Hal umum yang masih kami lakukan untuk mencari pasien, adalah melalui akun sosial media. Kalau beruntung, biasanya datang pasien-pasien yang bisa menutup requirement. Tapi, kalau sedang tidak beruntung, datanglah pasien yang hanya konsultasi gratis tapi tidak mau dirawat (ini sering buang-buang waktu), atau pasien yang mau dirawat tapi MODUS. Koas-koas gigi sering sekali mendapat pasien yang bukan hanya memeras uang, tapi juga hati.
Kalau hanya sekadar membiayai biaya perawatan, itu sering sekali kami lakukan. Padahal, kami mahasiswa, masih membayar UKT kampus, masih harus membayar biaya perawatan pasien ‘demi’ mereka mau menjadi pasien, tapi tidak menyangka ada yang masih tega memeras.
Baiklah, untuk ringkasnya, berikut beberapa tipikal pasien:
1. Pasien dari langit
Biasanya pasien-pasien jenis ini, sengaja datang ke koas memang berniat untuk membantu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang bersimpati dengan dek koas gigi, atau pernah mengalami kisah hidup yang sama ketika membutuhkan oranglain untuk subjek penelitian, atau memang orang yang benar-benar hobi menolong. Bukan hanya itu, kadang mereka memberi ‘sesuatu’ ke koas. Saya sering menemui pasien seperti ini. Pasien Gigi Tiruan Lengkap (GTL) saya misal, beliau seorang non muslim, tapi sangat toleransi pada saya. Perawatan giginya saya yang biayai, karena beliau memang kurang mampu dan saya membutuhkan. Tapi setiap kali saya berkunjung ke rumahnya, selalu dibawakan seplastik besar makanan yang cukup untuk teman-teman asrama, dan dijamin halal oleh beliau. Di akhir perawatan, beliau juga membelikan saya banyak makanan khas Jogja dan 2 baju.
Ada juga pasien GTS yang lain, mampu iuran biaya 50% dengan saya, tapi sering banget memberi snack untuk sarapan. Ada juga seorang ibu 51 tahun, pasien cabut, yang selalu menanyakan saya butuh pasien apa. Sekalinya saya menyebutkan, beliau mengajak saya keliling kampung dan mencari pasien (benar-benar ibu sosialita) haha.
2. Pasien PHP
Kalau pasien langit banyak, ini juga banyak. PHP berupa waktu, datang sangat terlambat misalnya. Kami dek koas juga harus berjuang menunggu dosen yang seringkali memiliki kekuatan ninja dan berpindah tempat sangat cepat. Telat datang masih lumayan, ada juga yang tidak jadi datang. Dek koas dengan segudang requirement, harus menyusun jadwal setiap hari untuk mengerjakan pasien, diskusi dosen, berburu tanda tangan dosen (karena setiap pekerjaan harus ada tanda tangan dosen), journal reading, sampai pekerjaan teknisi lainnya. Jadi, kalau ada pasien cancel, hancurlah niat hati untuk produktif.
Contoh lainnya, bukan hanya cancel hari, tapi tidak jadi mau dirawat. Saya pernah menangisi pasien jenis ini wkwk. Di Bagian Bedah Mulut, ada 2 pekerjaan akhir, pencabutan tidak biasa, sebut saja odontektomi, biasanya untuk kasus pencabutan yang harus membuka gusi dengan pisau bedah, membuka tulang, lalu penjahitan (suturing). Nah beliau ini pasien terakhir saya, yang sudah diindikasikan 2 pekan sebelumnya ke dosen. Saya pun selama 2 pekan hanya menunggu dosen untuk maju diskusi laporan dan revisi. Hingga hari H pencabutan, 2 hari sebelum pindah blok, pasien itu baru memberi kabar di jam eksekusi tidak bisa datang. Jadi, menangislah saya karena harus INHAL.
Ada pula dek koas lain, yang ditinggal pasien di tengah perawatan. Biasanya pasien ortho (kawat gigi). Kasus ini membutuhkan banyak kunjungan, minimal kontrol 15-20 kali. Ada yang sudah diindikasikan, kemudian berminggu-minggu dek koas membuat laporan, diskusi dengan dosen, membuat alat. Saat alat sudah siap insersi (pemasangan), eh dek koas diblokir sama pasien, atau tidak diread, atau ditinggal kerja di luar kota. Padahal sudah mengeluarkan waktu dan uang untuk membuat alatnya woi.
Ada juga kisah seorang teman, berdrama dengan pasien anak. Di IKGA (Ilmu Kesehatan Gigi Anak), ada requirement kawat space maintainer. Jadi gigi susu yang tanggal duluan sebelum gigi dewasa tumbuh (masa tumbuhnya masih lama), perlu dibuatkan alat ini supaya ruangan tumbuh gigi dewasa tidak menyempit dan membuat gigi dewasa berjejal/maju mundur. Diskusi oke, alatnya sudah dipakai, sudah kontrol sekali, dan butuh satu kali kontrol terakhir. Bocil ini ngambek, tidak mau lagi dibawa, sampai sekampung sudah membujuknya karena menentukan nasib dek koas lulus dan tidaknya. Dia menangis, membuang alatnya, dan tidak ada yang berhasil membujuknya. Duh bocil, ada yang lebih pedih dari tangis penolakanmu, tangisannya dek koas di kamar, membayangkan harus mengulang mencari pasien, diskusi, membuat alat, kontrol.
Dan, drama-drama serupa...
3. Pasien modus
“Kalau buat makan yang manis-manis, sakit sih. Tapi kalau buat liat yang manis, enggak kok, sekarang”. Duh mas, kalau saya tidak sedang berjas putih, sudah tak lempar sepatu. Tapi kok saya butuh pasien cabut gigi, susah e dapatnya.
“Mau scalling, tapi operatornya perempuan ya,” kata laki-laki itu pada petugas pendaftaran. Spontan kulepas jas, nggak jadi mau scalling, masih banyak pasien lain.
”Wah, saya sangat berterimakasih sudah dicabut sisa akarnya. Sebagai ucapan terimakasih, mau nggak makan malam dengan saya?”. Merah padamlah nih muka. Cabut gigi minta dibayarin, akhirnya saya bersedia, karena beliau pasien cabut pertama saya (yang mungkin benar-benar percobaan karena di awal cabut saya masih insecure), eh pasca cabut mau traktir makan. Piye tho? Saya langsung memblokirnya, dengan sangat menyesal kenapa tadi pas cabut giginya saya sangat hati-hati, tidak ada jiwa psikopat yang sering muncul haha.
Atau yang paling berkesan (LOL), ada seorang pasien teman koas lain, pasien scalling. Padahal di RSGM, kami juga tidak bertemu. Rupanya dia datang scalling sekaligus untuk menyampaikan proposal melalui teman, untuk saya. Huft, ini bisa dibilang modus nggak ya?
4. Pasien pemeras
Namanya FM, dia seperti biasa membagi penawaran perawatan di grup media sosial. Suatu ketika ada balasan dari seorang pasien yang menantang, “Mbak berani membayar saya berapa untuk merawat gigi saya?”, dan berbagai macam kalimat pemerasan yang lain.
5. Pasien sok pintar
Kalau yang ini banyak, saya pernah menjumpai 1. Tapi contoh kasus teman saya, dengan pasien Odontektomi. Biasanya 7 hari pasca Odontektomi, harus kontrol untuk lepas jahitan. Nah, pasien teman ini, setiap hari selalu meneror dengan keluhan, padahal dia bukan anak kesehatan.
“Mbak, kemarin bekas cabutnya sakit karena dry socket, terus saya ke Puskesmas.”
Hari lain, ”Mbaak, ini kok kayaknya saya abses periodontal ya, soalnya bengkak.”
Hari lain, “Mbak, kita harus bertemu, soalnya jahitannya bla bla bla.”
Nah, kalau pasien saya ini, pasien cabut, seorang anak S2 tanpa background kesehatan. Cuma mau cabut satu gigi, butuh 3 kali bertemu dengan saya untuk konsultasi dan menumbuhkan kepercayaan katanya. Dan ketika bertemu dengannya, saya merasa sedang diskusi dengan dosen, ditanya teoritis nan absurd, dan pertanyaannya selalu berkembang.
“Langkah-langkah pencabutan apa saja? Nama alat-alatnya apa saja? Alternatif lain selain cabut, dan kelebihan kekurangan masing-masing perawatan? Bahan anestesi yang digunakan, perbandingan kompisisinya? Efek anestesi dengan sistem saraf? Ligamen periodontal gigi? Langkah sterilisasi alat di sini? Kok gigi saya yang lubang bawah kiri, tapi seluruh gigi atas juga sakit ya?”
Astaga, 3 kali bertemu hanya untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatirannya. Gimana cerita, yang lubang bawah, tapi yang atas juga sakit. Sudah saya periksa klinis dan penunjang rontgen, tidak ada apa-apa. Pengen banget rasanya tak tulis surat rujukan ke psikiater. Ketika saya sudah jenuh, mumpung giginya belum bengkak, saya sarankan segera dicabut, katanya belum siap. Ketika benar-benar jenuh dan masih ada sisi manusiawi, saya sarankan ke operator lain, residen, dokter, atau ke klinik sebelum beneran sakit, katanya sudah percaya dengan saya. Hingga tiba masanya, kuberdoa supaya giginya sakit biar segera dicabut. Beberapa hari kemudian dia datang dengan pipi bengkak dan tidak bisa makan, hahaha. Sedikit merasa berdosa sih, tapi tetap masih mau konsultasi. Huft huft, keputusan akhir, kublokir deh, biarlah ke dokter saja, biar tahu biaya konsultasi dokter itu mahal, tapi dirinya sudah membuang-buang waktuku secara gratis.
6. Pasien ladang
Ada juga seorang ibu 51 tahun, teman pasien GTL, saat itu menghubungi saya untuk dicabut giginya karena mau dibuatkan GTL juga. Alhasil, karena beliau ini, poin requirement cabut saya langsung tertutup 1,5 bulan sebelum pindah blok.
Ada pula pasien anak 6 tahun, sangat penurut dan keluarganya baik hati. Ada semua requirement, tambal gigi, cabut gigi, sampai kasus langka mahkota jaket. Sayang sekali dengan bocah ini.
7. Pasien curhat
Ini biasanya ibu-ibu. Cerita ngalor-ngidul tentang rumah tangganya, ngerumpi tetangga-tetangganya, bisnisnya, atau pamer kekayaan, duh nggak kuat saya kalau bertemu ibu-ibu ini. Takut dosa, ghibahin orang. Biasanya mereka mereka bercerita masalah bukan untuk meminta solusi, tapi hanya untuk meminta didengar.
Nah, itu dia sekilas tentang tipe-tipe pasien koas gigi. Nanti jika ada tambahan tipe lain yang saya temukan, akan saya tuliskan di sini juga. Tipe pasien yang berujung jodoh misalnya, seperti Rangga ke Hanum, hehehe, ini bercanda. Nanti ada judul FTV, Pasien Cabut Gigi Jadi Suamiku, Temannya Pasien Ternyata Jodohku, Pasien Teman yang Mengantar Proposal. (AL)