Label

Sabtu, 29 Juli 2017

Indonesia Squad's Story



Gala Dinner at Dolmabahce Palace


Awalnya kami harus melalui seleksi nasional sebagai delegasi IIMA (Indonesian Islamic Medical Association). Seleksi saat itu berupa berkas2 yang diminta. Di antara 100 lebih pendaftar (katanya), akhirnya terpilih 13 orang (8 ikhwan dan 5 akhwat). Sejak itu, interaksi di grup masih cenderung sepi. Hingga satu bulan kemudian, ada info bahwa delegasi Indonesia akan ditambah, sehingga panitia perlu menghubungi beberapa orang lagi. Hingga jumlah total kami semua di grup ada 30 orang. Pembicaraan di grup Line selalu ramai, karena memang sudah semakin mendekati jadwal keberangkatan dan banyak hal perlu disiapkan.

Masing-masing memiliki cerita perjuangan sendiri untuk berangkat di acara ini. Sebagian besar terkendala masalah pendanaan. Meskipun seluruh biaya di Turki sudah ditanggung panitia, dan kami hanya perlu mengurus tiket dan visa, namun ternyata butuh dana yang tidak sedikit dari Indonesia ke Istanbul. Ada pula yang terkendala masalah perijinan kampus, perijinan orangtua, dan banyak hal. Ya, memang untuk mendapatkan sesuatu perlu ada yang diperjuangkan.

Untuk mengantisipasi mahalnya tiket dari Indonesia-Istanbul, akhirnya kami membeli tiket keberangkatan dari Kuala Lumpur-Istanbul, selisihnya jauh sekali dengan keberangkatan dari Indonesia. Akhirnya sebagian besar dari kami janjian bertemu di bandara Kuala Lumpur, karena memang kami berasal dari daerah yang berbeda-beda. Di Kuala Lumpur itulah kali pertama aku berjumpa dengan sebagian besar mereka. Sisanya berbeda pesawat dan jadwal keberangkatan.

Kau tahu, bandara Kuala Lumpur juga memiliki cerita perjuangan beberapa orang dari kami. Hari-hari sebelumnya, ketika aku masih belum yakin untuk berangkat atau tidak, beberapa kali aku bermimpi di tidur, dengan setting bandara dan aku lari-lari mengejar waktu karena hampir ketinggalan pesawat. Bahkan ketika sedang nonton TV di rumah saat lebaran, tiba-tiba ada iklan sinetron yang menggambarkan laki-laki berlari di bandara karena ia akan pergi ke Istanbul. Mimpi dan penglihatan yang aneh, tapi entah kenapa aku merasa itu peringatan untuk diriku. Hingga ketika dimantapkan untuk berangkat, aku selalu aware dengan masalah waktu, karena ingat masalah mimpi itu. Apalagi, aku mengambil multitransport. Naik kereta dari Jogja ke Jakarta, pesawat dari Jakarta-Kuala Lumpur, barulah Kuala Lumpur-Jeddah-Istanbul, jadi sangat rawan sekali delay dan ketinggalan pesawat. Intinya hanya banyak berdoa dan meminta pertolongan Allah atas segala hal yang akan dihadapi. 

Tapi alhamdulillaah, ketika naik pesawat sendiri dari Jakarta-Kuala Lumpur, aku dipertemukan dengan teman sebangku dan sebaya dari Blitar, Rebecca namanya. Ia berkali-kali ke Kuala Lumpur untuk bisnis. Ia menceritakan banyak hal tentang bandara Kuala Lumpur yang sangat ketat, memperingatkan aku untuk selalu memperhatikan jadwal keberangkatan bandara yang suka diubah-ubah seenaknya, bagaimana cara pergi dari terminal 1 ke 2, bagaimana seharusnya aku bersikap supaya tidak ditipu, dan lain sebagainya. Sampai di bandara pun, dia banyak memberiku arah, hingga akhirnya kami berpelukan untuk berpisah.

Di imigrasi Kuala Lumpur, aku perlu mengantre hampir satu jam untuk keluar, dan setengah jam untuk masuk imigrasi lagi. Melelahkan memang urusan multitransport ini. Kusambungkan segera hp dengan wifi bandara, dan berkontak dengan teman-teman di grup. Tertulis boarding time pukul 18.30, petugas check in menekankan berkali-kali padaku, ’Pintu akan ditutup pukul 19.00’, dalam bahasa Melayu. Sekitar pukul 18.00 aku sudah berada di ruang tunggu pesawat dan berjumpa dengan 3 akhwat dan beberapa ikhwan. Kami para akhwat mulai berkenalan dan bercerita kesana-kemari. Masih banyak teman yang kami tunggu. Mendekati pukul 19.00, kami mulai panik karena masih ada 7 orang belum datang. Empat diantaranya masih mengantre di imigrasi yang sangat panjang itu, dua diantaranya masih berjuang setelah kemacetan dari Petronas menuju bandara, dan satu orang belum bisa dihubungi. Kami memaksa mereka untuk menerobos antrean, karena sudah final call pesawat. Tak usah peduli dimarahi bule, daripada ketinggalan pesawat.
Sudah jam 19.00 lebih, di tengah kepanikan kami semua, aku jadi teringat mimpi itu. Ya Allah, bukan aku yang mengalaminya, tapi teman-temanku. Beberapa orang sudah datang. Dua orang lagi datang dengan nafas tersengal-sengal dan mengucap syukur masih bisa masuk. Dan perjalanan bisa kami lanjutkan menuju Jeddah untuk transit. 

Itulah sekilas cerita perjalanan kami. Masih banyak cerita perjalanan. Kondisi bandara Jeddah yang sangat ramai, sempat terjadi keributan calon penumpang pesawat dengan petugas bandara di pagi-pagi jam 04.00, hingga membuat kami terlunta-lunta dengan pesawat kami sendiri. Tapi alhamdulillaah, semua terbayarkan dengan hal-hal yang kita dapatkan di acara ini.


Indonesia Squad saat Istanbul Meeting
Camp antara laki-laki dan perempuan terpisah jauh. Kami akhwat ditempatkan di Kocaeli, butuh 3 jam naik bis dari Istanbul ke tempat ini, daerah pegunungan yang sangat dingin, kabut bisa datang kapan saja, sering gerimis, dan tidak ada sinyal. Kami bersembilan akhwat Indonesia, baru mengenal juga karena acara ini, 5 orang kukenal sejak di Kuala Lumpur, 3 sisanya datang terlambat dan baru kukenal ketika di Kocaeli. Di Kocaeli, peserta tinggal di bungalow, yang ditempati 8 orang. Kami dari Indonesia dipisah, jadi tidak ada yang satu bungalow. Ketika makan di kantin pun, kami lebh suka menyebar dengan delegasi negara lain supaya lebih bersosialisasi dengan mereka. Tapi, menjelang acara talent show, kami jadi suka ngumpul.
Talent show ini ajang bagi setiap negara untuk menampilkan seni setiap daerahnya. Acaranya rabu malam, tapi selasa kami baru berlatih. Apa yang kita tampilkan? Tari saman dua gerakan, nyanyi lagu Yamko Rambe Yamko, Sinanggar Tulo, dan gerakan senam poco-poco. Duh, ketawa deh kalau ingat masa-masa latihan itu, sampai bikin tangan kami biru-kemerahan. Untungnya forum ini benar-benar tertutup hanya untuk akhwat dan dilarang ada kamera, jadi kami bebas berkreasi apapun.

Suasana satu meja makan
Kami mengenakan pakaian serba hitam, outer batik Indonesia, dan pita bendera di kepala. Beberapa kali latihan, sudah lumayan bagus. Tapi ketika tampil, failed bangeeet hahaha. Kekonyolan yang tidak mudah dilupakan.

Setelah acara itu, kami jadi semakiin dekat. Kalau ke kantin, selalu satu meja bersama. Datang ke seminar, duduknya juga berdekatan. Pokoknya kalau orang Indonesia ini kumpul, heboh sendiri, ramai, berisik, bahkan suka nggosip pakai bahasa indonesia atau jawa (jadi orang yang digosipin ga paham). Pernah juga sok-sokan coba-coba ambil makanan yang belum pernah kami lihat dan rasanya tidak sesuai lidah Asia (macem buah zaitun, yogurt Ayran yang sangat asin, sup) ketawa bareng-bareng semeja. Harus banyak istighfar deh kalau urusan ini. Terlebih kalau kami digabungkan dengan delegasi Malaysia yang berjumlah 19 akhwat, waaaah Asia ini orangnya heboh sekali. Beda dengan gadis-gadis Eropa atau Timur Tengah yang anggun-anggun, hehe. 

Sekarang, jadi kangen deh sama mereka. Ada Dela my little sister dari FK Univ. Malahayati, Rizka yang bergaya madura dari FK Univ. Hang Tuah, Sakinah Azzahra yang super heboh dari FKG Univ. Brawijaya, Fajar Widodo dengan gaya bicara jawa nan lucu dari Kebidanan Univ. Airlangga, Cynthia yang keibuan dari FKM UI, Virzi yang sholihah dari FK UMY, Farisa yang polos dari Farmasi Univ. Pancasila, dan Thika yang imut dari FK Univ Andalas. Semoga esok, kita bisa kongkow lagi ya, Girls ^^

2 komentar:

  1. Fix aku baru baca dan jadi baper saat lagi dinas di rumah sakit :"") kangen kalian (untuk yang ratusan kali bilang ini):")

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwk cyn cyn... ayoo di grup adakan meet up

      Hapus