Label

Jumat, 06 Januari 2017

Perjalanan Menuju Kasur (Negeri Tapal Batas)



Selama pelaksanaan dan perumusan, kami dibantu oleh PPL Perikanan, kak Adi dan kak Finza namanya. Mereka termasuk PPL baru yang ditempatkan di Sebatik, sehingga membutuhkan kerja yang lebih untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan sebelumnya.
Sosialisasi selalu diadakan di malam hari di salah satu rumah nelayan. Biasanya hanya diikuti oleh laki-laki karena acara bisa sampai larut malam. Dalam program sosialisasi ini, Akbar yang akan menjelaskan tentang teknologi penangkapan ikan dengan mendeteksi keberadaan ikan menggunakan GPS, serta bagaimana penggunaannya. Kelak, satu alat GPS ini juga akan diberikan untuk desa, yang penggunaannya dikelola langsung oleh mereka.
“Salah satu fungsinya untuk menentukan lokasi-lokasi penangkapan ikan di laut. Di sini ada simbol warna hitam, berarti wilayah itu memang sedang banyak ikan. Dan simbol warna merah, berarti sudah banyak orang yang menangkap di sana,” jelas Akbar dengan menggunakan bantuan proyektor dan kertas-kertas di tangannya. “Jika Bapak melaut membawa GPS ini, bisa dilihat dimana keberadaan Bapak saat itu. Jika garisnya menuju ke sini, oh berarti Bapak salah arah. Kalau kesini, oh berarti benar,” jelasnya lagi, sambil menunjukkan cara penggunaan GPS yang ia genggam.
Kak Adi selaku PPL Perikanan juga sangat membantu program kami. Saat ini kak Adi dan Agung sedang memperjuangkan kartu nelayan. Di forum sosialisasi GPS juga dijelaskan mengenai kartu nelayan.
“Kebanyakan para nelayan masuk kelompok hanya untuk mendapat bantuan. Padahal kami berharap mereka aktif. Keaktifkan suatu kelompok nelayan bisa dilihat dengan adanya buku tamu. Kedua, ada uang kas. Nah, uang kas ini yang berkali-kali saya tekankan. Jalan atau tidak, Pak?” tanya kak Adi dengan tegas.
Bapak-bapak nelayan itu hanya senyum-senyum.
 “Itu dia masalahnya sejak dulu,” sambung kak Adi.
“Percuma juga. Biasanya kalau ada bantuan. Hanya dia-dia saja yang dapat lebih. Pembagiannya tidak merata. Kadang juga, kita mengajukan mesin, dapatnya hanya pukat,” komentar seorang nelayan.
“Jujur saya tahu dana dari pemerintah terbatas. Kalau Tanjung Aru hanya satu kelompok, saya bisa bagikan merata. Kalau mau bilang itu-itu saja yang dapat, saya tidak bisa tanggungjawab, saya PPL baru di sini. Dan memang seringkali kesalahan penyuluh, yang hanya memberikan bantuan untuk ketua kelompok, dan menyerahkan pembagiannya ke ketua tanpa diawasi. Itu sudah di luar kendali saya. Tapi masalah ini selalu saya laporkan ke dinas,” jelas kak Adi, lagi. “Mari kita samakan persepsi. Membentuk kelompok nelayan ini untuk menyejahterakan masyarakat nelayan. Salah satunya dengan adanya uang kas.”
Begitulah. Urusan perut memang tidak ada habisnya. Kerja berat yang dilakukan oleh nelayan, ternyata tidak cukup menjamin kesejahteraan mereka. Mereka hidup serba cukup, dengan segala resiko melaut yang dijumpai setiap hari.

_____________________________________________________
Baca kisah lengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar