Banyak teman-teman di luar FKG yang suka heran, gimana cara dapat pasien-pasiennya sampai bisa lulus? Bagi koas yang belum masuk suatu stase, mungkin bisa berdalih teoritis cara mendapatkan pasien. Tapi, bagi koas yang sudah melewati banyak stase, setelah menghembuskan napas lelah membayangkan panjangnya cerita, hanya menjawab, “Dari langit”. Tapi percayalah, itu kenyatannya. Pasien dari langit.
Oke, sebelum berbagi cerita tentang cara mendapatkan pasien, saya jelaskan dulu soal blok koas gigi. Untuk lulus, kami harus menyelesaikan 4 blok (10 bagian), masing-masing blok sekitar 85-95 hari kerja (tidak termasuk sabtu, minggu, dan tanggal merah), jadi sekitar 4 bulan. Selama periode 4 bulan, harus menyelesaikan requirement masing-masing.
1. Blok 1
- Prostodonsia (tentang gigi tiruan)
- Konservasi Gigi (tentang menambal gigi, perawatan saluran akar, mahkota jaket)
- Orthodonsia (kawat gigi)
2. Blok 2
- Bedah Mulut (cabut gigi)
- Ilmu Penyakit Mulut (tentang sariawan, benjolan di mulut, perubahan warna di mulut, tumor-kanker-kista di mulut, dan lain-lain yang berisi ratusan penyakit berbahasa latin)
- Orthodonsia (sepanjang hayat, karena perlu kontrol pasien tiap pekan)
- Radiologi (rontgen gigi dan sekitar kepala)
3. Blok 3
- Ilmu Kedokteran Gigi Anak / IKGA (semua jenis perawatan pada gigi anak: tambal, cabut, gigi tiruan, dan segudang requirementnya)
- Periodonsia (scalling)
- Orthodonsia (pokoknya sepanjang hayat hidup)
- Radiologi (rontgen gigi dan analisis bite mark, yang biasa untuk forensik melalui analisis rongga mulut)
4. Blok 4 (Nah, yang ini tidak butuh mencari pasien)
- KGM (biasa di Puskesmas, tugas-tugas survei, laporan-laporan)
- Kerumahsakitan
Teman-teman koas memanfaatkan grup media sosial untuk membagi broadcast dirinya menawarkan perawatan gigi, tambal, cabut, gigi tiruan. Jadi, memiliki grup WhatsApp dan Line, serta teman yang banyak bisa sesekali menguntungkan menjamah wilayah yang luas. Tapi, seringkali cara ini tidak efektif, meski selalu dipakai semua koas. Kelebihannya, mudah dilakukan hanya click and share. Kalau beruntung, bisa mendapat pasien baik yang serius untuk ditangani.
Masing-masing stase memiliki perjuangan pencarian pasien yang berbeda. Contohnya di bagian Prostodonsia (tentang gigi tiruan). Di blok ini, pada masa saya wajib menyelesaikan 4 kasus: 1 Gigi Tiruan Lengkap (yang literally kehilangan semua gigi atas bawah), 2 GTS/Gigi Tiruan Sebagian (minimal 3 gigi yang hilang), dan GTC/Gigi Tiruan Cekat (1 gigi hilang).
Biasanya pasien GTL yang sulit dicari, karena pasti sudah berusia lanjut untuk bisa kehilangan banyak gigi. Selain itu, pasien GTL yang paling berkorban waktu karena banyak kunjungan, belum termasuk drama-drama penolakan dari dosen ya. Jadi, pasien yang bekerja dari pagi-sore, tidak masuk kriteria. Bisa masuk kriteria, kalau dek koas bersedia mengganti gaji selama sehari karena pasiennya cuti sehari (dan ini sering). Pasien yang memiliki penyakit komplikasi juga dihindari, karena ada beberapa perawatan yang harus dijalani sebelum pembuatan gigi tiruan. Misalnya apa? Pencabutan gigi. Pasien dengan sisa akar yang banyak harus dicabut dan dibersihkan terlebih dahulu, baru boleh dibuatkan gigi tiruan. Sementara tindakan cabut gigi sangat riskan pada beberapa penyakit, seperti darah tinggi dan penyakit gula. Pasien yang tidak memiliki alat komunikasi juga dihindari, kalau tiba-tiba di tengah perawatan menghilang, dek koas harus mencari yang baru dan itu sangat merepotkan.
Saat itu, saya (blok 1) berkolaborasi dengan teman (blok 2) untuk mencari pasien gigi tiruan yang bisa dicabut. Menjelajah sekitar Pasar Beringharjo, Stasiun Tugu, Alun-Alun Jogja, sampai sepanjang jalan Malioboro. Terus gimana carinya, Al? Dilihat saja. Hahaha.
Iya, karena pada dasarnya orang yang sudah kehilangan banyak gigi, profil wajahnya berbeda. Jadi sekalinya melihat profil wajah lansia yang berbeda, kami dekati. Jika ia berjualan, kami membeli dagangannya dan mengajaknya bicara, sesekali mengamati berapa gigi yang masih tersisa. Jadi ya, hm, banyak berpura-pura mengajak bicara sambil melihat gigi yang masih tersisa, bisa dikerjakan GTS atau GTL.
Jika sudah suspect bisa dijadikan pasien setelah mengamati, kami akan to the point menyampaikan maksud sebagai dek koas. Bagian ini biasanya berdrama, berupa penolakan yang halus dan tidak halus. Ya, bukan hal yang aneh saat mendengar urusan gigi, orang akan melengos. Bisa karena insecure dengan biaya perawatan (padahal kami berencana membiayai) atau karena takut dengan urusan pergigian. Image dokter gigi yang menakutkan memang masih menjadi momok orang jaman dahulu. Ada pula penolakan karena merasa nyaman dengan kondisi sekarang, toh sudah tua, jadi tidak butuh gigi lagi.
Terus kalau dapat pasien cabut darimana? Sebagian kecil pasien cabut didapat dari broadcast yang disebar, yang ingin mencabutkan gigi dengan biaya murah. Atau kolaborasi dengan teman di blok gigi tiruan, yang perlu dicabut sebelum dibuatkan gigi tiruan. Lainnya, bisa saling oper antar teman. Tidak jauh berbeda dengan pasien tambal.
Kalau pasien anak? Nah, bagian ini juga sama rumitnya dengan gigi tiruan. Kami biasanya melakukan screening di sekolah-sekolah atau TPQ. Nah kalau sudah menemukan calon-calon pasien, masih ada drama lanjutan. Pertama, anaknya tidak mau karena takut. Kedua, orangtuanya yang tidak mengijinkan. Ketiga, dia Full Day School, sedangkan dokter-dokter jaga sebagian besar sudah pulang jam 2.
Nah, yang paling absurd nih pasien bagian Ilmu Penyakit Mulut. Kasusnya aneh-aneh yang bahkan orang-orang awam tidak sadar dengan keluhan itu, kecuali sariawan. Pasien-pasien unik yang didatangkan hanya untuk diperiksa secara umum dan penunjang, dilihat oleh dokter jaga, diberi edukasi, resep obat (jika perlu), atau dirujuk. Tidak ada perawatan. Ini hanya seni bagi kami untuk belajar mendiagnosis penyakit di rongga mulut. Kasusnya apa saja sih? Banyak! Sulit dijelaskan dengan Bahasa Indonesia dan EYD, hahaha. Orang-orang akan heran jika ada koas lulus bagian ini tanpa inhal (mengulang), artinya mereka tidak normal.
Jadi, kalau teman-teman bertanya pada kami bagaimana mencari pasien? Di atas adalah beberapa ‘cara mencari pasien’, tidak sama dengan ‘cara mendapatkan pasien’. Kalau pertanyaaannya tentang ‘cara mendapatkan pasien’, sejujurnya, bagi saya, pasien-pasien itu datangnya dari langit.
Sejak koas, saya belajar tentang hakekat rejeki. Tugas kita bukan untuk menemukan rejeki, tapi cukup ikhtiar dan berdoa. Seringkali saya berjalan jauh ke Godean mencari pasien, atau memasuki sekat-sekat pasar untuk menawarkan perawatan, tapi ternyata pasien itu adalah teman dekat sendiri, atau tetangga teman, atau tiba-tiba datang dari arah yang sangat dekat. Apakah lantas saya menyesal telah berjalan jauh dan membuang-buang waktu mencari? Itu yang Allah mau. Berusaha dulu, itu tugas saya! Urusan dapatnya dimana, itu tugas Allah.
Mungkin urusan jodoh juga begitu. ‘Mungkin’, saya kan belum mencarinya, hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar