![]() |
| Gala Dinner at Dolmabahce Palace |
Awalnya kami harus melalui seleksi nasional sebagai
delegasi IIMA (Indonesian Islamic Medical Association). Seleksi saat itu berupa
berkas2 yang diminta. Di antara 100 lebih pendaftar (katanya), akhirnya
terpilih 13 orang (8 ikhwan dan 5 akhwat). Sejak itu, interaksi di grup masih
cenderung sepi. Hingga satu bulan kemudian, ada info bahwa delegasi Indonesia
akan ditambah, sehingga panitia perlu menghubungi beberapa orang lagi. Hingga jumlah
total kami semua di grup ada 30 orang. Pembicaraan di grup Line selalu ramai,
karena memang sudah semakin mendekati jadwal keberangkatan dan banyak hal perlu
disiapkan.
Masing-masing memiliki cerita perjuangan sendiri
untuk berangkat di acara ini. Sebagian besar terkendala masalah pendanaan. Meskipun
seluruh biaya di Turki sudah ditanggung panitia, dan kami hanya perlu mengurus
tiket dan visa, namun ternyata butuh dana yang tidak sedikit dari Indonesia ke
Istanbul. Ada pula yang terkendala masalah perijinan kampus, perijinan
orangtua, dan banyak hal. Ya, memang untuk mendapatkan sesuatu perlu ada yang diperjuangkan.
Untuk mengantisipasi mahalnya tiket dari Indonesia-Istanbul,
akhirnya kami membeli tiket keberangkatan dari Kuala Lumpur-Istanbul,
selisihnya jauh sekali dengan keberangkatan dari Indonesia. Akhirnya sebagian
besar dari kami janjian bertemu di bandara Kuala Lumpur, karena memang kami
berasal dari daerah yang berbeda-beda. Di Kuala Lumpur itulah kali pertama aku
berjumpa dengan sebagian besar mereka. Sisanya berbeda pesawat dan jadwal
keberangkatan.
Kau tahu, bandara Kuala Lumpur juga memiliki cerita
perjuangan beberapa orang dari kami. Hari-hari sebelumnya, ketika aku masih
belum yakin untuk berangkat atau tidak, beberapa kali aku bermimpi di tidur,
dengan setting bandara dan aku lari-lari mengejar waktu karena hampir
ketinggalan pesawat. Bahkan ketika sedang nonton TV di rumah saat lebaran,
tiba-tiba ada iklan sinetron yang menggambarkan laki-laki berlari di bandara
karena ia akan pergi ke Istanbul. Mimpi dan penglihatan yang aneh, tapi entah
kenapa aku merasa itu peringatan untuk diriku. Hingga ketika dimantapkan untuk
berangkat, aku selalu aware dengan
masalah waktu, karena ingat masalah mimpi itu. Apalagi, aku mengambil
multitransport. Naik kereta dari Jogja ke Jakarta, pesawat dari Jakarta-Kuala
Lumpur, barulah Kuala Lumpur-Jeddah-Istanbul, jadi sangat rawan sekali delay
dan ketinggalan pesawat. Intinya hanya banyak berdoa dan meminta pertolongan
Allah atas segala hal yang akan dihadapi.
Tapi alhamdulillaah, ketika naik pesawat sendiri
dari Jakarta-Kuala Lumpur, aku dipertemukan dengan teman sebangku dan sebaya
dari Blitar, Rebecca namanya. Ia berkali-kali ke Kuala Lumpur untuk bisnis. Ia menceritakan
banyak hal tentang bandara Kuala Lumpur yang sangat ketat, memperingatkan aku
untuk selalu memperhatikan jadwal keberangkatan bandara yang suka diubah-ubah
seenaknya, bagaimana cara pergi dari terminal 1 ke 2, bagaimana seharusnya aku
bersikap supaya tidak ditipu, dan lain sebagainya. Sampai di bandara pun, dia
banyak memberiku arah, hingga akhirnya kami berpelukan untuk berpisah.
Di imigrasi Kuala Lumpur, aku perlu mengantre hampir
satu jam untuk keluar, dan setengah jam untuk masuk imigrasi lagi. Melelahkan memang
urusan multitransport ini. Kusambungkan segera hp dengan wifi bandara, dan
berkontak dengan teman-teman di grup. Tertulis boarding time pukul 18.30, petugas check in menekankan berkali-kali padaku, ’Pintu akan ditutup pukul
19.00’, dalam bahasa Melayu. Sekitar pukul 18.00 aku sudah berada di ruang
tunggu pesawat dan berjumpa dengan 3 akhwat dan beberapa ikhwan. Kami para
akhwat mulai berkenalan dan bercerita kesana-kemari. Masih banyak teman yang
kami tunggu. Mendekati pukul 19.00, kami mulai panik karena masih ada 7 orang
belum datang. Empat diantaranya masih mengantre di imigrasi yang sangat panjang
itu, dua diantaranya masih berjuang setelah kemacetan dari Petronas menuju
bandara, dan satu orang belum bisa dihubungi. Kami memaksa mereka untuk
menerobos antrean, karena sudah final
call pesawat. Tak usah peduli dimarahi bule, daripada ketinggalan pesawat.
Sudah jam 19.00 lebih, di tengah kepanikan kami
semua, aku jadi teringat mimpi itu. Ya Allah, bukan aku yang mengalaminya, tapi
teman-temanku. Beberapa orang sudah datang. Dua orang lagi datang dengan nafas
tersengal-sengal dan mengucap syukur masih bisa masuk. Dan perjalanan bisa kami
lanjutkan menuju Jeddah untuk transit.
Itulah sekilas cerita perjalanan kami. Masih banyak
cerita perjalanan. Kondisi bandara Jeddah yang sangat ramai, sempat terjadi
keributan calon penumpang pesawat dengan petugas bandara di pagi-pagi jam
04.00, hingga membuat kami terlunta-lunta dengan pesawat kami sendiri. Tapi alhamdulillaah,
semua terbayarkan dengan hal-hal yang kita dapatkan di acara ini.
![]() |
| Indonesia Squad saat Istanbul Meeting |
Talent
show ini ajang bagi setiap negara untuk menampilkan seni
setiap daerahnya. Acaranya rabu malam, tapi selasa kami baru berlatih. Apa yang
kita tampilkan? Tari saman dua gerakan, nyanyi lagu Yamko Rambe Yamko,
Sinanggar Tulo, dan gerakan senam poco-poco. Duh, ketawa deh kalau ingat
masa-masa latihan itu, sampai bikin tangan kami biru-kemerahan. Untungnya forum
ini benar-benar tertutup hanya untuk akhwat dan dilarang ada kamera, jadi kami
bebas berkreasi apapun.
| Suasana satu meja makan |
Setelah acara itu, kami jadi semakiin dekat. Kalau ke
kantin, selalu satu meja bersama. Datang ke seminar, duduknya juga berdekatan. Pokoknya
kalau orang Indonesia ini kumpul, heboh sendiri, ramai, berisik, bahkan suka
nggosip pakai bahasa indonesia atau jawa (jadi orang yang digosipin ga paham). Pernah
juga sok-sokan coba-coba ambil makanan yang belum pernah kami lihat dan rasanya
tidak sesuai lidah Asia (macem buah zaitun, yogurt Ayran yang sangat asin, sup)
ketawa bareng-bareng semeja. Harus banyak istighfar deh kalau urusan ini. Terlebih
kalau kami digabungkan dengan delegasi Malaysia yang berjumlah 19 akhwat,
waaaah Asia ini orangnya heboh sekali. Beda dengan gadis-gadis Eropa atau Timur
Tengah yang anggun-anggun, hehe.
Sekarang, jadi kangen deh sama mereka. Ada Dela my little sister dari FK Univ.
Malahayati, Rizka yang bergaya madura dari FK Univ. Hang Tuah, Sakinah Azzahra
yang super heboh dari FKG Univ. Brawijaya, Fajar Widodo dengan gaya bicara jawa
nan lucu dari Kebidanan Univ. Airlangga, Cynthia yang keibuan dari FKM UI,
Virzi yang sholihah dari FK UMY, Farisa yang polos dari Farmasi Univ. Pancasila,
dan Thika yang imut dari FK Univ Andalas. Semoga esok, kita bisa kongkow lagi
ya, Girls ^^



Fix aku baru baca dan jadi baper saat lagi dinas di rumah sakit :"") kangen kalian (untuk yang ratusan kali bilang ini):")
BalasHapuswkwk cyn cyn... ayoo di grup adakan meet up
Hapus