Hai,
mungkin sudah lama menghilang dari blog ini. Jadilah banyak orang bertanya,
Alya kemana saja? Sedang sibuk apa? Dan berbagai penjelasan atas banyak hal
yang sudah terjadi. Akhirnya tulisan ini menanggapi pertanyaan dari secreto,
kenapa aku sudah lama tidak menulis.
Ini
kisah yang banyak sekali orang menanyakan. Kenapa Alya akhirnya wisuda
November? Padahal tampaknya urusan skripsi progresif dan baik-baik saja. Dan
itu adalah pertanyaan yang paling mengganggu di masa-masa itu. Pertama kalinya
membuat aku ingin menjadi introvert, tidak ingin bertemu orang, karena enggan
dengan pertanyaan itu.
Ya,
urusan skripsi memang tergolong beruntung karena tidak banyak hambatan. Maret sudah selesai skripsi, tapi Juni baru
sidang karena mendapat 2 dosen penguji yang sama-sama menjabat sebagai dekan
FKG (di universitas yang berbeda). Membutuhkan waktu lama untuk match tanggal sidang. Alhasil, target
wisuda mundur jadi Agustus.
Saat itu
sudah berencana pergi ke Turki untuk acara FIMA Summercamp (tulisan beberapa
bulan lalu). Tanggal yudisium bertepatan dengan kepulanganku dari Turki, jadi
direncanakan masih bisa ikut yudisium (meskipun teman-teman bilang datang
yudisium itu nggak wajib).
Oke,
berangkatlah mulai tanggal 14-25 Juli 2017. Selama
di camp Kocaeli, Turki, kami tidak mendapat akses internet dari tanggal 16-20
Juli, karena medan pegunungan dan aku sendiri tidak membeli paket internet luar
negeri. Kamis malam, ketika kami sudah pindah ke asrama di Istanbul dan
mendapat akses wifi, baru mendapat banyak informasi dari grup kalau ternyata
yudisium dimajukan menjadi tanggal 21 Juli (esoknya). Malam itu (tanggal 20),
aku menghubungi teman kampus (di Indonesia sudah tanggal 21 Juli pagi) untuk
titip bayar wisuda, supaya aku mendapat password
untuk registrasi wisuda online.
Agenda
di Turki pada tanggal 21 Juli adalah
Istanbul Trip. Banyak tempat yang harus dikunjungi, membuat kami
terburu-buru bahkan untuk sekadar berfoto. Teman kampus di Indonesia sibuk menelepon, menanyakan kabar dan aktivitas saat itu. Tapi setelah jawabanku,
dia hanya bilang, “Yaudah Al, nanti saja ya. Selamat jalan-jalan”. Seperti ada hal buruk yang ingin disampaikan.
Sorenya kami bersiap untuk meluncur ke Dolmabahce Palace. Di istana kenegaraan Turki itu, kami akan mendengarkan pidato Presiden
Turki, Erdogan. Di tengah kesibukan bersiap, aku sempat membaca pesan dari koordinator angkatan wisuda Agustus
yang tertimbun di bawah, memberitahukan bahwa aku dinyatakan tidak lulus yudisium karena nilai skripsi belum
keluar. Aku langsung menelepon teman kampus yang tadi siang menghubungi dan
memastikan itu semua (saat itu Indonesia sudah larut malam). Rupanya berita itu
yang ingin dia sampaikan.
Seorang teman menyadarkan ketika aku ngotot ingin reschedule tiket pulang, “Memangnya kalau kamu pulang besok, terus kamu jadi lulus
yudisium dan bisa wisuda Agustus? Kan yudisiumnya sudah selesai”.
Aku
menghadiri pidato Erdogan dengan pikiran yang sudah jauh pulang ke
Jogja. Sekalipun
berderai-derai, berdoa di tanah suci Madinah saat transit, bergalau sepanjang
sisa hari di Turki, berjam-jam tidur di atas pesawat demi melupakan masalah,
itu hanya membuat perjalananku semakin berat. Ternyata hati masih sempit oleh rencana manusia yang tidak beresensi.
| Selat Bosphorus |
Akhirnya
aku menghadap dosbing skripsi. Di hadapanku berkumpul
dosbing skripsi, kepala departemen, dan beberapa dosen yang membantu. Mereka
pun tidak menyangka aku tidak lulus yudisium tanpa dihubungi kekurangan berkas
lainnya. Padahal semua mahasiswa dihubungi beberapa hari sebelumnya, jika masih
ada berkas yang kurang. Tapi ada
satu kalimat dari seorang dosen ketika melihat berkas asli nilai skripsi yang
membuatku sadar pokok permasalahan kasus ini. Beliau berkata dan meminta
pendapat yang lain, “Ini tanda tangan asli kok ya, nggak dipalsukan. Orang
ketebalan bolpennya juga sama! Yaudah yuk kita menghadap pak dekan, bilang
kalau ini tanda tangan beliau asli”.
Deg!
Jadi itu bukan masalah berkas fotokopi? Jadi itu sebabnya aku tidak dihubungi
terlebih dahulu karena seharusnya memberikan berkas asli? Mereka sudah enggan
menghubungiku karena prasangka memalsukan tanda tangan seorang dekan. Bahkan,
selama aku kuliah, aku memegang teguh prinsip untuk tidak TA atau dimintai
orang TA. Bahkan aku pernah mengulang mata kuliah, karena presensi yang kurang
(ketika masih sibuk asrama dan organisasi), disaat aku punya kesempatan untuk
TA. Jadi itu menurut beliau, mahasiswa yang terlihat baik, tapi bisa saja
memalsukan tanda tangan?
![]() |
| Tanda-tangan |
Di luar
ruangan, aku mengamati tanda tangan dekan. Pada satu lembar kertas, dosen
tersebut tanda tangan di dua kolom, sebagai dosen penguji skripsi dan sebagai
dekan.
“Kok
bisa ya tanda tangannya beda?”
“Beliau
emang suka gitu Al kalo tanda-tangan, beda-beda,” jelas temanku yang menjadi anak
bimbing skripsi pak dekan.
Hari itu
ditutup dengan malam yang penuh pikiran. Sudah habis cara menenangkan diri,
sudah habis kata untuk berdoa, sudah lelah hati untuk benci. Yang bisa hanya solat
sepanjang malam dan tilawah sampai mengantuk. Aku tidur di atas sajadah sampai
pagi.
Tapi,
ada hawa yang berbeda pagi itu. Bukan lagi memikirkan yang lalu, tapi pikiranku
malah sibuk menyusun rencana aktivitas sambil menunggu wisuda november yang
masih sangat lama. Entah apa yang terjadi, padahal malam itu aku tidak solat
istikhoroh. Malam itu sebelum tidur, pikiranku hanya dipenuhi ambisi dan keyakinan
bisa Agustus. Tapi pagi hari sungguh berbeda. Mungkin itu ingin Allah. Pada kondisi hati penuh kepasrahan, tanpa ada lagi nafsu, sesungguhnya seluruh hati itu sudah milik Allah.
Aku
datang ke kampus pagi hari, bukan untuk menanti kabar kelulusan yudisium
susulan. Tapi untuk menanyakan UKT dan KRS, karena hari
itu hari terakhir bayar UKT dan KRS. Di depan
pintu akademik, hpku berdering panggilan masuk. Suara di telepon pun masih bisa
dijangkau dengan telinga sendiri. Ternyata jarak beberapa ubin dari tempatku
berdiri, seorang pertugas akademik meneleponku untuk memberitahu bahwa aku
dipanggil untuk menghadap kepala bagian akademik. Sebuah skenario Allah.
Di
ruangan itu, kepala bagian akademik menjelaskan semua alur yang terjadi. Aku
mendengarkan dengan hati yang paling luas, meskipun sebelumnya aku menyimpan
benci paling dalam atas tuduhan itu. Akademik FKG mengaku sudah mendiskusikan
kasus ini ke pusat, dan memang ada peraturan tidak boleh diadakan yudisium
ulang. Aku tetap tidak bisa wisuda Agustus, tapi difasilitasi UKT tidak
membayar dan KRS diblok untuk sementara sampai November. Allah mengendalikan hatiku untuk legowo.
Berdasarkan
kumpulan data dan analisis, semua yang terjadi memang ujungnya mengarah pada 1
kesimpulan takdir: Alya wisuda November. Semua skenario unik sudah disusun
Allah sejak aku sidang. Ada banyak spot yang terlibat, yang semakin menguatkan
takdir itu, diantaranya:
1.
Di hari sidang, dekan kebablasan tanda
tangan di kolom dekan. Padahal semestinya beliau hanya tanda tangan di kolom
dosen penguji. Karena merasa sudah lengkap, aku pun tidak mengikuti alur
akademik untuk dimintakan tanda tangan dekan. Akhirnya, lembar asli masih
tersimpan dan yang dikumpulkan adalah salinannya. Dan itu adalah kesalahan.
2.
Pembayaran wisuda sudah bisa dilakukan
sebelum yudisium. Teman yang sempat kuminta tolong untuk membayarkan wisuda,
ternyata tidak membayar di pagi hari sebelum yudisium. Jika ia membayar
paginya, kemungkinan akan tahu bahwa aku masuk dalam daftar tidak lulus karena
berkas dianggap kurang, dan masih ada kesempatan untuk melengkapi.
3.
Akademik sudah memberikan data nilai
skripsi mahasiswa di semua departemen, supaya ada klarifikasi jika memang nilai
belum lengkap, bisa segera diselesaikan. Tapi departemen skripsiku tidak
membalas surat itu, terutama berkenaan namaku yang nilainya belum keluar.
4.
Kepala departemen skripsi datang
terlambat ketika acara yudisium sudah selesai. Sehingga tidak ada yang
menyadari bahwa aku tidak tercantum dalam kelulusan.
5.
Pagi hari sebelum yudisium, kepala
akademik mencariku dan hendak ditanyakan ke kepala departemen. Tapi ternyata
kepala departemen terlambat. Di waktu yang sama, satu jam pembahasan yudisium
sempat alot dan banyak perdebatan karena 1 mahasiswa yang terancam DO karena S1
lebih dari 5 tahun. Perdebatan yang melelahkan itu membuat namaku yang tadinya
diingat orang-orang akademik, seketika terlupakan dan tidak dibahas lagi.
6.
Aku yang sedang di Turki dan tidak update info selama camp karena keterbatasan sinyal, hingga tidak sempat cek nilai
skripsi di portal akademik. Padahal di grup sudah berkali-kali diminta untuk
cek jika nilai belum keluar.
Teringat sebuah hadits, apa-apa yang mengenaimu tidak akan luput darimu. Dan apa-apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu. Sangat mudah bagi Allah membuat semesta mendukung atau malah menolaknya, salah satunya lewat tangan-tangan manusia lain. Hanya sepotong kisah, yang mengajarkan sesuatu yang besar tentang kepasrahan dan percaya. Dalam konteks sekarang, kesedihan waktu itu alay sih hehe. Cuma kembalian beli micin
(baca: recehan). Yaelah, cuma ditunda
3 bulan.
Terus, kok bisa ya dalam semalam langsung berubah legowo gitu? Itulah Allah, Dia yang mengatur cerita, dan Dia yang
menyelesaikan. Tugas kita hanya bermain peran. Sikap dan penerimaan,
memengaruhi beratnya amal. Tentang kesalahanku, kesalahannya, dan kesalahan
mereka? Hm, menyesal itu hanya untuk orang yang tidak percaya masa depan. Tapi
aku masih percaya masa depan, bersamamu (halah).
Eh, tapi
ternyata skenarioNya tidak selesai sampai disitu. Ada
kejutan terhebat setelahnya. Postingan selanjutnya ya! (AL)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar