Label

Minggu, 30 Juli 2017

Tentang Perbedaan yang Menyatukan

Seluruh peserta FIMA saat Istanbul Meeting


Mereka adalah saudara-saudara muslim yang baru saja kutemukan di acara FIMA Youth Summercamp 2017. FIMA Summercamp merupakan acara tahunan bagi mahasiswa kedokteran islam seluruh dunia. Di tempat ini, kami bukan hanya belajar tentang profesional di bidang kesehatan, tapi juga tentang kultur, persaudaraan, seni, dan yang menjadi titik penting tulisan ini adalah tentang perbedaan.
Empat hari camp di Kocaeli, kami menempati bungalow. Setiap bungalow diisi oleh 8 orang yang tidak akan mungkin satu negara disatukan dalam satu bungalow, kecuali delegasi dari Turki yang sangat banyak dan merangkap jadi panitia juga. Menjumpai perbedaan-perbedaan selama tinggal di bungalow, sudah menjadi hal lumrah.
Ketika di Indonesia diributkan dengan masalah jilbab syar’i yang sedang trend atau memang menuruti syariat, maka di forum ini, kau akan temui banyak versi syar’i. Orang-orang Timur Tengah yang khas dengan pakaian serba hitam dan memakai niqab (cadar), dan orang-orang Eropa yang memaknai ayat Quran Al-Ahzab:59 berupa jilbab yang menutupi seluruh tubuh adalah pakaian (baju), bukan kerudung. Jadi, gadis Eropa memakai baju dan celana longgar (bukan baju ketat dan celana jeans), dengan jilbab pasmina yang hanya dililitkan leher, itu sudah syar’i. Mau sealim apapun mereka, sekenceng apapun ibadah, memang pemahaman dan mazhab yang diambil seperti itu. Tidak masalah bagi kami, kami tetap bersaudara. 
Tiba di bandara Istanbul
Pernah juga di Indonesia ramai tentang masalah apakah kaki termasuk aurat atau tidak. Di sana, kau akan jumpai banyak perbedaan itu. ketika salat di bandara Jeddah, ada orang yang berniqab dan berpakaian serba hitam, namun saat salat kakinya terbuka dan tidak memakai kaos kaki. Di tempat camp kami pun juga ada yang seperti itu. Penulis memang tidak banyak paham mengenai fiqh. Tapi memang dari beberapa referensi, Abu Hanifah dan beberapa ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa kaki bukan aurat karena sudah terbiasa terlihat. Tapi ada pula yang memakai gamis hingga menyeret tanah, karena baginya kaos kaki masih menampakkan bentuk kaki, tidak cukup untuk menutup aurat kaki. Tidak masalah bagi kami, kami tetap bersaudara.
Pernah pula kejadian, ketika salat di bungalow, seorang Turki terpana melihatku memakai mukena. Terpananya bukan hanya sekadar penasaran, tapi sungguh ini benar-benar tidak pernah mereka lihat. Iya sih, diantara kami yang salat pakai mukena hanya orang-orang Asia (Indonesia Malaysia Singapore). Dia bertanya, “Why did you wear it? Your cloth, you can pray, right?” (Maksudnya, dengan pakaianmu yang sudah seperti itu, jilbab menutup dada, baju longgar, rok, kaos kaki, bukankah sudah bisa melakukan salat?). Duh, bingung juga ya aku mau jawab. Akhirnya kujawab saja, “It’s our habit,” hehehe. Bagi mereka, asal sudah menutup aurat dan pakaian longgar, sudah bisa melakukan salat. Pasmina terlilit di leher, baju longgar, dan celana longgar, itu busana mereka ketika salat. Simpel sih, tapi kalau mukena membuat kita nyaman, kenapa tidak? Tapi kadang tidak simpel juga. Kalau bangun tidur, dengan kostum seadanya kita hanya perlu memakai mukena lalu salat subuh, mereka masih ribet. Harus pakai baju lengkap dan memakai jilbab dulu baru salat shubuh, karena memang mereka tidak mengenal mukena.
Delegasi akhwat setelah seminar
Pernah juga suatu kejadian unik yang tidak pernah kulupa. Biasanya aku tidur terakhir, jadi mereka tidak banyak tahu aktivitas malamku. Malam itu, camp sedang dihebohkan dengan kabut tebal dan anjing-anjing gunung yang berkeliaran karena kabut itu. Jadilah tengah malam masih pada ngobrol. Setelah isya (karena isya di sana jam 23.00an, kadang salat kami molor karena aktivitas yang padat), aku sempatkan membaca Al-Mulk d ranjangku. Satu bungalow itu ada 2 lantai, lantai kedua hanya ada dua ranjang yang aku tempati dan orang Malaysia bernama Hana. Karena kami sama-sama Melayu, jadi tidak terlalu banyak perbedaan berarti yang membuat kami saling penasaran. Di lantai bawah masih ada 3 orang ngobrol ramai, dan sisanya panitia masih di luar bungalow mengurus anjing liar itu. Ketika sampai di ayat 5, aku menyadari kejanggalan, kenapa bungalow mendadak sepi. Ketika aku menengok ke arah tangga, aku terkejut mendapati 3 orang berdiri di tangga sambil mengamatiku.
“Bisakah kamu lebih keras?” katanya dalam inggris.
Sorry, apa aku mengganggu kalian?” tanyaku balik.
No, louder please.”
Akhirnya aku membaca biasa dengan suara lebih keras, dan mereka duduk diam di kasurku. Hening, hanya suaraku mengaji. Hingga ketika sudah selesai, kubertanya mengapa mereka melakukan itu.
So beautiful. Never heard before someone like you,” jawab seorang dari Turki.
Hm, sorry, you can read it, right?” tanyaku, memastikan.
Yes, we can. But, we read just like, hmm, reading a book. Like that,” jawab seorang Turki lain. “But sorry, we are not reading Quran for now.”
Oh, I understand. How about you?” tanyaku pada seorang Somalia.
Dia menerima Al-Quranku dan membaca Al-Mulk. Sejak saat itu, aku menyadari banyak hal. Tentang tahsin dan tajwid kami yang berbeda, mungkin efek lidah dan pemahaman. Orang Turki membaca Quran dengan datar seperti membaca buku, begitu penjelasan singkat teman Malaysia yang kutanyakan lebih jelasnya. Padahal aku baca Quran juga nadanya biasa saja, hey aku tak pernah belajar qiroati dan nada-nadanya.
Delegasi Indonesia bersama dr. Zeynep (Turki)
Tapi aku bahagia bisa mengenal mereka. Momen yang bikin rindu, saat kami makan bersama satu meja dan saling berbagi bahasa. Apa bahasa turkinya, “Aku cinta kamu?”. Apa bahasa somalianya, “Apa kabar?”, dan lain-lain. Pada akhirnya sekarang aku lupa, hehehe. Pernah juga suatu ketika, aku mengantre ambil makan, antreannya sampai di luar kantin dan aku sendiri di antara delegasi lain. Entah kemana teman-teman Indonesia saat itu. Tiba-tiba Aisha dari Somalia datang mengejutkanku, “Hai Alya, kamu cantek,” katanya dengan logatnya yang lucu. Aku langsung tertawa, disusul teman-teman Indonesia di belakang Aisha (ketahuan mereka yang ngajarin Aisha).
Ada beberapa delegasi yang aku mengaguminya, karena dia cantik, cerdas saat kami diskusi brainstorming, dan sikap humble. Sebut saja salah satunya Hammd dari Pakistan. Dia belum berjilbab, hanya melilitkan selendang di kepalanya. Tapi aku suka cara berpikirnya ketika berdiskusi. Dia pernah bercerita tentang pernikahan di Pakistan, bahwa wajib dokter menikah dengan dokter. Dan wajib anak-anak dokter harus menjadi dokter juga. Kalau ada dokter yang belum menikah, ia tidak akan malu mengiklankan diri di koran tentang dirinya. Cerita tentang negaranya, yang meskipun sejujurnya aku tak paham banyak sih, hehe. Tapi satu hal yang membuat aku shock, selepas talent show,tiba-tiba dia menghampiriku, “Why are you Asian people, Indonesia or Malaysia, so cute. Never seen before like you all. I am really really interest with you. Oh my, i am speachless,” jelasnya begitu fasih seperti rentetan kereta panjang, dan aku hanya bengong. Ya Allah, di depan teman Indonesia aku memuji-mujinya, sekarang dia berkata begitu di depanku. Terlebih ketika di bandara saat kepulangan, dia juga mengulang, “You all Indonesian people very beautiful and so nice. Nice to meet you!” Ini dunia sudah kebalik-balik...
Thank you so much this has been a life changing experience, lovely and memorable week May Allah protect you, bring us together in jannah, grant you all success in your careers. Keep us in your duaas. Every moment has a special place in my heart. I’ll never forget you. If we made something wrong during camp, please forgive me. See you!

3 komentar: