Label

Minggu, 18 November 2018

Selayang Pandang


 Assalamu'alaikum...
Haii, namaku Alya Nur Fadhilah (kalian taulah dari judul blog ini, hehehe). Aku asli Solo, lahir 22 April 1996 lalu.   Saat ini, sedang mengejar ilmu di Fakultas Kedokteran Gigi UGM dan berjuang bersama teman-teman di Rumah Qur'an Jogja (RQJ). Doakan ya profesi dan ilmu itu kelak bermanfaat dan membawa kebaikan. Aamiin.
Segala kata yang tertulis dalam blog ini, besar harapanku bisa menginspirasi kalian. Aku sedang belajar membuat karya yang bukan sekadar menghibur atau curahan hati manusia yang lemah ini. Sebab dengan menulis, aku bisa menyapa kalian yang jauh, memberi tanpa kenal pamrih, dan berbagi tak terbatas pada siapa kalian. Jika ada sesuatu yang positif, silakan dicerna. Bila negatif, mohon maafkan segala kenaifan. Bacalah dengan hati, sebab ilmu adalah nur (cahaya) dan masuk melalui hati yang bersih. Sesungguhnya ilmu ini hanya milik Allah.
Segala kesamaan nama, tokoh, dan tempat, bukan merupakan unsur kesengajaan (kecuali memang kisah nyata dan persetujuan pihak). Boleh lho dikomentari. Semoga menginspirasi. Aaamiin. ^_^
     

Contact
fb : Alya Nur Fadhilah
email: alyanur.azfh@gmail.com
Instagram :alya.n.fadhilah
Line ID : alyanur.azfh

Sabtu, 17 November 2018

Basa-Basi yang Basi

Ada suatu masa, ketika kita tidak ingin bertemu dengan siapapun. Padahal kami sudah jarang bertemu atau saling sapa. Rupanya menyambung silaturahim itu sulit. Bukan perkara meluangkan waktu, tapi lebih kepada meluaskan hati. 

Pada setiap perjumpaan kawan lama, pasti ada kalimat basa-basi untuk membuka percakapan. Tidak semua kalimat basa-basi itu dianggap candaan bagi pendengar, sungguh tidak semua. Tidak semua kalimat, ”Mana nih undangan nikahnya?”, “Wah, sudah lulus belum, Bro?”, “Wah, makmur nih di perusahaan X”. Sudah lama tak berjumpa, sudah sejauh apa kita memahami kehidupannya, hingga berhak menghakimi dengan pertanyaan pribadi?

Suatu hari ketika saya pergi ke pasar dengan ummi, seorang pedagang yang kami kenal, ramai berbasa-basi denganku. “Wah, bu Dokter, sekarang sudah belanjain umminya, uangnya sudah banyak”. Entah kenapa aku sesangsi itu. Pada kondisi ketika sedang berjuang di koas, dan orangtuaku berkorban untuk biaya yang tidak sedikit, itu menyinggungku (dan mungkin ummiku juga). Mungkin ummi pernah iri dengan teman-temannya, ketika anak-anak mereka sudah mapan bekerja dan sepantasnya membelanjakan orangtua, sedangkan aku.... 

Ah, kukira saat itu aku sedang PMS dan moody, tapi ternyata kejadian yang lain juga terjadi. Ummi menegurku ketika di Solo, aku enggan berkunjung ke rumah sebelah, teman kecilku dulu. Iya, hatiku sedang sempit mungkin. Karena waktu sebelumnya, aku lelah berdalih saat temanku itu berkali-kali menanyakan tentang pernikahan. Dan aku sedang malas berdalih atau mencandai sesuatu tentang itu.

Ada pula orang-orang yang mencandaiku dengan standar sahabat-sahabatku yang sudah menikah. 
“Al, kapan nyusul temenmu itu?”
“Ciye, temen-temennya sudah pada sold out nih”
“Sendiri aja Al, temennya sudah digandeng orang ya?”

Duh, memang ya hati manusia, kalau lagi baik, aku bahagia membalas, 
“ASAP (As soon as possible), tunggu undanganku yak!”
“Iya nih, aku mahal e, makanya belum sold out”. 

Tapi, sungguh terkadang ada waktu dimana aku melengos kesal, atau menjawab jutek, “Emangnya temenku cuma itu?”
“Iya, kan mobil sport yang keren itu, bukan truk gandeng yang bikin sesak jalan.”
Bahkan kami sebahagia ini tanpa standar hidup yang kalian atur hehe

Suatu hari, aku juga pernah memergoki ekspresi sahabatku. Dia sahabatku yang sudah menikah, tapi dirinya masih koas. Meskipun suaminya sudah mapan, tapi mereka harus hidup sangat berhemat untuk biaya kuliah koasnya dan persiapan sekolah spesialis suaminya. Tentu saja itu bukan hal mudah bagi dokter fresh graduate (suaminya). Suatu ketika jas koas sahabatku tertumpah jus, lalu ia repot membersihkan. 

Seorang teman lain sedang berlalu, sambil berkata, ”Yah ngapain susah-susah dicuci. Minta masmu, belikan lagi.”

Sahabatku itu, kukenal sebagai orang yang tidak pernah ambil pusing dengan perkataan orang. Dia diam, sambil tersenyum. Entah kenapa, aku merasa, begitulah juga ekspresiku ketika sesuatu hal yang tidak enak didengar itu, harus tetap ditanggapi dengan ramah. Pasti dalam hatinya berkata, “Emang semudah itu masku mencari uang?”

Berhentilah membuat standar hidup secara umum. Bahwa seharusnya kuliah 4 tahun saja, usia sekian harus sudah menikah, selepas lulus harus langsung bekerja. Kita tidak berhak, sungguh tidak berhak menghakimi kehidupan oranglain. Niat hati untuk bercanda, tapi bagi oranglain, itu sesuatu yang sangat berarti baginya. 

Pada setiap basa-basimu soal kelulusan, rupanya ia sungguh-sungguh berjuang untuk penelitian yang harus diulang, atau judul yang masih terus direvisi. Pada setiap ejekanmu soal pernikahan, rupanya itu memang pilihan hidupnya untuk berbahagia dalam kesendirian dan membaktikan diri untuk orangtua. Pada setiap candamu soal jumlah anak, rupanya ia sedang berjuang dengan lemahnya rahim yang membuat berkali-kali mengais air mata setiap pengkuretan dan keguguran. Dalam keramahanmu menanyakan pekerjaan bergengsinya, rupanya ia sedang lelah dengan pimpinannya dan perang batin untuk pindah perusahaan. 

Lalu, basa-basi apa yang pantas untuk diucapkan? Sulitkah kau mengganti kalimat tanya, dengan pujian atau ungkapan hati?

“Wah, tambah cantik saja nih!”
“Halo, kangen banget makan bareng kamu kayak dulu.”
“Ayo kita futsal lagi!”

Pada setiap basa-basimu melalui kalimat tanya, yakinkah itu murni sebuah pertanyaan? Atau memang hanya berniat memojokkan? Atau hanya untuk kepo, untuk memuaskan dan menciutkan diri sendiri jika mendengar jawaban kejujuran? Atau memang sungguh peduli dan ingin membantu? Pilihlah kalimat yang tidak basi :D (AL)

Jumat, 16 November 2018

Gimana Cara Dapat Pasien? Part 2. Tipikal Pasien

Hal umum yang masih kami lakukan untuk mencari pasien, adalah melalui akun sosial media. Kalau beruntung, biasanya datang pasien-pasien yang bisa menutup requirement. Tapi, kalau sedang tidak beruntung, datanglah pasien yang hanya konsultasi gratis tapi tidak mau dirawat (ini sering buang-buang waktu), atau pasien yang mau dirawat tapi MODUS. Koas-koas gigi sering sekali mendapat pasien yang bukan hanya memeras uang, tapi juga hati. 

Kalau hanya sekadar membiayai biaya perawatan, itu sering sekali kami lakukan. Padahal, kami mahasiswa, masih membayar UKT kampus, masih harus membayar biaya perawatan pasien ‘demi’ mereka mau menjadi pasien, tapi tidak menyangka ada yang masih tega memeras.

Baiklah, untuk ringkasnya, berikut beberapa tipikal pasien:
1. Pasien dari langit
Biasanya pasien-pasien jenis ini, sengaja datang ke koas memang berniat untuk membantu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang bersimpati dengan dek koas gigi, atau pernah mengalami kisah hidup yang sama ketika membutuhkan oranglain untuk subjek penelitian, atau memang orang yang benar-benar hobi menolong. Bukan hanya itu, kadang mereka memberi ‘sesuatu’ ke koas. Saya sering menemui pasien seperti ini. Pasien Gigi Tiruan Lengkap (GTL) saya misal, beliau seorang non muslim, tapi sangat toleransi pada saya. Perawatan giginya saya yang biayai, karena beliau memang kurang mampu dan saya membutuhkan. Tapi setiap kali saya berkunjung ke rumahnya, selalu dibawakan seplastik besar makanan yang cukup untuk teman-teman asrama, dan dijamin halal oleh beliau. Di akhir perawatan, beliau juga membelikan saya banyak makanan khas Jogja dan 2 baju. 

Ada juga pasien GTS yang lain, mampu iuran biaya 50% dengan saya, tapi sering banget memberi snack untuk sarapan. Ada juga seorang ibu 51 tahun, pasien cabut, yang selalu menanyakan saya butuh pasien apa. Sekalinya saya menyebutkan, beliau mengajak saya keliling kampung dan mencari pasien (benar-benar ibu sosialita) haha.

2. Pasien PHP
Kalau pasien langit banyak, ini juga banyak. PHP berupa waktu, datang sangat terlambat misalnya. Kami dek koas juga harus berjuang menunggu dosen yang seringkali memiliki kekuatan ninja dan berpindah tempat sangat cepat. Telat datang masih lumayan, ada juga yang tidak jadi datang. Dek koas dengan segudang requirement, harus menyusun jadwal setiap hari untuk mengerjakan pasien, diskusi dosen, berburu tanda tangan dosen (karena setiap pekerjaan harus ada tanda tangan dosen), journal reading, sampai pekerjaan teknisi lainnya. Jadi, kalau ada pasien cancel, hancurlah niat hati untuk produktif.

Contoh lainnya, bukan hanya cancel hari, tapi tidak jadi mau dirawat. Saya pernah menangisi pasien jenis ini wkwk. Di Bagian Bedah Mulut, ada 2 pekerjaan akhir, pencabutan tidak biasa, sebut saja odontektomi, biasanya untuk kasus pencabutan yang harus membuka gusi dengan pisau bedah, membuka tulang, lalu penjahitan (suturing). Nah beliau ini pasien terakhir saya, yang sudah diindikasikan 2 pekan sebelumnya ke dosen. Saya pun selama 2 pekan hanya menunggu dosen untuk maju diskusi laporan dan revisi. Hingga hari H pencabutan, 2 hari sebelum pindah blok, pasien itu baru memberi kabar di jam eksekusi tidak bisa datang. Jadi, menangislah saya karena harus INHAL.

Ada pula dek koas lain, yang ditinggal pasien di tengah perawatan. Biasanya pasien ortho (kawat gigi). Kasus ini membutuhkan banyak kunjungan, minimal kontrol 15-20 kali. Ada yang sudah diindikasikan, kemudian berminggu-minggu dek koas membuat laporan, diskusi dengan dosen, membuat alat. Saat alat sudah siap insersi (pemasangan), eh dek koas diblokir sama pasien, atau tidak diread, atau ditinggal kerja di luar kota. Padahal sudah mengeluarkan waktu dan uang untuk membuat alatnya woi. 

Ada juga kisah seorang teman, berdrama dengan pasien anak. Di IKGA (Ilmu Kesehatan Gigi Anak), ada requirement kawat space maintainer. Jadi gigi susu yang tanggal duluan sebelum gigi dewasa tumbuh (masa tumbuhnya masih lama), perlu dibuatkan alat ini supaya ruangan tumbuh gigi dewasa tidak menyempit dan membuat gigi dewasa berjejal/maju mundur. Diskusi oke, alatnya sudah dipakai, sudah kontrol sekali, dan butuh satu kali kontrol terakhir. Bocil ini ngambek, tidak mau lagi dibawa, sampai sekampung sudah membujuknya karena menentukan nasib dek koas lulus dan tidaknya. Dia menangis, membuang alatnya, dan tidak ada yang berhasil membujuknya. Duh bocil, ada yang lebih pedih dari tangis penolakanmu, tangisannya dek koas di kamar, membayangkan harus mengulang mencari pasien, diskusi, membuat alat, kontrol. 
Dan, drama-drama serupa...

3. Pasien modus
“Kalau buat makan yang manis-manis, sakit sih. Tapi kalau buat liat yang manis, enggak kok, sekarang”. Duh mas, kalau saya tidak sedang berjas putih, sudah tak lempar sepatu. Tapi kok saya butuh pasien cabut gigi, susah e dapatnya. 
“Mau scalling, tapi operatornya perempuan ya,” kata laki-laki itu pada petugas pendaftaran. Spontan kulepas jas, nggak jadi mau scalling, masih banyak pasien lain.

”Wah, saya sangat berterimakasih sudah dicabut sisa akarnya. Sebagai ucapan terimakasih, mau nggak makan malam dengan saya?”. Merah padamlah nih muka. Cabut gigi minta dibayarin, akhirnya saya bersedia, karena beliau pasien cabut pertama saya (yang mungkin benar-benar percobaan karena di awal cabut saya masih insecure), eh pasca cabut mau traktir makan. Piye tho? Saya langsung memblokirnya, dengan sangat menyesal kenapa tadi pas cabut giginya saya sangat hati-hati, tidak ada jiwa psikopat yang sering muncul haha. 

Atau yang paling berkesan (LOL), ada seorang pasien teman koas lain, pasien scalling. Padahal di RSGM, kami juga tidak bertemu. Rupanya dia datang scalling sekaligus untuk menyampaikan proposal melalui teman, untuk saya. Huft, ini bisa dibilang modus nggak ya?

4. Pasien pemeras
Namanya FM, dia seperti biasa membagi penawaran perawatan di grup media sosial. Suatu ketika ada balasan dari seorang pasien yang menantang, “Mbak berani membayar saya berapa untuk merawat gigi saya?”, dan berbagai macam kalimat pemerasan yang lain.

5. Pasien sok pintar
Kalau yang ini banyak, saya pernah menjumpai 1. Tapi contoh kasus teman saya, dengan pasien Odontektomi. Biasanya 7 hari pasca Odontektomi, harus kontrol untuk lepas jahitan. Nah, pasien teman ini, setiap hari selalu meneror dengan keluhan, padahal dia bukan anak kesehatan.

“Mbak, kemarin bekas cabutnya sakit karena dry socket, terus saya ke Puskesmas.”
Hari lain, ”Mbaak, ini kok kayaknya saya abses periodontal ya, soalnya bengkak.”
Hari lain, “Mbak, kita harus bertemu, soalnya jahitannya bla bla bla.”

Nah, kalau pasien saya ini, pasien cabut, seorang anak S2 tanpa background kesehatan. Cuma mau cabut satu gigi, butuh 3 kali bertemu dengan saya untuk konsultasi dan menumbuhkan kepercayaan katanya. Dan ketika bertemu dengannya, saya merasa sedang diskusi dengan dosen, ditanya teoritis nan absurd, dan pertanyaannya selalu berkembang.

“Langkah-langkah pencabutan apa saja? Nama alat-alatnya apa saja? Alternatif lain selain cabut, dan kelebihan kekurangan masing-masing perawatan? Bahan anestesi yang digunakan, perbandingan kompisisinya? Efek anestesi dengan sistem saraf? Ligamen periodontal gigi? Langkah sterilisasi alat di sini? Kok gigi saya yang lubang bawah kiri, tapi seluruh gigi atas juga sakit ya?”

Astaga, 3 kali bertemu hanya untuk menjawab pertanyaan dan kekhawatirannya. Gimana cerita, yang lubang bawah, tapi yang atas juga sakit. Sudah saya periksa klinis dan penunjang rontgen, tidak ada apa-apa. Pengen banget rasanya tak tulis surat rujukan ke psikiater. Ketika saya sudah jenuh, mumpung giginya belum bengkak, saya sarankan segera dicabut, katanya belum siap. Ketika benar-benar jenuh dan masih ada sisi manusiawi, saya sarankan ke operator lain, residen, dokter, atau ke klinik sebelum beneran sakit, katanya sudah percaya dengan saya. Hingga tiba masanya, kuberdoa supaya giginya sakit biar segera dicabut. Beberapa hari kemudian dia datang dengan pipi bengkak dan tidak bisa makan, hahaha. Sedikit merasa berdosa sih, tapi tetap masih mau konsultasi. Huft huft, keputusan akhir, kublokir deh, biarlah ke dokter saja, biar tahu biaya konsultasi dokter itu mahal, tapi dirinya sudah membuang-buang waktuku secara gratis. 

6. Pasien ladang
Ada juga seorang ibu 51 tahun, teman pasien GTL, saat itu menghubungi saya untuk dicabut giginya karena mau dibuatkan GTL juga. Alhasil, karena beliau ini, poin requirement cabut saya langsung tertutup 1,5 bulan sebelum pindah blok.

Ada pula pasien anak 6 tahun, sangat penurut dan keluarganya baik hati. Ada semua requirement, tambal gigi, cabut gigi, sampai kasus langka mahkota jaket. Sayang sekali dengan bocah ini. 

7. Pasien curhat 
Ini biasanya ibu-ibu. Cerita ngalor-ngidul tentang rumah tangganya, ngerumpi tetangga-tetangganya, bisnisnya, atau pamer kekayaan, duh nggak kuat saya kalau bertemu ibu-ibu ini. Takut dosa, ghibahin orang. Biasanya mereka mereka bercerita masalah bukan untuk meminta solusi, tapi hanya untuk meminta didengar. 

Nah, itu dia sekilas tentang tipe-tipe pasien koas gigi. Nanti jika ada tambahan tipe lain yang saya temukan, akan saya tuliskan di sini juga. Tipe pasien yang berujung jodoh misalnya, seperti Rangga ke Hanum, hehehe, ini bercanda. Nanti ada judul FTV, Pasien Cabut Gigi Jadi Suamiku, Temannya Pasien Ternyata Jodohku, Pasien Teman yang Mengantar Proposal. (AL)

Gimana Cara Dapat Pasien? Part 1. Pasien Dari Langit

Banyak teman-teman di luar FKG yang suka heran, gimana cara dapat pasien-pasiennya sampai bisa lulus? Bagi koas yang belum masuk suatu stase, mungkin bisa berdalih teoritis cara mendapatkan pasien. Tapi, bagi koas yang sudah melewati banyak stase, setelah menghembuskan napas lelah membayangkan panjangnya cerita, hanya menjawab, “Dari langit”. Tapi percayalah, itu kenyatannya. Pasien dari langit.

Oke, sebelum berbagi cerita tentang cara mendapatkan pasien, saya jelaskan dulu soal blok koas gigi. Untuk lulus, kami harus menyelesaikan 4 blok (10 bagian), masing-masing blok sekitar 85-95 hari kerja (tidak termasuk sabtu, minggu, dan tanggal merah), jadi sekitar 4 bulan. Selama periode 4 bulan, harus menyelesaikan requirement masing-masing.

1. Blok 1 
- Prostodonsia (tentang gigi tiruan)
- Konservasi Gigi (tentang menambal gigi, perawatan saluran akar, mahkota jaket)
- Orthodonsia (kawat gigi)
2. Blok 2
- Bedah Mulut (cabut gigi)
- Ilmu Penyakit Mulut (tentang sariawan, benjolan di mulut, perubahan warna di mulut, tumor-kanker-kista di mulut, dan lain-lain yang berisi ratusan penyakit berbahasa latin)
- Orthodonsia (sepanjang hayat, karena perlu kontrol pasien tiap pekan)
- Radiologi (rontgen gigi dan sekitar kepala)
3. Blok 3
- Ilmu Kedokteran Gigi Anak / IKGA (semua jenis perawatan pada gigi anak: tambal, cabut, gigi tiruan, dan segudang requirementnya)
- Periodonsia (scalling)
- Orthodonsia (pokoknya sepanjang hayat hidup)
- Radiologi (rontgen gigi dan analisis bite mark, yang biasa untuk forensik melalui analisis rongga mulut)
4. Blok 4 (Nah, yang ini tidak butuh mencari pasien)
- KGM (biasa di Puskesmas, tugas-tugas survei, laporan-laporan)
- Kerumahsakitan

Teman-teman koas memanfaatkan grup media sosial untuk membagi broadcast dirinya menawarkan perawatan gigi, tambal, cabut, gigi tiruan. Jadi, memiliki grup WhatsApp dan Line, serta teman yang banyak bisa sesekali menguntungkan menjamah wilayah yang luas. Tapi, seringkali cara ini tidak efektif, meski selalu dipakai semua koas. Kelebihannya, mudah dilakukan hanya click and share. Kalau beruntung, bisa mendapat pasien baik yang serius untuk ditangani. 

Masing-masing stase memiliki perjuangan pencarian pasien yang berbeda. Contohnya di bagian Prostodonsia (tentang gigi tiruan). Di blok ini, pada masa saya wajib menyelesaikan 4 kasus: 1 Gigi Tiruan Lengkap (yang literally kehilangan semua gigi atas bawah), 2 GTS/Gigi Tiruan Sebagian (minimal 3 gigi yang hilang), dan GTC/Gigi Tiruan Cekat (1 gigi hilang). 

Biasanya pasien GTL yang sulit dicari, karena pasti sudah berusia lanjut untuk bisa kehilangan banyak gigi. Selain itu, pasien GTL yang paling berkorban waktu karena banyak kunjungan, belum termasuk drama-drama penolakan dari dosen ya. Jadi, pasien yang bekerja dari pagi-sore, tidak masuk kriteria. Bisa masuk kriteria, kalau dek koas bersedia mengganti gaji selama sehari karena pasiennya cuti sehari (dan ini sering). Pasien yang memiliki penyakit komplikasi juga dihindari, karena ada beberapa perawatan yang harus dijalani sebelum pembuatan gigi tiruan. Misalnya apa? Pencabutan gigi. Pasien dengan sisa akar yang banyak harus dicabut dan dibersihkan terlebih dahulu, baru boleh dibuatkan gigi tiruan. Sementara tindakan cabut gigi sangat riskan pada beberapa penyakit, seperti darah tinggi dan penyakit gula. Pasien yang tidak memiliki alat komunikasi juga dihindari, kalau tiba-tiba di tengah perawatan menghilang, dek koas harus mencari yang baru dan itu sangat merepotkan.

Saat itu, saya (blok 1) berkolaborasi dengan teman (blok 2) untuk mencari pasien gigi tiruan yang bisa dicabut. Menjelajah sekitar Pasar Beringharjo, Stasiun Tugu, Alun-Alun Jogja, sampai sepanjang jalan Malioboro. Terus gimana carinya, Al? Dilihat saja. Hahaha.

Iya, karena pada dasarnya orang yang sudah kehilangan banyak gigi, profil wajahnya berbeda. Jadi sekalinya melihat profil wajah lansia yang berbeda, kami dekati. Jika ia berjualan, kami membeli dagangannya dan mengajaknya bicara, sesekali mengamati berapa gigi yang masih tersisa. Jadi ya, hm, banyak berpura-pura mengajak bicara sambil melihat gigi yang masih tersisa, bisa dikerjakan GTS atau GTL. 

Jika sudah suspect bisa dijadikan pasien setelah mengamati, kami akan to the point menyampaikan maksud sebagai dek koas. Bagian ini biasanya berdrama, berupa penolakan yang halus dan tidak halus. Ya, bukan hal yang aneh saat mendengar urusan gigi, orang akan melengos. Bisa karena insecure dengan biaya perawatan (padahal kami berencana membiayai) atau karena takut dengan urusan pergigian. Image dokter gigi yang menakutkan memang masih menjadi momok orang jaman dahulu. Ada pula penolakan karena merasa nyaman dengan kondisi sekarang, toh sudah tua, jadi tidak butuh gigi lagi. 

Terus kalau dapat pasien cabut darimana? Sebagian kecil pasien cabut didapat dari broadcast yang disebar, yang ingin mencabutkan gigi dengan biaya murah. Atau kolaborasi dengan teman di blok gigi tiruan, yang perlu dicabut sebelum dibuatkan gigi tiruan. Lainnya, bisa saling oper antar teman. Tidak jauh berbeda dengan pasien tambal.

Kalau pasien anak? Nah, bagian ini juga sama rumitnya dengan gigi tiruan. Kami biasanya melakukan screening di sekolah-sekolah atau TPQ. Nah kalau sudah menemukan calon-calon pasien, masih ada drama lanjutan. Pertama, anaknya tidak mau karena takut. Kedua, orangtuanya yang tidak mengijinkan. Ketiga, dia Full Day School, sedangkan dokter-dokter jaga sebagian besar sudah pulang jam 2. 

Nah, yang paling absurd nih pasien bagian Ilmu Penyakit Mulut. Kasusnya aneh-aneh yang bahkan orang-orang awam tidak sadar dengan keluhan itu, kecuali sariawan. Pasien-pasien unik yang didatangkan hanya untuk diperiksa secara umum dan penunjang, dilihat oleh dokter jaga, diberi edukasi, resep obat (jika perlu), atau dirujuk. Tidak ada perawatan. Ini hanya seni bagi kami untuk belajar mendiagnosis penyakit di rongga mulut. Kasusnya apa saja sih? Banyak! Sulit dijelaskan dengan Bahasa Indonesia dan EYD, hahaha. Orang-orang akan heran jika ada koas lulus bagian ini tanpa inhal (mengulang), artinya mereka tidak normal. 

Jadi, kalau teman-teman bertanya pada kami bagaimana mencari pasien? Di atas adalah beberapa ‘cara mencari pasien’, tidak sama dengan ‘cara mendapatkan pasien’. Kalau pertanyaaannya tentang ‘cara mendapatkan pasien’, sejujurnya, bagi saya, pasien-pasien itu datangnya dari langit. 

Sejak koas, saya belajar tentang hakekat rejeki. Tugas kita bukan untuk menemukan rejeki, tapi cukup ikhtiar dan berdoa. Seringkali saya berjalan jauh ke Godean mencari pasien, atau memasuki sekat-sekat pasar untuk menawarkan perawatan, tapi ternyata pasien itu adalah teman dekat sendiri, atau tetangga teman, atau tiba-tiba datang dari arah yang sangat dekat. Apakah lantas saya menyesal telah berjalan jauh dan membuang-buang waktu mencari? Itu yang Allah mau. Berusaha dulu, itu tugas saya! Urusan dapatnya dimana, itu tugas Allah. 

Mungkin urusan jodoh juga begitu. ‘Mungkin’, saya kan belum mencarinya, hehe.

Dentistory



Rupanya masih banyak yang menanyakan kabar tentang blog saya yang sudah bersarang laba-laba. “Alya sibuk apa sih?”, “Alya gak pernah nongol lagi”. Iya, sibuk koas nih, sedikit alasan hehe.

Oke, biar pada percaya bahwa koas gigi itu melelahkan hati, jiwa dan raga, sekaligus untuk berbagi cerita yang sedikit bisa dipetik hikmahnya, beberapa tulisan berikut akan bercerita seputar kehidupan koas gigi.

Koasnya anak FKG itu berbeda jauh dengan koas FK. Kalau sekilas, teman-teman FK itu based on time, kami cenderung based on patient. Jadi kalau teman-teman FK hanya mengikuti alur akademik stase A, B, C dengan seabrek tugas, diskusi, dan ujian, namun kemungkinan besar lulus bersama sesuai kalender akademik. Kami signifikan berbeda. Based on patient maksudnya apa? Jadi kalau tidak ada pasien, ya terima saja masa inhal dan lulusnya lebih lama. 

Poin utamanya adalah, kami harus menyelesaikan sekian requirement sesuai stasenya. Dan untuk menyelesaikan requirement, kami harus ‘mencari’ pasien! Pahami baik-baik, ‘mencari pasien’. Jadi, kalau ada 50 requirement, ya mencari 50 gigi (pasien) yang bisa dikerjakan untuk menutup requirement. Tidak berhenti urusan mencari pasien, masih ada tahap acc ke dosen. Kalau tidak diterima dosen? Ya cari yang lain. Masih ada juga urusan diskusi, laporan, tugas, dan ujian tiap stase seperti teman-teman FK. 

Kalau teman-teman FK kadang dimarahi senior atau dokter di stasenya, bagaimana dengan koas FKG? Hm, sepertinya urusan dimarahi, menjumpai dosen atau dokter yang galak, berlaku dimana saja ya. Tapi itulah bagian yang terkenang, karena karakter kita terus bertumbuh. Jika awal periode, urusan dimarahi selalu berdampak tangis di belakang atau sakit hati, semakin lama rupanya dimarahi bisa membuat tertawa di belakang. Ya, tertawa karena kekonyolan sikap kami. 

Sebenarnya berbagai cerita tentang koas gigi yang unik bin menyedihkan bin mengharukan, sudah ada di buku Dentistory terbitan tahun 2010, tapi sepertinya tidak terbit ulang. Sekilas juga dibahas di buku I Am Sarahza, cerita mbak Hanum Salsabiela Rais tentang perjalanan koasnya sebelum menikah. Dramanya masih sama, hanya subjeknya berbeda. 

Jadi, selamat memetik butir-butir hikmah kehidupan yang berat koas gigi.