Besarnya
penerimaan, ternyata harus dibarengi dengan konsistensi. Hari ini sabar, besok
enggak, kan sama saja. Dan hari-hari berat itu datang. Ketika sedang jalan di
lorong kampus, dosen sedang membahas sesuatu dengan dosen lain, “Kemarin ada
mahasiswa enggak lulus yudisium cuma karna fotokopian. Harusnya kan bisa yudisium
ulang, ya?”, tanpa menyadari yang mereka
bicarakan adalah aku. Ketika bertemu teman-teman, pertanyaan mereka hanya sama,
“Eh kemarin jadinya gimana Al? Kemarin kenapa sih, Al?”. Pada akhirnya mereka
hanya berspekulasi sendiri-sendiri, karena setiap cerita mouth to mouth selalu ada bagian yang tertinggal.
Kemudian
aku membenci kampusku sendiri. Membenci orang-orang yang berisik bertanya.
Membenci orang-orang yang menyebarkan info tanpa tahu dasar cerita. Hanya
beberapa temanku yang tahu pasti tentang semuanya, mereka yang membantuku
selama kejadian itu. Berdiam diri di rumah juga semakin sesak.
Pada
akhirnya, aku menemukan titik penting skenario Allah yang mengubah bagian hidupku selanjutnya. Alya di tahun 2013 pernah
menuliskan target, selesai menghafal Quran di umur 20 tahun. Saat itu aku sudah
lebih dari 21 tahun. Dan mungkin ini kesempatan dari Allah, untuk
merealisasikan target itu. Bukankah, selama ini aku sudah cukup sibuk dengan
urusan kuliah, organisasi, asrama? Bukankah, kelak ketika koas, semakin
disibukkan dan semakin dijauhkan dari target itu?
![]() |
| Pondok Tahfidz Wadil Quran, Tangerang Selatan |
Hingga
keberangkatan ke Tangerang Selatan saat itu, dimulai dengan berat hati.
Berkali-kali istikhoroh, semoga itu bukan pelarian. Disanalah, aku menemukan
suasana jiwa yang baru. Pondok Tahfidz Wadil Quran menawarkan 2 program utama:
2 bulan selesai 30 juz dan 1 bulan mutqin 5 juz. Aku mengikuti program 2 bulan.
September
2017, hari-hariku berubah. Hp kami disita,
hanya dikembalikan saat hari jumat. Target pribadiku ingin menyelesaikan 30 juz
dalam 1 bulan saja, karena bulan depan ada yudisium wisuda November. Satu tahun
di Rumah Quran Jogja, sudah memberiku bekal 8 juz, sehingga aku hanya perlu
murojaah di Dauroh Quran ini.
Wadil
Quran menawarkan konsep pondok pesantren. Kami mencuci baju sendiri, tidur
bersama dalam satu ruang, makan dalam satu nampan, dan wilayahnya yang sejuk di
area pemancingan. Sejak pukul 3 pagi hingga jam 9 malam kami harus setoran.
Untuk akhwat ada dua muhafidzoh, ustadzah Hana dan ustadzah Shofa.
Hari-hari
awal, aku begitu semangat mengejar target. Dari pagi hingga malam, aku duduk di
tepi kolam ikan untuk fokus. Lalu masuk ke dalam untuk menyetorkan hafalan.
Pertengahan bulan aku mulai jenuh. Berniat menghafal, tapi ujungnya hanya
melamun di tepi kolam. Berusaha mencari celah untuk ijin keluar area pondok
saat hari jumat. Bahkan mencari tempat nyaman untuk tidur saat jam setoran. Memang, hambatan terbesar menghafal adalah diri sendiri.
Di
tempat itu aku tidak disibukkan dengan urusan dunia. Di tempat itu, setiap
menit hanya diisi dengan lantunan ayat Quran para peserta. Di tempat itu, kita
disejukkan dengan kalimat-kalimat bersih dari lisan penghafal Quran. Setiap
pergantian 2 juz, ruangan selalu digemakan dengan takbir 3 kali semua peserta.
Setiap ada yang sudah selesai menyetorkan 30 juz, ruangan semakin ramai oleh
teriakan 10 takbir. Ketika peserta sudah
menyelesaikan tantangan terakhir, ruangan akan dipenuhi takbir bertubi-tubi,
pelukan haru, dan doa-doa. Ah, menuliskan
ini, aku serasa masih ada di tempat itu.
Jika
mengikuti program mutqin 5 juz, peserta wajib menyetorkan sekali duduk hafalan
5 juz di depan muhafidzoh (kecuali untuk ke kamar mandi). Jika mengikuti
program hafalan 30 juz, ada tantangan di akhir yang harus diselesaikan, yaitu
melanjutkan ayat atau tasmi’ ayat tertentu di hadapan semua peserta. Tapi
biasanya peserta memilih tasmi’ juz terakhir yang disetorkan. Suatu ketika ada
ikhwan yang memilih tantangan lanjut ayat, dengan dihadiri seluruh ustad dan
peserta. Ustad melantunkan ayat per ayat untuk dilanjutkan peserta tersebut.
Mengharukan, pertama kalinya melihat langsung selain di televisi.
Aku
menemukan banyak teman dari berbagai daerah dan usia. Ada Yuni, lulusan SMA,
asal Riau, rela satu tahun berhenti untuk menyelesaikan hafalan. Dina yang
kompetitif, lulusan SMP asal Riau, yang juga ingin fokus hafalan sebelum SMA.
Pokoknya Dina tidak mau kalah dari aku soal setoran. Kalau dia kalah, dia akan
begadang untuk menambah setoran ke ustadzah. Kak Ayi, dari Aceh, yang selalu
membawa ceria dengan logatnya. Kak Ela, mahasiswa Bandung aktivis Kammi yang suka
sok-sokan berbahasa arab dengan gaya Quran. “Qowiyyun rijalun,” katanya,
menjiplak dari surat Al-Baqarah. Saking gemasnya, bahkan ia mencoret-coret
kesalahan setoran langsung pakai bolpen merah di Qurannya. Ada juga Rifa, dari
Medan, yang baru belajar menghafal dan sangat sabar menyetorkan
per ayat pada awalnya. Ia selalu menghafal di dekat muhafidzoh. “Nanti kalo
jauh-jauh terus mau setoran, hafalannya udah berjatuhan di jalan, lupa deh
Kak,” jelasnya waktu itu. Ada juga kak Ragil, lulusan STAN, yang selalu
istiomah menyetorkan hafalan dalam segala kondisi. Ada pula seorang ibu asal
Jogja, yang selalu menyemangatiku dan banyak berbagi cerita. Daris, orang
Jakarta yang humoris. Daris mengikuti program mutqin 5
juz, yang membuatnya selalu menepi ke hutan untuk hafalan. Dan yang paling
diingat, Luffi, mahasiswi LIPIA, yang selalu tidur di
sebelahku dan mendengar semua curhatanku. Sayangnya Luffi sudah pulang lebih
dulu setelah selesai program 5 juz.
Pasti
rindu, pada suasana makan bersama, mengantre setoran, kebahagiaan kecil sekadar
keluar area pondok, hingga kejadian-kejadian konyol. Hingga hari itu tiba, aku
tasmi’ terakhir sebelum kepulangan. Aku sedih karena harus pergi. Dan aku sedih
karena harus pulang dengan kesibukan yang tidak menenangkan. Semua peserta
akhwat memelukku, berkali-kali aku meminta doa untuk bisa menjaga. Di hari
perpisahan denganku itu, beberapa orang bertanya.
“Apa
yang kamu rasakan sekarang?”
“Takut.
Karena merasa tidak pantas. Dan kesibukan ke depan semakin buat lalai.”
“Kak,
gimana sih caranya bisa hafal cepat?”
“Seorang
ustad pernah bilang, kemampuan menghafal cepat itu dari Allah. tapi keinginan
untuk menghafal cepat itu dari setan.”
Hari itu
pula aku ingat percakapan dengan seorang ammah di Asma Amanina beberapa tahun
lalu.
“Alya
bisa membayangkan perasaan orangtua, saat wisuda nanti kita
bukan hanya memberikan ijazah sarjana, tapi juga sertifikat hafalan Quran,”
katanya.
“Keren
sih, Am. Tapi kan target wisudaku 2 tahun lagi, mana bisa selesai hafalan
secepat itu?” jawabnya.
“Bisa!”
Sungguh
berapa banyak orang memberikan inspirasi. Mungkin saat itu aku sama sekali
belum ada niat untuk merealisasikan dengan serius, ibarat
kata hanya ‘ingin-ingin’ belaka. Tapi siapa sangka, doa beliau yang diamini
malaikat, untuk kami berdua. Karena di bulan yang sama, aku sedang Dauroh Quran
di Tangerang, sedangkan beliau Mukhoyyam Quran terakhir di Jogja. Dan rupanya,
kami wisuda sarjana bersama bulan November.
| Al-Quran di Topkapi Palace, Turki |
Sungguh
Allah penyusun skenario terbaik. Pernah berderai-derai sedih ditunda wisuda
sarjana. Padahal, Dia hanya bermaksud menunda urusan dunia untuk suatu
kesempatan yang tidak semua orang miliki. Aku masih perlu dipaksa oleh Allah.
sementara di sini, banyak peserta yang merelakan waktu sekolah untuk fokus
menghafal, ibu-ibu yang meninggalkan keluarga untuk dekat dengan Quran, dan
orang-orang sibuk yang menanggalkan urusannya.
Tapi
sungguh kemuliaan kita bukan diukur dari banyaknya hafalan secara dhahir saja. Sebab jalan kita masih
panjang. Belum tahu, esok kita mati sebagai penghafal, atau pendosa besar
karena melupakan hafalan. Esok, kita dibangkitkan bersama
penghafal, atau malah menjadi mantan penghafal. Lusa, kta sanggup menyetorkan
hafalan di hadapan Allah, atau langsung dilempar ke neraka. Sebab setiap rasa
sombong, riya, sangat mudah bagi Allah menghapus amalan itu. Setiap maksiat
yang dilakukan, sangat mudah bagi Allah mencerai-berai hafalan. Setiap barang
haram yang masuk, sangat mudah bagi Allah meuntahkan semua hafalan itu.
Cukuplah Allah Yang Mulia, bukan manusia yang naif. (AL)

