Rupanya masih banyak yang menanyakan kabar tentang blog saya yang sudah bersarang laba-laba. “Alya sibuk apa sih?”, “Alya gak pernah nongol lagi”. Iya, sibuk koas nih, sedikit alasan hehe.
Oke, biar pada percaya bahwa koas gigi itu melelahkan hati, jiwa dan raga, sekaligus untuk berbagi cerita yang sedikit bisa dipetik hikmahnya, beberapa tulisan berikut akan bercerita seputar kehidupan koas gigi.
Koasnya anak FKG itu berbeda jauh dengan koas FK. Kalau sekilas, teman-teman FK itu based on time, kami cenderung based on patient. Jadi kalau teman-teman FK hanya mengikuti alur akademik stase A, B, C dengan seabrek tugas, diskusi, dan ujian, namun kemungkinan besar lulus bersama sesuai kalender akademik. Kami signifikan berbeda. Based on patient maksudnya apa? Jadi kalau tidak ada pasien, ya terima saja masa inhal dan lulusnya lebih lama.
Poin utamanya adalah, kami harus menyelesaikan sekian requirement sesuai stasenya. Dan untuk menyelesaikan requirement, kami harus ‘mencari’ pasien! Pahami baik-baik, ‘mencari pasien’. Jadi, kalau ada 50 requirement, ya mencari 50 gigi (pasien) yang bisa dikerjakan untuk menutup requirement. Tidak berhenti urusan mencari pasien, masih ada tahap acc ke dosen. Kalau tidak diterima dosen? Ya cari yang lain. Masih ada juga urusan diskusi, laporan, tugas, dan ujian tiap stase seperti teman-teman FK.
Kalau teman-teman FK kadang dimarahi senior atau dokter di stasenya, bagaimana dengan koas FKG? Hm, sepertinya urusan dimarahi, menjumpai dosen atau dokter yang galak, berlaku dimana saja ya. Tapi itulah bagian yang terkenang, karena karakter kita terus bertumbuh. Jika awal periode, urusan dimarahi selalu berdampak tangis di belakang atau sakit hati, semakin lama rupanya dimarahi bisa membuat tertawa di belakang. Ya, tertawa karena kekonyolan sikap kami.
Sebenarnya berbagai cerita tentang koas gigi yang unik bin menyedihkan bin mengharukan, sudah ada di buku Dentistory terbitan tahun 2010, tapi sepertinya tidak terbit ulang. Sekilas juga dibahas di buku I Am Sarahza, cerita mbak Hanum Salsabiela Rais tentang perjalanan koasnya sebelum menikah. Dramanya masih sama, hanya subjeknya berbeda.
Jadi, selamat memetik butir-butir hikmah kehidupan yang berat koas gigi.
Oke, biar pada percaya bahwa koas gigi itu melelahkan hati, jiwa dan raga, sekaligus untuk berbagi cerita yang sedikit bisa dipetik hikmahnya, beberapa tulisan berikut akan bercerita seputar kehidupan koas gigi.
Koasnya anak FKG itu berbeda jauh dengan koas FK. Kalau sekilas, teman-teman FK itu based on time, kami cenderung based on patient. Jadi kalau teman-teman FK hanya mengikuti alur akademik stase A, B, C dengan seabrek tugas, diskusi, dan ujian, namun kemungkinan besar lulus bersama sesuai kalender akademik. Kami signifikan berbeda. Based on patient maksudnya apa? Jadi kalau tidak ada pasien, ya terima saja masa inhal dan lulusnya lebih lama.
Poin utamanya adalah, kami harus menyelesaikan sekian requirement sesuai stasenya. Dan untuk menyelesaikan requirement, kami harus ‘mencari’ pasien! Pahami baik-baik, ‘mencari pasien’. Jadi, kalau ada 50 requirement, ya mencari 50 gigi (pasien) yang bisa dikerjakan untuk menutup requirement. Tidak berhenti urusan mencari pasien, masih ada tahap acc ke dosen. Kalau tidak diterima dosen? Ya cari yang lain. Masih ada juga urusan diskusi, laporan, tugas, dan ujian tiap stase seperti teman-teman FK.
Kalau teman-teman FK kadang dimarahi senior atau dokter di stasenya, bagaimana dengan koas FKG? Hm, sepertinya urusan dimarahi, menjumpai dosen atau dokter yang galak, berlaku dimana saja ya. Tapi itulah bagian yang terkenang, karena karakter kita terus bertumbuh. Jika awal periode, urusan dimarahi selalu berdampak tangis di belakang atau sakit hati, semakin lama rupanya dimarahi bisa membuat tertawa di belakang. Ya, tertawa karena kekonyolan sikap kami.
Sebenarnya berbagai cerita tentang koas gigi yang unik bin menyedihkan bin mengharukan, sudah ada di buku Dentistory terbitan tahun 2010, tapi sepertinya tidak terbit ulang. Sekilas juga dibahas di buku I Am Sarahza, cerita mbak Hanum Salsabiela Rais tentang perjalanan koasnya sebelum menikah. Dramanya masih sama, hanya subjeknya berbeda.
Jadi, selamat memetik butir-butir hikmah kehidupan yang berat koas gigi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar