Label

Sabtu, 26 Mei 2018

KOK ENGGAK JADI WISUDA AGUSTUS?



Hai, mungkin sudah lama menghilang dari blog ini. Jadilah banyak orang bertanya, Alya kemana saja? Sedang sibuk apa? Dan berbagai penjelasan atas banyak hal yang sudah terjadi. Akhirnya tulisan ini menanggapi pertanyaan dari secreto, kenapa aku sudah lama tidak menulis.
Ini kisah yang banyak sekali orang menanyakan. Kenapa Alya akhirnya wisuda November? Padahal tampaknya urusan skripsi progresif dan baik-baik saja. Dan itu adalah pertanyaan yang paling mengganggu di masa-masa itu. Pertama kalinya membuat aku ingin menjadi introvert, tidak ingin bertemu orang, karena enggan dengan pertanyaan itu.
Ya, urusan skripsi memang tergolong beruntung karena tidak banyak hambatan. Maret sudah selesai skripsi, tapi Juni baru sidang karena mendapat 2 dosen penguji yang sama-sama menjabat sebagai dekan FKG (di universitas yang berbeda). Membutuhkan waktu lama untuk match tanggal sidang. Alhasil, target wisuda mundur jadi Agustus.
Saat itu sudah berencana pergi ke Turki untuk acara FIMA Summercamp (tulisan beberapa bulan lalu). Tanggal yudisium bertepatan dengan kepulanganku dari Turki, jadi direncanakan masih bisa ikut yudisium (meskipun teman-teman bilang datang yudisium itu nggak wajib). 
Oke, berangkatlah mulai tanggal 14-25 Juli 2017. Selama di camp Kocaeli, Turki, kami tidak mendapat akses internet dari tanggal 16-20 Juli, karena medan pegunungan dan aku sendiri tidak membeli paket internet luar negeri. Kamis malam, ketika kami sudah pindah ke asrama di Istanbul dan mendapat akses wifi, baru mendapat banyak informasi dari grup kalau ternyata yudisium dimajukan menjadi tanggal 21 Juli (esoknya). Malam itu (tanggal 20), aku menghubungi teman kampus (di Indonesia sudah tanggal 21 Juli pagi) untuk titip bayar wisuda, supaya aku mendapat password untuk registrasi wisuda online
Agenda di Turki pada tanggal 21 Juli adalah Istanbul Trip. Banyak tempat yang harus dikunjungi, membuat kami terburu-buru bahkan untuk sekadar berfoto. Teman kampus di Indonesia sibuk menelepon, menanyakan kabar dan aktivitas saat itu. Tapi setelah jawabanku, dia hanya bilang, “Yaudah Al, nanti saja ya. Selamat jalan-jalan”. Seperti ada hal buruk yang ingin disampaikan.
Sorenya kami bersiap untuk meluncur ke Dolmabahce Palace. Di istana kenegaraan Turki itu, kami akan mendengarkan pidato Presiden Turki, Erdogan. Di tengah kesibukan bersiap, aku sempat membaca pesan dari koordinator angkatan wisuda Agustus yang tertimbun di bawah, memberitahukan bahwa aku dinyatakan tidak lulus yudisium karena nilai skripsi belum keluar. Aku langsung menelepon teman kampus yang tadi siang menghubungi dan memastikan itu semua (saat itu Indonesia sudah larut malam). Rupanya berita itu yang ingin dia sampaikan.
Seorang teman menyadarkan ketika aku ngotot ingin reschedule tiket pulang, “Memangnya kalau kamu pulang besok, terus kamu jadi lulus yudisium dan bisa wisuda Agustus? Kan yudisiumnya sudah selesai”.
Aku menghadiri pidato Erdogan dengan pikiran yang sudah jauh pulang ke Jogja. Sekalipun berderai-derai, berdoa di tanah suci Madinah saat transit, bergalau sepanjang sisa hari di Turki, berjam-jam tidur di atas pesawat demi melupakan masalah, itu hanya membuat perjalananku semakin berat. Ternyata hati masih sempit oleh rencana manusia yang tidak beresensi.

Selat Bosphorus
Sesampainya di Jogja, aku dan kawanku menghadap wakadek kemahasiswaan. Mereka mempermasalahkan berkas nilai skripsi yang hanya fotokopi. Padahal di daftar berkas yudisium, semua berkas memang diminta fotokopi. Bahkan wakadek sempat berkata, “Jaman sekarang, mahasiswa yang kelihatan baik pun juga sudah pandai memalsukan tanda tangan. Itulah kenapa berkas asli itu penting”. Aku masih belum paham korelasi kalimat beliau dengan masalahku.
Akhirnya aku menghadap dosbing skripsi. Di hadapanku berkumpul dosbing skripsi, kepala departemen, dan beberapa dosen yang membantu. Mereka pun tidak menyangka aku tidak lulus yudisium tanpa dihubungi kekurangan berkas lainnya. Padahal semua mahasiswa dihubungi beberapa hari sebelumnya, jika masih ada berkas yang kurang. Tapi ada satu kalimat dari seorang dosen ketika melihat berkas asli nilai skripsi yang membuatku sadar pokok permasalahan kasus ini. Beliau berkata dan meminta pendapat yang lain, “Ini tanda tangan asli kok ya, nggak dipalsukan. Orang ketebalan bolpennya juga sama! Yaudah yuk kita menghadap pak dekan, bilang kalau ini tanda tangan beliau asli”.
Deg! Jadi itu bukan masalah berkas fotokopi? Jadi itu sebabnya aku tidak dihubungi terlebih dahulu karena seharusnya memberikan berkas asli? Mereka sudah enggan menghubungiku karena prasangka memalsukan tanda tangan seorang dekan. Bahkan, selama aku kuliah, aku memegang teguh prinsip untuk tidak TA atau dimintai orang TA. Bahkan aku pernah mengulang mata kuliah, karena presensi yang kurang (ketika masih sibuk asrama dan organisasi), disaat aku punya kesempatan untuk TA. Jadi itu menurut beliau, mahasiswa yang terlihat baik, tapi bisa saja memalsukan tanda tangan?
Tanda-tangan

Di luar ruangan, aku mengamati tanda tangan dekan. Pada satu lembar kertas, dosen tersebut tanda tangan di dua kolom, sebagai dosen penguji skripsi dan sebagai dekan.
“Kok bisa ya tanda tangannya beda?”
“Beliau emang suka gitu Al kalo tanda-tangan, beda-beda,” jelas temanku yang menjadi anak bimbing skripsi pak dekan.
Hari itu ditutup dengan malam yang penuh pikiran. Sudah habis cara menenangkan diri, sudah habis kata untuk berdoa, sudah lelah hati untuk benci. Yang bisa hanya solat sepanjang malam dan tilawah sampai mengantuk. Aku tidur di atas sajadah sampai pagi.
Tapi, ada hawa yang berbeda pagi itu. Bukan lagi memikirkan yang lalu, tapi pikiranku malah sibuk menyusun rencana aktivitas sambil menunggu wisuda november yang masih sangat lama. Entah apa yang terjadi, padahal malam itu aku tidak solat istikhoroh. Malam itu sebelum tidur, pikiranku hanya dipenuhi ambisi dan keyakinan bisa Agustus. Tapi pagi hari sungguh berbeda. Mungkin itu ingin Allah. Pada kondisi hati penuh kepasrahan, tanpa ada lagi nafsu, sesungguhnya seluruh hati itu sudah milik Allah.
Aku datang ke kampus pagi hari, bukan untuk menanti kabar kelulusan yudisium susulan. Tapi untuk menanyakan UKT dan KRS, karena hari itu hari terakhir bayar UKT dan KRS. Di depan pintu akademik, hpku berdering panggilan masuk. Suara di telepon pun masih bisa dijangkau dengan telinga sendiri. Ternyata jarak beberapa ubin dari tempatku berdiri, seorang pertugas akademik meneleponku untuk memberitahu bahwa aku dipanggil untuk menghadap kepala bagian akademik. Sebuah skenario Allah.
Di ruangan itu, kepala bagian akademik menjelaskan semua alur yang terjadi. Aku mendengarkan dengan hati yang paling luas, meskipun sebelumnya aku menyimpan benci paling dalam atas tuduhan itu. Akademik FKG mengaku sudah mendiskusikan kasus ini ke pusat, dan memang ada peraturan tidak boleh diadakan yudisium ulang. Aku tetap tidak bisa wisuda Agustus, tapi difasilitasi UKT tidak membayar dan KRS diblok untuk sementara sampai November. Allah mengendalikan hatiku untuk legowo.
Berdasarkan kumpulan data dan analisis, semua yang terjadi memang ujungnya mengarah pada 1 kesimpulan takdir: Alya wisuda November. Semua skenario unik sudah disusun Allah sejak aku sidang. Ada banyak spot yang terlibat, yang semakin menguatkan takdir itu, diantaranya:
1.    Di hari sidang, dekan kebablasan tanda tangan di kolom dekan. Padahal semestinya beliau hanya tanda tangan di kolom dosen penguji. Karena merasa sudah lengkap, aku pun tidak mengikuti alur akademik untuk dimintakan tanda tangan dekan. Akhirnya, lembar asli masih tersimpan dan yang dikumpulkan adalah salinannya. Dan itu adalah kesalahan.
2.    Pembayaran wisuda sudah bisa dilakukan sebelum yudisium. Teman yang sempat kuminta tolong untuk membayarkan wisuda, ternyata tidak membayar di pagi hari sebelum yudisium. Jika ia membayar paginya, kemungkinan akan tahu bahwa aku masuk dalam daftar tidak lulus karena berkas dianggap kurang, dan masih ada kesempatan untuk melengkapi.
3.    Akademik sudah memberikan data nilai skripsi mahasiswa di semua departemen, supaya ada klarifikasi jika memang nilai belum lengkap, bisa segera diselesaikan. Tapi departemen skripsiku tidak membalas surat itu, terutama berkenaan namaku yang nilainya belum keluar.
4.    Kepala departemen skripsi datang terlambat ketika acara yudisium sudah selesai. Sehingga tidak ada yang menyadari bahwa aku tidak tercantum dalam kelulusan.
5.    Pagi hari sebelum yudisium, kepala akademik mencariku dan hendak ditanyakan ke kepala departemen. Tapi ternyata kepala departemen terlambat. Di waktu yang sama, satu jam pembahasan yudisium sempat alot dan banyak perdebatan karena 1 mahasiswa yang terancam DO karena S1 lebih dari 5 tahun. Perdebatan yang melelahkan itu membuat namaku yang tadinya diingat orang-orang akademik, seketika terlupakan dan tidak dibahas lagi.
6.    Aku yang sedang di Turki dan tidak update info selama camp karena keterbatasan sinyal, hingga tidak sempat cek nilai skripsi di portal akademik. Padahal di grup sudah berkali-kali diminta untuk cek jika nilai belum keluar.

Teringat sebuah hadits, apa-apa yang mengenaimu tidak akan luput darimu. Dan apa-apa yang luput darimu tidak akan mengenaimu. Sangat mudah bagi Allah membuat semesta mendukung atau malah menolaknya, salah satunya lewat tangan-tangan manusia lain. Hanya sepotong kisah, yang mengajarkan sesuatu yang besar tentang kepasrahan dan percaya. Dalam konteks sekarang, kesedihan waktu itu alay sih hehe. Cuma kembalian beli micin (baca: recehan). Yaelah, cuma ditunda 3 bulan. 
Terus, kok bisa ya dalam semalam langsung berubah legowo gitu? Itulah Allah, Dia yang mengatur cerita, dan Dia yang menyelesaikan. Tugas kita hanya bermain peran. Sikap dan penerimaan, memengaruhi beratnya amal. Tentang kesalahanku, kesalahannya, dan kesalahan mereka? Hm, menyesal itu hanya untuk orang yang tidak percaya masa depan. Tapi aku masih percaya masa depan, bersamamu (halah).
Eh, tapi ternyata skenarioNya tidak selesai sampai disitu. Ada kejutan terhebat setelahnya. Postingan selanjutnya ya! (AL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar