Label

Sabtu, 26 Mei 2018

Mimpi yang Diingatkan Allah


Besarnya penerimaan, ternyata harus dibarengi dengan konsistensi. Hari ini sabar, besok enggak, kan sama saja. Dan hari-hari berat itu datang. Ketika sedang jalan di lorong kampus, dosen sedang membahas sesuatu dengan dosen lain, “Kemarin ada mahasiswa enggak lulus yudisium cuma karna fotokopian. Harusnya kan bisa yudisium ulang, ya?”, tanpa menyadari yang mereka bicarakan adalah aku. Ketika bertemu teman-teman, pertanyaan mereka hanya sama, “Eh kemarin jadinya gimana Al? Kemarin kenapa sih, Al?”. Pada akhirnya mereka hanya berspekulasi sendiri-sendiri, karena setiap cerita mouth to mouth selalu ada bagian yang tertinggal.
Kemudian aku membenci kampusku sendiri. Membenci orang-orang yang berisik bertanya. Membenci orang-orang yang menyebarkan info tanpa tahu dasar cerita. Hanya beberapa temanku yang tahu pasti tentang semuanya, mereka yang membantuku selama kejadian itu. Berdiam diri di rumah juga semakin sesak.
Pada akhirnya, aku menemukan titik penting skenario Allah yang mengubah bagian hidupku selanjutnya. Alya di tahun 2013 pernah menuliskan target, selesai menghafal Quran di umur 20 tahun. Saat itu aku sudah lebih dari 21 tahun. Dan mungkin ini kesempatan dari Allah, untuk merealisasikan target itu. Bukankah, selama ini aku sudah cukup sibuk dengan urusan kuliah, organisasi, asrama? Bukankah, kelak ketika koas, semakin disibukkan dan semakin dijauhkan dari target itu?
Pondok Tahfidz Wadil Quran, Tangerang Selatan
Hingga keberangkatan ke Tangerang Selatan saat itu, dimulai dengan berat hati. Berkali-kali istikhoroh, semoga itu bukan pelarian. Disanalah, aku menemukan suasana jiwa yang baru. Pondok Tahfidz Wadil Quran menawarkan 2 program utama: 2 bulan selesai 30 juz dan 1 bulan mutqin 5 juz. Aku mengikuti program 2 bulan.
September 2017, hari-hariku berubah. Hp kami disita, hanya dikembalikan saat hari jumat. Target pribadiku ingin menyelesaikan 30 juz dalam 1 bulan saja, karena bulan depan ada yudisium wisuda November. Satu tahun di Rumah Quran Jogja, sudah memberiku bekal 8 juz, sehingga aku hanya perlu murojaah di Dauroh Quran ini.
Wadil Quran menawarkan konsep pondok pesantren. Kami mencuci baju sendiri, tidur bersama dalam satu ruang, makan dalam satu nampan, dan wilayahnya yang sejuk di area pemancingan. Sejak pukul 3 pagi hingga jam 9 malam kami harus setoran. Untuk akhwat ada dua muhafidzoh, ustadzah Hana dan ustadzah Shofa.
Hari-hari awal, aku begitu semangat mengejar target. Dari pagi hingga malam, aku duduk di tepi kolam ikan untuk fokus. Lalu masuk ke dalam untuk menyetorkan hafalan. Pertengahan bulan aku mulai jenuh. Berniat menghafal, tapi ujungnya hanya melamun di tepi kolam. Berusaha mencari celah untuk ijin keluar area pondok saat hari jumat. Bahkan mencari tempat nyaman untuk tidur saat jam setoran. Memang, hambatan terbesar menghafal adalah diri sendiri.
Di tempat itu aku tidak disibukkan dengan urusan dunia. Di tempat itu, setiap menit hanya diisi dengan lantunan ayat Quran para peserta. Di tempat itu, kita disejukkan dengan kalimat-kalimat bersih dari lisan penghafal Quran. Setiap pergantian 2 juz, ruangan selalu digemakan dengan takbir 3 kali semua peserta. Setiap ada yang sudah selesai menyetorkan 30 juz, ruangan semakin ramai oleh teriakan 10 takbir. Ketika  peserta sudah menyelesaikan tantangan terakhir, ruangan akan dipenuhi takbir bertubi-tubi, pelukan haru, dan doa-doa. Ah, menuliskan ini, aku serasa masih ada di tempat itu.
Jika mengikuti program mutqin 5 juz, peserta wajib menyetorkan sekali duduk hafalan 5 juz di depan muhafidzoh (kecuali untuk ke kamar mandi). Jika mengikuti program hafalan 30 juz, ada tantangan di akhir yang harus diselesaikan, yaitu melanjutkan ayat atau tasmi’ ayat tertentu di hadapan semua peserta. Tapi biasanya peserta memilih tasmi’ juz terakhir yang disetorkan. Suatu ketika ada ikhwan yang memilih tantangan lanjut ayat, dengan dihadiri seluruh ustad dan peserta. Ustad melantunkan ayat per ayat untuk dilanjutkan peserta tersebut. Mengharukan, pertama kalinya melihat langsung selain di televisi.
Aku menemukan banyak teman dari berbagai daerah dan usia. Ada Yuni, lulusan SMA, asal Riau, rela satu tahun berhenti untuk menyelesaikan hafalan. Dina yang kompetitif, lulusan SMP asal Riau, yang juga ingin fokus hafalan sebelum SMA. Pokoknya Dina tidak mau kalah dari aku soal setoran. Kalau dia kalah, dia akan begadang untuk menambah setoran ke ustadzah. Kak Ayi, dari Aceh, yang selalu membawa ceria dengan logatnya. Kak Ela, mahasiswa Bandung aktivis Kammi yang suka sok-sokan berbahasa arab dengan gaya Quran. “Qowiyyun rijalun,” katanya, menjiplak dari surat Al-Baqarah. Saking gemasnya, bahkan ia mencoret-coret kesalahan setoran langsung pakai bolpen merah di Qurannya. Ada juga Rifa, dari Medan, yang baru belajar menghafal dan sangat sabar menyetorkan per ayat pada awalnya. Ia selalu menghafal di dekat muhafidzoh. “Nanti kalo jauh-jauh terus mau setoran, hafalannya udah berjatuhan di jalan, lupa deh Kak,” jelasnya waktu itu. Ada juga kak Ragil, lulusan STAN, yang selalu istiomah menyetorkan hafalan dalam segala kondisi. Ada pula seorang ibu asal Jogja, yang selalu menyemangatiku dan banyak berbagi cerita. Daris, orang Jakarta yang humoris. Daris mengikuti program mutqin 5 juz, yang membuatnya selalu menepi ke hutan untuk hafalan. Dan yang paling diingat, Luffi, mahasiswi LIPIA, yang selalu tidur di sebelahku dan mendengar semua curhatanku. Sayangnya Luffi sudah pulang lebih dulu setelah selesai program 5 juz.
Pasti rindu, pada suasana makan bersama, mengantre setoran, kebahagiaan kecil sekadar keluar area pondok, hingga kejadian-kejadian konyol. Hingga hari itu tiba, aku tasmi’ terakhir sebelum kepulangan. Aku sedih karena harus pergi. Dan aku sedih karena harus pulang dengan kesibukan yang tidak menenangkan. Semua peserta akhwat memelukku, berkali-kali aku meminta doa untuk bisa menjaga. Di hari perpisahan denganku itu, beberapa orang bertanya.
“Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“Takut. Karena merasa tidak pantas. Dan kesibukan ke depan semakin buat lalai.”
“Kak, gimana sih caranya bisa hafal cepat?”
“Seorang ustad pernah bilang, kemampuan menghafal cepat itu dari Allah. tapi keinginan untuk menghafal cepat itu dari setan.”
Hari itu pula aku ingat percakapan dengan seorang ammah di Asma Amanina beberapa tahun lalu.
“Alya bisa membayangkan perasaan orangtua, saat wisuda nanti kita bukan hanya memberikan ijazah sarjana, tapi juga sertifikat hafalan Quran,” katanya.
“Keren sih, Am. Tapi kan target wisudaku 2 tahun lagi, mana bisa selesai hafalan secepat itu?” jawabnya.
“Bisa!”
Sungguh berapa banyak orang memberikan inspirasi. Mungkin saat itu aku sama sekali belum ada niat untuk merealisasikan dengan serius, ibarat kata hanya ‘ingin-ingin’ belaka. Tapi siapa sangka, doa beliau yang diamini malaikat, untuk kami berdua. Karena di bulan yang sama, aku sedang Dauroh Quran di Tangerang, sedangkan beliau Mukhoyyam Quran terakhir di Jogja. Dan rupanya, kami wisuda sarjana bersama bulan November.

Al-Quran di Topkapi Palace, Turki
Sungguh Allah penyusun skenario terbaik. Pernah berderai-derai sedih ditunda wisuda sarjana. Padahal, Dia hanya bermaksud menunda urusan dunia untuk suatu kesempatan yang tidak semua orang miliki. Aku masih perlu dipaksa oleh Allah. sementara di sini, banyak peserta yang merelakan waktu sekolah untuk fokus menghafal, ibu-ibu yang meninggalkan keluarga untuk dekat dengan Quran, dan orang-orang sibuk yang menanggalkan urusannya.
Tapi sungguh kemuliaan kita bukan diukur dari banyaknya hafalan secara dhahir saja. Sebab jalan kita masih panjang. Belum tahu, esok kita mati sebagai penghafal, atau pendosa besar karena melupakan hafalan. Esok, kita dibangkitkan bersama penghafal, atau malah menjadi mantan penghafal. Lusa, kta sanggup menyetorkan hafalan di hadapan Allah, atau langsung dilempar ke neraka. Sebab setiap rasa sombong, riya, sangat mudah bagi Allah menghapus amalan itu. Setiap maksiat yang dilakukan, sangat mudah bagi Allah mencerai-berai hafalan. Setiap barang haram yang masuk, sangat mudah bagi Allah meuntahkan semua hafalan itu. Cukuplah Allah Yang Mulia, bukan manusia yang naif. (AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar