![]() |
| Seluruh peserta FIMA saat Istanbul Meeting |
Mereka adalah
saudara-saudara muslim yang baru saja kutemukan di acara FIMA Youth Summercamp
2017. FIMA Summercamp merupakan acara tahunan bagi mahasiswa kedokteran islam
seluruh dunia. Di tempat ini, kami bukan hanya belajar tentang profesional di
bidang kesehatan, tapi juga tentang kultur, persaudaraan, seni, dan yang
menjadi titik penting tulisan ini adalah tentang perbedaan.
Empat hari camp
di Kocaeli, kami menempati bungalow. Setiap bungalow diisi oleh 8 orang yang
tidak akan mungkin satu negara disatukan dalam satu bungalow, kecuali delegasi
dari Turki yang sangat banyak dan merangkap jadi panitia juga. Menjumpai
perbedaan-perbedaan selama tinggal di bungalow, sudah menjadi hal lumrah.
Ketika di
Indonesia diributkan dengan masalah jilbab syar’i yang sedang trend atau memang
menuruti syariat, maka di forum ini, kau akan temui banyak versi syar’i.
Orang-orang Timur Tengah yang khas dengan pakaian serba hitam dan memakai niqab
(cadar), dan orang-orang Eropa yang memaknai ayat Quran Al-Ahzab:59 berupa
jilbab yang menutupi seluruh tubuh adalah pakaian (baju), bukan kerudung. Jadi,
gadis Eropa memakai baju dan celana longgar (bukan baju ketat dan celana jeans),
dengan jilbab pasmina yang hanya dililitkan leher, itu sudah syar’i. Mau sealim
apapun mereka, sekenceng apapun ibadah, memang pemahaman dan mazhab yang
diambil seperti itu. Tidak masalah bagi kami, kami tetap bersaudara.
| Tiba di bandara Istanbul |
Pernah juga di
Indonesia ramai tentang masalah apakah kaki termasuk aurat atau tidak. Di sana,
kau akan jumpai banyak perbedaan itu. ketika salat di bandara Jeddah, ada orang
yang berniqab dan berpakaian serba hitam, namun saat salat kakinya terbuka dan
tidak memakai kaos kaki. Di tempat camp
kami pun juga ada yang seperti itu. Penulis memang tidak banyak paham mengenai
fiqh. Tapi memang dari beberapa referensi, Abu Hanifah dan beberapa ulama
mazhab Hanafi berpendapat bahwa kaki bukan aurat karena sudah terbiasa
terlihat. Tapi ada pula yang memakai gamis hingga menyeret tanah, karena
baginya kaos kaki masih menampakkan bentuk kaki, tidak cukup untuk menutup
aurat kaki. Tidak masalah bagi kami, kami tetap bersaudara.
Pernah pula
kejadian, ketika salat di bungalow, seorang Turki terpana melihatku memakai
mukena. Terpananya bukan hanya sekadar penasaran, tapi sungguh ini benar-benar
tidak pernah mereka lihat. Iya sih, diantara kami yang salat pakai mukena hanya
orang-orang Asia (Indonesia Malaysia Singapore). Dia bertanya, “Why did you
wear it? Your cloth, you can pray, right?” (Maksudnya, dengan pakaianmu yang
sudah seperti itu, jilbab menutup dada, baju longgar, rok, kaos kaki, bukankah
sudah bisa melakukan salat?). Duh, bingung juga ya aku mau jawab. Akhirnya
kujawab saja, “It’s our habit,” hehehe. Bagi mereka, asal sudah menutup aurat
dan pakaian longgar, sudah bisa melakukan salat. Pasmina terlilit di leher,
baju longgar, dan celana longgar, itu busana mereka ketika salat. Simpel sih,
tapi kalau mukena membuat kita nyaman, kenapa tidak? Tapi kadang tidak simpel
juga. Kalau bangun tidur, dengan kostum seadanya kita hanya perlu memakai
mukena lalu salat subuh, mereka masih ribet. Harus pakai baju lengkap dan
memakai jilbab dulu baru salat shubuh, karena memang mereka tidak mengenal
mukena.
| Delegasi akhwat setelah seminar |
“Bisakah kamu
lebih keras?” katanya dalam inggris.
“Sorry, apa aku mengganggu kalian?”
tanyaku balik.
“No, louder please.”
Akhirnya aku
membaca biasa dengan suara lebih keras, dan mereka duduk diam di kasurku.
Hening, hanya suaraku mengaji. Hingga ketika sudah selesai, kubertanya mengapa
mereka melakukan itu.
“So beautiful. Never heard before someone
like you,” jawab seorang dari Turki.
“Hm, sorry, you can read it, right?”
tanyaku, memastikan.
“Yes, we can. But, we read just like, hmm,
reading a book. Like that,” jawab seorang Turki lain. “But sorry, we are not reading Quran for now.”
“Oh, I understand. How about you?”
tanyaku pada seorang Somalia.
Dia menerima
Al-Quranku dan membaca Al-Mulk. Sejak saat itu, aku menyadari banyak hal.
Tentang tahsin dan tajwid kami yang berbeda, mungkin efek lidah dan pemahaman.
Orang Turki membaca Quran dengan datar seperti membaca buku, begitu penjelasan
singkat teman Malaysia yang kutanyakan lebih jelasnya. Padahal aku baca Quran
juga nadanya biasa saja, hey aku tak pernah belajar qiroati dan nada-nadanya.
| Delegasi Indonesia bersama dr. Zeynep (Turki) |
Ada beberapa
delegasi yang aku mengaguminya, karena dia cantik, cerdas saat kami diskusi brainstorming, dan sikap humble. Sebut saja salah satunya Hammd
dari Pakistan. Dia belum berjilbab, hanya melilitkan selendang di kepalanya.
Tapi aku suka cara berpikirnya ketika berdiskusi. Dia pernah bercerita tentang
pernikahan di Pakistan, bahwa wajib dokter menikah dengan dokter. Dan wajib
anak-anak dokter harus menjadi dokter juga. Kalau ada dokter yang belum
menikah, ia tidak akan malu mengiklankan diri di koran tentang dirinya. Cerita
tentang negaranya, yang meskipun sejujurnya aku tak paham banyak sih, hehe.
Tapi satu hal yang membuat aku shock,
selepas talent show,tiba-tiba dia
menghampiriku, “Why are you Asian people,
Indonesia or Malaysia, so cute. Never seen before like you all. I am really
really interest with you. Oh my, i am speachless,” jelasnya begitu fasih
seperti rentetan kereta panjang, dan aku hanya bengong. Ya Allah, di depan
teman Indonesia aku memuji-mujinya, sekarang dia berkata begitu di depanku.
Terlebih ketika di bandara saat kepulangan, dia juga mengulang, “You all Indonesian people very beautiful and
so nice. Nice to meet you!” Ini dunia sudah kebalik-balik...
Thank you so much
this has been a life changing experience, lovely and memorable week May Allah
protect you, bring us together in jannah, grant you all success in your careers.
Keep us in your duaas. Every moment has a special place in my heart. I’ll
never forget you. If we made something wrong during camp, please forgive me.
See you!



