Sebatik, sehingga membutuhkan kerja yang lebih untuk memperbaiki
kekurangan-kekurangan sebelumnya.
Sosialisasi selalu diadakan di malam hari di salah satu rumah
nelayan. Biasanya hanya diikuti oleh laki-laki karena acara bisa sampai larut
malam. Dalam program sosialisasi ini, Akbar yang akan menjelaskan tentang
teknologi penangkapan ikan dengan mendeteksi keberadaan ikan menggunakan GPS,
serta bagaimana penggunaannya. Kelak, satu alat GPS ini juga akan diberikan
untuk desa, yang penggunaannya dikelola langsung oleh mereka.
“Salah satu fungsinya untuk menentukan lokasi-lokasi penangkapan
ikan di laut. Di sini ada simbol warna hitam, berarti wilayah itu memang sedang
banyak ikan. Dan simbol warna merah, berarti sudah banyak orang yang menangkap
di sana,” jelas Akbar dengan menggunakan bantuan proyektor dan kertas-kertas di
tangannya. “Jika Bapak melaut membawa GPS ini, bisa dilihat dimana keberadaan
Bapak saat itu. Jika garisnya menuju ke sini, oh berarti Bapak salah arah.
Kalau kesini, oh berarti benar,” jelasnya lagi, sambil menunjukkan cara
penggunaan GPS yang ia genggam.
Kak
Adi selaku PPL Perikanan juga sangat membantu program kami. Saat ini kak Adi
dan Agung sedang memperjuangkan kartu nelayan. Di forum sosialisasi GPS juga
dijelaskan mengenai kartu nelayan.
“Kebanyakan
para nelayan masuk kelompok hanya untuk mendapat bantuan. Padahal kami berharap
mereka aktif. Keaktifkan suatu kelompok nelayan bisa dilihat dengan adanya buku
tamu. Kedua, ada uang kas. Nah, uang
kas ini yang berkali-kali saya tekankan. Jalan atau tidak, Pak?” tanya kak Adi
dengan tegas.
Bapak-bapak
nelayan itu hanya senyum-senyum.
“Itu dia masalahnya sejak dulu,” sambung kak
Adi.
“Percuma
juga. Biasanya kalau ada bantuan. Hanya dia-dia saja yang dapat lebih.
Pembagiannya tidak merata. Kadang juga, kita mengajukan mesin, dapatnya hanya
pukat,” komentar seorang nelayan.
“Jujur
saya tahu dana dari pemerintah terbatas. Kalau Tanjung Aru hanya satu kelompok,
saya bisa bagikan merata. Kalau mau bilang itu-itu saja yang dapat, saya tidak
bisa tanggungjawab, saya PPL baru di sini. Dan memang seringkali kesalahan
penyuluh, yang hanya memberikan bantuan untuk ketua kelompok, dan menyerahkan
pembagiannya ke ketua tanpa diawasi. Itu sudah di luar kendali saya. Tapi
masalah ini selalu saya laporkan ke dinas,” jelas kak Adi, lagi. “Mari kita
samakan persepsi. Membentuk kelompok nelayan ini untuk menyejahterakan
masyarakat nelayan. Salah satunya dengan adanya uang kas.”
Begitulah. Urusan perut memang tidak ada habisnya. Kerja berat yang
dilakukan oleh nelayan, ternyata tidak cukup menjamin kesejahteraan mereka.
Mereka hidup serba cukup, dengan segala resiko melaut yang dijumpai setiap
hari.
_____________________________________________________
Baca kisah lengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar